Kapan Jadi Bid’ah? – Ustadz Riyadh bin Badr Bajrey.

Sering kita dengar para ahli ilmu memperingati kita dari hal-hal yang disifatkan oleh mereka, “Bid’ah”. Sering mereka memperingatkan kita. Bahwa jangan mengamalkan amaln itu bahwa itu bid’ah, bahwa itu bid’ah.

Dan sering sekali timbul di dalam benak kita pertanyaan. Apakah segala sesuatu yang tidak ada contohnya dari Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam maka harus kita hukumkan bid’ah?

Dan selalukah yang namanya bid’ah demikian terlarang dan sesat?

Dan kapan menghukumi sesuatu itu adalah bid’ah yang memang sesat dan terlarang,  Tidak boleh dilakukan?

Kapan menghukumi sesuatu bahwa itu adalah itu adalah bid’ah yang memang di perbolehkan?

Yang pertama yang perlu kita ketahui bahwa yang dihukumkan bid’ah oleh para ulama adalah hal-hal yang memiliki keterkaitan dengan agama. Misalnya, dari sisi bentuk-bentuk ritual, ibadah dan lain-lain atau bentuk-bentuk keyakinan, aqidah dan lain-lain yang tidak ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal-hal demikianlah yang sering dihukumi para ulama dengan hukum bid’ah.

Bukankah banyak hal yang berkaitan juga  dengan agama, namun tidak ada pada masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam namun kita tidak menghukumi bid’ah seperti penggunaaan teknologi dan lain-lain untuk berdakwah. Misalnya mikrofon untuk berdakwah, untuk mengkomandangkan adzan dan lain-lain. Atau penggunaan pesawat terbang untuk pergi haji atau umroh dan lain-lain ini hal-hal yang ada keterkaitanya dengan agama namun tidak di contohkan oleh Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam. Apakah ini juga kita hukumi bid’ah?

Maka coba kita fahami hal ini dengan kaidah yang indah yang di berikan, yang pernah disampaikan oleh Syaikh Zaid Ruslan hafidzallah tentunya dari kitab-kitab para ulama salaf rohimakumullah dihimpunnya hal ini seperti kitab Al-Imam Asysyathibi rohimahumullah yang berjudul Al I’tishom dan lain-lain.

Ada tiga sifat yang kita harus nilai pada suatu hal sehingga kita dapat menghukumnya apakah hal itu bid’ah atau tidak:

  1. Apakah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mampu melakukannya?
  2. Adakah kondisi atau situasi pada masa Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam yang mendorong dia untuk melakukan hal tersebut?
  3. Adakah riwayat dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang menegaskan dengan shahih bahwasanya Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, melakukan hal itu sedemikian rupa?

Coba kita pahami kaidah ini. Hukumkan sesuatu hal yang kita hukumkan bid’ah. Misalkan membaca Al-fatihah (mengirimkan bacaan Al-fatihah) untuk yang meninggal. Maka bagaimana menghukumkannya? Coba lihat.

  1. Apakah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mampu membaca Al-fatihah? Tentunya jawabannya adalah mampu,
  2. Adakah situasi dan kondisi yang menuntut Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengirimkan Al-fatihah kepada individu-individu tertentu? Tentunya ada. Para sahabat yang mati berjuang membela Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sahabatnya sepantasnyalah Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam mengirimkan Al-fatihah kepada mereka sebagai bentuk kemuliaan Rasul kepada mereka. Setelah itu semua adakah ada.
  3. Adakah atsar, riwayat yang shahih bahwa Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam mengirimkan Al-fatihah kepada mereka? maka jawabannya adalah tidak ada Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan hal tersebut. Maka kita hukumi hal tersebut, ibadah tersebut sama dengan bid’ah.

Demikian pula membacakan yasin untuk yang telah meninggal pada hari-hari tertentu, pada hari ketujuh, hari ke empat puluh setelah meninggalnya seseorang. Bagaimana kita menghukumi hal ini kembali dengan kaidah yang tadi:

  1. Apakah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mampu membacakan Yasin? Tentunya ya. Rasul mampu membaca surat Yasin.
  2. Apakah ada orang-orang yang pantas Rasul yasinin/bacakan atasnya surat yasin setelah mereka mereka meninggal? Tentunya iya. Para sahabat ridwanallaha ‘alaihim ajmain yang mati membela agama ini, membela Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam dan dakwah ini.
  3. Adakah riwayat shahih yang mengatakan bahwa Rasul membacakan yasin untuk mereka? Maka jawabannya tidak ada sama sekali. Apalagi membacakan yasin di hari-hari tertentu, seperti hari ketujuh, hari ke empat puluh, hari seratus kematian.

Demi Allah hal ini tidak ada sama sekali, riwayat yang menyatakan bahwa Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan hal tersebut, melakukan hal tersebut. Maka kita hukumkan hal tersebut bid’ah.

Namun ada beberapa kasus yang dimana kita hukumkan hal itu tidaklah menjadi bid’ah yang kita larang dalam artian bid’ah dari sisi bahasa, hal yang baru. Namun di perbolehkan, dikarenakan tidak melanggar kaidah dan ketetapan-ketetapan agama.

Contohnya:

Kita bicarakan tentang misalnya mikrofon yang digunakan untuk adzan (mengkomandangkan adzan) terapkan tadi 3 syarat tadi:

Yang pertama, apakah Rasul saw dan para sahabatnya mampu membuat mikrofon maka jawabanya adalah tidak karena keterbatasan teknologi yang ada pada saat itu. Maka penggunaan hal tersebut tidaklah kita hukumkan bid’ah. Karena kenapa? Itu bukan hal yang kita bahas, yang kita sedang bahas dan kita hukumkan bid’ah adalah hal-hal toh Rasul dan para sahabatnya mampu lakukan namun setelah itu semua mereka tak melakukannya tidak melakukan sedemikian rupa sebagaimana dilakukan oleh kaum muslimin sekarang yang mengaku mengikuti sunnah Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Begitu pun pesawat terbang yang kita gunakan untuk perjalanan umroh atau haji, apakah itu menjadi bid’ah apabila kita mau murni mengikuti Rasul dan para sahabatnya bukankah kita harus menaiki onta ke mekkah untuk menjalankan umroh kita atau haji kita maka hukumkan dengan kaedah tadi… Apakah Rasulullah saw mampu membuat pesawat terbang, Apakah para sahabat mampu membuat pesawat terbang sedemikian rupa?? Tentu jawabannya adalah tidak. Maka ini bukanlah hal yang sedang kita bahas, ini diluar pembahasan kita, hal-hal tersebut teknologi kemajuan zaman diperbolehkan oleh Allah swt didalam syaria’atnya apabila hal tersebut tidak melanggar kaedah-kaedah, ketetapan-ketetapan yang ada. Tidak terjadi di dalamnya penipuan, tidak terjadi di dalamnya kedzoliman, tidak terjadin di dalamya mudharat dan lain-lain. Yang ada malah mempermudah usaha manusia dalam melakukan kegiatan-kegiatan, maka hal-hal tersebut diperbolehkan…

Kemudian ada beberapa jenis amalan yang kedua yang apabila Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya pun Rasul mampu melakukannya namun Rasul tidak lakukan namun kita pada zaman sekarang melakukannya dan kita tidak juga menghukumi bid’ah.

contohnya: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada umul mukminin ‘aisyah Radhiallahu 'anhu,

لولا حِدْثانُ قومِكِ بالكفرِ لَهدَمْتُ الكعبةَ وبنيتها على قواعد إبراهيم

07:59 laula hinsanu qoumiki bi kufr lahadamtul kabah wa bainatuha ‘ala qowaida ibrahim

“Kalau bukan karena kaummu baru saja kafir kemarin yakni belum lama mereka berada di islam, belum terlau kuat aqidah mereka niscaya aku akan hancurkan ka’bah dan aku kembali bangun sesuai dengan pondasinya Nabi Ibrahim 'Alaihi salaam

Dimana Nabi Ibrahim 'Alaihi salaam membuat ka’bah jauh lebih besar bentuknya dibandingkan ka’bah yang ada zaman rasul dikarenakan pada saat itu ka’bah hancur dan di bangun kembali oleh kaum quraisy namun kekurangan dana akhirnya mereka membangunnya lebih kecil dari pondasi yang dibuat oleh nabi Ibrahim 'Alaihi salaam

Rasul berkata kepada Ummul mukminin ‘Aisyah, “Andai saja kaum belum lama kafir kemarin yakni belum terlalu kuat aqidahnya di dalam islam niscaya aku akan hancurkan ka’bah dan aku akan bangun kembali sesuai dengan kaidahnya atau pondasinya nabi Ibrahim 'Alaihi salaam”.

Kalau lihat betapa situasi dan kondisi yang ada pada zaman rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Menahannya untuk melakukan hal tersebut, menghindari kemudharotan yang terjadi lebih besar. Padahal rasul mampu kalau dia mau lakukan, Rasul mampu hanya untuk membangun tembok  ka’bah, mampu. Namun tidak rasul lakukan.

Kemudian dilakukanlah sepeninggal Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam yang pertama oleh Abdullah ibnu Zubair Radhiallahu 'anhu ketika dia menjadi khalifah di makkah akhirnya dia memutuskan menghancurkan ka’bah dan membangun kembali sesuai dengan pondasi nabi Ibrahim 'Alaihi salaam meneruskan apa yang rasul saw niatkan dimasa hidupnya. Terlihat dalm hal ini rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mampu melakukannya namun dia tidak melakukannya namun apabila dilakukan di masa setelahnya maka tidak juga menjadi bid’ah.

Kerena kenapa? Di karenakan situasi dan kondisi yang ada di zaman Rasul belum tepat untuk melakukannya dan hal tersebut lebih tepat dilakukan di masa-masa setelahnya ketika aqidah pada umat telah menancap kuat. Begitu pun banyak hal lain sepeti  hal yang kita lempar ketika haji yang kita kenal dengan nama jumroh. Pada zaman dahulu kala jumroh tersebut hanya sebuah tiang dan sekarang jumroh tesebut berupa tembok bangunan yang megah.

Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam apabila pada masanya  ingin merubah tiang tersebut menjadi sebuah tembok rasul mampu melakukannya, membangun tembok bukanlah hal yang tidak mampu dilakukan oleh umat-umat terdahulu. Namun rasul tidak merubah jumroh tersebut menjadi tembok bagaimanapun.

Dikarenakan apa? Syarat yang kedua tadi. Situsi dan kondisi dizaman rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam belum menuntut. Rasul dan para sahabat untuk melakukan hal tersebut. Jumlah kaum muslimin masih sedikit sehingga satu tiang itu sudah cukup sebagai sasaran lemparan jumroh. Terbayangkah apabila kita paksakan satu tiang ini tetap kita gunakan untuk jumlah kaum muslimin yang ada dan melaksankan haji tahun ini. Apa yang terjadi? Maka mudhorot yang lebih besar akan terjadi, maka pada saat itu tidaklah kita hukumi bid’ah ketika para pengusaha yang ada merubah tiang yang dilempar untuk jumroh ni menjadi tembok yang besar sebagaimana yang kita lihat di masa ini.

Semoga kaidah-kaidah yang kita sampaikan ini dapat membuat atau dapat membantu kita memahami agama ini dengan baik.

Durasi: 00:11:42
Pencatat: Khoir Bilah on 08 November 2016
Editor: Abu Ahmar

Para Penggembala Kambing – Ustadz Riyadh bin Badr Bajrey

Asalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Ikhwani wa akhwati rohimakumullah.

Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits yang di riwayatkan oleh Al-Imam Bukhori dan lain-lain dengan sanadnya dari Abu Hurairoh menerangkan bahwasanya hampir setiap Nabi pernah mengalami menggembala kambing. Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ”. فَقَالَ أَصْحَابُهُ: “وَأَنْتَ؟”. فَقَالَ: “نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ”.

— (00:48) ma ba’asallahu nabiyan, illa ra’al ghonam. faqoola ashaabuhu,  “wa anta?”. faqoola, kuntu ar’aha ‘ala qorooritho li ahli makkah.

“Tidaklah Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus seorang Nabipun kecuali pasti dia pernah menggembala kambing”. Maka para sahabat bertanya: “Engkaupun begitu wahai Rasulullah?” Rasul bersabda: “Ya, aku dulu menggembala kambing untuk para penduduk Makkah di tempat-tempat menggembalanya”. (HR. Bukhari)  [1]

Tahukah kita apa hikmah dari menggembala kambing tersebut yang di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala khususkan para Nabi, bahkan setiap Nabi untuk mengalaminya?

Ternyata ulama mentafsirkan bahwasanya kambing dapat difahami dari hadits Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain. Bahwasanya kambing sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhori, Muslim, dari Abu Hurairoh, Abi Mas’ud dan lain-lain. Di mana Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

 

 وَالْفَخْرُ وَالْخُيَلَاءُ عِنْدَ أهلِ الخيلِ والإبلِ 
— (1:51al fahr wa huyala ‘inda alhlil khoimi wal khuyala ‘inda ahlil khoimi wa ibil

“Kesombongan dan kekerasan hati itu ada pada para penggembala unta dan kuda. [2]

وَالسَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ فِي أَصْحَابِ الشَّاءِ

— (2:05) wa sakinah wal waqr fil ashabil  syaai.

Adapun ketenangan hati, kerendahan hati terdapat pada para penggembala kambing”. [3]

Mengapa demikian?

Dikatakan oleh para ulama bahwasanya kekerasan yang ada pada unta dan kuda ini, berefek kepada para penggembalanya. Di mana terlihat jelas kebanggan pada hewan-hewan tersebut, unta dan kuda yang membusungkan dadanya terlihat begitu menyombongkan dirinya. Begitu luar biasa menyombongkan dirinya. Kemudian kekuatannya yang luar biasa yang dengan itu Allah Subhanahu wa Ta'ala jadikan banyak manfaat pada manusia. Namun karena banyak atau sering bergaul dengan hewan demikian maka berefeklah kepada jiwa-jiwa orang yang menggembalakannya, sering kali.

Adapun pada orang-orang yang biasa menggembala kambing dengan sifat-sifatnya. Kambing adalah satu sisi bukanlah hewan yang sangat kuat sebagaimana kuda dan unta. Namun kambing memiliki sifat tidak bisa dia di persatukan dengan mudah. Tidak sebagaimana  seseorang menggembala bebek atau ayam, ketika kita mengambil pemimpinnya maka yang lain akan mengikutinya. Begitu pun kuda dan unta, ketika kita menguasai pemimpinnya maka yang lain akan mengikutinya.

Adapun kambing tidak demikian, setiap ekor kambing memiliki otak masing-masing yang tidak bisa satu menjadi pemimpin sehingga di ikuti yang lain, tidak, sehingga membutuhkan kesabaran lebih dalam mengaturnya, kesabaran lebih, kekuatan lebih dalam mengaturnya.

Orang yang terbiasa terlatih dalam mengasuh dan menggembala kambing demikian. Maka dengan itu di harapkan darinya akan datang pada dirinya sifat sabar yang dengan itu dia dapat mengasuh, mendidik ummatnya sebagaimana para Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dan di situpun terdapat salah satu bukti mukjizat ‘ilmiah yang ada pada hadits nabawi. Di mana terbukti bahwasanya seseorang akan dia terefek dari sesuatu yang biasa dia bergaul dengannya. Seseorang akan terkena sifat keras dan sifat sombong ketika banyak bergaul dengan hewan yang bersifat demikian seperti kuda dan unta. Ini adalah hal yang di buktikan oleh dunia pada akhir-akhir ini, dimana mereka mengatakan bahwasanya

“You are what you eat”.

Kau adalah apa yang kau makan, yakni apa yang kau makan itu berefek pada jiwamu.

Ketika kau memakan sesuatu yang buas, kau memakan sesuatu yang tidak biasa di makan oleh kebanyakan orang maka sifat dari apa yang kau makan itu akan berefek pada dirimu

“you are what you it”

kau adalah apa yang kau makan.


Referensi :

[1] Anak dan ilmu dunia – tunas ilmu.

[2] Para  penggembala kambing -husni rofiq.

[3] HR Muslim 71-80 – Ridlo.

Durasi: 00:05:45
Pencatat: Khoir Bilah on 04 November 2016
Editor: Abu Ahmar

Tausiyah Singkat: Prioritas Tauhid Dalam Dakwah – Ustadz Riyadh Badr Bajrey

u

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh,

Ikhwani wa Akhwatu rahimahumullah,

Diantara sunnatullah atas alam semesta ini adalah dimana Allah subhanahu wata’ala akan selalu jadikan perselisihan dan pertikaian diantara manusia. Demikian memang Allah subhanahu wata’ala dengan itu jaga alam semesta. Hal ini yang pernah kita jelaskan dan kita namai dengan sunnah tadafuu.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

xxx

Kalau bukan karena Allah subhanahu wata’ala benturkan manusia satu sama lain niscaya muka bumi akan hancur. Maka benturan yang terjadi antara manusia, diantara mahluk-mahluk yang bernama manusia ini memang sengaja Allah subhanahu wata’ala jadikan yang dengannya itu semoga terjagalah keseimbangan alam semesta. Allah jadikan segala hal yang terjadi dengan segala hikmah-Nya, baik kita pahami ataupun tidak kita pahami hikmah tersebut.

Kemudian, Allah subhanahu wata’ala pun menegaskan apabila Allah subhanahuwata’ala inginkan agar manusia bersatu, maka Allah akan jadikan demikian. Namun, tidak demikian memang kehendak Allah pada alam semesta-Nya ini yang kita kenal dengan nama iradah kauniyah atau qadarullah kauniyah. dimana Allah subhanahu wata’ala berfirman :

xxx

“Andai saja Tuhanmu inginkan niscaya Dia akan jadikan manusia satu umat untuk satu kesatuan. Namun, yang ada niscaya mereka akan selalu berselisih satu sama lainnya, kecuali orang – orang yang dirahmati oleh Rabmu oleh Tuhanmu”.

Demikian pula akhirnya dimasa ini kita menghadapi golongan-golongan sesat. Golongan-golongan yang membahayakan bagi kita para ahlul islam, ahlussunnah yang memperjuangkan tauhid yang memperjuangkan sunnah Rasulullahi shalallahi ‘alaihi wassalam. Demikian pula kaum – kaum sebelum kita menghadapi hal tersebut, kesesatan dan para musuh islam. Kemudian juga ahlul sirk yang menghadapi para ahlul tauhid. Yang memerangi mereka yang mencelakakan mereka bahkan membuhuni mereka. Demikian memang sunnatullah atas alam semesta. Namun, Allah subhanahu wata’ala telah memberikan solusi kepada kita untuk mengatasi hal itu. Yaitu, adalah agar kita bersabar menghadapi hal itu. Sabar dengan segala aspeknya, sabar untuk tetap menjalankan apapun yang Allah perintahkan, walapun terasa berat di hati. Sabar untuk tetap meninggalkan apapun yang dilarang oleh Allah subhanahuwata’ala kalaupun hati kita menginginkan hal itu. Dan juga sabar untuk menerima apapun yang Allah tentukan atas kita walapun tidak sesuai dengan keinginan kita.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

xxx

Andai saja kalian bersabar dan terus bersabar kemudian kalian bertaqwa yakni lakukan apapun yang Allah perintahkan atas mu dan jauhi apa yang dilarang-Nya. Niscaya, maka tipu daya propaganda mereka sebesar apapun tidak berefek kepada kalian. Selama kalian bertahan diatas hal tersebut.

Maka, bersabarlah. Untuk terus mencara pengetahuan mencari hidayah tentang apa yang seharusnya kau yakini dan kau praktekkan sebagai seorang muslim, sebagai seorang ahlussunnah. Sibukkan dirimu dengan itu, terapkan ilmu – ilmu itu didalam kehidupanmu. Serulah istri dan anak-anakmu kepada tauhid, kepada sunnah. Dan janganlah kita menyibukkan diri dengan pergerakan-pergerakan musuh islam dan para ahli-ahli kesesatan. Seperti syiah, khawarij, mu’tazilah yang tidak akan pernah mereka berhenti memusuhi islam. Jangan kita teralihkan perhatian dan kesibukkan kita dengan hal-hal demikian. Sementara kita teralihkan dari kewajiban kita yang inti, yaitu untuk apa mempelajari ISLAM, mengenal Allah, mengenal rosul-Nya dan mengenal agama-Nya dan mempraktekkannya di dalam kehidupan.

Kami sampaikan hal ini dikarenakan sering kali berangkat dari kecintaan kaum muslimin terhadap agamanya dan berangkat dari rasa bela kaum muslimin terhadap agamanya. Kemudian mereka begitu mengkhawatirkan dan memberikan perhatian yang besar terhadap golongan sesat yang bernama Syiah. Sehingga akhirnya mereka sering kali membahas dan membicarakan hal tersebut mengadakan pertemuan-pertemuan untuk membicarakan tentang kesesatan kesesatan tersebut. Namun, semangat mereka untuk menuntut ilmu, untuk mengetahui apa yang seharusnya mereka ketahui dan mengamalkan apa yang seharusnya mereka amalkan, tidak sebesar semangat mereka untuk membahas tentang kesesatan tersebut.

Apalagi kemudian hal itu sampai menimbulkan kekhawatiran yang luar biasa, sehingga mendorong memprovokasi kaum muslimin untuk melakukan tindakan-tindakan preventif atau tindakan-tindakan balasan terhadap syiah dan golongan-golongan lain yang dimana tindakan pencegahan dan balasan ini pun adalah dengan cara yang tidak dibenarkan oleh syariat islam. Dengan penggalangan suara yang demi Allah, gaya demikian hanya datang dari kafir tidak diajarkan oleh syariat islam. Dengan demonstrasi yang demi Allah, diajarkan oleh kafir, tidak diajarkan oleh syariat islam. Juga dengan bersatu mengedepankan kata-kata persatuan dan mengkebelakangkan perbedaan tauhid, bersatulah sebagian kita dengan ahlul bid’ah dengan orang-orang yang memusuhi sunnah, memusuhi tauhid hanya demi untuk menyatukan pergerakan mereka dalam rangka menghadapi syiah tersebut.

Ini sebuah kekeliruan yang sangat fatal, kalaupun berangkat dari niat yang baik. Dari sense of belonging yang ada, dari rasa kepemilikan kaum muslimin terhadap agamanya. Namun, cara tersebut keliru, tidaklah kita dibenarkan untuk bergabung menyatukan barisan kita dengan para pemuka-pemuka ahlul bid’ah yang menyerukan kepada konsep-konsepnya yang kita hukumi syirik. Seperti tawasulnya, atau menyerukan kepada bid’ah-bid’ah yang mereka kira itu bentuk pendekatan diri kepada Allah. Namun, kita lihat dan kita nilai hal tersebut adalah sebuah kesesatan.

Tidak boleh kita bersatu dengan mereka, kalaupun kita memiliki musuh yang sama dengan mereka. Demikianlah manhaj yang diajarkan oleh Rosul shalallahi ‘alaihi wassalam dan salafushaleh. Tidaklah pernah mereka mengedepankan kata persatuan sebelum mereka memperbaiki dan menyamakan tauhid. Kalimat tauhid qabla tauhid kalimah, dikerenakan persatuan diatas manhaj yang berbeda, diatas konsep yang berbeda, diatas tauhid yang berbeda hanyalah persatuan yang semu. Yang demi Allah, hanyalah mungkin terjadi walaupun terjadi persatuan tersebut selama mereka masih memiliki ‘common enemy‘ musuh bersama.

Ketika musuh tersebut tiada, maka kita akan memerangi kembali satu sama lain. Seperti contoh yang terjadi di Afganistan;

Ketika Rusia menjajah Afganistan, 14 panji ormas islam lebih bersatu dalam rangka melawan penjajah kafir Rusia. Disitu terdapat para penyembah kubur, tasawuf, para harakiyah, hizbiyah, mu’tazilah dan syiah semua bersatu dalam rangka menghadapi kafir Rusia yang menjajah mereka. Namun, ketika Rusia berhasil dihengkankan dari negeri Afganistan tersebut, apa yang terjadi yang ada ormas – ormas ini memperebutkan kekuasaan satu sama lain. Mereka merasa lebih berhak satu pihak merasa lebih berhak daripada pihak yang lain atas tanah Afganistan, akhirnya mereka memerangi satu sama lain. Dan setiap kelompok berteriak Allahuakbar.

Demikian yang Allah janjikan,

xxx

Sesungguhnya setiap kelompok akan berbangga – bangga dengan apa yang ada pada mereka. Maka, ikhwani rahimakumullah menghadapi kesesatan, menghadapi musuh islam bukanlah dengan terprovokasi, bukanlah dengan berteriak bahwa mereka sesat, demi Allah bukan.

Namun, dengan semakin bersemangat untuk mempelajari apa yang seharusnya kita ketahui dan kita praktekkan sebagai kaum muslimin. Menerapkannya didalam kehidupan, dan janganlah kau keluhkan mereka yang memusuhi sunnah, memusuhi islam, dikerenakan memang demikian tugas mereka di muka bumi untuk itu Allah jadikan mereka di muka bumi, kalau kau mau keluhkan kita keluhkan diri kita masing-masing yang tidak mau berusaha mengenal islam dengan baik dan menerapkannya didalam kehidupan kita. Kita keluhkan diri kita yang tidak menjalankan tanggungjawab kita dengan baik sebagai seorang muslim, ahlussunnah yang mengikuti Rosul shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabat salaful ummah.

Wassalamu’alaum warahmatullahi wa barakatuh.

 

Durasi: 00:10:11
Pencatat: Haris Eko Prasetyo on 12 May 2016
Editor: Abu Ahmar

Semua Mengaku Ahlus Sunnah – Ustadz Riyadh Bin Badr Bajrey

Ustadz bagaimana pengertian Ahlussunnah Waljama’ah sebenarnya sebab banyak sekali orang maupun golongan yang mengaku dirinya Ahlussunnah padahal amalan mereka jelas bertentangan dengan Tauhid bahkan perbuatan mereka berbau syirik?

 

:Barokallah fikum, Syuf Ahlussunnah mah semua juga ngaku Ahlussunnah, Al-qur’an dan hadits semua juga ngaku Alqur’an dan hadits punya dalil dari Alqur’an dan hadits semua. Ente mau debat sama Ahmadiyyah lagi dia punya Dalil dari Alqur’an sama Sunnah, Kalau Qur’an dan sunnah kemudian terus langsung bener aja bahaya, Kemudian kita sampai kepada pertanyaan terakhirnya, Thoyyib Alqur’an dan Sunnah cuman menurut faham siapa? Gitu kan? Ini yang menjadi titik pembeda kita dengan mereka bukan dalam penggunaan Qur’an dan Sunnah semuanya juga pake Qur’an dan Sunnah semuanya punya Dalil, ya nggak? Semuanya juga punya Dalil, Yang jadi permasalahan sekarang bukan punya Dalil apa nggak,

 

Ahli bid’ah sekarang udah pinter nyolong-nyolong Dalil apa lagi kalo tu Dalil ada bangset tulisan dibawahnya dishohihkan sama Albani wah udah kenyang aja ni orang-orang sawah ama Dalil.

 

beginian mah, Sawah tau kan? Salafi Wahabi, Pinter dia nyolong Dalil udeh nyolong-nyolong pinter, Jadi permasalahnnya sekarang bukan punya Dalil apa nggak! punya Dalil cuman kan bagaimana caramu memahami Dalil itu disitu.

 

kan yang  jadi permasalahan setiap kelompok juga punya Dalil dari Alqur’an dan Assunnah cuman kita lihat mana apakah meraka memahami ayat tersebut dan mempraktekkan Ayat atau Hadits tersebut sebagaimana praktek generasi terbaik yaitu Salafussalih atau tidak? Ini yang menjadi pembeda bagi diri kita dan mereka itulah Salafi pada intinya.

 

Salafi adalah: Ketika gamblangnya ni telaknya gamblangnya ketika pada Salafussalih misalnya dalam satu kasus ada dua pendapat  atau ada tiga pendapat maka  jangan kau buat pendapat ke empat, Itu Salafi sekali lagi gamblangnya seorang Salafi adalah ketika dalam satu kasus ternyata dari golongan Sahabat ada dua pendapat maka jangan kau bikin pendapat ke tiga, Ada tiga pendapat jangan kau bikin pendapat ke empat, Itu Salafi.

 

Antara mereka (yaduuru fiihim, ya’ni al-haq) kebenaran ada pada mujmalnya mereka(para sahabat) bukan di per individunya, kita tinggal tarjih cari yang lebih rojih di antara dua pendapat ini, lebih tiga pendapat ini atau cari jama’ atau taufiq kita cari titik temunya satu sama lain supaya ketemu, yang jelas kita nggak bikin pendapat baru yang tidak ada pada mereka, itu salafi, itu seorang ahlus sunnah.

 

Jadi lihat apakah mereka memahami sholawat sebagaimana para sahabat dulu bersholawat? Atau tidak? Atau justru mereka bikin sholawat-sholawat baru? Lihat itu ada nggak pada para sahabat? tahlil, di perintahkan? Di perintahkan(laa ilaha illallah) ini kalimat tauhid luar biasa, cuman bagaimana mereka bertauhid nggak memahami tahlil ini? Apa dengan menyebutkannya, menyanyi bersama-sama dan lain-lain? Atau sesuai dengan seperti yang di contohkan oleh para sahabat ridwanullahu ‘alaihim jami’an,

 

demikian bedanya antara ahlus sunnah dengan bukan kalaupun semuanya akan menggunakan dalil dari al-qur’an dan assunnah.

 

Jadi nanti yang jadi permasalahan adalah bicara memahaminya, tepat atau tidak, sesuai ataukah tidak dengan cara para sahabat memahami hal tersebut, mempraktikkan hal tersebut, thoyyib, barakallahuli walakum pertanyaan yang masuk kita cukupkan sekian.

 

Durasi: 00:05:05
Pencatat: Khoir Bilah on 26 April 2016
Editor:

KISAH 40 RIBU MASUK ISLAM, GARA GARA ANJING – Ustadz Riyadh Bin Badr Bajrey

Ibnu Hajar Al-Atsqalalani meriwayatkan di Durot al Kamil Fil Alyana Bil Hutsamina. kemudian juga Imam Adz-Dzahabi rahimahullah di kisah tentang ketika Mongol ekspansi kaum muslimin, musuhnya Mongol mereka membawa proses kristenisasi ketubuh kaum muslimin, di Syam terutama. Oke!

 

Disebutlah suatu hari dimana pembesar Mongol tanasshor(masuk nasrani, masuk Kristen), mereka mengadakan acara yang besar, ini pembesar Mongol duduk, dan mengadakan haflah ‘adzimah dihadiri orang-orang, dia masuk Kristen nih ceritanya. Dalam acara itu berdirilah seorang pendeta nasrani berdiri dan berkhutbah, dalam khutbahnya dia memaki-maki Muhammad e.

 

Nah ini pembesar Mongol punya anjing kesayangannya, ni anjing dirantai ke tembok, denger ni pendeta menghina-hina rasul ni anjing marah (werrrrr) gitukan kalo marah tuh, (werrr) putus rantainya digigit ni pendeta dengan gigitan yang sangat kuat, sehingga mereka sulit melepaskannya tapi akhirnya lepas juga.

 

Mereka berkata, mungkin ini karena kau menghina-hina Muhammad e mungkin maka akhirnya  tu anjing marah, ni pendeta bilang “gak ni anjing karena terlalu galak aja terlalu waspada, dia lihat aku berdiri berbicara keras dan menggerak-gerakkan tangan dia merasa terancam dia serang aku”.

 

“Ooo oke” di rantaiin lagi dong ni anjing ya kan? Bener lagi suasana sudah di obatin udah tenang, dia berdiri lagi, pidato lagi dia hina-hina kembali Muhammad e, ni anjing bangkit lagi, marah, putus lagi tu rantai yang baru, di gigit leher nya dengan gigitan sampai dia mati di tempat, ni pendeta mati di tempat.

 

Ibnu hajar dan Imam adz-dzahabi bilang, pada saat itu juga 40 ribu manusia masuk islam seketika, gara-gara apa? Gukguk ..

 

Udah masukin berapa orang ke islam ente? masukin anjing kek ke islam, udah belum? Jangan orang ,, kau tak mau membelanya ? khutbah ibnu abi lahab anaknya abu lahab yang menghampiri rosululloh e, dan berkata: aku kufur kepada apa yang kau bawa, aku kufur kepadamu, cuih… dia meludah dan dia cela : aku ceraikan putrimu.. kan dikawinin sama ruqoyyah, sebelum sama ‘utsman itu ruqoyyah nikah sama ‘utbah ibnu abi lahab. Rasul berkata: ”Allah akan mengkuasakan atasmu anjing di antara anjing-anjing NYA”.

 

Ternyata bener ,dalam perjalanan  ke syam mereka sedang bermalam di sebuah lembah bersama ayahnya Abu lahab ,ternyata tau-tau di malam-malam mereka di kelilingi singa-singa.

 

Singkat cerita tau-tau singa tu sudah ada di tengah dan lagi menggigit kepalanya ‘utbah ibnu abi lahab . tuh lihat, ente gak nolongin? Ente gak mau belain Rosul e. Sta’min ente yang rugi , Allah akan jadikan apapun untuk membela Rosulnya e .

 

Ente mendiamkan tu orang yang mengaku nabi setelah Rosul , kau biarkan hidup padahal kau memiliki kuasa untuk menentukan hokum, kau biarkan hidup, biar terserah urusanmu di akhirat nanti karena apa? Karena Allah telah berikan kau kuasa namun tak kau gunakan kuasa untuk membela Rosul.

 

Tidak kau bunuh itu orang yang mengaku nabi setelah Rosul e,  kau biarkan hidup dia, Allah punya gaya sendiri, punya cara sendiri untuk menghantamnya, tenang itu urusan Allah , tapi urusanmu lihat di akhirat nanti. setelah aku berikan kepadamu  kuasa di kaummu kemudian tak kau gunakan kuasamu untuk membela Rosul e. bahkan anjing lebih loyal kepada dirimu.

 

Durasi: 00:04:24
Pencatat: Khoir Bilah on
Editor: