Hukumnya Tidak mencatat saat kajian? – Ustadz Maududi

Pertanyaan :
Ustadz yang dicintai Allah, aamiin ya robbal ‘alamin. Para penuntut ilmu sekarang ini, banyak ketempat majlis ilmu tidak membawa buku untuk mencatat ilmu. kondisi seperti ini apakah sudah masuk mereka ke dalam perangkap perangkap syaitan karena ilmu tersebut masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.

Jawaban :
Pertama antum sudah bersuudzon kepada saudara – saudara antum. tidak semua orang yang tidak membawa buku masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

kata para ulama,

xxx ilmu itu adalah sesuatu yang bisa mendatangkan manfaat. begitu antum mendengarkan ceramah lalu membawa manfaat dalam hidup antum itulah ilmu. itulah ilmu yang bisa membawa manfaat. tapi kalau antum mencatat antum hafal kemudian tidak membawa manfaat, itu bukan ilmu. tapi kalau kemudian antum catat, antum hafal, dan membawa manfaat itu sempurna. maka, tidak semua orang yang tidak mencatat tidak mendapatkan manfaat.

Demi Allah, sebagian saudara – saudara kita ada yang duduk memang tidak pernah membawa buku tapi amalannya yang mereka baru saja kenal agama Allah 2 3 tahun yang lalu lebih baik daripada yang sudah mengenal agama Allah 20 tahun yang lalu.

Demi Allah kita mengetahui orang – orang yang seperti itu. datang tidak pernah membawa buku, duduk untuk mendengarkan ustadz berceramah, dengan serius, ikhlas, mencara apa yang bisa mereka amalkan. begitu mereka dapat mereka amalkan, mengalahkan saudara – saudara yang sudah mengenal agama 20 tahun yang lalu. xxx ilmu adalah yang mendatangkan manfaat.

Ana kenal di pekanbaru, orang yang belum lama kenal agama tidak pernah absen sholat berjamaah dan tidak pernah ketinggalan takbiratul ihram sudah 2 tahun lebih. kita tidak bisa melakukannya, ngaku sajalah.

baru kenal agama kemarin dia, setengah jam sebelum sholat dia sudah di masjid. dan itu sudah dia lakoni 2 tahun. mana kita yang setengah jam sebelum adzan sudah dimasjid. kita sudah 20 tahun ngaji.

jadi permasalahannya bukanlah mencatat atau tidak mencatat, walaupun yang mencatat kemudian mengamalkan lebih sempurna. apalagi kemudian dia mencatat, mengamalkan dan dia menghafalkan akan lebih sempurna lagi. ilmu bukan apa yang ada di catatan.

kata para ulama,

xxx ilmu itu di dada, bukan dalam tulisan. yang lain mengatakan,

xxx ilmu itu yang bisa masuk bersamamu ke dalam toilet. itu yang ilmu.

sungguh majlis imam ahmad kadang dihadiri oleh lebih dari lima ribu dan enam ribu orang. yang menulis cuman lima ratus, yang menulis sekitar lima ratus orang, sisanya mendengarkan. mempelajari agama dari imam ahmad tanpa menulis.

dan berkata abdullah bin wahab murid imam malik. yang kami pelajari bab akhlak langsung daripada perbuatan imam malik lebih banyak daripada apa yang kami catat dari imam malik. maka, jangan kira saudara antum yang tidak membawa buku itu, antum yang membawa buku itu lebih afdhol daripada saudara antum yang tidak membawa buku. belum tentu.

Durasi: 00:04:31
Pencatat: Haris Eko Prasetyo on 28 April 2016
Editor: Abu Ahmar

Apakah TV Haram – Ustadz Maududi Abdullah

Melihat fenomena sekarang ini tv adalah menjadi sesuatu yang wajib di dalam sebuah rumah (fenomenanya begitu yah seolah-olah wajib) dan insyaAllah kita sepakat bahwa tayangan-tayangan di dalamnya tidak selaras dengan pola hidup orang-orang mukmin (tayangan-tayanagan yang biasa, yang regular), yang saya tanyakan apakah bertemu ilmu syar’I yang kita tuntut dengan tayangan-tayangan tv?

 

: Waah antum nyindir ana antum yah? antum nyindir ana kayanya nih, ana tampil di tv yah,,baik.

Tv itu di katakana para ulama harom, apanya yang harom? Tv nya apa tayangannya? Coba cerdas! Yang harom tv nya apa tayangannya? tayangannya, thoyyib. Tv itu ada di rumah orang yang beriman tayangannya ka’bah orang lagi thowaf, halal apa harom? Harom tv, harom tv, nggak.

 

Kemudian tv ada di rumah seseorang tayangan di tv itu orang yang mengajarkan ayat-ayat Allah, mengajarkan hadits-hadits Rasulillah, harom tv itu? Nggak. Tv nggak pernah harom pak, dia hanyalah kaca, plastic, kabel nggak pernah harom, yang harom tayangannya. Ketika tayangannya tidak lagi harom maka tidak harom untuk di tonton. Tapi kan nanti dia pindah chanel? Ini lain lagi ceritanya.

 

Melihat yang daripada kemaksiatan maka dia melihat yang harom, maka usulan ana kepada antum-antum yang punya tv matikan seluruh tayangan harom, tampilkan saja hanya seluruh tayangan-tayangan yang halal dan itu sudah bisa. Teman-teman kita alhamdulillah sudah bisa mengunci seluruh chanel-chanel harom dan yang akan hidup hanya chanel-chanel halal.

 

Ustadz, ketika nonton antum ceramah istri saya ngomong “ganteng sekali ustadz itu”, jangan salahkan ustadznya yang ganteng salahkan istri antum! Kok ustadz yang di salahkan? Ustadz ceramah kok, cerdas! Rasul ceramah ada mu’minat yang melihat apakah Rasul salah? Yang salah itu istri antum, ngapain lihat ustadz pakai syahwat?

 

Jadi tolonglah adil dan ‘arif dalam menilai, kalau yang salah istri antum jangan ustadz yang di salahkan, kalau yang salah istri antum jangan rodja yang di salahkan, istri antum nggak bener, istri antum yang salah. Yang salah istri antum, istri antum mau di salahkan apa di benarin? Kalau kemudian ternyata istri antum mengatakan”lihat tuh mimic wajahnya, nonton itu” waah kayanya sudah nafsu ini, matikan tv, sana-sana kamu! Semakin rajin kamu lihat ustadz itu semakin jelek saya di hadapan matamu.

 

Kalau istrinya nggak tobat-tobat buang tuh tv, bahaya, tukar radio. Masih syahwat juga jual tuh radio, jadi yang salah salahkan yang benar benarkan. Jangan kemudian orang yang salah siapa yang di salahkan siapa, itu dia.

 

Durasi: 00:05:01
Pencatat: Khoir Bilah on
Editor:

Menghadapi Istri Yang Cepat Emosi – Ustadz Maududi Abdullah.Lc

Istri saya suka emosian ustadz, kalau tidak di lampiaskan katanya kepalanya pusing, mohon nasehatnya ustadz.

 

: Mantap, kasian suaminya. Tau apa itu sabar? Sabar itu adalah anda punya sifat sabar. sehingga, anda tidak emosi, itu dia sabar.

 

Sabar itu sesuatu yang ada di dalam hati kita yang ketika masalah datang memicu emosi kita tidak emosi, itulah sabar. Namun begitu emosi kita terpicu, terpacu, tersulut kita menahannya, itu bukan sabar namanya. itu kazmul ghaits. itu yang ayat kita bacakan dalam surat al-imran tadi (menahan amarah) itu bab lain, itu bukan bab sabar, bab kazmul ghaits (bab menahan emosi).

 

Supaya tidak pusing harus sabar, kalau anda sabar emosi anda tidak tersulut, ketika emosi tidak tersulut anda tidak perlu setiap hari kazmul ghaits, setiap 3 kali dalam seminggu kazmul ghaits karena kazmul ghaits hanya boleh sekali-kali kalau sering memang insyaallah tensinya naik itu, pusing di buatnya.

 

Maka yang namanya sabar itu adalah menyiapkan sabar sehingga ketika masalah yang memicu emosi datang kita tidak terpicu emosi kita karena kita sabar. Tiba-tiba dari belakang mobil orang atrek kena mobil kita, kita orang  sabar nggak emosi, kita cuma bilang mas hati-hati mas atrek mas lihat dong kaca spion, tuh orang sabar tu pak harusnya emosi dia, ya toh? Harusnya emosi.

 

Saya pernah suatu hari pakai mobil, orang atrek kita di belakang dia persis, atrek nyenggol mobil kita, ada gores ya karena Alhamdulillah saya waktu itu sabar.  saya diam aja yang nggak sabar istri saya: hai lihat-lihat dong, saya bilang: sudah-sudah… kamu emosi pun, ya sudah begitu juga. saya turun dan mengatakan dia orang itu minta ma’af pak,,, minta ma’af pak,,,nggak sengaja pak,,yaudah lain kali hati-hati.

 

jalan kita, perbaiki ke bengkel cuma 200.000 ya dari pada harus kelahi kan mendingan keluar biaya 200.000 nggak ada masalah, gitu kan? Dari pada kemudian harus emosi, kemudian kita sakit kepala menahan emosi mendingan keluar 200.000 nggak sakit kepala, kita sehat.

 

Jadi begitu, sabar itu adalah sesuatu sifat yang membuat orang itu sulit untuk tersulut emosinya sulit karena dia orang yang sabar, itu sabar yang paling penting kata Syaikh Abdurrahman Assa’di didalam syarah beliau terhadap hadits sabar (laa taghdhob). Sabar yang paling penting itu adalah anda siapkan sabar di dalam diri anda sebelum masalah yang memicu emosi datang, sudah ada sabarnya sehingga ketika masalah itu datang anda tidak emosi.

 

Kalau setiap hari menekan dan menahan emosi itu rumit dan ini menunjukkan bahwa istri anda tidak sabar, maka didik dia untuk apa? Bersabar. Sabar itu punya korelasi yang sangat erat dengan takdir, manakala terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan cepat-cepat hubungkan antara kejadian itu dengan takdir, ini sudah ketentuan Allah, ini sudah takdir Allah, marah pun saya dia tidak akan kembali kepada sedia kalanya.

 

Anak-anak tanpa sengaja bermain-main kesenggol tuh guci besar yang kita beli dulu di Hongkong… jatuh, pecah, ooh sudah saatnya guci istimewa ini pecah, emang sudah takdirnya dia hari ini untuk pecah.

 

Kita pegang anak kita: nak awas nak awas,,awas,,udah kamu di luar mainnya jangan di dalam ni udah pecah guci mama yang paling berharga, ketika mama pergi dengan papa di bulan madu ini ke Hongkong udah pecah udah,,udah jangan di dalam di luar aja mainnya, di halaman sana dia main.kita bersihkan kata anak kita: waduh mama saya baik hati.

 

Coba kalau kita tidak kaitkan dengan takdir: itu guci kamu tau guci apa itu? Itu guci (sambil jewer anak), setelah anaknya kesakitan berdarah ini (telinganya) kena kuku mamanya yang tidak di potong-potong. mulai kasihan: waduh kasihan anak mama, ma’afkan mama (aduh,,menyesal lagi), tu orang emosi biasanya menyesal setelah dia emosi.

 

Kata orang Arab:

“Awal dari emosi itu kaya orang gila, akhirnya penyesalan”

 

Maka bersabarlah, ikatkan selalu kejadian dengan Allah yang mentakdirkan kejadian, Nabi SAW selalu menasihati keluarganya dengan mengatakan:

“Sesungguhnya segala sesuatu apabila di takdirkan Allah terjadi pasti terjadi”

 

Wallahu a’lam.

 

Durasi: 00:06:31
Pencatat: Khoir Bilah on 26 April 2016
Editor:

Bakti Anak Kuliahan Umum atau Anak Pesantren? – Ustadz Maududi Abdullah, Lc

Ketika anak kita 2 orang satunya pintar luar biasa kita sekolahkan ke kedokteran dengan biaya yang luar biasa, sementara yang satunya kurang pintar rada-rada badung kita masukkan pesantren alhasil yang kedokteran ini punya rumah gedung dua lantai sementara anak kita yang tamat pesantren ngontrak,rumah kontrakan dengan 2 kamar saja satu untuk dia dan istrinya satu untuk anaknya.

 

Kalau kita tinggal di rumah itu harus tidur di ruang tamu dan anak yang tamat pesantren ini benar-benar berbakti sama kita, menghibur kita, akhlaknya mulia kepada kita, tidak pernah menyakiti hati kita dan selalu mengabulkan apa yang kita inginkan asal dia bisa kabulkan nggak mungkin dia tolak, sementara anak kita yang kaya itu nggak pernah kita di caci, nggak pernah kita di maki, nggak pernah kita juga di pukuli.

 

Cuman, kalau sudah datang tanggal 1 ambil uang sepuluh juta setelah lempar bilang ambil nih upah kamu membesarkan saya! Cukup dia nggak lakuin yang lain.

 

Pak bu kira-kira mau nginap dimana di rumah gedung apa kontrakan? Mau nginap dimana?gedung apa kontrakan? Terjawab sudah.Ternyata rumah gedung yang kita siapkan dengan dana yang besar untuk kuliah ke kedokteran yang dia lakukan nggak memberikan apapun kepada kita dan ternyata pesantren yang mampu membuat ana badung kita menjadi anak baik dan kepintarannya membuat dia berilmu sekedarnya saja sehingga sulit untuk fight dalam kehidupan dunia membuat dia tinggal di rumah kontrakan lebih betah kita bersama anak itu dibanding anak yang punya rumah gedung. Haa kenapa? Karena  yang satunya pesantren, yang satunya tidak kita kenalkan kepada agama.

 

Bapak ibu, ketika anak bapak ibu nanti besar demi Allah bapak dan ibu tidak berharap harta sedikitpun dari anak itu saya yakin dan percaya, saya yakin dan percaya bapak nggak akan pernah berharap harta dari anak, ibu juga tidak akan pernah berharap harta dari anak yang ibu harapkan dari anak, yang bapak harapkan dari anak adalah bakti anak itu di hari tua kita. Ya atau tidak? tunjukkan kepada saya mana ilmu bakti kepada anak yang di ajarkan di semester pendek dan semester panjang! Nggak ada,itu ilmunya pesantren.

 

Kalau toh pun ada di fakultas dalam mata pelajaran agama sambil lewat bagaikan angin yang lewat setelah itu dia pun lewat dan tidak bersisa di dada untuk kemudian berbuah menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Pergilah ke Panti Jompo!dengarkan jeritan orang-orang tua kita disana banyak diantaranya menangis, banyak di antara mereka menangis, hampir tiap malam mereka menangis.

 

Apa yang mereka tangiskan? Apakah karena rumitnya hidup di Panti Jompo? Mereka mengatakan tidak, tidak rumit di Panti Jompo ini bahkan enak, mereka adalah orang tua yang pernah hidup di zaman Belanda dan bahkan juga pernah hidup di zaman Jepang, terpaan perihnya  kehidupan dunia bagi mereka itu soal yang biasa namun yang membuat mereka menangis, yang mengantar mereka ke Panti Jompo anaknya, anak mereka, anak mereka, darah dagingnya yang mengantarkannya ke Panti Jompo itu yang tidak bisa dia terima, itu yang meneteskan air matanya setiap malam.

 

Dia dalam hidupnya adalah aib, dia dalam hidup anaknya adalah beban, dia dalam hidup anaknya adalah kebinasaan, dia dalam hidup anaknya adalah malu, malu punya orang tua renta, malu punya orang tua seperti ini, orang kampungan yang tidak mengerti apa-apa itu yang membuat mereka menangis tak tahan melihat perlakuan anaknya hanya karena istrinya tidak mau hidup dengan bapaknya rela dia masukkan bapaknya ke Panti Jompo demi menjaga istrinya yaitu anak orang lain dan kalau kita mendidik hanya dengan uang dan kita targetkan hidup anak kita untuk uang, kita targetkan masa depan anak kita hanya dengan uang siap-siap di hari tua anda akan di masukkan ke dalam Panti Jompo. Tinggal menunggu hari.

 

Durasi: 00:05:43
Pencatat: Khoir Bilah on 23 April 2016
Editor: