PENTING! NONTON DULU 10 + 1 INI SEBELUM PUASA :)

Bulan Ramadhan telah tiba. Umat islam diseluruh dunia bergembira dan berlomba-lomba untuk memperubanyak ibadah. Namun banyak hal yang perlu diluruskan terkait kebiasaan yang dilakukan ketika bulan Ramadhan, khususnya di Indonesia. Berikut adalah 11 hal yang perlu diluruskan ketika puasa:

Hal Pertama: Tradisi Padusan

Menjelang bulan suci Ramadhan kaum muslimin di Indonesia melakukan ritual padusan. Mereka anggap itu untuk membersihkan jiwa dan raga, agar terbebas dari segala dosa. Ini adalah budaya yang tidak sesuai dengan Islam. Islam tidak pernah mengajarkan membersihkan dosa dengan cara padusan.

Hal Kedua: Nyekar

Ziarah kubur termasuk amal mulia dalam Islam. Karena ziarah kubur bisa mengingatkan orang akan kematian. Islam memberikan kelonggaran untuk melakukan ziarah kubur di waktu kapanpun. Karena itu kita tidak boleh membatasinya hanya ketika menjelang Ramadhan.

Hal Ketiga: Teriak Sahur (Membangunkan sahur sahur)

Banyak daerah memiliki cara berbeda untuk menunjukan waktu sahur. Ada yang memukul tiang listrik, kentongan, teriak-teriak sambil membawa rebana dan lain-lain. Padahal Islam telah memiliki cara sendiri untuk menunjukan waktu sahur, yaitu adzan awal sebelum subuh. Lebih baik kita melakukan sunnah daripada melakukan tindakan yang mengganggu istirahat masyarakat.

Hal Keempat: Waktu Imsak

Sebagian kaum muslimin beranggapan bahwa batas waktu makan dan minum adalah imsak. Yang benar justru sebaliknya, 10 menit sebelum subuh adalah waktu terbaik untuk makan sahur. Amar bin Mai’mun menceritakan: “Dahulu para sahabat nabi Muhammad H adalah orang-orang yang paling segera berbuka dan paling telat sahur (HR. Baihaqi)

Hal Kelima: Mengeraskan Bacaan Niat Puasa

Sobatku, niat letaknya di hati bukan dilisan karena inti niat adalah keinginan untuk melakukan suatu amal. Jika seseorang sudah ada keinginan berarti dia sudah berniat, Rasulullah H tidak pernah mencontohkannya.

Hal Keenam: Sikat Gigi Ketika Berpuasa

Sikat gigi ketika berpuasa hukumnya diperbolehkan, hanya saja perlu waspada ketika menggunakan pasta gigi. Jangan sampai ada bagian yang tertelan. Nabi H menganjurkan untuk menjaga kebersihan mulut mendekatkan ridha Allah. Siwak itu membersihkan mulut dan mendekatkan pada ridha Allah (HR. Ahmad dan dishahihkan Syu’aib Al Arna’uth).

Hal Ketujuh: Muntah Ketika Puasa

Sobatku, muntah tanpa disengaja tidak membatalkan puasa sedangkan muntah dengan sengaja puasanya batal. Jika kita merasa perutnya mual dan akan keluar sesuatu maka jangan memaksakan diri untuk memuntahkannya. Rasulullah H bersabda: “Siapa yang tidak sengaja muntah tidak wajib qodho dan siapa yang sengaja muntah wajib qodho artinya puasanya batal”. (HR. Turmudzi dan dishahihkan Al Albani)

Hal Kedelapan: Mencicipi Masakan

Sobatku, mencicipi masakan ketika sedang berpuasa selama tidak tertelah hukumnya boleh. Ibnu Abbas pernah mengatakan: “Tidak mengapa mencicipi cuka atau makanan lainnya selama tidak masuk kekerongkongan”. (HR. Bukhari secara mualaq)

Hal Kesembilan: Tidur Berpahala

Apakah tidurnya orang yang berpuasa itu berpahala? Pertanyaan ini berasal dari hadits yang menyatakan “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya adalah mustajab dan pahala amalannyapun akan dilipatgandakan”. Namun hadits ini statusnya palsu, ada perawi yang bergelar pendusta.

Hal Kesepuluh: Bekam Dan Donor Darah Ketika Berpuasa

Mengeluarkan darah tidak membatalkan puasa. Dalilnya Nabi H memberi keringanan untuk berbekam ketika berpuasa. Hanya saja jika ini dikhawatirkan menyebabkan lemas maka tidak dibolehkan. Sahabat Anas bin Malik pernah ditanya “Apakah kalian membenci bekam bagi orang yang berpuasa?”. Anas mengatakan: “Tidak, kecuali jika bisa menyebabkan lemas”. (HR. Bukhari). Sobatku, bagi yang ingin bekam dan donor darah disarankan untuk dilakukan di malam hari atau mendekati waktu berbuka.

Hal Kesebelas: Kesalahan Do’a Berbuka Puasa

Sebagian masyarakat Indonesia berbuka puasa dengan membaca do’a “Allahumma laka sumtu wabika aamantu wa ‘alaa rizkika afthortu birohmatika yaa arhamarroohimiin.” Do’a tersebut dinilai dhoif oleh sebagian ulama. Do’a shohih yang diajarkan oleh Rasulullah H adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar, lafadz do’anya adalah “Dzhabadzoomau wab tallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru In syaa Allah”.

Demikianlah sebelas hal yang perlu diluruskan ketika puasa, semoga Allah memudahkan kita untuk meraih banyak pahala selama menjalankan ibadah di bulan mulia.

Durasi: 00:05:43
Pemateri:
Pencatat: Arif Risnandar on 05 June 2016
Editor: Abu Ahmar

Nasehat Islami: Kiat Mendapatkan Anak Sholeh – Ustadz Subhan Bawazier

Ma’aa syirol muslimin wal muslimat sidang majelis pemirsa yang Allah B muliakan dunia dan akhirat, banyak orang yang menghayalkan memiliki anak yang sholeh. Mereka mengafal do’a yang memang Allah E ajarkan. Kita meminta dengan satu model do’a yang Rasulullah G ajarkan:

ربي حبلي من الصالحين

Robbi hablii minash shoolihiin.

“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. Ash Shaffaat: 100) [1]

Al ‘alaamah Ibnul Qoyyim Al Jauziiyah orang yang berani mengatakan bahwa terkadang takdir itu merupakan sebab akibat. Kalau cuma kesholehan dikhayalkan tanpa ada muqodimah dalam perbuatan, inikan mimpi di siang bolong. Anak yang sholeh tidak datang begitu saja, buatlah sebab.

Paling tidak yang pertama, carilah pasangan yang sholeh dan sholehah karena pasangan yang sholeh dan sholehah ini menjadi penyebab awal dasar orang tersebut memiliki anak-anak yang sholeh.

Yang kedua, kalau sudah pasangan yang sholeh dan sholehah kita cari. Tolonglah nanti prosesnya pun nanti harus sholeh, sholeh yang dimaksud adalah yang benar seperti apa yang Allah B inginkan:

لقد كان لكم في رسول الله أصوة حسنة

Laqod kaana lakum fii rosuulillahi uswatun hasanah,

“Telah ada suri tauladan yang terbaik pada diri RasulullahG“. (QS Al Ahzab : 21)

Menjadikan Rasul sebagai suri tauladan ini bukan cuma sekedar diucapan, tingkah laku Rasulullah G yang diterima oleh orang-orang di manapun yang mendengar dakwah beliau. Artinya kesolehan datang dengan mencontoh Rasulullah G.

Kalau sudah mencontoh Rasulullah G kemudian besarkan anak-anak kita yang Allah titipkan kepada kita di lingkungan yang sholeh juga. Paling tidak yang paling mudahlah sudah. Yah kita membeli rumah tolong dengan cara yang sholeh. Karena sering sekali orang yang membeli rumah ini mendustai orang yang memiliki rumah sebelumnya. Apakah ditakut-takutin, “Ini daerah bakal kena jalur hijau”, orang jual murah. Ataupun ketika membangunnya pun nanti dengan cara yang dzolim atau mungkin dia diam-diam datang ke notaris, minta dikecilkan ukuran bangunannya supaya murah ongkos biaya yang lain-lainnya. Inikan semua bentuk kedzoliman, sementara ayat sudah baku mengatakan:

وما للظالمين من أنصار

Wamaa lidz dzoolimiina min ashoor.

“Tidak akan pernah ada penolong buat orang yang berbuat kedzoliman”.  (QS Al Baqarah 270, Ali Imran 192, Al Maaidah 72).

Kita minta kemuliaan dari Allah B tadi

ربي حبلي من الصالحين

Robbi hablii minash shoolihiin

Mungkinkah kesholehan datang dengan cara berbuat dzolim? Sementara ada hadits yang mengatakan bahwa:

و إن الله تعالى لا ينال ما عنده إلا بالطاعة وأجمل في طلاب

Wa innallaha ta’ala laa yunaalu maa indahu illaa bith thoo’ah wa ajmilu fi thoolab,

“Sesungguhnya Allah ta’ala seluruh kebaikan yang kalian inginkan adanya disisi Allah, dan tidak mungkin kalian dapatkan yang disisi Allah tanpa menta’ati Allah”. (HR Ibnu Abbas)

Sekarang bagaimana kalian khayalkan sebuah kebaikan dengan cara yang Allah B murkai. Wallahi ya akhii fillah,

وما للظالمين من أنصار

Sampai kapanpun takkan pernah ada penolong buat orang yang berbuat kedzoliman.

Maka jangan cuma dikhayalkan

رب حبلي من الصالحين
ربنا حبلنا من أزواجنا و ذرياتنا قرة أعين وجعلنا للمتقين إماما

Robbi hablii minash shoolihiin, robbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzuriyyaatinna qurrota a’yun waj’alnaa lilmuttaqiina imaama.

Itukan tinggal do’a, siapapun bisa menghafalnya. Walaupun orang yang mendzolimi Rasul. Walaupun orang yang mendzolimi Abu Bakar dan Umar, pun mereka hafal do’a tersebut. Tapi kalau sebab nggak dibuat bagaimana kemuliaan akan datang?

هل جزاء الإحسان إلا الإحسان

Hal jazaaul ihsaan ilal ihsan

Sudah jelas ayatnya, “Bukankah kebaikan akan datang dengan cara yang baik”. (QS Ar Rahman : 60).

Ayo! Buat kebaikan jangan cuma mengkhayalkan, yaitu menginginkan sebuah kesholehan tanpa sebab. Mudah-mudahan Allah jadikan kita orang yang mengerti bahwa kesholehan itu datang dengan sebab, cara yang betul dengan izin Allah.

Wallahu a’lam bish showwab, akhiiru da’waana ‘anilhamdulillahirobbil ‘aalamiin.. 


Referensi
[1] Doa Meminta Anak yang Sholeh.

Durasi: 00:04:51
Pemateri:
Pencatat: Arif Risnandar on 29 May 2016
Editor: zakkiy

Beramal Tanpa Henti – Ustadz Abu Fairuz, MA.

Setiap orang mukmin, hendaklah berupaya mencari jalan keselamatan bagi dirinya. Dan setiap mukmin, hendaklah senantiasa beramal dan beramal sebagai sarana untuk menyelamatkan diri daripada adzab Allah E.

Dalam kehidupan ini saya pernah menemukan orang-orang yang saya begitu kagum dengan mereka, dengan sikap-sikap mereka. Saya pernah, dalam perjalanan ibadah haji menjadi penterjemah salah satu seorang syaikh. Saya melihat sosok beliau telah tua rentah. Beliau terkena penyakit pengkapuran pada kakinya dan saya senantiasa menemani beliau dalam berjalan. Saya melihat betapa gigihnya beliau dalam berdakwah mengajak manusia kepada jalan Allah E.

Demi berdakwah beliau rela untuk masuk dari pada satu bus kepada bus yang lain. Menyampaikan misi, menyampaikan dakwah kepada jama’ah haji. Saya berusaha mengikuti beliau.

Subhanallah…

Membawa mikrofon kemana pun berada. Saya kagum dengan semangat beliau hafidzallahu F. Setiap kali datang jamah dia turun di bandara maka dia segera bergegas mengejar jama’ahnya tersebut. Dan berupaya memberikan kepada mereka faedah. Mengajak mereka kepada tauhid yang benar, mengajarkan kepada mereka bagaimana tata cara ibadah haji yang benar. Sungguh mengangumkan…

Suatu ketika saya bertanya, “Ya Syaikh, bukankah anda sudah tua, bukankah anda terkena penyakit, membuat anda sulit untuk berjalan. Tapi kenapa anda begitu semangat dalam mendakwah mengajak manusia kepada Allah E. Sementara wahai Syaikh, saya perhatikan sebagian dari pada da’i-da’i mereka hanya sekedar mengisi satu, dua kegiatan kemudian dia istirahat, santai. Tapi anda gak pernah istirahat wahai Syaikh… Anda gak pernah santai wahai Syaikh, Apa kiranya motivasi anda begitu kuatnya anda mendakwah kemana-mana. Padahal anda mengetahui anda telah tua dan kaki anda telah yakni menderita pengkapuran”.

Dia mengatakan kepada saya “Ya ahmad hidup ini kita gak pernah tahu kapan berakhir dan kitapun tidak  pernah tahu pula, dari sekian banyak amalan yang kita lakukan mana yang diterima oleh Allah E

Maka beliau mengatakan, “Ya Ahmad jangan-jangan satu patah kata, dua patah kata ini yang dapat menyebabkan  adzab Allah, jangan-jangan langkah yang kita langkahkan untuk mendakwahi manusia. Datang ke bus-bus mereka, ada satu dua orang mendapat hidayah. Jangan-jangan ini yang menyelamatkan kita wahai Ahmad. Karena kita ndak pernah tahu mana amalan yang dapat menyelamatkan kita. Sungguh banyak sekali amalan-amalan yang kita lakukan tapi kita nggak tau mana yang di terima oleh Allah E. Karena amalan kita dipenuhi berbagai macam unsur riya, unsur ujub, unsur bangga tapi hal ini tidak membuat kita menyerah kalah”.

Beliau berkata sambil mengingatkan, “Hendaklah anda selalu senantiasa beramal ibadah, kerjakan teru sdan kerjakan terus semua kebaikan dan jangan pernah berhenti”

Wallahu ‘alam…

Jangan-jangan satu, dua daripada amal ibadah yang dilakukan. Pekerjaan yang anda lakukan itulah yang menjadi penyelamat anda dari Adzab Allah E.

Sungguh yakni pesan yang begitu mendalam yang senantiasa saya kenal dalam diri pribadi saya. Dan semoga saya, semoga anda, semoga kita seluruhnya.. Terus-menerus berusaha beramal ibadah, beraktifitas mengerjakan semua kebaikan-kebaikan dan mengharapkan. Dengan harapan, Semoga satu, dua kebaikan tersebut dapat menyelamatkan kita dari adzab Allah E.

Demikianlah, wallahu tabarka wa ta’ala.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Durasi: 00:04:51
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 16 May 2016
Editor: Abu Ahmar

Berapa Usiamu – Ustadz Abdurrohman Al Atsary

Ada yang bertanya ketika berjumpa ke saya, “Mas berapa usia yang ada pada anda?”. Saat itu saya pun malu dan saya hanya tersenyum saja

Di hari yang lain ada lagi yang bertanya, “Pak berapa usia anda sekarang?”. Seperti pertanyaan pertama, saya pun hanya menjawab dengan senyuman .

Sampai pada akhirnya ketika saya di takdirkan oleh Allah, sakit.

Pihak rumah sakit pun bertanya, “Berapa usianya sekarang? Mas atau pak”. Lalu saya pun berfikir, mengapa membedakan mas dan pak, saya pun menyadari bahwa, ternyata apa yang ada dilihat dari penampakan seseorang dari dzohirnya itu bisa membedakan sebutan apa yang pantas bagi dirinya.

Lalu saya berfikir berapa sekrang usia saya. Saya hanya mengatakan saya sudah tua wahai Rabb, walaupun saya tidak setua laut yang ada dihadapan saya. Walaupun usia saya tidak setua langit yang ada di atas saya, walaupun saya tahu saya tidak lebih tua di bandingkan bumi yang saya berdiri di dalamnya.

Tapi yang saya tahu lautan ini tidak pernah berbuat kedurkahan kepada Rabbnya. Ia berhembus mengikuti arah angin sesuai keinginan Rabb yang maha mulia. Langit menaungi tidak pernah berbuat durhaka kepada Rabb yang menciptakannya.

jika datang waktu siang berwarna terang, jika datang waktu malam dia berwarna gelap. Tidak mereka durhaka kepada penciptanya. Padahal ia sudah tua!

Bumi yang saya berdiri di atasnya tumbuh berbagai macam tumbuhan yang membuat dan mendatangkan kebaikan dengan izin rabbnya untuk makhluk yang ada dan ia juga tidak bermaksiat kepada Rabbnya saya teringat Allah mengatakan,

xxx

Bahkan yang ada di dalam benda-benda yang tua ini bertasbih memuji Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi”

Saya pun berfikir, apa yang saya sudah lakukan yang sudah tua ini, apa yang saya sudah buat untuk Rabb yang menciptakan saya dengan usia setua ini. Apa saya merasa masih mudah? Saya berkata dalam diri saya, “Tidak saya sudah tua.”.

Tetapi saya belum berbuat apa-apa! Satu hal yang pasti. lautan, daratan dan langit dia tidak berbuat durhaka sama Allah E. Dan dia tidak di Tanya! Aku akan ditanya oleh Allah dan aku tidak tahu berdiri dihadapan Rabbku ketika ia mengatakan,

xxx

Ketika manusia nanti berdiri dihadapan Rabb yang menguasai alam semesta ini. aku tidak tahu jika dia bertanya pada diriku berapa yang sudah gunakan untukku? Aku tidak tahu. Apa yang sudah kau persiapkan menghadap diriku. maka yang patut kluar dari lisanku,

xxx

Ya rabb ampuni aku sudah setua ini aku lupa dengan kewajianku. Ya Rabb terlalu sedikit yang ku lakukan. Sudah setua ini tidak banyak yang kuperbuat untukmu. Jika bukan karena rahmatmu aku bukan siapa-siapa. Rahmati aku ya rabb, sadarkan aku agar aku bisa setua langit dan bumi dalam arti kata mampu tidak bermaksiat kepadamu.

Semoga engkau mendengar permohonanku dan mendengar permohonan orang-orang seperti diriku.

 

Durasi: 00:05:18
Pencatat: Khoir Bilah on 13 May 2016
Editor: Abu Ahmar

Tausiyah Singkat: Prioritas Tauhid Dalam Dakwah – Ustadz Riyadh Badr Bajrey

u

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh,

Ikhwani wa Akhwatu rahimahumullah,

Diantara sunnatullah atas alam semesta ini adalah dimana Allah subhanahu wata’ala akan selalu jadikan perselisihan dan pertikaian diantara manusia. Demikian memang Allah subhanahu wata’ala dengan itu jaga alam semesta. Hal ini yang pernah kita jelaskan dan kita namai dengan sunnah tadafuu.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

xxx

Kalau bukan karena Allah subhanahu wata’ala benturkan manusia satu sama lain niscaya muka bumi akan hancur. Maka benturan yang terjadi antara manusia, diantara mahluk-mahluk yang bernama manusia ini memang sengaja Allah subhanahu wata’ala jadikan yang dengannya itu semoga terjagalah keseimbangan alam semesta. Allah jadikan segala hal yang terjadi dengan segala hikmah-Nya, baik kita pahami ataupun tidak kita pahami hikmah tersebut.

Kemudian, Allah subhanahu wata’ala pun menegaskan apabila Allah subhanahuwata’ala inginkan agar manusia bersatu, maka Allah akan jadikan demikian. Namun, tidak demikian memang kehendak Allah pada alam semesta-Nya ini yang kita kenal dengan nama iradah kauniyah atau qadarullah kauniyah. dimana Allah subhanahu wata’ala berfirman :

xxx

“Andai saja Tuhanmu inginkan niscaya Dia akan jadikan manusia satu umat untuk satu kesatuan. Namun, yang ada niscaya mereka akan selalu berselisih satu sama lainnya, kecuali orang – orang yang dirahmati oleh Rabmu oleh Tuhanmu”.

Demikian pula akhirnya dimasa ini kita menghadapi golongan-golongan sesat. Golongan-golongan yang membahayakan bagi kita para ahlul islam, ahlussunnah yang memperjuangkan tauhid yang memperjuangkan sunnah Rasulullahi shalallahi ‘alaihi wassalam. Demikian pula kaum – kaum sebelum kita menghadapi hal tersebut, kesesatan dan para musuh islam. Kemudian juga ahlul sirk yang menghadapi para ahlul tauhid. Yang memerangi mereka yang mencelakakan mereka bahkan membuhuni mereka. Demikian memang sunnatullah atas alam semesta. Namun, Allah subhanahu wata’ala telah memberikan solusi kepada kita untuk mengatasi hal itu. Yaitu, adalah agar kita bersabar menghadapi hal itu. Sabar dengan segala aspeknya, sabar untuk tetap menjalankan apapun yang Allah perintahkan, walapun terasa berat di hati. Sabar untuk tetap meninggalkan apapun yang dilarang oleh Allah subhanahuwata’ala kalaupun hati kita menginginkan hal itu. Dan juga sabar untuk menerima apapun yang Allah tentukan atas kita walapun tidak sesuai dengan keinginan kita.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

xxx

Andai saja kalian bersabar dan terus bersabar kemudian kalian bertaqwa yakni lakukan apapun yang Allah perintahkan atas mu dan jauhi apa yang dilarang-Nya. Niscaya, maka tipu daya propaganda mereka sebesar apapun tidak berefek kepada kalian. Selama kalian bertahan diatas hal tersebut.

Maka, bersabarlah. Untuk terus mencara pengetahuan mencari hidayah tentang apa yang seharusnya kau yakini dan kau praktekkan sebagai seorang muslim, sebagai seorang ahlussunnah. Sibukkan dirimu dengan itu, terapkan ilmu – ilmu itu didalam kehidupanmu. Serulah istri dan anak-anakmu kepada tauhid, kepada sunnah. Dan janganlah kita menyibukkan diri dengan pergerakan-pergerakan musuh islam dan para ahli-ahli kesesatan. Seperti syiah, khawarij, mu’tazilah yang tidak akan pernah mereka berhenti memusuhi islam. Jangan kita teralihkan perhatian dan kesibukkan kita dengan hal-hal demikian. Sementara kita teralihkan dari kewajiban kita yang inti, yaitu untuk apa mempelajari ISLAM, mengenal Allah, mengenal rosul-Nya dan mengenal agama-Nya dan mempraktekkannya di dalam kehidupan.

Kami sampaikan hal ini dikarenakan sering kali berangkat dari kecintaan kaum muslimin terhadap agamanya dan berangkat dari rasa bela kaum muslimin terhadap agamanya. Kemudian mereka begitu mengkhawatirkan dan memberikan perhatian yang besar terhadap golongan sesat yang bernama Syiah. Sehingga akhirnya mereka sering kali membahas dan membicarakan hal tersebut mengadakan pertemuan-pertemuan untuk membicarakan tentang kesesatan kesesatan tersebut. Namun, semangat mereka untuk menuntut ilmu, untuk mengetahui apa yang seharusnya mereka ketahui dan mengamalkan apa yang seharusnya mereka amalkan, tidak sebesar semangat mereka untuk membahas tentang kesesatan tersebut.

Apalagi kemudian hal itu sampai menimbulkan kekhawatiran yang luar biasa, sehingga mendorong memprovokasi kaum muslimin untuk melakukan tindakan-tindakan preventif atau tindakan-tindakan balasan terhadap syiah dan golongan-golongan lain yang dimana tindakan pencegahan dan balasan ini pun adalah dengan cara yang tidak dibenarkan oleh syariat islam. Dengan penggalangan suara yang demi Allah, gaya demikian hanya datang dari kafir tidak diajarkan oleh syariat islam. Dengan demonstrasi yang demi Allah, diajarkan oleh kafir, tidak diajarkan oleh syariat islam. Juga dengan bersatu mengedepankan kata-kata persatuan dan mengkebelakangkan perbedaan tauhid, bersatulah sebagian kita dengan ahlul bid’ah dengan orang-orang yang memusuhi sunnah, memusuhi tauhid hanya demi untuk menyatukan pergerakan mereka dalam rangka menghadapi syiah tersebut.

Ini sebuah kekeliruan yang sangat fatal, kalaupun berangkat dari niat yang baik. Dari sense of belonging yang ada, dari rasa kepemilikan kaum muslimin terhadap agamanya. Namun, cara tersebut keliru, tidaklah kita dibenarkan untuk bergabung menyatukan barisan kita dengan para pemuka-pemuka ahlul bid’ah yang menyerukan kepada konsep-konsepnya yang kita hukumi syirik. Seperti tawasulnya, atau menyerukan kepada bid’ah-bid’ah yang mereka kira itu bentuk pendekatan diri kepada Allah. Namun, kita lihat dan kita nilai hal tersebut adalah sebuah kesesatan.

Tidak boleh kita bersatu dengan mereka, kalaupun kita memiliki musuh yang sama dengan mereka. Demikianlah manhaj yang diajarkan oleh Rosul shalallahi ‘alaihi wassalam dan salafushaleh. Tidaklah pernah mereka mengedepankan kata persatuan sebelum mereka memperbaiki dan menyamakan tauhid. Kalimat tauhid qabla tauhid kalimah, dikerenakan persatuan diatas manhaj yang berbeda, diatas konsep yang berbeda, diatas tauhid yang berbeda hanyalah persatuan yang semu. Yang demi Allah, hanyalah mungkin terjadi walaupun terjadi persatuan tersebut selama mereka masih memiliki ‘common enemy‘ musuh bersama.

Ketika musuh tersebut tiada, maka kita akan memerangi kembali satu sama lain. Seperti contoh yang terjadi di Afganistan;

Ketika Rusia menjajah Afganistan, 14 panji ormas islam lebih bersatu dalam rangka melawan penjajah kafir Rusia. Disitu terdapat para penyembah kubur, tasawuf, para harakiyah, hizbiyah, mu’tazilah dan syiah semua bersatu dalam rangka menghadapi kafir Rusia yang menjajah mereka. Namun, ketika Rusia berhasil dihengkankan dari negeri Afganistan tersebut, apa yang terjadi yang ada ormas – ormas ini memperebutkan kekuasaan satu sama lain. Mereka merasa lebih berhak satu pihak merasa lebih berhak daripada pihak yang lain atas tanah Afganistan, akhirnya mereka memerangi satu sama lain. Dan setiap kelompok berteriak Allahuakbar.

Demikian yang Allah janjikan,

xxx

Sesungguhnya setiap kelompok akan berbangga – bangga dengan apa yang ada pada mereka. Maka, ikhwani rahimakumullah menghadapi kesesatan, menghadapi musuh islam bukanlah dengan terprovokasi, bukanlah dengan berteriak bahwa mereka sesat, demi Allah bukan.

Namun, dengan semakin bersemangat untuk mempelajari apa yang seharusnya kita ketahui dan kita praktekkan sebagai kaum muslimin. Menerapkannya didalam kehidupan, dan janganlah kau keluhkan mereka yang memusuhi sunnah, memusuhi islam, dikerenakan memang demikian tugas mereka di muka bumi untuk itu Allah jadikan mereka di muka bumi, kalau kau mau keluhkan kita keluhkan diri kita masing-masing yang tidak mau berusaha mengenal islam dengan baik dan menerapkannya didalam kehidupan kita. Kita keluhkan diri kita yang tidak menjalankan tanggungjawab kita dengan baik sebagai seorang muslim, ahlussunnah yang mengikuti Rosul shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabat salaful ummah.

Wassalamu’alaum warahmatullahi wa barakatuh.

 

Durasi: 00:10:11
Pencatat: Haris Eko Prasetyo on 12 May 2016
Editor: Abu Ahmar