Kajian Singkat : Serba-serbi Doa – Ustadz Nuzul Dzikri, Lc

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudaraku yang dirahmati oleh Allah E.
Banyak di antara kita, dia rajin berdoa siang malam, dia mengucapkan “Ya Rabbiy… Ya Rabbiy…” Pagi dan petang dia mengangkat tangannya dan mengatakan “Allahuma.. Allahuma…”. Tapi dia merasa doanya tidak dikabulkan oleh Allah E.

Saudaraku yang dirahmati oleh Allah E.
Jangan putus asa, jangan sampai kita meninggalkan doa hanya gara-gara masalah ini. Karena Nabi kita H bersabda dalam Hadis Bukhari dan Muslim;

يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ

–Yustajaabu liahadikum maa lam ya’jal.
“Doa seorang dari kalian akan dikabulkan oleh Allah E selama ia tidak terburu – buru”.

Lalu para sahabat bertanya kepada Nabi, “Bagaimana maksud terburu-buru ya Rasulullah?” Lalu Nabi mengatakan

 دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِى  

–Da’watu falam yustajab lii
“Aku sudah berdoa siang dan malam, berdoa, berdoa namun Allah tidak mengabulkan doaku”.

فيستحسر عند ذلك ويدع الدعاء

–Fayastahsir ‘inda dzalika wayad’uddu’aa
“Lalu ia putus asa dan ia meninggalkan doa”.

Ini fatal, justru ketika kita nyeletuk “Aku sudah berdoa terus, aku berdoa terus, aku berdoa terus, dan Allah tidak pernah kabulkan doaku.” Maka pada saat itulah benar-benar doa Anda tidak diterima dan tidak dikabulkan oleh Allah E. Dan para ulama kita mengatakan, bahwa apabila kita sudah nyeletuk aku sudah berdoa siang dan malam, namun Allah tidak pernah mengabulkan. Al Imam Ibnu Bathoh mengatakan, “Itu seperti orang yang beribadah lalu dia ungkit-ungkit ibadahnya”. Seperti orang yang bersedekah lalu ia ungkit-ungkit sedekahnya. Seperti orang yang telah memberi dan berinfak, lalu dikatakan kemarin aku kasih satu juta, lalu dua bulan yang lalu tiga juta, lalu tiga bulan yang lalu sepuluh juta. Itu persis seperti orang yang mengatakan, aku berdoa siang dan malam, tapi Allah tidak kabulkan doa-doaku. Dan itu membuat doa kita tidak diterima oleh Allah E.

Oleh karena itu apa yang harus kita lakukan:

Yang pertama, terus berdoa. Para ulama terdahulu kita mengatakan,

*** Laa ana asyyaddhu khosyatan an akhroman dua min an ukhroman al ijabah ***

“Aku lebih khawatir aku tidak diberikan taufik untuk berdoa daripada doaku tidak diterima oleh Allah E. Yang pertama tetap berdoa, karena doa adalah ibadah yang sangat luar biasa. Anggap saja doa kita tidak dikabulkan oleh Allah E, tapi bukankan doa sendiri itu ibadah yang sangat luar biasa. Maka yang pertama tetaplah berdoa.

Yang kedua, evaluasi diri. Jangan-jangan kita melakukan penghalang-penghalang dikabulkannya doa tersebut. Evaluasi harta kita, evaluasi makanan kita, evaluasi minuman yang kita konsumsi, evaluasi bagaimana respon kita dalam menyambut perintah dan larangan Allah E. Evaluasi diri. Pasti ada yang salah.

Yang ketiga, apabila kita sudah mengevaluasi dan kita merasa bahwa semua syarat-syarat doa sudah kita penuhi, semua adab-adab doa sudah kita lakukan. Maka bergembiralah, karena Allah pasti akan mengabulkan doa kita. Allah berfirman dalam surat Ghafir:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

–Ud’unii astajiblakum.
“Mintalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan.”

Dan Allah bukan munafiq, ketika Allah memberikan janji maka pasti Allah akan berikan janji tersebut. Namun, Allah tidak sesempit pola pikir kita. Karena itulah manusia. Manusia berfikir sangat sempit. Ketika kita meminta keturunan yang ada di pola kita, kita melihat bayi mungil yang diberikan oleh Allah E kepada kita. Pada saat kita meminta mobil, maka kita berharap mobil itu ada di garasi kita. Sedangkan Allah Al-Alim Al-khabir, yang paling tahu mana yang terbaik untuk kita. Oleh karena itu, bisa jadi yang kita minta itu bukan yang terbaik untuk kita. Oleh karena itu Allah tidak berikan permintaan kita, namun Allah ganti dengan yang lain.

Bukankah Nabi kita H bersabda dalam Hadist Riwayat Imam Ahmad:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُواللَّهُ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ

–Maa min muslimin yad’uullah bida’watin laisa fiihaa itsmun wa laa qothii’atun rahiman illa a’thoohullahu bihaa ihdaa tsalaatsin.
“Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah E dengan sebuah doa yang tidak ada unsur dosa, tidak ada unsur memutuskan tali silaturahim, tidak ada unsur kezhaliman”. Artinya doanya baik, maka pasti Allah akan kabulkan namun dengan satu dari tiga cara”. Saudaraku, satu dari tiga cara:

إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ 

–Imma an tu’ajjalu lahu da’watuhu.
Yang pertama, kemungkinan yang pertama Allah kabulkan dengan memberikan apa yang kita inginkan. kita minta rumah, Allah kasih rumah. kita minta mobil, Allah kasih mobil. kita minta keturunan, Allah kasih kita anak kepada kita. itu opsi yang pertama.

  وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ 

–Wa imma an tuddakhirihaa lahu fil akhiroh.
Kemungkinan yang kedua
, Allah tidak berikan yang kita minta. Namun Allah simpan di akhirat. Kita minta rumah, Allah tidak kasih kita rumah sampai meninggal kita masih ngontrak, namun Allah bangunkan istana di surga. A. Itulah lucunya manusia, ketika Allah ganti di surga dengan istana yang begitu sempurna lalu dengan bodohnya kita protes kepada Allah. “Aku minta berhari-hari, bertahun-tahun, tapi Allah gak kasih aku rumah”. Anda tidak tahu bahwa Anda sudah memiliki istana di surga dan ketika Anda nyeletuk demikian, istana itu dihancurkan kembali oleh Allah E. Doa salah seorang dari kalian dikabulkan selama dia tidak terburu-buru. Apa itu terburu-buru dia ungkit aku berdoa siang dan malam namun tidak ada yang dikabulkan oleh Allah E. Padahal tanpa dia sadari, dia sudah memiliki istana di surga. Dia sudah punya fasilitas di surga. Oleh karena itu tahan lisan kita jangan sok tahu di hadapan Allah. Mungkin Allah tidak kabulkan tapi Allah ganti di akhirat. Kita meminta keturunan, minta anak yang sholeh, Allah tidak kasih kita anak tapi Allah berikan kita keturunan di surga nanti. Jangan komplain dengan kebodohan kita kepada Allah.

وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا

–Wa imma an tashrifa ‘anhu min assuui mitslahu.
Kemungkinan yang ketiga
, Allah tidak berikan apa yang kita inginkan. Namun Allah palingkan kita dari musibah bencana yang seharusnya menimpa kita. Kita meminta mobil kepada Allah, mobil itu seharga 500 juta. Allah gak kasih. Tapi Allah jaga kita dari penyakit kanker yang seharusnya menimpa kita, yang kalau kita mengambil paket kemo dan seluruh pengobatan, maka itu akan menghabiskan 500 juta dari kita. Tapi karena kebodohan kita, kita komplain kepada Allah E. Kita minta rumah, Allah gak kasih kita rumah. Tapi Allah palingkan kita dari sebuah kecelakaan maut, yang apabila kita terkena kecelakaan tersebut kita membutuhkan biaya pengobatan bermilyar-milyar rupiah. Tapi lagi-lagi itulah manusia karena kebodohan kita. Kita protes kepada Allah dan kita katakan aku sudah berdoa siang dan malam tapi tidak ada yang dikabulkan oleh Allah E.

Tiga cara Allah kabulkan;
1. Allah berikan apa yang kita inginkan.
2. Allah tidak berikan tapi Allah akan ganti di akhirat, Allah simpan untuk akhirat kita. karena akhirat lebih baik, dan akhirat itu lebih baik bagi Anda daripada dunia.
3. Allah tidak berikan tapi Allah palingkan kita dari musibah yang senilai dari apa yang kita minta.

Begitu para sahabat mendengar penjelasan Nabi H mereka langsung bergairah, mereka katakan:

قَالُوا إِذًا نُكْثِرُ قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

–Qoluu idzan nuktsir. Qoola Allahu Aktsar.
Kalau begitu kami akan perbanyak doa Ya Rosulullah. Apa kata Nabi kita H, Allah akan lebih banyak lagi mengabulkan doa-doa Anda.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Referensi Transkrip
[1] 13 Adab dalam Berdoa.
[2] Keutamaan Doa, Adab dan Sebab Dikabulkan.

Durasi: 00:11:31
Pencatat: Haris Eko Prasetyo on 10 June 2016
Editor: Abu Ahmar

Siksa Allah Itu Pedih Kawan –Ustadz Nuzul Zikri, Lc

Allah berfirman di dalam surat Al-Fajr ayat 25:

فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ

Pada hari itu (hari kiamat) ketika Rab mulai menyiksa manusia. Allah mengatakan,

لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ

Tidak ada seorangpun yang bisa menyiksa lebih pedih dari siksa Allah.

Sebagian Ahli tafsir mengatakan bahwa pada hari kiamat di hadapan seluruh manusia, seluruh manusia berkumpul di sana (di padang masyar). Lalu Allah tantang seluruh psikopat-sikopat dunia, seluruh penguasa-penguasa terkejam, sipir-sipir penjara yang memiliki siksaan paling kejam sipernya Abu Gurait, Buantanamo. Itu dipanggil-panggil sama Allah. Lalu Allah tantang mereka, “Coba anda buat siksa yang paling kejam menurut anda”. Lalu semuanya mengeluarkan idenya masing-masing. Dan ketika mereka melihat neraka. Ternyata tidak ada seorang pun yang bisa mengadzab lebih pedih dari pada adzah Allah. Tidak ada.  Semua gagal.

 

Allah kasih konteks ‘Siapa yang bisa nyiksa manusia paling pedih terserah. Mau dikuliti, Mau dimutilasi, Mau di injak-injak. Ternyata semuanya gagal tidak ada yang lebih pedih dari adzab neraka.

Allahu Akbar…

Kalau ini yang terjadi dan di alami orang kafir yang paling menderita di dunia, bagaimana dengan kita. Masihkah kita menjual ayat-ayat Allah? Menjual kesempatan yang Allah sudah berikan untuk kita?Menelantarkan iman! Anugerah yang paling berharga di dunia. Hanya gara-gara dunia yang gak ada apa-apanya.

Hadirin, kita belum dituntut banyak di Indonesia, kita hanya diminta jaga sholat, puasa, bagi waktu dengan keluarga. Kita hanya di minta, coba lihat jangan makan yang haram, cuma itu aja. Allah belum minta darah kita hadirin. Allah belum minta kita hijrah dari tempat kita… Indonesia enak banget, semua ada.

Coba bandingkan saudara-saudara kita yang ada di belahan dunia yang lain. Mereka bersimpah darah, mereka angkat senjata. Kita, kita cuma di suruh sholat lima waktu, kok gak bisa juga sich? Karena alasannya lagi-lagi dunia, dunia dan dunia lagi. Terlepas itu harta, wanita, jabatan dan tahta, ambisi-ambisi kita tersebut.

 

Hadirin, kesengsaraan yang paling tragis di dunia itu ibarat surga kalau dibanding neraka Allah.

Oleh karena itu marilah kita renungkan kita hidup di sini hanya berapa lama? Kapan kita kembali kepada Allah E? Dan kita hidup di lingkungan mayoritas muslim. Adzan di komandangkan setiap saat, lalu kita tidak tergugah juga. Saya tidak tahu apakah kita bisa menyampaikan udzur kita di hadapan teman kita ketika pada hari kiamat di hadapan Allah E.

 

Ini yang perlu kita renungkan. Para-para siksa dunia itu ibarat surga jika kita melihat siksa neraka.

 

Allahuta’ala bishoaf.

Durasi: 00:04:18
Pencatat: Khoir Bilah on 26 May 2016
Editor: Abu Ahmar

Melihat Kehidupan Dari Dua Sisi – Ustadz Nuzul Dzikri Lc

Hadirin selalu lihat dari dua sisi dan dua arah yang berbeda. Jangan hanya melihat beban itu sabagai beban tapi lihatlah sisi positifnya, hikmahnya. Positif thingkinglah ketika menghadapi masalah keluarga. Ketika orang tua kita tidak mengajari kita, mungkin Allah ingin langsung mengajari kita dengan ujian-ujian seperti ini. Ujian yang Allah berikan adalah sebuah edukasi bagi kita. Jadi jangan mundur, justru ini pembelajaran untuk melatih kedewasaaan kita, kebijaksanaan kita dan seberapa jauh kita mendekat kepada Allah sebagian ulama mengatakan apa?

***

“Sesungguhnya masalah dan ujian di dunia itu bukan untuk menguji kekuatan anda tapi untuk menguji seberapa kuatkah anda meminta pertolongan kepada Allah E”.

Jadi inilah saatnya kita bersipu di hadapan Allah, nangis di hadapan Allah. Mungkin kalau gak diginikan kita gak bisa meresapi kalimat ‘Lahaula wala kuwwata illa billahi’. Tidak ada daya dan kekuatan  kecuali dengan pertolongan allah.

Bedah loh ketika kita baca ‘Lahaula wala kuwwata illa billahi’ kita lagi dipuncak karir kita, kita bisa perintah sana, perintah sini. Dengan sakit kita baca ‘Lahaula wala kuwwata illa billahi’ kita lagi terhempas, kita sedang lemah, kita berada di titik nadir kehidupan kita dan saat kita bisa meresapi kalimat tersebut itu ‘bangker-bangkernya surga’ kata nabi H dan Allah akan mudahkan kita,

***

“Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, Allah akan mencukupi masalah-masalah kita” (At-Tholaq :3)

 

Durasi: 00:02:15
Pencatat: Khoir Bilah on 20 May 2016
Editor: Abu Ahmar

Mintalah Pertolongan Kepada Allah Ustadz Nuzul Dzikri, Lc

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسّلَامُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ أَمَّا بَعْدُ

Saudaraku yang dirahmati Allah subhana wa ta’ala.
Siapa diantara kita tidak memiliki masalah?
Kita tidak memiliki problem,,,
Baik ketika menghadapi pasangannya, suaminya atau istri.?

Ketika berinteraksi kepada anak-anaknya atau ketika berada di kantor. Ketemu dengan rekanan bisnis atau klien atau ada masalah dengan usaha, kios yang dia punya.

Tahukah kita?
Bahwa Allah subhana wa ta’ala memberikan kita solusi yang ekonomis namun efektif. Allah subhana wa ta’ala berfirman, dalam surah Al-Baqoroh ayat 45 :

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dengan mengerjakan sholat.

Ya… apa yang sulit bagi Robbul ‘alamin,

Apa yang berat bagi Maalikiyaumiddin. Rab alam semesta alam ini.
Ketika Allah subhana wa ta’ala ingin menyelesaikan urusan kita. masih ingat surat yasin? Allah hanya mengatakan

كُنْ فَيَكُونُ.

Allah mengatakan terjadilah maka terjadi.
Kalau memiliki tentara sangat banyak terkadang itu yang kita lupa. ketika kita ada masalah yang kita hubungi adalah teman kita, yang punya posisi bagus. yang kita hubungi adalah saudara kita yang punya jabatan.

Kita lupa untuk menghubungi yang punya Alam semesta yang punya langit dan bumi, yang mempunyai hati hati orang yang sedang bermasalah sama kita. oleh karena itu dalam hadits Imam Ahmad kita lihat Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam :

idza hazabahu amrun sholla.

Dan ketika ada masalah yang ada di hadapan beliau, maka beliau mengerjakan sholat!
Ya beliau mengerjakan sholat. Bertaqorrub kepada Allah, sujud kepada Allah, minta kepada Allah subhana wa ta’ala, merendahkan diri di hadapan Allah. agar Allah bantu!
ini konsep para nabi dan rosul. para nabi dan rosul ketika ada masalah maka mereka mengerjakan sholat, sebelum mereka berikhtiar atau melanjutkan perjuangana mereka tersebut.

Perjuangan itu penting. Ikhtiar itu gak penting kita perdebatkan tapi jangan andalkan diri anda sendiri, jangan bertempuh kedua kaki kita yang rapuh. Bertempuhlah kepada kekuatan Allah subhana wa ta’ala :

lلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِالله

Lihat bagaimana nabi Ibrohih ‘alaihi wa sallam ketika Saroh istri beliau di tanggkap oleh pasukan fir’aun dan ingin diperkosa oleh fir’aun, ya fir’aun pada zaman ibrohim bukan fir’aun nabi musa. Apa Nabi Ibrohim yang lakukan? dia mengerjakan sholat. Dan dalam riwayat ketika Sarah berhadapan dengan Fir’aun maka beliaupun mengerjakan sholat! Minta pertolongan kepada Allah subhana wa ta’ala. Dan ini diterapkan oleh orang orang sholeh sebagaimana yang di riwayatkan oleh Imam Al Baihaqi shohabbul iman bahwa Abdullah Bin Abbas, mendapatkan berita tentang musibah saudara beliau, Apa yang beliau lakukan? beliau langsung mengerjakan sholat, minta pertolongan kepada Allah subhana wa ta’ala.

Begitu juga ketika Abdulrrahman Bin Auf tiba tiba pingsan, lalu berita ini sampai ketelinga istri beliau Ummu Kultsum, apa yang dilakukan oleh Ummu Kultsum, beliau langsung pergi ke masjid dan sholat dan minta pertolongan kepaa Allah subhana wa ta’ala dan sanadnya pun juga shahih.

Ini yang perlu kita camkan mana orang orang sholeh tersebut mereka berjuang mereka berusaha mereka ikhtiar tapi mereka tidak melupakan Allah subhana wa ta’ala. Mereka tidak mengandalkan kemampuan mereka yang sangat terbatas.

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا 

Manusia itu kata Allah itu di ciptakan dalam keadaan kondisi lemah. (An-nisa, ayat 28)
Mungkinkah yang lemah itu bisa menyelesaikan seluruh problematika-problematikanya. Mungkinkah yang lemah itu bisa menyelesaikan masalah masalahnya. Yang lemah meminta tolong kepada yang maha kuat, Yang Maha Baik, Yang Maha Rahmat, Yang Maha Rohim.

Sekarang marilah kita rubah bagaimana menyelesaikan masalah kita, luangkan waktu, tidak lama, tidak membutuhkan waktu satu jama atau dua jam hanya membutuhkan waktu berapa menit. Ambil air wudhu lalu niatkan sholat mutlak minta pertolongan kepada Allah subhana wa ta’ala. sholat apabila pada saat itu bertepatan dengan sholat sunnah tertentu seperti dhuha lakukan sholat dhuha…

Kalau itu tidak berkaitan dengan sholat sunnah ertentu maka kerjakan sholat mutlak. dua rakaat dua rakaat salam dua rakaat salam dan rasakan bedanya karena Allah tolong kita. Karena Allah subhana wa ta’ala menjajikan:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

minta kepada diriku aku akan kabulkan

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Durasi: 00:05:25
Pencatat: Khoir Bilah on 11 May 2016
Editor: Abu Ahmar

Nikmatnya Di Ghibah – Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc.

Saudaraku yang dirahmati Allah swt. Pernahkah kita dikunjing oleh seseorang dicaci oleh seseorang , dicela oleh seseorang atau mungkin di fitnah oleh seseorang, mungkin orang tersebut hanya berani berbicara di belakang kita atau mungkin dihadapan kita. Kira-kira apa komentar kita dan respon kita ketika kita di gunjing dan di ghibahin oleh orang.

 

saya rasa kita sudah bisa menerka banyak diantara kita yang marah yang mengumpat, yang menunjukkan kekecewaannya karena merasa di tikam dari belakang saat ini di gunjing atau dighibahin oleh teman atau sahabatnya. Bahkan ada diantara kita  ada yang mendatangi rumah tersebut dan melabraknya.

 

kita luapkan emosi kita dan kekecewaan kita di hadapan dirinya. Bahkan banyak diantara kita berupaya membuat skor menjadi 1-1.

 

Kita gunjing dia di beberapa tempat pergaulan kita. Kita sebutkan aib-aibnya sebagaimana dia menyebutkan aib kita. Kita umbar kejelakan-kejelekannya, rahasia-rahasianya yang selama ini kita simpan…. sebagaimana dia mengungkapkan rahsia-rahasia kita.

 

…. itulah yang mungkin terjadi di masyarakat kita pada saat-saat ini. Tahukah kita? Bahwa menjadi korban gunjingan orang, fitnahan orang, itupun dialami oleh para ulama kita.

 

Mari kita simak bagaimana respon kita!

Salah satu catatn sejarah sejarah yang menarik dalam masalah ini apa yang yang terjadi dan dia lamai hasan al bashri suatau ketika ada yang memberikan laporan ke beliau bahwa ada yang menggunjing dan mengghibahin beliau di belakang beliau.

 

Apa yang beliau lakukan, apa yang dilakukan hasan al- bashri. Apakah beliau langsung marah? Beliau langsung meluapkan emosinya, beliau langsunga melabrak orang tersebut? Ternyata tidak!

 

Yang  beliau lakukan adalah beliau siapkan sepiring kurma. Lalu ia kirimkan ke orang  yang menggunjing beliau tersebut. Lalu ketika berhadapan pengunjing, penggibah.

 

Beliau mengatakan,

Telah sampai berita kepada diriku bahwa engkau telah menghibahkan dan memberikan sebagian pahalamu kepada diriku, jazakallahu khairon (semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan balasan kepada dirimu yang banyak) dan aku berikan kepada dirimu sepiring kurma sebagai hadiah karena aku ingin membalasmu. Dan tolong maafkan diriku apabila aku tidak bisa memberikan balasan sebagaimana yang engkau berikan pada diriku.

 

Apa maknanya?

Al hasan al bashri meminta maaf kepada orang tersebut. Mohon maaf saya tidak bisa membalas  pahala engkau dengan pahala serupa. Saya tidak bisa menghadiahkan pahala saya sebagaimana engkau menghadiahkan pahalamu kepada diriku. Allahu Akbar…

 

Dighibahi, digunjing, difitnah bukannya malah marah dan mengamuk justru menyiapkan sepiring kurma untuk di hadiahkan kepada orang yang menggibahi orang tersebut.

 

Sudahkah iman kita, keyakinan kita, pemahaman kita sampai pada derajat seperti itu. Mungkin ada yang berkata, apakah beliau masih waras ustadz? Beliau sangat waras dan inilah sebuah contoh dari kecerdasan, keimanan seseorang. Kecerdasan emosional seseorang. Pada saat itu yang ada di benak beliau  sabda nabi salallahu ‘alaihi wa sallam, ketika nabi salallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda ( dalam hadits riwayat Imam muslim, seraya bertanya kepada para sahabat) :

 

“Tahukah kalian wahai para sahabatku, siapakah orang yang paling bangkrut? “

 

para sahabat langsung merespon dan menjawab,

 

Orang yang bangkrut di tengah-tengah kami orang yang tidak memiliki dirham dan perhiasan. Orang yang tidak punya harta, hartanya habis karena sebuah kegagalan dalam bisnis misalnya.

 

Lalu nabi salallahu ‘alaihi wasallam meluruskan pemahaman tersebut apabila dikaitkan dengan agama. Nabi kita salallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

 

“orang yang bangkrut dari umatku  yaitu orang yang datang pada hari kiamat nanti, membawa pahala sholat, pahala puasa, pahala zakat. Dan pada saat yang bersamaan ia datang di hari tersebut  dengan membawa dosa telah mencela seseorang, telah menuduh seseorang tanpa bukti, telah mengambil harta orang dengan cara yang haram, telah menumpahkan darah seseorang, dan telah memukul dan menyakiti seseorang. Lalu Allah swt mengambil pahalanya untuk Allah berikan kepada korban-korbannya.

 

Ia punya pahala sholat ia berikan kepada orang yang ia gibahi di dunia. Pahala puasanya Allah berikan kepada orang yang ia fitnah di dunia. Pahala zakatnya Allah berikan kepada orang yang hartanya diambil olehnya. Korban-korban kedzolimannya mendapatkan pahala darinya. Lalu nabi melanjutkan sabda tersebut dan apabila pahalanya sudah habis, namun korban-korban kedzolimannya itu masih ada, masih banyak apa yang terjadi berikutnya, lalu dosa-dosa korban tersebut dilimpahkan oleh Allah pada dirinya, sehingga dia penuh dengan dosa dan kehabisan pahala.

 

Dan pada akhirnya dilemparkan di dalam api neraka… naudzbillah min dzalik.

Inilah hadits yang dipahami oleh para ulama dan bukan hanya dipahami namun mereka  meletakkan di dalam sanu bari mereka dan mereka bumikan di dalam kehidupan mereka. Mereka tidak marah ketika dighibahi, mereka tidak marah ketika difitnah, bahkan mereka bersyukur kepada Allah swt.

Abdurrahman bin Mahdi pernah mengatakan,

 

Kalau saja aku tidak membenci bahwa ada unsur kemaksiatan kepada Allah, kalau saja aku tidak membenci Allah dimaksiatin maka aku sangat berharap. Seluruh orng di negeri ini membicarakan diriku, memfitnah diriku dan menggibahi diriku. Allahu Akbar!

 

Abdurrahaman bin Mahdi mengatakan demikian,

Saya sangat berharap seluruh orang menggunjing diri saya, saya sangat berharap semua orang memfitnah diri saya kalau tidak ada unsur kemaksiatan kepada Allah, tapi aku benci Allah di maksiati dengan cara seperti itu. maka aku tidak berharap demikian.

 

Kenapa demikian? saudaraku yang dirahmati Allah.

Karena mereka faham dan mereka yakin setiap gunjingan, setiap fitnahan itu sama saja mentransfer pahala untuk diri mereka. Mereka mendapatkan pahala orang tersebut, tanpa bersusah payah. Mereka akan mendapatkan pahala puasa. Pahala zakat, pahala sedekah tanpa harus beramal dengan diri mereka sendiri dan kalau pemfitnah atau penggibah tersebut tidak memiliki pahala. Maka kita sebagai korban mereka akan mentransfer dosa-dosa kita kepada pengunjing, penggibah dan pemfitnah tersebut.

 

jika kita benar-benar faham hakekat dan fakta ini. Apakah masih ada alasan untuk marah, Apakah masih ada alasan untuk kecewa,. Apakah masih ada alasan untuk meluapkan emosi bahkan mengumpat atau bahkan berusaha mengubah skor menjadi satu sama.

 

Renungkanlah…

Resapilah…

Agar kita benar-benar faham masalah ini dan terakhir bagi para penggibah, para pemfitnah, bertaubatlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kenapa anda memfitnah seseorang? Karena anda benci dia, kira-kira mau tidak anda memberikan uang anda kepada orang yang anda benci. Tentu saja jawabanya tidak.

 

Kalau anda tidak mau memberikan uang anda kepada orang yang anda benci. Kenapa anda dengan mudahnya memberikan pahala anda kepada orang yang anda benci, kenapa anda dengan mudahnya memberikan ganjaran-ganjaran dari amal ibadah anda kepada orang yang anda benci. Dan mengapa anda mempertaruhkan sehingga orang tersebut memberikan dosa dia kepada kita. Allahu Akbar…

 

Renungkanlah…

Mulai sekarang cegahlah diri kita agar tidak menggibah orang dan memfitnah orang. Dan apabila kita sudah terlanjur beristighfarlah dan bertaubatlah kepada Allahu azza wa jalla.

 

Semoga nasehat kali ini bermanfaat. Untuk si pembicara pribadi khususnya maupun yang mendengarkan dan menyaksikan secara umum!

 

Durasi: 00:12:42
Pencatat: Khoir Bilah on 04 May 2016
Editor: