Tausiyah Singkat : Kecintaan Ulama Kepada Buku – Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Kitab – kitab para ulama bukan hanya kita pajang, bukan hanya kita taruh di lemari kita. Sebenarnya kalau kita bisa memanfaatkannya dengan baik kita akan mendapatkan faedah ilmu yang begitu luar biasa.

Memang para ulama gemar untuk mengoleksi buku, memang para ulama gemar untuk mencari buku dan mereka mengumpulkannya bahkan mereka mencari dari berbagai negeri. Ada yang mencari sanad, ada yang mencari buku – buku yang mungkin sudah hampir punah.

Ulama terdahulu semangat mengoleksi dan mempelajari buku

Diantara contohnya para ulama yang gemar mengoleksi buku diantaranya adalah Ibnul Qoyim. Diceritakan oleh Ibnu Hajar Asqalani bahwasannya Ibnul Qoyim ketika meninggal dunia dia memiliki perbendaharaan buku kitab yang begitu banyak sampai sampai anak – anaknya ketika mendapatkan buku – buku dari Ibnul Qoyim mereka menjualnya sampai itu memakan waktu yang lama. Dan padahal itu sudah dibagi bagi jumlahnya untuk anak – anak dari Ibnul Qoyim. Ini menunjukan bahwasannya begitu banyaknya buku – buku yang dikoleksi oleh Ibnul Qoyim.

Yahya bin Ma’in dia punya buku yang tertata di lemari penuh yang tertata dalam seratus empat belas lemari dan ada empat lemari besar yang semuanya berisi penuh dengan buku, yang semuanya penuh dengan kitab, kitab – kitab para ulama.

Contoh lagi para ulama yang punya semangat untuk mengoleksi buku bahkan buku ini yang selalu menemaninya, yaitu seperti guru dari Ibnul Qoyim, yaitu Ibnu Taimiyah.

Ketika Ibnu Taimiyah dalam keadaan sakit, maka yang selalu menemaninya adalah sebuah buku sebuah kitab. Dia ketika sadar dia membacanya, ketika dia tidak sadar dia meletakannya dan ketika itu sampai seorang dokter yang memeriksa Ibnu Taimiyah itu mewanti wanti, wahai Ibnu Taimiyah janganlah engkau menyibukkan waktumu dengan ini, ini bisa memudharatkanmu jika engkau sibuk membaca buku. Apa – apa waktumu engkau habiskan sibuk dengan buku tersebut.

Maka, kita lihat disini semangatnya para ulama untuk mengoleksi buku. Namun, mereka bukan mengoleksinya saja, mereka membacanya, menghayatinya, menarik faedah – faedah didalamnya kemudian mereka amalkan.

Empat kiat mendapat manfaat dari kitab

Intinya disini, kami memberikan kiat – kiat agar kita bisa mendapatkan manfaat dari buku. Kiat singkat yang kami berikan;

Pertama, dalamilah bahasa arab. Karena dengan kita dalami bahasa arab akan terbuka cakrawala ilmu dan itulah yang jadi pembuka. Jadi dengan mempelajari bahasa arab terutama dalam mempelajari kaedah – kaedah dalam ilmu nahwu dan sharaf selain kita memperbanyak kosakata itu akan membuka pintu untuk mempelajari ilmu agama. Beda dengan orang yang tidak menguasai bahasa arab.

Yang kedua, ketika kita menguasai bahasa arab, maka belajarlah dari seorang guru. kita kaji kitab – kitab dari guru tersebut. Kenapa kita musti punya guru?, karena kalau kita cuma otodidak mempelajari buku tersebut tanpa panduan seorang yang lebih paham, seorang yang lebih berilmu kita bisa salah paham dalam memahami buku tersebut. Jadi, duduklah bermajlis dengan seorang guru agar kita bisa mendapatkan faedah ilmu yang bermanfaat.

Kemudian yang ketiga, yang kita lakukan adalah selain kita pelajari dari bahasa arab kemudian mengkajinya dari seorang guru kemudia kami contohkan dari apa yang dilakukan oleh para ulama, yaitu koleksinya buku – buku yang bermanfaat.

Buku – buku apa yang kita pilih kita cari dari ulama – ulama yang sudah punya ilmu yang siqqoh yang kredibel dalam masalah ilmu, ilmu – ilmu yang terpercaya jadi bukan dari sembarang penulis, bukan dari sembarang orang namun dari ulama yang sudah punya ilmu yang terpercaya.

Ada Ibnu Hajar, ada Imam Nawawi, ada juga ulama – ulama besar saat ini yang mereka punya buku – buku yang mumpuni yang ketika itu kita mengkajinya kita akan mendapatkan faedah yang begitu banyak.

Seperti inilah yang kita kaji yang kita koleksi dari apa yang sudah disarankan oleh para ulama mulai dari buku – buku aqidah, fikih – fikih dasar terutama kita mempelajari dari mazhab tertentu tanpa punya sifat untuk fanatik namun ini cuma sebagai dasar saja. Kemudian buku – buku dalam masalah akhlak, tazkiyatu nufus, dan kitab atau buku – buku yang lain.

Kemudian kiat yang terakhir, hendaklah kita punya sikap semangat dan pintar membagi waktu ketika kita belajar. Nabi katakan;

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

— Ihrish ‘ala maa yanfa’uka wasta’in billahi wala ta’jiz

“Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu minta tolonglah pada Allah dengan banyak berdoa supaya mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan (janganlah — Ed) pantang menyerah, jangan punya rasa malas ketika belajar.” (HR. Ahmad 9026, Muslim 6945, dan yang lainnya).

Inilah kiat – kiat ya ikhwan sekalian, amalkanlah kiat – kiat ini mulai dari kita mempelajari bahasa arab, belajar dari seorang guru, berusaha untuk mengkoleksi buku – buku yang ini adalah buku – buku yang bermanfaat, mulai dari buku – buku bahasa Indonesia yang mungkin kita pahami yang kita koleksi.

Kalau kita sudah punya kemampuan kita mengumpulkan buku – buku bahasa Arab dan pintar dalam membagi waktu serta (jangan — Ed) pantang menyerah untuk terus belajar.

Maka, ingatlah faedah yang besar. Orang yang mempelajari ilmu agama, orang yang menekuni ilmu agama dia tidak akan pernah bingung ketika beramal karena dia punya dasar ilmu.

Kemudian inilah yang menjadi sebab dasar untuk banyak mendapat kebaikan.

Kata Nabi;

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

— Manyudillahu khairan yufaqqihhu fi dinniini…

“Siapa yang menginginkan kebaikan maka Allah akan memahamkan baginya untuk memahami agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Dan mudah – mudahan Allah memberi kita taufik untuk meraih ilmu dari ilmu itu kita bisa amalkan dari kita amalkan bisa kita dakwahkan pada orang lain dan kita sabar dalam menjalani hal – hal tadi.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

=== ## ===

Sumber;

  1. https://muslimah.or.id/7999-bersemangatlah-dan-jangan-lemah.html
Durasi: 00:07:54
Pencatat: Haris Eko Prasetyo on 10 November 2016
Editor: kamti

Serial Fikih Islam (48): Adab-Adab Bertakziah – Ustadz Abduh Tuasikal

Bismillahirrahmanirrahim…
Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Para pemirsa yang semoga selalu dirahmati dan di berkahi oleh Allah E, dan mudah-mudahan Allah E senantiasa memberikan kita taufik untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Kali ini kita akan melihat satu pembahasan lagi setelah kita melihat bagaimanakah memandikan si mayyit, mengafani si mayyit dan juga sampai menyolatkannya dan juga hingga dikuburkan. Itu adalah 4  kewajiban yang telah kita jelaskan. Saat ini kita akan melihat yah bagaimanakah ketika kita menyikapi si mayyit setelah dia itu di kuburkan.

Sedih menangisi mayyit dibolehkan, selalu sabar

Di sini di jelaskan dalam beberapa point Al-Qori Abu Syuja. Tidak apa-apa kalau kita menangisi si mayyit apalagi dia adalah keluarga dekat kita yang meninggal dunia, apalagi itu anak kita, apalagi itu adalah orang tua kita. Tidak ada masalah untuk menangisi mereka. Asalkan, nanti dijelaskan oleh Abu Syuja, tidak berlebih-lebihan isak tangis tersebut.

Nabi Muhammad H pernah di tinggal mati oleh anaknya Ibrahim dan ketika itu terjadi gerhana. Tat kala Ibrahim itu meninggal dunia maka Nabi H dan begitu sedih dan beliau meneteskan air mata ketika itu. Maka ini menunjukkan dalil bahwasanya menangisi mayyit itu masih di bolehkan. Kita mengeluarkan air mata ketika ada diantara kerabat dekat kita itu meninggal dunia itu dibolehkan.

Namun beliau mengatakan tanpa teriak-teriak, dan juga tanpa memukul – mukul pipi maksudnya disini adalah mengangis tidak apa-apa tadi seperti itu. Kita menangis tidak apa-apa namun tidak boleh sampai meraung – raung mentangisannya, tidak boleh sampai teriak – teriak;

“Wah ini sudah pergi keluargaku, nih anakku sudah pergi.”

Tidak boleh teriak – teriak seperti itu. Dan juga kita tidak boleh tangan kita atau anggota tangan kita ini berkeluh kesah, dengan badan itu di pukul atau dikeluarkannya darah atau kepala kita di beturkan di tembok misalnya atau ada benda – benda yang kemudian itu dihancurkan.

Maka perbuatan sikap seperti ini menunjukkan sikap tidak sabar. Padahal ketika kita menghadapi musibah seperti ini adalah kita punya kewajiban untuk bersabar pertama kali. Perbuatan tadi itu adalah tidak sabar.

Karena Nabi H juga katakan bahwasanya kesabaran itu kita lakukan ketika pertama kali mendapatkan musibah. sebagaimana kata Nabi SAW:

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

…. Innamash shobru indash shodmatil uula

“Yaitu kesabaran itu ketika kita mendapatkan musibah pertama kali” (HR. Bukhari, no. 1283)

Bukan setelah kita itu bersedih, setelah kita menghancurkan segala sesuatu baru kita menyesal dan mengatakan kita itu bersabar saat ini, tidak!

Lalu setelah itu beliau katakan itu menyikapi si mayyit yang meninggal seperti tadi, kita tidak boleh terlalu bersedih sekali. Boleh saja mengeluarkan air mata tapi tidak boleh berlebih – lebihan.

Takziah (menghibur) keluarga si mayyit maksimal 3 hari

Kemudian tentang takziah setelah itu beliau jelaskan. Beliau katakan mayyat tersebut nanti keluarganya itu boleh di takziahi, kita boleh melakukan takziah terhadap keluarganya cuma 3 hari setelah pemakaman, tidak boleh lebih dari pada itu. Ini yang diyakini oleh mazhab Syafi’i.

Jadi hari pertama, hari kedua, hari ketiga kita boleh menghibur mereka. Sedangkan hari-hari berikutnya hari ke empat, hari ketujuh sampai hari ke empatpuluh, hari keseratus atau hari keseribu tidak perlu melakukan takziah lagi. Karena kalau tiga hari itu sudah dikatakan maksimal.

Setelah tiga hari biasanya kesedihannya itu sudah usai bahkan dia sudah melupakan si mayyit tadi, sudah ridho dengan keputusan Allah E. Namun kalau di ungkit lagi, pas satu minggu di ungkit lagi ingat lagi. Setelah 40 hari kemudian melakukan takziah lagi, maka ingat lagi keluarga tersebut.

Maka ulama Syafi’iyyah itu katakan seperti itu kecuali jika matinya itu tragis, tidak wajar dan keluarga itu begitu sedih maka kita boleh melakukan takziah lebih dari 3 hari untuk menghibur mereka lebih banyak, memotivasi mereka suapaya lebih bersabar dan namanya takziah seperti itu.

Takziah itu maksudnya adalah menghibur keluarga si mayyit untuk bersabar terhadap takdir Allah E. Memotivasi mereka akan pahala yang besar dibalik semua itu tanpa ada ritual – ritual tertentu, tanpa ada membaca ayat Al Qur’an tertentu di acara takziah tersebut. Cukup menghibur saja mereka, itu sudah termasuk di dalam melakukan takziah.

Satu liang satu mayyit kecuali keadaan hajat

Kemudian yang terakhir yang dikatakan oleh Abu Syuja yaitu tentang masalah menguburkan mayyit dalam kuburan lebih dari satu mayyit. Disini dikatakan tidak boleh menguburkan dua mayyit dalam satu kuburan (satu liang lahat) kecuali jika dalam keadaan hajat (butuh).

Misalnya mayyit yang meninggal dunia dalam keadaan butuh ratusan orang ketika itu sekaligus mati, maka boleh dilakukan penguburan masal cuma di satu liang lahat saja. Namun kalau kita bisa pisah-pisah setiap kubur satu mayyit, maka itu cara yang terbaik, tidak digabungkan dalam satu kubur untuk dua mayyit sekaligus.

Inilah yang dikatakan oleh Abu Syuja yang terakhir tentang masalah menguburkan jenazah dan sebelumnya beliau bahas tentang takziah dan menangisi si mayyit. Nah, inilah pembahasan terakhir kita dalam pertemuan kali ini dan ini sekaligus pembahasan terakhir yang menutupi pembahasan kita dalam kitab sholat.

Setelah sebelumnya kita mengawali dengan kitab thoharoh (bersuci) sampai pembahasan haid dan nifas. Kemudian setelah itu di awali lagi dengan kitab sholat sampai kita bahas tata cara sholat secara lebih lengkap dengan menjelaskan rukun-rukun, sunnah-sunnah dan yang lainnya yang disebutkan oleh Abu Syuja.

Dan terakhir tadi kita telah membahas tentang masalah jenazah, ini menjadi pembahasan terakhir kita. Mudah – mudahan bermanfaat bagi kaum muslimin sekalian tentang pembahasan ini dan mudah – mudahan Allah Ememberikan kita ilmu yang bermanfaat dan memberikan kita taufik untuk beramal sholeh.

Subhanaka Allahumma wabihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Durasi: 00:07:36
Pencatat: Khoir Bilah on 05 November 2016
Editor: kamti

Serial Fikih Islam (29): Perbedaan Cara Sholat Pada Perempuan – Ustadz Abduh Tuasikal

 

 

Innalhamdalillaah nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastagfiruh wa na’uzubillahi min syururi anfusina wa min sayyi`ati a’malina man yahdillahu fa laa mudillalah  wa man yudlilhu fa la hadiyalah wa asyhadu alla ilaha illallaah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma salli ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala alihi wa man tabi’ahum bi ihsan ila yaumiddin.

 

Para pemirsa sekalian, kali ini kita akan melihat pembahasan dari kitab matan al-gayah wat taqrib atau yang dikenal juga dengan matan Abu Syuja. Kali ini membahas tentang masalah sholat, dimana Abu Syuja akan membahas tentang pembeda antara sholat laki-laki dan sholat perempuan, ya pembeda antara sholat laki-laki dan sholat perempuan. Beliau menyampaikan hal ini setelah menyampaikan tentang rukun sholat, setelah menyampaikan tentang sunnah-sunnah sholat, lalu beliau menyampaikan apa saja perbedaan antara sholat laki-laki dan sholat perempuan.

 

Di sini yang pertama beliau sampaikan untuk sholat laki-laki ya untuk sholat laki-laki, laki-laki itu sholat ya dengan menjauhkan lengannya, menjauhkan lengannya saat dia itu turun ruku’ atau sujud, ketika sujud nampak jauh dari lambungnya ya itu nampak jauh dari lambungnya. Kemudian saat ruku’ ketika itu keadaannya tangan itu memegang lutut dan keadaan itu membungkuk, ya keadaan itu membungkuk. Nah itu posisi saat sujud dan ruku’.

 

Perbedaannya dengan perempuan ya saat perempuan itu ruku’ atau sujud itu kata beliau ya bahwasanya sholat perempuan itu

تضم بعضها إلى بع

tadummu ba’duha ila ba’d

“saling bertemu antara satu dengan lainnya”

bahwasanya sholat perempuan itu merapat untuk anggota-anggota badannya. Jadi tidak merenggang jauh, misalnya antara ya dia ketika sujud membuka tangannya, tidak demikian, namun merapatkannya. Hal ini disebabkan mubalagatu fi sakat karena tujuannya untuk menutup diri pada wanita agar dia lebih sempurna. Maka agar lebih rapat untuk wanita dibandingkan dengan laki-laki saat melaksanakan sholat.

 

Namun perlu dipahami bahwasanya yang lebih tepat dalam masalah ini, ketika wanita itu sholat gerakannya saat ruku’ ataupun sujud itu sama dengan laki-laki. Itu tadi tidak dibangun atas dalil yang menunjukkan ada perbedaan antara sholat laki-laki dan perempuan dalam masalah ruku’ ataupun sujudnya, yang tepat ketika ruku’ atupun sujud, saat sujud misalnya perempuan tetap juga membuka tangannya ya membuka tangannya jauh dari lambungnya sama dengan laki-laki karena tidak ada perbedaan dalam masalah ini. Inilah yang lebih tepat ketika seorang wanita itu melakukan sujudnya.

 

Kemudian perbedaan yang lainnya lagi ini disebutkan oleh Abu Syuja yang berikutnya adalah dalam masalah mengeraskan suara. Kalau untuk laki-laki mereka mengeraskan suaranya

في موضع الجهر

fi maudih’il jahr

“pada tempat yang jahr”

yaitu ketika membaca surat-surat atau membaca bacaan-bacaan yang dijahrkan. Dan ini dilakukan pada sholat-sholat tertentu yaitu pada sholat-sholat yang dikerjakan di malam hari sholat magrib, kemudian sholat isya, dan sholat subuh. dI sini bacaannya itu dijahrkan.

 

Sedangkan untuk perempuan dikatakan oleh Abu Syuja

تخفض صوتها بحضرة الرجال الأجانب

takhfudhu shautaha bi hadratir rijalil ajanib,

“merendahkan suaranya saat ada lelaki asing”

mereka melirihkan suara tatkala hadir laki-laki asing saat itu ya, yaitu laki-laki yang bukan mahram saat itu ya. Namun asalnya disini kalau kita lihat dari perkataan Abu Syuja berarti kalau tidak ada laki-laki tetap suaranya itu dikeraskan, semisal dia melaksanakan sholat maghrib walaupun sendirian, semisal dia malaksanakan sholat isya ataupun sholat subuh tetap dikeraskan.

 

Namun kalau ada laki-laki ya yang hadir saat itu mungkin dia melakukannya di masjid atau melakukannya di rumah, namun dekat pintu keluar sehingga nanti orang-orang mendengarnya. Maka ketika yang lebih bagus dikatakan Abu Syuja

تخفض صوتها

takhfudhu shautaha

“merendahkan suaranya”

dia memelankan suaranya, melirihkan suaranya daripada mengeraskannya. Nah ini menunjukkan juga bahwasanya suara perempuan itu bisa mengundang fitnah. Sebagaimana yang Allah a katakan:

فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

falaa takhdha’na bilqauli fayatma’al lazi fii qalbihi marad (Al-Ahzaab:32).

“Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara. sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya”

Maka janganlah wanita itu melembut-lembutkan suaranya ya, mendayu-dayukan suaranya sehingga dapat membuat orang yang punya penyakit dalam hatinya itu terjangkitlah penyakit dalam hatinya.

 

Kemudian yang ketiga lagi perbedaannya lagi adalah sholat laki-laki ketika dia itu memeringatkan imam, maka sebagaimana yang diperintahkan dalam hadits

kalau imam itu keliru maka makmum itu memperingatkannya dengan mengucapkan subhanallah. makmum mengingatkannya dengan mengucapkan subhanallah. Sedangkan untuk perempuan ya mereka melakukannya dengan memperingatkan imam dengan tashfiiq menepuk telapak tangannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

“jika imam itu keliru maka

فليسبح

falyusabbih

“maka bertasbihlah”

فإنّ إذا سبّح إلتفت غليه

fa inna iza sabbaha iltafat ilaihi

“karena ketika seseorang itu mengucapkan tasbih subhanallah maka imam itu akan mengingatnya”,

maka akan mengingatnya, namun untuk perempuan kata nabi e

وإنما تصفيق للنساء

wa innama tashfiiq lin nisaa`

“sedangkan untuk menepuk di sini digunakan untuk perempuan”

 

Yang dimaksudkan menepuk ya para pemirsa sekalian disini menepuknya itu bukan seperti ini (menepuk kedua telapak tangan atau tepuk tangan), namun cara menepuknya bagi perempuan ketika mengingatkan imam adalah telapak tangan bagian dalam menepuk punggung telapak tangan kiri. Sekali lagi telapak tangan bagian itu dalam menepuk punggung telapak tangan kiri. Ini yang disebut dengan tashfiiq. jadi cara menepuknya adalah sepeti ini (menepuk kedua telapak tangan atau tepuk tangan). Bukan main-main seperti ini (menepuk seperti biasa). Ini namanya abq ya ini namanya main-main ya ini tidak diperbolehkan dalam sholat bisa membuat sholatnya itu batal, namun caranya adalah dengan menepuk telapak tangan bagian dalam ke punggung telapak tangan kiri. Menepuk seperti ini (menepuk kedua telapak tangan atau tepuk tangan).

 

Kemudian yang jadi pembeda selanjutnya adalah dalam masalah menutup aurat. Di sini dikatakan oleh Abu Syuja untuk laki-laki auratnya adalah

ما بين صرته و رقبتيه

maa baina surratihi wa ruqbataihi

“apa yang terletak antara pusar dan kedua lututnya”

 

yaitu antara pusar dan lutut ya untuk laki-laki auratnya adalah antara pusar dan lutut. Ini sudah jelas sangat jelas sekali disebutkan di antaranya dari hadits Abu Ayub Al-Anshori dimana dia pernah mendengar Nabi e bersabda (7.30)

“Dan yang di atas lutut itu adalah aurat dan yang di bawah pusar itu adalah aurat” ya yang di atas lutut itu adalah aurat dan yang di bawah pusar itu adalah aurat.

 

Artinya disini kita perhatikan bahwa ini aurat laki-laki seperti itu. Namun dalam keadaan dia sholat hendaknya dia memakai pakaian yang lebih sempurna tidak sebatas hanya menutup pusar dan lutut, tidak demikian, tetap dia melakukan sholat itu menutup aurat dengan sempurna. Artinya sampai pundakpun dia tutup begitu juga dibagian bawah lututpun dia menutupnya.

 

Kemudian untuk perempuan bedanya auratnya adalah seperti kata Abu Syuja

جميع بدن الحرة عورة إلّا وجهها وكفيها

jami’u badanil hurrah auratun illa wajha wa kaffaiha

“keseluruhan badan wanita merdeja adalah aurat kecuali wajah dan dua telapak tangannya”

untuk wanita merdeka maka seluruh tubuhnya itu adalah aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Di sini kenapa dikecualikan demikian? Karena ini memang pendepat jumhur atau meyoritas ulama, di mana mereka menafsirkan firman Allah a:

وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

wa laa yubdiina ziinatahunna illa maa zhahara minhaa (An-Nur:31)

“Janganlah wanita itu menampakkan perhiasan diri mereka kecuali yang boleh dinampakkan bagi mereka”

 

Yaitu apa yang boleh di nampakkan? Para ulama katakan: wajah dan kedua telapak tangan wajah dan kedua telapak tangan. Perhatikan! disini kalau kita lihat dalam penjelasan dalam kitab Fathul Qarib yang dimaksudkan adalah wajah dan telapak tangan ini di tampakkan ketika dalam sholat. Artinya seluruh tubuh yang tertutup kecuali wajah dan telapak tangan.

 

Namun kata penulis Fathul Qarib Imam Ibnul Qossim Al-Gazzi bahwasanya untuk selain sholat tetap seluruh tubuhnya itu tertutup, artinya di luar sholat tetap seluruh tubuhnya itu tertutup. Nah inilah perbedaan antara sholat laki-laki dan perempuan.

 

Tadi kita lihat dalam masalah sujud yang lebih tepat itu sama, yang kemudian dalam masalah mengeraskan suara ya tadi sudah dibedakan oleh Abu Syuja: kalau sholat “jahriyah” laki-laki itu mengeraskannya, kalau sholat untuk perempuan perempuan tetap mengeraskan suaranya kecuali jika ada laki-laki asing.

 

Kemudian dalam masalah lagi mengingatkan imam kalau laki-laki dengan mengucapkan subhanallah, kalau perempuan dengan menepuk telapak tangannya. Kemudian yang terakhir adalah dalam masalah aurat. Aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut, sedangkan aurat perempuan yaitu adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.

 

Mudah-mudahan apa yang disampaikan oleh Abu Syuja bermanfaat dan bisa terus menambahkan pengetahuan tentang masalah sholat dan mudah-mudahan Allah SWT anugerahkan ilmu yang bermanfaat. Wa billahi taufiq wal hidayah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Durasi: 00:10:28
Pencatat: Khoir Bilah on 22 October 2016
Editor: taufik

Serial Fikih Islam (34): Hukum-Hukum Seorang Makmum – Ustadz Abduh Tuasikal

Alhamdulillah wash-shalatu was-salaamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wa man tabi’ahum bi ihsani ila yaumid din

Mengenai sholat jama’ah kita sudah mengetahui bahwasanya pendapat yang paling tepat dalam masalah ini sholat jama’ah itu dihukumi wajib, nah sholat jama’ah itu dihukumi wajib (fardhu ‘ain), artinya bagi laki-laki baik dia ketika itu mukim atau bersafar tetap diwajibkan untuk sholat jama’ah.

 

Sekarang ada beberapa aturan dalam masalah sholat jama’ah ini yang harus diperhatikan, di sini akan dibahas oleh al-qadi Abu Syuja’. Jika yang terjadi ada jama’ah yang terletak di dalam masjid, ada jama’ah yang berdiam di masjid dan ada jama’ah yang di luar masjid bagaimana? Apakah di sini dibolehkan ataukah tidak.

 

Ya masalah di sini nanti ada akan disinggung oleh Abu Syuja’, yang paling masalah disini adalah jika jama’ahnya (makmumnya) itu berada di luar masjid. Apakah ketika dia berada di luar masjid sholatnya itu masih sah ataukah tidak. Nah disini ulama masa silam sudah membahas hal ini di antaranya al-qadi Abu Syuja’ itu membahasnya dalam matan Al-Gaayah wat Taqriib. Beliau katakan bahwasanya tempat mana saja jika seseorang itu sholat di masjid, selama dia tidak, posisinya itu mendahului imam (imam berada di depan, dia tidak mendahuluinya) maka sah sholatnya.

 

Abu Syuja’ itu mengatakan bahwasanya sah sholatnya

وهو عالم بصلاته

wa huwa ‘aalimun bishalaatihi

“dan dia mengetahui sholatnya”

selama dia mengetahui sholatnya imam.

 

Jadi boleh jadi dia mengetahuinya karena melihat langsung sholat imam tersebut atau dia melihat gerakan orang yang berada di depannya atau dari suara yang di dengar lewat pengeras suara atau suara yang dikeraskan saat itu, maka tatkala itu dia sholat dalam masjid seperti itu sholatnya itu sah walaupun mungkin jaraknya dia ke belakang ke belakang itu agak jauh berada di shaf terbelakang. Selama dia masih melihat imam atau dia mendengar suaranya imam atau melihat orang yang berada di depannya, shaf yang di depannya maka ketika itu sholatnya itu sah. Nah ini yang dibahas oleh Abu Syuja’ ya ketika seseorang itu sholat di dalam masjid.

 

Kemudian di bahas lagi oleh Abu Syuja’ bagaimana sekarang jika jama’ah atau ketika makmum itu berada khaarijal masjid berada di luar masjid, apakah ketika itu dibolehkan ataukah tidak. Di sini al-qadi Abu Syuja’ masih membolehkannya namun jika memenuhi syarat. Syaratnya di sini adalah disebutkan ada dua, ada dua syarat yang mesti dipenuhi ketika makmum itu berada di luar masjid. Boleh jadi berada di jauh di area-area luar masjid di sini ada area masjid di jauh dari situ atau berdiri di samping kanan dan kirinya ya, di samping kanan dan kirinya.

 

Nah di sini dikatakan oleh al-qadi Abu Syuja’ beliau katakan makmum yang berada di luar masjid syaratnya adalah yang pertama dia harus dekat qariiban harus dekat. Di sini digambarkan oleh ulama Syafi’iyyah mereka memberikan jarak yaitu sekitar (kalau kita konfersikan ke meter) itu adalah sekitar 135 meter, ya artinya 100 meter lebih itu masih dikatakan jaraknya itu masih dikatakan sah untuk berjama’ah, itu masih dikatakan qariib masih dikatakan dekat.

 

Kemudian dikatakan lagi ya syarat yang kedua

وهو عالم بصلاته وهو عالم بصلاته

wa huwa ‘aalimun bishalaatihi wa huwa ‘aalimun bishalaatihi

“dan dia mengetahui sholatnya dan dia mengetahui sholatnya”

yaitu mengetahui sholatnya imam.

 

Tadi mengetahuinya sudah kita jelaskan. Mengetahuinya itu bisa jadi melihat, bisa jadi itu mendengar, bisa jadi mengetahui dari shaf yang bersambung di depannya. Jadi mengetahuinya seperti itu. Kemudian tadi bukan dua saja,

ternyata Abu Syuja tambahkan tiga

ولا حائل هناك

wa laa ha`ila hunaak

“Tidak ada penghalang di situ”

tidak ada penghalang saat itu, ya tidak ada penghalang saat itu.

 

Namun disini dikatakan oleh ulama yang lainnya boleh ada penghalang asalkan itu bersambung, jadi boleh jadi beda ruangan asalkan itu bersambung shafnya, ada yang bersambung shafnya ke ruangan tersebut, maka masih tetap dikatakan sah. Namun kalau Abu Syuja’ ini menyaratkan tidak ada penghalang pintu, dinding saat itu. Namun pendapat yang lebih tepat di sini adalah selama ada penghalang di situ masih bisa shafnya itu bersambung dan masih mendengar suaranya imam, masih mengetahui sholatnya imam maka sholatnya itu sah. Nah ini syarat yang dipenuhi.

 

Artinya di sini kalau seseorang misalnya imamnya itu di masjid kemudian dia berada di rumahnya sendiri di samping masjid (tidak bersambungnya shaf disitu), lalu dia sholat niatkan berjama’ah untuk imamnya berda di masjid, maka seperti ini sholatnya tidak sah. Walaupun mungkin dia dengar suaranya, tapi karena tidak bersambung ya maka sholatnya tidak sah.

 

Begitu pula kalau seseorang cuma menonton (melihat dari tv), seperti kita lihat kadang ada tayangan langsung sholat berjama’ah di Masjidil Haram, kemudian ada yang sholat di rumahnya berniat supaya mengikuti imam yang berada di Masjidil Haram, inipun tidak dibolehkan. Karena apa? Shafnya ketika itu tidak bersambung, meskipun dia dengar suaranya imam, meskipun dia mendengar suaranya imam tetapi shafnya tidak bersambung saat itu, ini juga tidak dikatakan qariib dekat. Maka sholat berjama’ah saat itu tidaklah sah.

 

Maka ini aturan yang harus dilihat tatkala seseorang itu berda di dalam masjid jadi makmum (jadi jama’ah), maka dia harus mengetahui sholatnya imam. Kemudian kalau dia berda di luar masjid intinya syaratnya harus dipenuhi yang pertama dekat, kemudian yang kedua adalah mengetahui sholatnya imam, kemudian yang ketiga adalah shafnya itu bersambung. Tiga syarat ini yang mesti dipenuhi, maka sholat berjama’ahnya itu baru dikatakan sah.

 

Jadi inilah aturan yang mesti diperhatikan ketika seorang itu menjadi makmum dalam sholat berjama’ah, jadi kita tidak asal-asalan untuk membuat shaf. Maka aturan-aturan ini dipenuhi agar sholat kita menjadi sempurna, sholat kita menjadi sah dan amalan inilah yang nanti akan diterima di sisi Allah a. Demikian ya para pemirsa sekalian mudah-mudahan bermanfaat. wa billahi taufik wal hidayah.

Wassaalamu’alaikum warahmatullaah wabarakaatuh.

Durasi: 00:06:31
Pencatat: Khoir Bilah on 19 October 2016
Editor: taufik

Serial Fikih Islam (10): Tata Cara Mandi Wajib – Ustadz M. Abduh Tuasikal

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kaum muslimin yang semoga selalu dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Alhamdulillah pada kesempatan kali ini kita akan kembali melanjutkan pembahasan kita dari kitab Abu Syuja, kita masih dalam kitab taharah yaitu kitab bersuci dan kita masuk pada serial kesepuluh, yaitu kita masih dalam pembahasan yang sama, yaitu mandi. Di sini kita akan menjelaskan tentang tata cara mandi secara singkat sebagaimana disebutkan dalam matan Abu Syuja.

Di mana dalam matan Abu Syuja di sini, mandi dijelaskan tata caranya dengan beliau bagi menjadi dua pembahasan, yaitu mejelaskan yang pertama tentang bagian-bagian yang wajib dipenuhi ketika mandi, kemudian yang kedua adalah bagian-bagian yang disunnahkan ketika mandi. Kita lihat yang pertama, beliau katakan:

وفرائض الغسل ثلاثة أشياء

wa faraa`idul gusli tsalaa tsatu asyyaa`
“Kewajiban mandi itu ada tiga”.
Yaitu kewajiban mandi itu ada tiga, kewajiban mandi itu ada tiga.

Yang pertama, an-niyyatu yaitu berniat, yang namanya niat itu adalah

القصد والإرادة

al-qasdu wal iraadah
“Berkehendak dan berkeinginan”.
Yaitu berkehendak atau berkeinginan, berkehendak atau berkeinginan bermaksud untuk melakukan sesuatu, maka ketika seseorang itu bermaksud untuk melakukan sesuatu itu sudah dikatakan berniat. Ketika seseorang itu ingin mandi, maka dia sudah punya keinginan untuk mandi maka itu sudah disebut berniat.

Dan para ulama itu katakan tidak disyariatkan untuk menggerakkan lisan, artinya tidak disyaratkan ya, berniat itu dilafazkan. Tidak disyaratkan berniat itu dilafazkan. Jadi yang pertama dipenuhi di sini, yang wajib dipenuhi ketika seseorang itu melakukan mandi itu harus berniat terlebih dahulu karena mandi di sini fungsinya sebagaimana dalam masalah niat amalan, niat amalan itu fungsinya itu ada dua. Yang pertama adalah untuk membedakan ibadah dan non ibadah dan yang kedua adalah untuk membedakan ibadah yang satu dengan ibadah yang lainnya.

Di sini kita ingin membedakan apakah mandi di sini adalah mandi biasa ataukah di sini adalah mandi wajib, maka di sini dibedakan dengan niat. Dan dalil bahwasanya ketika mandi kita mesti berniat karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Umar bin Khatthab Radhiallahu 'anhu, hadis inidiriwayatkan Bukhari dan Muslim:

إنّما الأعمال بالنّيات

Innamal a’maalu binniyyaat
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya”.

Kemudian yang kedua yang wajib dipenuhi juga ketika mandi adalah

إزالة النجاسة إن كانت على بدنه

izaalatun najaasah inkaanat ‘ala badanihi,
“Menghilangkan najis jika najis tersebut terdapat pada badannya”.
Yaitu ketika seorang itu mandi hendaklah dia itu menghilangkan najis jika nasjis tersebut terdapat pada badannya. Ya dia harus menghilangkan najis ketika najis tersebut terdapat pada badannya. Ini yang kedua yang harus dilakukan ketika mandi ya. Karena ya jika ada masih ada najis-najis di badan ya seperti adanya mazi atau adanya wadi ataupun adanya kencing ataupun adanya kotoran maka itu hendaklah dihilangkan ketika mandi wajib.

Kemudian yang ketiga lagi yang mesti dilakukan adalah

وإيصال الماء الى جميع الشعر والبشرة

wa ishaalul maa`i ila jamii’il sya’ri wal basyarah,
“Mengguyur air ke seluruh rambut dan kulit”.
yaitu hendaklah ketika seorang itu mandi yang wajib dia penuhi adalah dia mengguyur air ke seluruh tubuhnya termasuk terkena pada rambut dan juga pada kulit-kulitnya, terkena pada rambut dan juga pada kulit-kulitnya. ini yang wajib dilakukan, ya ini yang wajib dilakukan. yaitu yang namanya mandi, seseorang itu harus mengguyur atau menyiram air pada seluruh badannya termasuk terkena pada rambut-rambutnya ya juga pada kulit-kulitnya.

Kemudian ada lima hal lagi kata Abu Syuja yang disini disunnahkan, artinya ini yang jadi penyempurna mandi. Kalau tadi adalah yang kita sebutkan sebelumnya itu adalah wajib yang mesti wajib dilakukan ketika mandi, sekarang adalah yang disunnahkan ketika mandi.

Yang pertama at-tasmiyyah yaitu membaca bismillah. Sebagaimana dalam wudhu sudah dibahas bahwasanya bismillah itu hukumnya sunnah, maka di sini  juga dimasukkan dalam mandi di sini juga hukumnya sunnah ya.

Kemudian yang kedua

الوضوء قبله

al-wudu`u qablahu
“Wudhu sebelum mandi”.
Yaitu diperintahkan atau disunnahkan untuk berwudhu sebelum mandi, diperintahkan atau disunnahkan untuk berwudhu sebelum mandi. Hal ini didukung oleh hadits Aisyah ya, yang menerangkan hal ini.

Kemudian yang ketiga yang disunnahkan lagi ketika mandi adalah

إمرار اليد على الجسد

imrarul yadi ‘alal jasad,
“Menggosok-gosok badan”.
Yaitu menggerakkan tangan atau tangan itu menggosok-gosok badan. Tangan itu menggosok-gosok badan ketika mandi. Jadi ada bagian-bagian yang misalnya sulit terkena air seperti di ketiak ya atau dibagian siku-siku yang itu sulit terkena air atau dibagian sela-sela yang itu sulit terkena air, maka hendaklah tangan itu berusaha untuk menggosoknya.

Kemudian yang keempat yang disunnahkan lagi ketika mandi adalah al-muwalah, yaitu ketika mandi hendaklah kita kerjakan ya mambasuh anggota badan yang satu dan yang lainnya tidak dengan selang waktu yang lama. Ini yang dimaksudkan dengan muwalah. Jadi misalnya ketika kita mengguyur kepala maka ketika mengguyur anggota tubuh yang lainnya itu tidak dengan selang waktu yang lama. Ini yang disunnahkan ketika mandi.

Kemudian yang terakhir

تقديم اليمنى على اليسرى

taqdiimul yumna ‘alal yusra,
“Mendahulukan yang kanan dibanding yang kiri”
Yaitu mendahulukan yang kanan dari yang kiri. Maka ketika kita mandi disunnahkan ya anggota badan yang kanan terlebih dahulu yang kita siram, baru setelah itu yang kiri. Begitu juga kaki ya didahulukan yang kanan terlebih dahulu, baru juga yang kiri. Ini yang disunnahkan sebagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam itu sangat menyukai ketika berbuat baik ketika melakukan suatu perbuatan yang baik itu mendahulukannya dengan yang kanan, sedangkan hal yang jelek itu dilakukan dengan anggota tubuh yang kiri.

Jadi intinya disini ketika mandi yang mesti kita lakukan adalah kita berniat terelbih dahulu, lalu setelah itu kita menyiramkan anggota badan kita ya dengan air. Dan mandi disini mesti seluruh badan ini terkena air, baru yang disunnah-sunnahkan di sini semisal tadi mendahulukan yang kanan dari yang kiri, membaca bismillah sebelumnya, ini hal-hal yang menjadi penyempurna ketika mandi.

Jadi langkah yang kita lakukan adalah berniat, lalu setelah itu kita hilangkan najis terlebih dahulu, lalu setelah itu kita berwudhu sebagaimana wudhu kita mau sholat, lalu setelah itu kita menyiramkan air pada badan kita dahulukan yang kanan dari yang kiri, baru setelah itu ya kita mencuci kaki kita. ini mencucui kaki kita yang terakhir. Ini yang kita lakukan ketika kita melaksanakan mandi.

Mandi ini, pelaksanaan mandi disini berlaku untuk mandi yang wajib maupun mandi yang sunnah. Adapun mandi yang sunnah insyaallah akan kita bahas pada serial berikutnya, biiznillah

Demikian.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Durasi: 00:06:52
Pencatat: Khoir Bilah on 18 October 2016
Editor: taufik