Nasihat Islami: Tegurlah Dengan Bijak – Ustadz Abdullah Zaen

Kaum muslimin dan muslimat yang kami hormati, setiap penggalan sejarah kehidupan Nabi kita Muhammad E merupakan penggalan yang sangat berharga. Di dalamnya kita bisa memetik begitu banyak pelajaran yang bermanfaat untuk kehidupan kita di dunia ini.

Di antara penggalan tersebut adalah penggalan sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, kisah ini dituturkan oleh salah seorang sahabat Nabi H yang kecil yang bernama Umar bin Abi Salamah. Umar bin Abi Salamah berkata:

 كنتُ غلامًا في حجْرِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، وكانتْ يدِي تَطِيشُ في الصَّحْفَةِ ، فقالَ لي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : ( يا غلامُ ، سمِّ اللهَ ، وكُلْ بيمينِكَ ، وكلْ ممَّا يلِيكَ ) . فما زالت تِلكَ طِعْمَتِي بعدُ

0:52 kuntu ghulaaman fi hijri rosulillah shallallahu 'alai wassalam.

Kata beliau, “Saya adalah seorang anak kecil yang tinggal sesekali di rumah Nabi H“. Karena beliau ikut membantu pekerjaan yang ada di dalam rumah Nabi H. Karena beliau sering tinggal di rumah Nabi H, maka beliaupun juga sering pula makan bersama Nabi H. Kebiasaan orang Arab ketika mereka makan mereka memakai nampan yang besar, kemudian setelah itu mereka makan dua tiga empat orang dalam satu nampan secara bersama-sama.

Ketika sedang suasana makan kata Umar bin Abi Salamah:

وكانتْ يدِي تَطِيشُ في الصَّحْفَةِ
1:44 wa kaanat yadii tathiisyu fil shohfah.

“Dan ketika makan suatu saat tangan saya itu piknik kemana-mana.”

Apa maksudnya piknik kemana-mana? Maksudnya lauk punya tetangganya di ambil juga sama dia dan ini adalah merupakan prilaku yang negatif yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang muslim walaupun dia adalah anak kecil. Ketika seperti itu Nabi H melihat apa yang dilakukan oleh seorang anak kecil Umar bin Abi Salamah. Apa gerangan yang dilakukan oleh Nabi H? Kata Nabi H begitu melihat Umar bin Abi Salamah melakukan sebuah kesalahan, Nabi H berkata:

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ
2:34 Yaa ghulam sammillah wa kul biyaminiika wa kul mimma yadika.

“Wahai anakku (kalau istilah kita “nak”, kalau orang jawa mengatakan “le”, kalau perempuan dikatakan “nduk”) ucapkanlah ‘Bismillah’ sebelum engakau makan dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari makanan yang terdekat denganmu”. HR. Bukhori dan Muslim 5376.

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari hadits yang mulai ini, di antaranya yang pertama adalah lihatlah bagaimana cara Nabi H menegur kesalahan yang dilakukan oleh anak kecil ini. Kesalahan, siapapun yang melakukan entah itu orang sudah dewasa maupun anak kecil, harus ditegur. Makanya Nabi H tidak mengatakan “ah diakan masih kecil” sebagaimana yang biasa diomongkan oleh sebagian orang pada zaman kita ini “anak kecil salah wajar, biarin aja ntar kalau misalnya sudah gede kan tau sendiri bahwasanya itu salah”.

Ndak, Nabi H melihat apa yang dilakukan oleh Umar bin Abi Salamah adalah sebuah kekeliruan. Maka oleh Nabi H ditegur. Ini pelajaran yang pertama, kesalahan walaupun dilakukan oleh anak kecil perlu untuk ditegur.

Pelajaran berikutnya adalah lihat bagaimana Nabi H menegur. Pertama kali sapaan Nabi H, beliau berkata yaa ghulam (sebagaiamana yang saya katakana tadi) “wahai anakku” atau singkatnya adalah “nak” atau kalau menurut orang jawa adalah “nduk atau le”.

Lihatlah bagaimana Nabi H memanggil Umar bin Abi Salamah dengan panggilan yang begitu elegan, dengan panggilan yang begitu enak didengar ditelinga “yaa ghulam (nak)” berbeda dengan sebagian orang di zaman kita ini yang memanggil anaknya dengan julukan–julukan yang tidak baik yang merendahkan martabat anak itu sendiri. Ini pelajaran yang kedua, tegurlah orang tapi dengan bahasa yang santun, dengan bahasa yang lembut, dengan bahasa yang sopan. Ini pelajaran yang kedua.

Pelajaran yang ketiga adalah ketika Nabi H berkata, lihatlah nasehat Nabi H

سمِّ اللهَ ، وكُلْ بيمينِكَ ، وكلْ ممَّا يلِيكَ
5:10 sammillah wa kul biyaminiika wa kul mimma yadika

“Ucapkanlah bismillah sebelum engkau makan. Makanlah dengan tangan kananmu. Dan makanlah dari makanan yang terdekat denganmu”.

Lihatlah bagaimana nasehat Nabi H sangat simple dan mudah dicerna. Berbeda dengan sebagian orang di zaman kita ini kalau member nasehat bertele-tele panjang lebar sampai orang yang di nasehati bingung ketika ditanya “tadi nasehatnya apa? Ndak tau, bingung saya”.

Karena apa? Karena bahasanya sulit untuk dicerna, sedangkan Nabi kita Muhammad H menyampaikan nasehat dengan bahasa yang begitu ringan, dengan bahasa yang begitu simple sehingga anak kecilpun bisa menerima nasehat Nabi H.

Adapun nasehat yang ke empat yang bisa kita petik dari hadits Nabi H ini adalah bagaimana Nabi H tidak menegur secara fulgar. Kesalahan anak kecil ini apa? Dia makan dari makanan yang jauh dari posisi dia. Nasehat Nabi H disampaikan, diletakkan oleh Nabi H yang kaitannya langsung dengan kesalahan Umar bin Abi Salamah di point yang ketiga.

Pertama Nabi berkata ucapkanlah basmalah, kemudian nasehat yang kedua makanlah dengan tangan kananmu, kemudian nasehat yang ketiga baru kaitannya dengan inti kesalahan Umar bin Abi Salamah. Dari sini kita bisa ambil kesimpulan bahwasanya seorang da’i atau seorang ayah atau seorang ibu atau siapapun juga yang ingin menegur orang lain hendaklah dia memperhatikan bagaimana kondisi kesiapan orang yang akan dinasehati.

Nabi H mempersiapkan kondisi psikologis Umar bin Abi Salamah, tidak langsung Nabi H menegur “Eh..Umar bin Abi Salamah salah kamu, seharusnya kamu itu makan dari makanan yang terdekat” nggak, Nabi H pertama kali menasehati dengan nasehat yang barangkali tidak ada kaitannya langsung dengan kesalahan Umar bin Abi Salamah.

Adab-adab makan, Umar bin Abi Salamah mungkin juga tau adab-adab tersebut. Makan baca bismillah, kemudian makan dengan tangan kanan Umar bin Abi Salamah tau. Tapi Nabi H ingin mempersiapkan kondisi hati psikologisnya Umar bin Abi Salamah sehingga saat itu Umar bin Abi Salamah menerima nasehat itu dalam keadaan dia sudah siap untuk menerimanya.

Maka ketika Nabi H menyampaikan nasehat itu dengan nasehat yang begitu baik, yang begitu elegan apa dampaknya? Kata Umar bin Abi Salamah:

فما زالت تِلكَ طِعْمَتِي بعدُ
8:18 famaa zaalat tilka thi'matii ba'du.

“Setelah kejadian itu, maka aku selalu makan dengan cara yang di ajarkan oleh Nabi kita Muhammad H.”

Inilah sepenggal kisah dari kehidupan Nabi H yang bisa kita gali pelajaran yang ada di dalamnya dan pasti masih banyak penggalan-penggalan sejarah kehidupan Nabi H yang lainnya yang bisa kita ambil mutiara yang terkandung di dalamnya.

Semoga kita termasuk orang-orang yang benar-benar menjadikan Nabi H sebagai suri tauladan kita. Wallahu ta’ala a’la wa’alam.

Terimakasih atas perhatiannya, mohon ma’af atas segala kekurangannya.

#catatankajian #abdullahzaen


Referensi

[1] Sebelum Makan, Bacalah “Bismillah”.

Durasi: 00:09:22
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 28 August 2016
Editor: Abu Ahmar

Kultum Ramadhan: Apakah Sholat Taraweh Wajib dan Sholat Asar Sunnah? – Ustadz Abdullah Zaen, MA

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraatuh.

Ada beberapa fenomena aneh tapi nyata di bulan Ramadhan ini, diantaranya adalah dua kondisi yang begitu mencolok perbedaannya di bulan Ramadhan ini. Apakah itu? Yaitu manakala anda mencermati keadaan masjid di malam hari dengan keadaan masjid di siang hari. Apa yang ada di masjid di malam hari dan apa yang ada di masjid di siang hari?

Coba anda cermati di malam tanggal 1 Ramadhan di masjid-masjid kaum muslimin!!

Apa yang terjadi? Masjid-masjid kaum muslimin dimalam 1 Ramadhan membeludak begitu banyak orang yang pergi ke masjid.

Untuk apa??? untuk menunaikan sholat isya berjama’ah yang dilanjutkan dengan sholat taraweh yang ini tentunya adalah merupakan fenomena yang mengembirakan dimana kaum muslimin di malam-malam Ramadhan mereka rajin untuk pergi ke masjid menunaikan sholat taraweh.

Namun yang jadi masalah adalah perhatikan bagaimana kondisi masjid yang sama ke esokan harinya di siang hari di tanggal 1 Ramadhan, saya tidak meminta anda untuk melihat masjid nanti di tanggal 29 atau tanggal 28 atau tanggal 20 keatas Ramadah, tidak.. Tapi yang saya minta dari anda adalah coba bandingkan antara keadaan jama’ah masjid di malam 1 Ramadhan dengan di siang tanggal 1 Ramadhan.

Apa yang terjadi? Lihat bagaimana jumlah jama’ah manakala mereka menunaikan shalat dzuhur atau shalat ashar, bagaimana? Apakah jama’ah nya membeludak, atau justru cenderung sangat minim, bahkan disebagian masjid kosong.

Sehingga sampai-sampai ada sebagian masjid yang melakukan pekerjaan borongan. apa maksudnya? Maksudnya dia yang muadzin, dia yang komat, dia yang imam dan dia juga yang ma’mum. Syukur-syukur kalau misalnya suatu saat dia menjadi tim satu kesebelasan alias cuma dua orang saja, imam dan ma’mum saja. Itu adalah kondisi masjid di siang hari dibulan Ramadhan.

Ustadz apakah itu salah?

Jelas salah, yang salah bukan kondisi ketika orang membludak di shalat taraweh, bukan..!! tapi yang jadi permasalahan adalah manakala banyak diantara kaum muslimin kemudian mereka memiliki skala prioritas yang tidak benar.

Apakah shalat taraweh adalah merupakan shalat wajib sehingga kaum muslimin mereka begitu mementingkan shalat taraweh, dan sebaliknya apakah shalat ashar adalah merupakan shalat yang hukumnya sunah sehingga kaum muslimin kurang memperdulikannya, apakah seperti itu?

Kalau misalnya kita tanya mereka tentu tentu mereka akan menjawab: ya enggak lah, taraweh hukumnya sunah sedangkan shalat ashar hukumnya adalah wajib, itu secara lisan tapi secara praktek di dalam kehidupan mereka ternyata berbeda, seharusnya kaum muslimin memiliki skala prioritas di dalam beribadah, ada sesuatu yang penting dan ada sesuatu yang lebih penting, antara yang wajib dan sunnah lebih penting mana? Jelas lebih penting yang wajib, makannya dalam sebuah hadits qudsyi yang diriwayatkan oleh imam Bukhari, Allah E berfirman:

Wamaa taqorrobaa ilayya ‘abdi bi syai in ahabba ilayya mimaftarootu ‘alaihi,

kata Allah subhanahuwata’ala tidak ada amalan yang dilakukan oleh bani Adam untuk mendekatkan dirinya kepadaku yang lebih aku sukai dibandingkan amalan yang aku wajibkan untuk dia. Jadi antara yang sunah sama yang wajib itu lebih dicintai oleh Allah E, karena inilah yang lebih penting.

Nah ketika saya menyampaikan ini bukan saya sedang mengatakan dan menggembosi kaum muslimin untuk tidak menunaikan shalat taraweh, bukan itu maksud saya, tapi maksud saya adalah bagaimana kaum muslimin bisa meramaikan shalat lima waktu mereka, bisa meramaikan masjid mereka untuk menunaikan shalat lima waktu sebagaimana mereka bisa meramaikan shalat taraweh dengan bejama’ah di masjid.

Alangkah indahnya ketika kita melihat masjid-masjid kaum muslimin diwaktu shalat dzuhur terutama dan diwaktu shalat ashar kita melihat jama’ah nya membludak seperti membludaknya shalat taraweh seperti yang kita lihat selama ini.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Durasi: 00:05:53
Pemateri:
Pencatat: Arif Risnandar on 15 May 2016
Editor: Abu Ahmar

Keutamaan Menghafal Asmaul Husna – Ustadz Abdullah Zaen, M.A.

Ustadz, apakah dengan membaca Asmaul Husna bisa masuk surga?

: Ada hadits yang shohih yang berbunyi

“Sesungguhnya Allah itu memiliki 99 nama, barangsiapa yang menghafal nama-nama tersebut maka dia akan masuk surga”

 

Kata para ulama yang di tuntut dari kita itu (satu) menghafal, tapi ini ndak cukup sebenarnya kata para ulama ada kata-kata ahshoha disitu, barang siapa yang ahsho sebagian ulama seperti Imam Bukhori beliau disini mengatakan ahsho maksudnya adalah menghafal, ulama yang lain mengatakan tidak cukup hanya menghafal tapi dia perlu menghafal kemudian juga berusaha untuk mengamalkannya,

 

contohnya dengan bertawassul. Sambil di tambah dengan memahami, memahami isi dari  Asmaul Husna tersebut.

 

Ditambah lagi yang lebih sempurna adalah mengaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana ustadz kok Asmaul Husna di aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari?. Maksudnya adalah ketika kita mengetahui bahwasanya Allah SWT itu memiliki nama Assami’(maha mendengar).

 

Kalau kita mengetahui, memahami bahwasanya Allah maha mendengar aplikasinya adalah apa? Kalau ngomong, ngomonglah yang baik-baik walaupun ngomong jeleknya itu lirih tapi jangan ngomong jelek karena walaupun lirih Allah maha mendengar.

 

Contoh:

yang lain Allah memiliki nama Al-Bashir (yang maha melihat), kalau Allah maha melihat dimanapun kita berada maka jangan berbuat maksiat walaupun di dalam kamar mandi, difikir di dalam kamar mandi ndak ada yang lihat, Allah melihat walaupun kita di kamar mandi.

 

Pernah ada seorang ustadz, ada seorang  preman yang dia taubat dari kepremanannya tapi dia belum bisa meninggalkan satu penyakit yang satu yaitu merokok, akhirnya suatu saat karena sangking kebeletnya merokok dia minta izin sama ustadznya, Ustadz saya minta izin merokok, kata ustadznya boleh-boleh ndak papa tapi ngerokoknya di tempat yang nggak di lihat sama Allah yah? Akhirnya dia cari  dimana? di kamar mandi, dia fikir kalau di kamar mandi nggak di lihat sama Allah, mau kamar mandi tetap juga di lihat sama Allah karena Allah itu punya nama Al-Bashir(yang maha melihat).

 

Jadi apakah hanya dengan membaca Asmaul Husna bisa masuk surga? Kalau hanya membaca saja tidak, tapi perlu apa? Perlu menghafal, kemudian di fahami, yang lebih tinggi yang lebih sulit yaitu adalah mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Durasi: 00:04:15
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 29 April 2016
Editor:

Lemah vs. Lemah Siapa yang Menang? – Ustadz Abdullah Zaen, MA.

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakaatuh.

 

Saya yakin semua dari kita pernah mengucapkan ta’awaudz, yaitu ungkapan ‘Auudzubillahiminasyaithoonnirroziim, dan saya yakin semuanya sudah hafal dan kalo ditanya tentang artinya sekilas mungkin banyak yang sudah tahu.

 

‘Auudzubillahiminasyaithoonnirroziim, aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan atau syaitan yang terkutuk, tapi sudahkah kita mendalami makna dari kalimat yang mulia ini? Kemudian sudahkan kita mengetahui kenapa kita diperintahkan oleh Allah subhanahuwata’ala untuk memohon perlindungan kepadanya, apakah syaitan adalah makhluk yang kuat sehingga kita perlu bantuan Allah subhanahuwata’ala, kalo memang syaitan makhluk yang lemah kenapa kita perlu meminta bantuan Allah subhanahuwata’ala? Inilah yang in syaa Allah akan sedikit kita kupas pada kesempatan yang berbahagia kali ini.

 

Pertanyaan pertama tentunya adalah kenapa kita minta perlindungan sama Allah, apakah syaitan adalah sosok makhluk yang begitu kuat sehingga kita perlu untuk meminta perlindungan kepada Allah, kalo memang syaitan itu makhluk yang lemah terus kenapa kita tidak mengandalkan kekuatan diri kita saja, kalo misalnya anda na’udzubillahimindzaalik dirampok misalnya, anda misalnya dirampok oleh sepuluh perampok yang mana sepuluh perampok itu adalah orang yang kuat-kuat, saya yakin saat itu anda perlu bantuan, anda perlu meminta pertolongan kepada orang lain untuk menghadapi sepuluh perampok yang kuat-kuat tersebut, namun sekarang kalo misalnya ada perampok datang kepada anda dia orangnya kurus, lemah bahkan mungkin anak kecil lah katakanlah, dia anak kecil akan merampok anda dan anda tidak perlu bantuan kepada orang lain karena anda merasa bisa menangani perampok itu sendiri.

 

Syaitan adalah makhluk yang lemah, silahkan anda dalam Al Qur’an surat An Nisa ayat 76 disitu Allah subhanahu wat’ala berfirman:

 

Inna kaidasy syaithooni kaada dhoiifa

“Sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah”

 

Sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah, jadi sejatinya syaitan adalah makhluk yang lemah, syaitan adalah makhluk yang lemah, terus kenapa kita perlu bantuan dari Allah subhanahu wata’ala untuk menghadapi makhluk yang lemah tersebut, apakah kita tidak cukup dengan kekuatan yang kita miliki sendiri, mengapa kita perlu butuh bantuan Allah subhanahu wata’ala, jawabannya adalah karena kita sebagai manusia juga makhluk yang lemah, makannya dalam Al Qur’an surat An Nisa juga, dan ini menarik, surat An Nisa juga di ayat berbeda  yaitu ayat ke 28 Allah subhanahu wata’ala menegaskan:

 

Wa khuliqol insaanu dhoiifa

“Manusia itu diciptakan sebagai makhluk yang lemah”

 

Berarti syaitan lemah dan manusia juga lemah, berarti sekarang lemah versus lemah, ah kalo lemah ketemu sama lemah siapa yang menang, yang jadi pertanyaan siapa yang menang?

 

Yang menang adalah yang minta pertolongan kepada yang maha kuat yaitu Allah subhanahuwata’ala, dari sinilah kemudian Allah subhanahuwata’ala berfirman di dalam surat yang lainnya yaitu dalam Al Qur’an surat Al A’raf ayat 200, Allah subhanahuwata’ala berfirmant:

 

Wa imam yanzhugonnaka minasy syaithooni nazghun fasta’idz billaahi

 

Kata Allah subhanahuwata’ala “seandainya kalian sedang diganggu oleh syaitan maka mintalah perlindungan kepada Allah subhanahuwata’ala”

Mintalah perlindungan kepada Allah subhanahuwata’ala, kenapa kata Allah subhanahuwata’ala

Innahuu samii’un ‘aliim

“Sesungguhnya Allah subhanahuwata’ala maha mendengar dan maha melihat”

 

Jadi dalam Ayat ini Allah subhanahuwata’ala memerintahkan kita untuk meminta perlindungan kepada Allah jala wa ‘ala karena Allah subhanahuwata’ala punya kemampuan supaya kita menang melawan syaitan kita harus minta perlindungan dan pertolongan serta bantuan dari dzat yang maha kuat yaitu Allah subhanahuwata’ala.

 

Dari sinilah kita diperintahkan untuk ber isti’adzah, maka jangan sampai diantara kita terlalu mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, mentang-mentang ana udah sholat lima waktu dengan rajin, ana sudah berdzikir, ana sudah berpuasa, ana sudah berhaji tidak mungkin syaitan akan menang melawan saya, ini semuanya adalah penyakit yang sangat berbahaya.

 

Makannya Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam diantara do’a yang sering beliau ucapkan sebagaimana diriwayatkan oleh imam Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad dan do’a ini atau hadits ini dinilai hasan oleh syaikh Al Albani, kata nabi shollallahu ‘alaihi wasallam:

Allahumma Rohmataka Arju

“Ya Allah aku mengharapkan rahmat-Mu wahai Allah, aku mengharapkan kasih sayang-Mu wahai Allah”

Kemudian kata nabi apa?

 

Walaa takilnii illa nafsii thorfata ‘aiin,

“Janganlah engkau jadikan aku bergantung pada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata”

 

Sekejap mata itu, berapa sih? Sekejap mata, satu detik atau bahkan kurang dari itu, nabi kita Sholallahu ‘alaihi wassalam tidak mau menggantungkan diri pada kekuatan dirinya sendiri saja, karena apa karena manusia adalah makhluk yang lemah.

 

Seandainya nabi kita Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam adalah merupakan sosok makhluk yang paling bertakwa, keimanannya paling unggul, ketakwaannya paling tinggi diantara sekian banyak manusia yang ada di muka bumi saja mengakui kelemahan dirinya kenapa kita seperti itu wahau kaum muslimin dan kaum muslimat yang kami hormati.

 

Maka mari kita berusaha untuk mengucapkan ‘Auudzu billahiminasysyaithoonirrojiim bukan hanya sekedar dilisan kita tapi kita masukkan kedalam hati kita, kita meyakini bahwa kita adalah makhluk yang lemah, kita adalah insan yang fakir yang membutuhkan bantuan dari Allah subhanahuwata’ala sehingga kita senantiasa menggantungkan nasib kita, urusan kita, kepentingan kita, seluruh kehidupan kita hanya kepada Allah subhanahuwata’ala.

 

Watawakkal ‘alal hayyilladzii laa yamuut,

kata Allah subhanahuwata’ala: “Bertawakal lah kalian kepada yang maha hidup yang tidak akan pernah mati”.

 

Jadi disinilah kita diperintahkan oleh Allah subhanahuwata’ala untuk menggantungkan diri kita, untuk menggantungkan nasib kita kepada yang maha hidup dan yang tidak akan pernah mati.

 

Kata para ulama, disini ada tiga jenis yang kita tidak boleh menggantungkan diri kepada mereka:

  1. Benda mati, yang memang jelas-jelas dia itu mati seperti batu, keris, jimat kemudian berhala, patung dan seterusnya benda mati, ini yang pertama kita tidak boleh menggantungkan diri kepada benda mati atau misalnya yang kedua selain benta mati adalah
  2. Makhluk hidup, makhluk hidup yang akan mati, jangan kita menggantungkan diri kepada makhluk hidup yang akan mati karena mereka suatu saat nanti akan hilang, mereka suatu saat nanti akan tidak ada di muka bumi ini, ini makhluk hidup yang akan mati, yang akan mati siapa ya manusia, jin, syaitan dan seterusnya dan yang ketiga adalah
  3. Makhluk hidup yang sudah mati, siapa itu ya merekalah yang ada di kuburan, jangan kita gantungkan diri kita kepada mereka.

 

Tapi gantungkanlah seluruh urusan kita, mohonlah perlindungan dan bantuan dari Allah subhanahuwata’ala, Al Hayyi yang maha hidup Alladzii laa yamuut yang tidak akan pernah mati.

 

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, wallahuta’ala wa a’lam, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Durasi: 00:09:48
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 28 April 2016
Editor:

“Puasa Sejati” – Ustadz Abdullah Zaen, MA

Bismillahirrahmaanirrahiim, Alhamdulillahirobbil ‘alamin washolatu wassalamu’alaa nabiyinna muhammadin wa ‘ala alihi wasohbihi ajma’in amma ba’du

Dikisahkan pada suatu hari Imam Ahmad ibnu Hambal rohimahullah ta’ala, salah seorang ulama besar islam sedang berpuasa, menjelang berbuka puasa ketika beliau akan berbuka dengan dua potong roti kering datang seorang pengemis kerumah beliau meminta minta, Imam ahmad merasa iba terhadap pengemis tesebut, apa yang dilakukan oleh beliau? ternyata dua potong roti kering yang beliau siapkan untuk berbuka puasa dua duanya diberikan kepada sang pengemis tersebut sehingga tidak ada makanan tersisa didalam rumah imam ahmad.

Lantas beliau berbuka dengan apa? beliau berbuka dengan segelas air putih dan juga beliau bersahur untuk keesokan harinya juga dengan segelas air putih. Luar biasa bukan, begitulah sosok orang-orang yang puasanya telah mempengaruhi perilaku kesehariannya, dan puasa yang bagaimanakah yang akan mempengaruhi perilaku seorang hamba?

Puasa bukan sembarang puasa, tapi adalah puasa sejati, apakah puasa sejati?

Puasa sejati bukanlah seperti yang dipahami oleh banyak kalangan, bahwa puasa adalah hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum saja, puasa itu bukan hanya menahan lapar, bukan hanya menahan haus saja, bukan!

Akan tetapi puasa itu maknanya lebih luas dari itu, sebagaimana yang di isyaratkan oleh salah seorang sahabat nabi sholallahu ‘alaihi wasallam, yang bernama Zabir bin Abdullah Rodiyallahu ‘anhu, kata beliau Idzaa sumta, falyasum sam’uka walisaanuka wabashooruka.

Kata Zabir kalo engkau berpuasa hendaklah telinga kamu ikut berpuasa, lisan kamu ikut berpuasa dan mata kamu ikut berpuasa, jadi Zabir bin Abdullah memberikan sebuah makna yang sangat dalam dari ibadah puasa, ternyata puasa itu bukan hanya sekedar menahan perut, menahan lapar dalam perut atau menahan dahaga dari kerongkongan, bukan! tapi beliau menjelaskan bahwasanya puasa itu adalah puasa telinga, puasa itu juga puasa mata, puasa itu juga puasa lisan.

Apa itu puasa mata ustadz? Puasa mata tentunya adalah puasa menjaga mata ini supaya tidak melihat hal2 yang diharamkan oleh Allah subhanahuwata’ala, demi mengamalkan firman Allah subhanahuwata’la “Kullil mu’minina yaguddu min abshoorihim wayahfadzu furuujahum”, katakanlah (wahai Muhammad) kepada kaum mu’minin agar mereka menundukan  pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka.

Sama juga Allah subhanahuwata’ala berkata kepada kaum mu’minat wakullil mu’iminaati yagudnaa min abshoorihinna wayahfadjnaa furuujahunna, katakanlah (wahai Muhammad) kepada kaum mu’minat, hendaklah mereka senantiasa menundukan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya. Jadi di dalam ayat ini Allah subhanahuwata’ala menjelaskan kepada kita bahwa mata ini pergunakanlah untuk sesuatu yang tidak dimurkai oleh Allah, maka kita sangat heran dengan perilaku sebagian orang yang berpuasa ketika sore harinya atau bahkan pagi harinya dan biasanya yang sore harinya mereka kongkow-kongkow kemudian katanya ngabuburit dan seterusnya di jalan-jalan, pandangan matanya tidak dijaga, padahal dia lagi berpuasa, terus puasanya puasa apa? Apakah puasanya itu hanya sekedar puasa perut saja, tidak! mata juga diperintahkan untuk berpuasa, inilah puasa yang sejati, tidak cukup hanya mata kita yang diperintahkan untuk berpuasa, lisan kita juga diperintahkan untuk puasa.

Puasa lisan maksudnya adalah menggunakan lisan ini dalam hal-hal yang diridhoi oleh Allah Subhanahuwata’ala. Kalo misalnya tidak bisa untuk mengucapkan kata-kata yang baik, maka diam!. Kata nabi sholallahu ‘alaihi wassalam “Man kaana yuminu billahi wal yaumil aahir fal yaqul khoiron awu liyasmut” , kata nabi sholallhu ‘alaihi wassalam barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik, kalo tidak bisa berkata baik maka kata nabi sholallahu ‘alaihi wassalam diam!.

Ini lah puasa, puasa lisan yah, aneh sekali orang yang berpuasa tapi masih saja ia suka menggunjing orang lain, dia masih saja suka berbohong kepada orang lain, dia masih saja suka mencaci orang lain, ini puasa kayak apa? Puasa model apa yang seperti ini?

Nabi Sholallahu ‘alaihi wassalam menegaskan dalam sebuah hadits yang shohih, kata nabi sholallahu ‘alaihi wassalam Man lam yada’ qoula zuuri wal’amala bihi falaisa lillahi haajatun fii ‘an yad’a tho’aamahu wa syaroobahu, kata nabi sholallahu ‘alaihi wassalam orang yang berpuasa kemudian dia tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, falaisa lillahi haajatun fii ‘an yad’a tho’aamahu wa syaroobahu, Allah tidak butuh dengan puasa dia, Subhanallah.

Ini peringatan keras dari nabi kita Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam, bahwa orang yang berpuasa tapi dia masih rajin untuk menggunjing orang lain, dia masih gemar untuk berdusta, dia masih suka untuk mencaci menghina orang lain, orang-orang yang seperti ini puasanya tidak dibutuhkan alias na’udzubillahimindzaalik bisa sampai taraf tidak diterima oleh Allah subhanahuwata’ala seandainya dia tidak memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukun puasa, na’udzubillahimindzaalik, inilah puasa lisan.

Terus apa puasanya telinga ustadz? Puasa telinga adalah sama, kita berusaha untuk tidak memasukkan sesuatu kedalam telinga kita kecuali sesuatu itu adalah sesuatu yang baik. Maka jangan habiskan waktu kita ketika berpuasa dan juga ketika tidak berpuasa untuk mendengarkan gosip-gosip yang biasa disiarkan di acara-acara televisi yang membahas tentang aib orang lain, membeberkan aib nya, membongkar aib nya, dibuka dihadapan umum, untuk apa kita dengarkan itu? Jangan kita habiskan waktu siang kita untuk mendengarkan hal-hal yang tidak baik, mendengarkan nyanyian, mendengarkan dangdut, mendengarkan sereosa, mendengarkan keroncong dan seterusnya, gendingan kalo orang jawa.

Habiskan umur kita! Untuk apa? Untuk mendengarkan bacaan Al qur’an, mendengarkan pengajian dan seterusnya, inilah puasanya telinga.

Maka puasa sejati adalah orang yang telah berpuasa bukan hanya perutnya saja, tapi orang yang berpuasa dengan telinganya dia berpuasa, matanya dia berpuasa, lisannya dia berpuasa, bahkan seluruh anggota tubuhnya ikut berpuasa, tangannya ikut berpuasa, kakinya ikut berpuasa, hatinya ikut berpuasa. Tangannya tidak mengganggu orang lain, tidak menyalakan petasan yang bisa mengagetkan orang lain, mengganggu istirahat orang lain.

Itulah puasa yang hakiki, itulah puasa yang sejati, maka selamat berpuasa dengan puasa yang sejati, jangan sekedar berpuasa tanpa makna.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, wallahu ta’ala wa a‘lam washollahu ‘alaa nabiyinna Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shohbihi ajma’iin.

Durasi: 00:09:08
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 26 April 2016
Editor: