Mutiara Hikmah: Romantis Di Meja Makan – Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah, MA.

Romantis di meja makan, Nabi O, romantis di meja makan. Nabi O tidak pernah mencela makanan sedikitpun. Kalau beliau suka beliau makan, tidak suka beliau tinggalkan.

Kadang kala istri kita masak, kita lihat asin, “eh, gimana masak nggak enak seperti ini”. Jangan, Nabi tidak pernah melakukan ini, Nabi O, kalau memang kita rasakan nggak enak, mungkin kurang pas (bilang ke istri), “ya Allah sepertinya aku kenyang ini dik, minta maaf lah, aku lagi tidak nafsu makan”, minta maaf sama istri.

Tidak perlu mencela makanan, ada suami yang kalau makan (bilang), “makanan apaan ini” ditumpahin. Hati –  hati Nabi tidak pernah mencela makanan, itu rizki dari Allah E, alhamdulillah ada itu rizki, maka jangan dicela, kalau tidak suka tinggalkan. Minta maaf sama istri, katakan “aku kok kayaknya lagi kurang pas sama ini”. Nabi O, Aisyah cerita, Nabi yang sudah tua, udah umurnya di atas 55 tahun, sudah hampir 60 tahun. Kata Aisyah J

كُنْتُ أَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٌ

“Pernah suatu hari aku minum, aku minum dalam kondisi haid”, kata Aisyah J, kemudian gelasnya kuberikan ke Nabi, Nabi pegang gelasnya, Nabi minum dari tempat mulutku minum.”

Nabi minum dari tempat mulutnya minum, bukan dicari (untuk dihindari), kalau kita khan “Nah ini ada bekasnya istri nih,” Nabi minum dari tempat istrinya. Apalagi sekarang ini kalau di rumah mungkin istri kita pakai lipstik, kelihatan itu tempat minumnya khan, kita ambil, nggak perlu punya gelas 2 jamaah, jadi suami istri itu cukup gelasnya berapa? Satu!. Itu Nabi gantian sama Aisyah J, kemudian diletakkan mulutnya di tempat mulutnya Aisyah.

Kemudian Aisyah cerita,

وَأَتَعَرَّقُ الْعَرْقَ وَأَنَا حَائِضٌ

“dalam kondisi haid”

Ingat, sedang tidak suci maksudnya, dalam kondisi haid Aisyah makan daging, daging yang ada tulangnya digigit, kemudian di serahkan ke Nabi,

ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ

“Nabi O meletakkan mulutnya di tempat aku menggigit daging itu”

Sampai seperti itu Rasulullah H, jadi kalau bisa makan sepiring berdua bersama istri kita, insya Allah itu akan lebih menghidupkan sunah Rosul H.

Kemudian sunah yang lain ini di meja makan yang kadang kala terlupakan, bahkan termasuk sunah yang di tinggalkan, dalam hadist Bukhori & Muslim, Nabi O bersabda;

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا أَوْ يُلْعِقَهَا

Kalau seorang diantara kalian makan, jangan diusap tangannya, jangan dicuci tanganmu, sampai dia menjilati tanganmu, atau dijilatkan tanganmu.

MasyaAllah, jadi itu sunah Nabi yang terkadang hilang sekarang ini, jadi kalau seumpamanya suami lagi makan, ibu – ibu nih suaminya lagi makan masya Allah, mau dicuci tangannya atau mau dijilatin suaminya bilang;

“Bang biar anna yang jilatin tangan abang”

Sunah jamaah, iya fadhol nggak apa – apa, ada istri kita lagi makan, kita jilatin tangannya, boleh apa nggak boleh?

“Yah ustadz, jijik ustadz”

Nggak, lihat itu bagaimana kedokteran sekarang ini di jari – jari kita itu ada enzim, enzim apa itu kata mereka, yang bisa membuat pencernaan lebih baik daripada makan pakai sendok, itu kata dokter. Tapi yang jelas ini sunah Rosul H, kadang kala kita lihat istri kita itu, anak kita lagi makan, kemudian tangannya banyak coklat diapain sama istri kita? Dipegang dijilatin tangannya tuh, subhanallah, itu sunah yang kadang kala terlupakan. Hadist ini diriwayatkan imam Bukhori dan Muslim.

Tapi sunah ini jangan dilakukan di restoran, suami istri karena mau romantis – romantisan, makan, setelah makan suaminya ngomong “Dik, kau jilatin ini dik” yah, jangan lah. Usahakan karena ma’ruf ya, karena sesuatu yang datang dari hati, di rumah pun jangan memerintah, “”dik sini dik, eh mana, sini – sini, nih jilatin dulu” yaahh.. itu bukan romantis kalau gitu, itu penghinaan.

Durasi: 00:05:25
Pencatat: kamti on 14 October 2016
Editor: kamti

Wahai Saudaraku, Maafkan Dirinya – Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Salah omong, salah tingkah, itu satu hal yang menurut ana sih wajar-wajar aja. Namanya kita manusia. Wajar kalau kita salah omong, kalau kita salah tingkah atau salah faham. Kadang kala kalau ada orang yang salah omong sama kita, kemudian dia datang minta maaf sama kita. Kita berat sekali untuk memaafkan dia. Seakan-akan kita ini nggak pernah berbuat dosa sama Allah B. Seakan-akan kita tidak pernah menyakiti hati saudara kita, tidak pernah salah omong.

Saya yakin yang namanya manusia biasa berbuat salah. Yang jadi masalah kalau berbuat salah nggak minta maaf. Terus berbuat salah lagi, berbuat salah lagi. Dan kadang kala nih, ada orang sudah berbuat salah sama kita. Kemudian kita maafkan dia. Nanti beberapa waktu lagi berbuat salah lagi sama kita. Mulai hati kita sudah malas memaafkan dia.

Padahal kita berbuat dosa sama Allah berkali-kali. Bahkan hari ini berbuat dosa, besok berbuat dosa, kemudian minggu depan berbuat dosa. Dan setiap kali kita beristighfar minta ampun sama Allah, Allah maafkan kita. Maka kalau ada orang berbuat salah sama kita, maafkan dialah. Jangan menyimpan duri di dalam hati.

“Ustadz, tapi sakit hati ini Ustadz”. Ya namanya sakit hati apa mau dibiarkan hati itu sakit? Dengan kita memaafkan, plong hati kita rasanya. Hilang semua duri yang ada dalam hati kita. Dan jangan merasa hina ketika memberikan maaf.

وَمَا زادَ اللهُ عَبْداً بعَفْوٍ إِلاَّ عِزّاً


“Kita minta maaf, Allah akan memberikan kemuliaan kepada kita”

Jangan merasa kita karena mau minta maaf. “Oh rendah kau ketika minta maaf”. Dan tatkala ketika kita memberikan maaf jangan mengira kita juga, “Aku kalau ngasih maaf dia seakan-akan aku nggak punya harga gitu”. Tidak.

Bagaimana kalau yang berbuat salah sama kita, orang yang dekat sama kita, kerabat kita, istri kita, anak kita atau siapalah orang-orang yang dekat sama kita. Kira-kira berapa kali kita harus memaafkan dia ustadz? Menurut ana orang yang biasa satu rumah, tiap hari ketemu wajar terjadi salah faham, salah omong. Dan saya rasa akan terulang kembali kesalahan-kesalahan itu. Terus bagaimana sikap kita? Rasul H dalam hadits riwayat Ibnu Umar dan hadits ini shohih

جاء رجل إلى النبي – صلى الله عليه وسلم – فقال: يا رسول الله كم نعفو عن الخادم؟ فصمت، ثم أعاد عليه الكلام فصمت، فلما كان في الثالثة قال: اعفوا عنه في كل يوم سبعين مرة


Ada orang datang kepada Rasul H bertanya: “Wahai Rasulullah berapa kali kita memaafkan pembantu?”   -pertanyaannya, pembantu karena pembantu itu ada bersama kita, di rumah kita yang bisa berkali-kali dia berbuat salah sama kita- Rasul diam, kemudian beliau mengatakan kepada orang ini setelah dia bertanya lagi: “Berapa kali Rasulullah kita memaafkan pembantu?” Apa kata Rasul H : “Maafkan dia setiap hari 70 kali, ingat! 70 kali”  (HR.Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no.488)

Jadi kalau ada orang berbuat salah sama dia, maafkan dia. Berapa kali? 70 kali kata Rasulullah  H. Maka jangan bosan-bosannya memaafkan orang karena pada hakikatnya ketika kita memaafkan orang, kita mengharapkan maaf dari Allah E. Dan pada sejatinya kita sering berbuat dosa, kita sering berbuat salah. Dan ingat! 70 kali itu pesan Rasulullah H.

Assalamu’alaikum.


REFERENSI TRANSKRIP

[1] Jangan Rendahkan Diri Anda dengan Balas Dendam.
[2] Berapa Kali Engkau Memaafkan Istri?

Durasi: 00:05:16
Pencatat: Khoir Bilah on 16 June 2016
Editor: Abu Ahmar

Ada Apa Dengan Mimbar Jum’at- Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah, MA

Segala puji bagi Allah rabb pencipta, pemilik, pengatur alam semesta ini, dan semoga sholawat dan salam senantiasa tercurahkan untuk manusia termulia nabi kita Muhammad salallahu ‘alaihi wa sallam untuk keluarga beliau, istri-istri beliau, putra-putri beliau dan untuk seluruh sahabat Nabi radhiyallahu ta’ala anhum ajmain. Amma ba’ad.

Akhi.. ukhti.. rohimakullah

Kita sering dengar pendidikan karakter apalagi ada sebuah moto yang sering kali di ulang-ulang tentang Revolusi Mental, ia .. subhanallah, antum lihat Nih mimbar ini, umat islam di Indonesia memiliki lebih lebih 700.000 mimbar 700.000 masjid dan mushalla di negeri kita di Indonesia itu yang tercatat,

Tapi kenapa mimbar-mimbar yang ada di masjid, yang setiap jum’at setiap khotib naik di atas kemudian memandang kepada jama’ahnya. Kalau berceramah, mengajak umat manusia kepada Allah jalla jalaluh. Tapi setelah bertahun-tahun kita lihat pengaruhnya pada kondisi umat islam, tidak begitu besar. bahkan kriminalitas bertambah, narkoba bertambah, anak muda begal bertambah.

Kenapa?

Apa yang salah dengan mimbar jum’at, dengan ceramah yang di sampaikan, banyak permasalahannya sehingga mimbar jum’at tidak bisa memberikan pengaruh yang baik kepada orang-orang yang hadir.

 

Diantaranya persiapan khottib, banyak yang naik mimbar sebenarnya tidak boleh dia naik mimbar dia tidak tahu dengan apa yang dia sampaikan dia hanya mendapatkan sebuah tulisan, kemudian dia baca, ketika dia membaca tanpa melihat kepada jama’ahnya, jama’ahnya pada tidur, tidak sedikit judul-judul ceramahnya juga yang tidak sesuai dengan kondisi masyarakat, dengan kebutuhan masyarakat.

 

Lalu kondisi kita hari jum’at, orang-orang juga pada capek, hari jum’at nih harinya umat islam tapi mereka tidak libur, sebagian dari tempat kerja. Datang ke masjid ngapain? Tidur. Kecapean!

 

Maka ada mimbar jum’at dapat memberikan pengaruhnya, memberikan dampak positif kepada masyarakat. Seorang khatib atau seorang ta’mir masjid harus memilih orang-orang khusus yang memang dapat berceramah. Orang yang mengerti mana hadits dhaif dan mana hadits yang shahi sehingga dia tidak sembarang menyampaikan.

 

Kemudian dia tahu dengan judul-judul yang seharusnya menjadi pioritas, ajak mereka kepada tauhid, ajak mereka kepada lailahaillah karena iman adalah motor yang menggerakan hamba untuk meninggalkan kemaksiatan, adalah motor yang menggerakkan manusia untuk tidak korupsi, beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir.

 

Kemudian persiapan seorang khattib juga harus jelas, juga perlu diperhatikan sound system di masjid yang kadang kala tidak kedengaran ke jama’ahnya.yang jelas masih banyak PR kaum muslimin agar masjid kita, agar mimbar kita bisa kembali menyampaikan risalahnya.

 

Harapan saya besar kepada semua ta’mir masjid untuk mengadakan pelatihan untuk para khottib yang naik khotbah jum’at,

 

Kemudian memberikan arahan-arahan kepada mereka sehingga khotib-khotib itu, imam imam masjid tambah tahun tambah baik dan masyarakatnya pun akan tambah baik pula.

 

Barakallahu fikum,,, wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh….

Durasi: 00:06:07
Pencatat: Khoir Bilah on 11 May 2016
Editor: Abu Ahmar

Menyingkat صلى الله عليه و سلم menjadi SAW ? – Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah

Pak ustad saya mau bertanya bagaimana menanggapi orang yang mencintai Rasulullah saw melebihi cinta kepada Allah swt

 

; kalau menulis Muhammad tulislah salallahu ‘alaihi wa sallam. Jangan di tulis ‘SAW’!

Apa  SAW itu? Dalam bahasa arab ada yang SHODLAM = SHOD, LAM, ‘AIN ada yang cuman SHOD, itu bukan shalawat…

 

Yang Allah perintahkan kepada kita adalah ‘shallu alaihi wasallimu taslima’ jadi jangan bakhil-bakhil menuliskan salallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Dari awal nulis,

“apa yang kita lakukan kalau kita mimpi dengan nabi salallahu ‘alaihi wa sallam”

Ketika sampai Muhammad dia tulis SAW.

 

Wallahu’alam, seorang syaikh di kelas pernah bercerita, kata dia:

 

“orang yang pertama kali memendekkan atau menyingkat salallahu ‘alaihi wa sallam. Itu tangannya terputus. Karena dia memberikan sunnah buruk kepada ummat”

Kita kan niru. Yang ada kita niru…

Ditulis SAW… oh SAW ya… akhirnya dia tulis seperti apa yang dia baca!

 

Maka di termaksud:

 

Jadi orang yang memberikan sunnah, yang buruk seperti ini menyingkat saw itu maka dia mengajarkan keburukkan kepada orang-orang sesudahnya dan dia dapat ganjaran, dapat dosa amalan dia dan amalan orang-orang sesudah dia. Maka usahakan jangan bakhil-bakhil. Karena saya melihat banyak tulisan Muhammas sini gak ada salallahu ‘alaihi wa sallamnya.

 

Ingat itu akan menjadi amal kebajikan kita kelak yang di timbang pada hari kiamat!

 

Durasi: 00:02:04
Pencatat: Khoir Bilah on 04 May 2016
Editor:

Pilih Istri Atau Baca Quran – Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh, bagaimana jika istri sering  ajak ngobrol setelah saya pulang kerja sehingga terkadang harus menunda atau mengurangi  rutinitas bacaan al qur’an, mana yang lebih afdhol?

 

Masya Allah.. antum baca qur’annya di luar rumah aja, kalau sama sohib-sohibnya ngobrol panjang nggak  ngaji  gitu kan? Ketika sampai rumahnya karena dia bosan dengan istrinya, “aduh, ana mau ngaji nih”, jangan laah, antum cari lah waktu-waktu khusus, kalau memang  antum harus ngurangi waktu ngaji antum , nggak pa pa laah, untuk  menyenangkan  istri antum, kasian tuh istri antum, udah capek dari pagi ngurusin anak antum, kalau antum memberikan kebahagiaan di diri istri antum, ingat kajian kita di Purbalingga tuh,

awal amalan yang dicintai oleh Allah apa?

Kebahagiaan, kesenangan yang kau masukkan ke hati seorang muslim, apalagi istri kita nih, kalau kita berkurang baca qur’annya demi  istri kita nggak masalah InsyaAllah, karena kita termasuk dia punya hak jamaah, kita diluar 8 jam, ngobrol sama istri 5 menit udah capek, memang istri kita tuh kadang kala ngobrolnya nggak bermanfaat, ooh, ketawa itu kan? Tapi antum nggak papa, dengerin dan jangan di potong kalau istri kita ngomong, dia cerita dia lagi dapet berita tentang apa tentang gempa seumpamanya:

 

“bang, tau nggak bang, ada gempa”

 

di ini ada cerita macem-macem , ada yang meninggal  sekian, antum jangan ngomong,

 

“ana udah baca beritanya”

 

,jangaan, kasian tuh istri, biarkan dia ngomong sampai selesai,

 

“Subhanallah deh ya, kita doakan  semoga yang meninggal itu diampuni dosanya”

 

,ikuti, jangan pernah di potong omongan  istri kita, kasian dia.

 

Aisyah pernah cerita kepada Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam, hadits Ummi  Zaa’, cerita ini panjang , kalau kita mau bahas ceritanya Aisyah tuh bisa dua kali kajian, Rasulullah dengerin aja ceritanya Aisyah sampai selesai dengan seksama kemudian beliau memberikan komentar kepada Aisyah.

 

Maka kita yang bukan Nabi, kita nih seharusnya lebih care lah, Rasul Sallallaahu’alaihi wa sallam lebih sibuk dari kita, lebih banyak pekerjaan beliau, dan istrinya nggak cuman satu, kita istrinya satu nggak punya waktu, gimana kalau dua nanti antum?

 

Maka tolonglah perhatian kalau istrimu ngajak ngomong Bismillah dengerin ya, kemudian kalau istri umpamanya ngomongnya teralu lama,

“gimana nih kalau kita tadarrus nih, kau baca Abang yang ngeliat”

 

InsyaAllah mau istri kita, berusaha kebersamaan di rumah itu hidupkan , makan bersama, Rasulullah makan bersama, ketika makan bersama , itu waktu untuk ngobrol, jangan kayak sekarang, sekarang itu orang-orang makan di meja yang besar, istrinya di pojok, suaminya di pojok, anaknya di sini (tengah), jadi akhirnya kita suasana-suasana sama istri tuh jarang, Rasul Sallallaahu’alaihi wa sallam makan satu piring dengan Aisyah, jadi kalau makan satu piring sama anak-anak kita, Nabi makan sama Ummu Salamah, sama anaknya Ummu Salamah, makan satu piring.

 

Antum bisa bayangin ketika makan satu piring, kepala tuh bisa beradu, kepala istri sama suami bisa beraduan  MasyaAllah , gelasnya satu.

 

Antum berusaha dirumah kalau pengantin baru gelasnya cuman satu, jangan banyak-banyak, kalau ada tamu pinjam ke tetangga, nggak papa, soalnya apa? Kalau gelasnya cuman satu mau nggak mau kan minumnya gantian. Rasulullah Sallallaahu’alaihi wa sallam Aisyah cerita, pernah Aisyah minum,  Sallallahu ‘alaa nabiyyihi Muhammad, beliau Aisyah lagi minum, kemudian sama Rasul langsung diambil tuh gelasnya, dicari sama Nabi bekas bibirnya Aisyah, diletakkan bibir Nabi di tempat Aisyah meletakkan bibirnya. Kalau sekarang, kita puter, kita cari yang ga ada bekasnya, itu masalah jamaah, Allaahuakbar…

 

Jadi berusaha, sekali-sekalilah paling tidak makan barengan, dihidupkan tuh makan satu nampan itu untuk mendekatan hati kita sama istri sama anak-anak kita, kita bagi ada daging yang enak kepada istri kita dan istri kita juga seperti itu.

 

Rasul SAW umurnya sudah 60 tahun , biasanya yang dulang-dulangan (suap-suapan) tuh pengantin baru, satu bulan dua bulan, nggak nyampe lah satu bulan, paling tiga hari habis itu sendiri-sendiri.

 

Durasi: 00:05:25
Pencatat: Khoir Bilah on 28 April 2016
Editor: