Ubah Sikap Apa Salahnya – Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Bagaimana kita mengajarkan kepada masyarakat yang masih berpegang dengan cara-cara seperti itu ya kan?

 

:  Masyarakat sebetulnya mengikuti apa yang mereka biasa di ajarkan. Kalau biasa mereka di ajarkan seperti itu mereka akan terus demikian karena itulah yang mereka tau dan itu yang mereka yakini , tetapi kalau kita biasa mengajarkan kepada mereka As-sunnah maka mereka akan terbiasa dengan sunnah dan meninggalkan cara lama.

Paham sampai disitu?

Jadi, masyarakat pertama itu mengerjakan apa yang biasa mereka terima, apa yang biasa mereka di ajarkan dan itulah yang mereka amalkan, sekarang untuk merubahnya kita biasakan mereka dengan sunnah, sabda Rasul saw, firman Allah terus di ajarkan sehingga itu jadi mendarah daging, jadi melekat dan jadi terbiasa. lisan mereka akhirnya terbiasa dengan sunnah, sunnah, sunnah, sunnah, sunnah.

 

terjadilah perubahan sedikit demi sedikit , itu cara yang pertama untuk merobah. Memperbanyak sunnah, menjelaskan sunnah terus-menerus karena tidak ada istirahat bagi seorang mu’min kecuali mati. Apalagi bagi seorang da’I.

 

Terus di biasakan masyarakat itu di perkenalkan sunnah, ada hadits seperti ini sabda Rosululloh SAW, terus, itu cara yang pertama. Sehingga sunnah lebih banyak mereka mendengar dari yang lainnya. Kalau berita bohong setiap hari di sebarkan maka orang yakin berita bohong itu adalah kebenaran. Itu yang mereka tau padahal berita itu bohong.

 

Kemudian yang kedua kita memberikan pelajaran ‘ilmu, menjelaskan tentang ’ilmu karena mereka kurang ‘ilmu, banyak yang mereka tidak tau.

 

Kemudian yang ketiga senantiasa kita memberikan kepada mereka kitab-kitab para ‘ulama atau memperdengarkan kepada mereka ceramah-ceramah sunnah, pertemuan-pertemuan sunnah seperti ini dan kitab itu sangat bermanfaat sekali karena itu di Malaysia ini perlu memperbanyak kitab-kitab sunnah, di perbanyak penjualan di toko-toko nya supaya orang mudah, kemudian ada orang-orang yang menginfakkan hartanya membeli kitab-kitab itu untuk di bagi-bagikan kepada masyarakat sebagian karena kitab itu sangat bermanfaat sekali, dia baca sendiri di rumah.

 

mudah-mudahn Allah memberikan hidayah. Kasih hadiah kita yakni kita berusaha mengembalikan mereka kepada fitrahnya. Itu beberapa jalan insya Allah.

 

Durasi: 00:05:30
Pencatat: Khoir Bilah on 29 April 2016
Editor:

Ust. Abdul Hakim Abdat – Berbezakah Demonstrasi Dalam Sistem Khilafah & Demokrasi

Tentang larangan berdemonstrasi kepada pemerintah, adakah pemerintah yang disebut dalam hadits sama dengan pemerintah yang ada pada hari ini? Karena pemerintah pada zaman khilafah islamiyyah dipilih oleh majelis syuro dan mendapat bai’at penuh daripada seluruh kaum muslimin sedangkan pemerintah pada hari ini hanya diundi oleh sebagian rakyat, mohon penjelasan.

 

: Saya kira ini terkena syubhat mereka, pertanyaan ini pertanyaan yang dilemparkan oleh ahli demonstrasi, mufti nya demonstrasi, ahli hadits nya demonstrasi, dia melemparkan pertanyaan seperti ini kepada masyarakat kaum muslilmin,  ini pembodohan, tidak mengerti sejarah terutama nash Al-qur’an dan hadits.

 

Pertama yang dimaksud pemerintah, pemerintah sepanjang zaman, pemerintah kaum muslimin dengan cara apa saja mereka memperoleh pemerintahan itu mau dengan bai’at majelis syuro, dengan system sekarang yang penting pemerintahannya kaum muslimin.

 

Syarat nya apa saja , apa dahulu selalu dengan majelis syuro, nah ini yang saya katakan pembodohan , tidak mengerti sejarah. Berapa banyak pemerintahan pada zaman dulu tidak dengan majelis syuro, di kudeta. Di memaksa orang untuk bai’at dia, di kudeta.

 

Lihat pemerintahan ‘Abasiyyah, sudara membunuh abang, membunuh adiknya, tu adik membunuh abangnya untuk cepat jadi raja, ada yang mengkudeta, memberontak. Kalau sekarang ini ahli demonstrasi ini mengkudeta sebagian pemerintahan kaum muslimin kemudian dia jadi raja, dia jadi presiden, lah pemerintahannya pemerintahan apa? Pemerintahan dia. Itu pemerintahan dia, dilarang kita juga demonstrasi kepada  dia yang ahli demonstrasi. Sama.

 

Satu pemerintahan digulingkan kemudian di demo, terguling pemerintahan itu, ganti, masuk ganti ini . kan tidak melalui pemilihan juga tidak melangsung jadi, ambil alih pemerintahan, akhirnya dia jadi kepala pemerintahan karena itu, para imam kita tidak mensyaratkan, mau pemerintahan itu secara resmi atau tidak resmi diperolehnya, dengan cara kudeta kalau istilah kita, tetap dia pemerintah.

 

Jadi kalau dia sudah jadi pemerintah maka wajib bagi kita menta’atinya karena kemaslahatannya lebih besar .kalai kita tidak menta’atinya maka kerusakan yang sangat besar terjadi karena itu ajaran islam sifatnya adalah menghilangkan segala mudhorot, bahaya atau kerusakan atau memperkecilnya atau menanggung mudhorot untuk kemaslahatan yang lebih besar . itu adalah kaidah-kaidahnya.

 

Jadi tetap pemerintahan mau melalui pemilihan jalur apa saja. Kalau dia sudah jadi pemerintah maka dia pemerintah. Kita tidak boleh memberontaknya, mengangkat senjata, mencaci makinya, membuka aibnya di depan umum, menggalang masa. Enggak boleh, haram bagi seorang muslim. Dan bukan begitu caranya di dalam islam walaupun niat baik, tetapi niat baik yang salah karena menyalahi sunnah Rosululloh SAW.

 

Durasi: 00:05:24
Pencatat: Khoir Bilah on 28 April 2016
Editor:

Apakah Jika Keluar Rumah Istri Harus Izin Suami – Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Assalamu’alaikum ustadz,,

: Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,,

Bagaimanakah kebiasaan istri-istri para sahabat nabi SAW? Apakah setiap mereka keluar rumah di temani mahromnya walaupun jaraknya dekat?

: Jawabnya tidak kecuali safar, yang di temani mahrom itu, yang harus dan wajib di temani mahrom yaitu ketika safar, apabia tidak masuk safar dan perjalanan aman maka tidak harus di temani mahromnya. Para shohabiyah keluar sesuai dengan hajat mereka, keperluan mereka tanpa di temani mahrom.

 

Istri Nabi salah satu contohnya saja(banyak dalilnya), Shofiyah radhiallahu ta’ala ‘anha keluar dari rumahnya sendiri menjenguk Nabi yang sedang I’tikaf di masjid, kan sendiri dia keluar dari rumahnya walaupun rumahnya dekat dan pulangnya juga sendirian dan Nabi SAW menemani sampai pintu masjid dan banyak dalil yang lain, selama tidak safar maka tidak harus di temani mahromnya.

 

Dan apakah istri harus minta izin kepada suami setiap kali keluar rumah walaupun jarak dekat?

: Izin ada yang bersifat khusus setiap kali akan keluar apabila di perlukan, ada yang bersifat umum (saya setiap hari ke pasar) di izinkan oleh suami maka tidak perlu setiap hari dia minta izin. Ada yang harus setiap dia keluar dia minta izin karena istri terikat dengan suami dan suamilah sebagai pemimpinnya.

Durasi: 00:03:04
Pencatat: Khoir Bilah on
Editor: