Silakan Berdebat, Dengan Syarat – Ustadz Muflih Safitra, MSc

Anda tau debat? Saya tidak perlu definiskan tentang debat tapi sebagian orang butuh tau kapan dia boleh debat dan kapan dia tidak boleh berdebat.

Masalah ini kami angkat karena sudah banyak tempat orang berdebat ada facebook, ada whatssapp, telegram dan yang semacamnya dari jenis – jenis media sosial dimana orang biasa menjadikannya sebagai tempat berdebat.

Kapan anda harus debat kapan tidak? Seseorang boleh berdebat apabila dia memenuhi tiga syarat:

Syarat yang pertama adalah syarat yang berhubungan dengan niatKalau seandainya niatnya baik maka dia boleh berdebat, tentunya dengan ada syarat-syarat yang lain. Kalau niatnya jelek maka dia tidak boleh berdebat sama sekali walaupun syarat – syarat yang kedua dan ketiga nanti terpenuhi.

Pastikan niat berdebat karena Allah

Syarat seputar niat, niat nya haruslah ikhlas untuk Allah E, kalau seandainya niatnya tidaklah benar maka tidak boleh. Contoh niat yang baik misalnya bentuknya adalah tafaquh fiddiin, bentuknya adalah tanasuh dengan orang lain. Misal ada orang mendapati temannya memiliki penyimpangan kemudian dia mengajaknya diskusi maka lama kelamaan jadi debat.

Kalau seandainya didalam hatinya dia ingin supaya temannya ini kembali kepada kebenaran dan kembali kepada Islam maka niat ini adalah niat yang baik disitu ada satu celah untuk boleh berdebat. Atau dalam rangka untuk misalnya ingin supaya orang-orang tau kebenaran maka ini diperbolehkan dalam rangka untuk dakwah, Allah E memberikan legalisasinya kata Allah subhanahuwata’ala:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

— Ud’uu illa sabiili robbika bilhikmati wal mau’idzoti hasanah wa jaddilhum billatii hiya ahsan

Ajaklah manusia itu untuk bisa mengikuti jalan Allah dengan cara yang hikmah dengan cara memberikan nasihat – nasihat yang baik. (QS Surat Nahl (16): 125)

Dan pada titik – titik terakhir nanti apabila orang itu butuh untuk berdiskusi atau berdebat maka kata Allah E  silahkan engkau mendebat mereka tentunya dengan cara – cara yang baik.

Niat batil tidak usah berdebat

Adapun niat – niat yang jelek maka tidak boleh sama sekali untuk berdebat, diantara niat – niat yang jelek misal hanya untuk membantah yang sebenarnya sudah ketahuan bahwasanya itu benar tapi dikarenakan tidak mau tidak suka dengan kebenaran tersebut kemudian dibantah maka ini adalah tercela, Allah E  mengatakan dalam surat Al Mu’min:

وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَق

— Wa jaadalu bil baathili liyudhihu bihil haq

Mereka mencoba untuk membantah untuk menggunakan kebathilan dalam rangka untuk menolak kebenaran. Ini dicela oleh Allah E. (QS Al-Mu’min (40): 5)

Contoh niat yang lain yang juga tidak diperbolehkan atau niat yang jelek dalam berdebat adalah hanya untuk memperlihatkan kepintaran, idzharul fitnah, idzharul dzaka hanya untuk memperlihatkan quwwatul hujjah dilihat supaya oh orang ini hebat sekali dalam berdebat, kalau demikian ini adalah bentuk – bentuk kesombongan karena ini bentuk pamer ilmu dan Rasulullah H mengatakan:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

— Laa yadkhulul jannata man kaana fii qolbihi mitsqoolu dajarrotin min kibrin

Tidaklah masuk surga orang – orang yang didalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar biji sawi.  (HR. Muslim no. 91)

Contoh yang lain dari niat yang jelek adalah manakala seseorang itu berdebat hanya dikarenakan hobi debat, kita dapati sebagian orang yang memang senang dengan yang namanya debat, ada dicari memang forum – forum dimana disitu ada debat dikarenakan memang hobi, diundang untuk berdebat senang, maka yang seperti ini juga tercela dikaranakan Rasulullah H mengatakan:

إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

— Inna abghodorriajaali ilallahi aladul khosom

Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang paling keras penentangannya dan paling suka berdebat. (HR. Al-Bukhari no. 2457 dan Muslim no. 2668)

Topik yang boleh dan dilarang diperdebatkan

Syarat kedua kita boleh berdebat adalah apabila mauduu’ul mujaadalah, topik dari perdebatan itu adalah topik yang diperbolehkan oleh syari’at untuk diperdebatkan, tapi kalau tidak sesuai dengan syari’at maka tidak boleh.

Contoh topik yang boleh diperdebatkan misalnya ada hukum – hukum terbaru seputar safar, hukum terbaru seputar mu’amalah jual beli model – model yang terbaru, jual beli online model drop shipping kemudian BPJS misalnya, asuransi dan hal – hal yang lain yang sifatnya baru kemudian orang beradu dalil berdebat untuk menentukan hukumnya maka boleh dikarenakan kita butuh untuk mengetahui hukumnya.

Tapi kalau topiknya adalah topik yang tidak diperbolehkan maka gak boleh, misalnya berdebat tentang keberadaan Allah, berdebat tentang kebenaran Allah, kebenaran nabi, kebenaran Al Qur’an, kebenaran adanya surga dan neraka yang sudah pasti secara dalil maka tidak boleh lagi ada perdebatan disana, barangsiapa yang berani memperdebatkannya maka dia masuk kedalam larangan Allah E untuk berdebat dengan debat – debat yang tercela.

Contoh yang lain dari topik perdebatan yang sebenarnya tidak boleh diperdebatkan adalah perdebatan yang tidak penting, topik yang sama sekali tidak butuh untuk diperdebatkan. Misal, manakah yang lebih dulu ayam apa telur, telur apa ayam, ini topik yang sama sekali tidak perlu diperdebatkan oleh manusia.

Atau misalnya topik-topik kekinian seputar politik yang kebanyakan orang yang memang senang untuk berdebat tentang masalah politik, yang sebenarnya kita tahu permasalahan – permasalahan demikian adalah permasalahan yang tidak ada habisnya untuk diperdebatkan untuk dijadikan adu kekuatan dijadikan untuk memperlihatankan kepintaran analisis yang baik untuk politik, maka ini sebenarnya adalah topik yang tidaklah layak untuk diperdebatkan.

Tak berilmu janganlah debat

Syarat ketiga supaya kita boleh berdebat adalah kita perhatikan diri kita dan yang diajak debat. Diri kita kalau ingin berdebat haruslah orang yang berilmu kalau tidak berilmu maka tidak boleh sama sekali anda berdebat karena kalau orang tidak berilmu lalu kemudian mendebat orang lain bagaimana caranya dia bisa memahamkan orang kalau itu adalah bentuk dakwah, kalau itu adalah berdebat dengan ahli syirik misalnya lalu kemudian tidak memiliki ilmu bagaimana cara bisa memahamkan orang tentang tauhid dan syirik.

Faaqirusyayyii laa yu’tii

Orang yang tidak punya sesuatu tidak akan bisa memberikan sesuati itu

Ilmunya saja tidak punya, bagaimana bisa mendebat orang memahamkan orang kalau ilmunya tidak ada? Bahkan yang ada kebanyakannya kalau seseorang itu berdebat dalam keadaan dia tidak memiliki ilmu, kemudian dia berdebat dengan seseorang yang sebenarnya dia adalah orang yang menyimpang tapi dia memiliki kekuatan dalam dalil, walaupun dalilnya sebenarnya membenarkan penyimpangannya. Kemudian diajak debat oleh orang yang sebenarnya berada dalam kebenaran tapi tidak memiliki ilmu, yang ada kemudian terjadi adalah orang tersebut kalah dalam perdebatannya, lalu kemudian membuat fitnah, akhirnya orang – orang lebih menanggap bahwasanya orang yang salah ini yang menyimpang tadi tapi memiliki ilmu lebih dialah yang berada di kebenaran. Adapun lawannya yang tidak memiliki ilmu ini walaupun dia benar justru berada dalam penyimpangan.

Kemudian kita perhatikan yang diajak debat, kalau sekiranya orang tersebut adalah orang yang bisa diajak kepada kebenaran silahkan anda berdebat tapi kalau seandainya orang yang diajak debat adalah orang yang kira – kira memang keras hati yang diberitahukan dalil ini dan itu dia tidak mau menerima maka tidak boleh anda berdebat dengannya. Lebih bagus anda meninggalkannya daripada mendebat orang yang keras hati dan tidak mau menerima kebenaran sama sekali .

Ada perkataan yang sangat banyak dan bagus dari Imam Syafi’i, seperti beliau mengatakan, kalau aku berdebat dengan orang jahil aku tidak pernah menang dikarenakan orang jahil mereka berdebat dengan akalnya dan nafsunya.

Imam Syafi’I V mengatakan saya didebat oleh orang pandir didebat oleh orang bodoh tapi saya diam saja, orang bertanya kenapa kau diam saja kenapa kau tidak didebat, maka saya mengatakan saya lebih pilih untuk menjadi kayu gaharu semakin dibakar semakin wangi, kalau saya tidak mau berdebat dengannya saya diam saja dia membakar saya dengan nafsunya untuk mendebat lalu saya kemudian saya biarkan saja maka saya seperti kayu wangi ketika dibakar semakin wangi.

Dan ini yang terakhir, Rasulullah H mengatakan

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

Ana za’iimun bi bayyin fii robatil jannah liman tarokal mirooa walau karoa muhiqqon

Saya jamin satu buah rumah ditepi surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia berada diatas kebenaran.

Tiga syarat tadi penuhi, niat, topik, anda dan yang diajak debat,

Kalau ini tidak terpenuhi sebagaimana yang saya jelaskan tadi maka tinggalkan perdebatan dan anda menerima insyaa Allah sebuah rumah ditepi surga yang dijanjikan oleh Rasulullah H .

== # ==

Sumber;

  1. https://muslim.or.id/3536-jauhi-sikap-sombong.html
Durasi: 00:09:29
Pemateri:
Pencatat: Arif Risnandar on 11 November 2016
Editor: kamti

Cambuk Hati: Mendung Tak Berarti Hujan – Ustadz Ammi Nur Baits

Salah satu di antara kebiasaan Nabi H ketika beliau melihat mendung yang sangat gelap pertanda akan datangnya hujan. Yang dilakukan oleh Rasulullah H beliau selalu merasa takut kepada Allah E.

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari ‘Aisyah J beliau mengatakan:

كَانَ إِذَا رَأَى نَاشِئاً فِي أُفُقٍ  تَرَكَ عَمَلَهُ- وَإِنْ كَانَ فِي صَلَاةٍ

Kaana idzaa roaynaasyian fii ufuqin taroka ‘gamalahu wa in kaana fii sholaatin

“Rasulullah H ketika melihat sesuatu yang menakutkan di langit mendung yang sangat gelap, beliau tinggalkan semua aktivitasnya, sampaipun ketika beliau sedang sholat.”

Dalam riwayat Bukhori Muslim, Aisyah juga menceritakan:

إِذَا رَأَى مَخِيلَةً فِى السَّمَاءِ أَقْبَلَ وَأَدْبَرَ وَدَخَلَ وَخَرَجَ وَتَغَيَّرَ وَجْهُهُ

idzaa tagoyyaro fissamaa tagoyyaro lahu

“Apabila ada mendung gelap di atas maka roman muka Nabi H berubah terlihat seperti orang yang sangat ketakutan, beliau keluar masuk rumah, datang pergi,   فَإِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ سُرِّىَ عَنْهُ namun ketika hujan turun barulah kelihatan wajah gembira di muka Rasulullah H.”

Kata ‘Aisyah:

عَرَفْتُ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ

‘Araftu dzaalika fii wajhih

“Saya tau itu karena melihat wajah Nabi H

‘Aisyah merasa keheranan dengan sikap Nabi H ini ketika mendung, di saat banyak sahabat merasa bahagia, merasa gembira. Rasulullah H justru merasa sangat takut kepada Allah E.

Mendung gelap dan menakutkan bisa jadi awal adzab

Ketika ‘Aisyah bertanya kepada beliau: wahai Rasulullah anda memilki sikap yang aneh, disaat mendung gelap kenapa anda takut kepada Allah E?

Apa jawab Nabi H?

 لَعَلَّهُ كَمَا قَالَ قَوْمٌ فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ

La’gallahu kamaa qola ya ‘ Aisyah qoumun falamaa roauhu ‘gariidhoo mustaqbila au diyatihim

Wahai ‘Aisyah mungkin ini seperti yang pernah Allah ceritakan tentang kaum ‘Aad, kaum ‘Aad dihukum oleh Allah E, dibinasakan oleh Allah E dengan Allah turunkan hujan yang sangat lebat, angin yang sangat dingin sampai mereka semuanya mati karena kekufuran mereka, dan muqoddimahnya,  pengantarnya adalah datangnya mendung yang sangat gelap di atas mereka.

Allah ceritakan

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ

Falammaa roautu ‘gaaridhon mustaqbala au diyaatihim

“Ketika kaum ‘Aad melihat عَارِضًا awan yang sangat gelap, مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ mulai datang mendekati lembah mereka, tempat tinggal mereka, قَالُوا mereka hanya berkomentar هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا, ini adalah mendung yang sebentar lagi akan membawa hujan bagi kami.” [Al-Ahqaf (46): 24]

Artinya, sama sekali tidak ada perasaan takut dalam diri mereka!

Ini berbeda dengan kebiasaan Nabi H. Coba kita bandingkan antara kondisi orang musyrikin dengan kebiasaan Rasulullah H, ketika Nabi H melihat suasana langit yang gelap, yang menakutkan, yang terjadi Rasulullah H takut kepada Allah E. Karena beliau khawatir, jangan-jangan ini adalah muqoddimah adzab untuk ummatnya.

Berbeda dengan orang musyrik, orang musyrik melihat suasana semacam itu sama sekali tidak ada perasaan takut kepada Allah E. Sehingga yang terjadi, mereka hanya komentar “sebentar lagi turun hujan.”.

Perilaku aneh umat hari ini

Ada sesuatu yang lebih mengherankan lagi, jika kita saksikan banyak masyarakat di tengah kita ketika mereka melihat peristiwa alam dan fenomena alam yang menakutkan, yang terjadi bukannya mereka takut kepada Allah E, namun yang terjadi adalah mereka akan mengeluarkan HP mereka, mereka mengeluarkan kamera mereka kemudian potret sana potret sini bahkan selfie di depan peristiwa yang menakutkan tadi.

Mungkin kita masih sering melihat ada orang yang selfie dengan background angin lisus, dengan background puting beliung, dengan background apa misalnya kilat yang menyambar, dengan background suasana-suasana yang menakutkan seolah itu sesuatu yang membanggakan. Yang kita pahami mereka tidak takut kepada Allah E.

Maka bandingkan tradisi mereka dengan tradisi orang musyrik, dengan tradisi Rasulullah H. Melihat fenomena alam, Rasulullah H ingat Allah, beliau takut kepada Allah E. Berbeda dengan orang di zaman sekarang, terkadang banyak di antara mereka melihat fenomena alam bukannya takut kepada Allah E, tapi dijadikan ajang untuk selfie.

Lalai peluang adzab sekarang sangat besar

Padahal kalau kita bandingkan, peluang datangnya adzab di masa Nabi E dengan peluang datangnya adzab di masa kita jauh lebih besar peluang datangnya adzab di masa kita. Di masa beliau banyak orang sholeh bahkan ada Nabi H sehingga untuk peluang datangnya adzab sangat kecil, tapi di masa kita masya Allah manusia banyak melakukan kemaksiatan sehingga peluang datangnya adzab bisa jadi lebih besar.

Namun suasana hati yang berbeda, Rasulullah H semakin takut kepada Allah ketika beliau melihat suasana gelap semacam itu, fenomena alam yang menakutkan, tapi kita justru malah membanggakan, tapi kita justru malah senang, merasa bangga bahkan menggunakannya sebagai  background untuk fotografi.

Mestinya kita takut dan ingat Allah

Perlu kita pahami bahwa Allah E menurunkan berbagai macam tanda kekuasaannya, peristiwa – peristiwa besar itu tujuan besarnya adalah agar kita takut kepada-Nya. Allah berfirman:

وَمَا نُرْسِلُ بِالآيَاتِ إِلا تَخْوِيفًا

Wa maa nursilu bil aayaati illaa takhwiiqoo

“Tidaklah Aku mengirimkan ayat – ayat tanda kekuasaan-Ku kecuali untuk menakut – nakuti mereka” [Al-Isra (17) :59]

Maka tujuan besar Allah ciptakan, Allah tunjukkan kepada kita berbagai macam fenomena alam yang luar biasa adalah agar kita takut kepada pencipta-Nya.

Durasi: 00:06:41
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on
Editor: kamti

Samudera Kehidupan – Abuz Zubair Hawaary, Lc.

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Saudara dan saudari kaum musimin muslimat yang semoga dan senantiasa dirahamati dan diberkahi oleh Allah F. Ketika anda dilahirkan ke dunia ini, anda memulai perjalanan kehidupan anda. Mengarungi samudera kehidupan.

Anda dilahirkan, diciptakan oleh Allah F ke dunia ini untuk menjalani hidup sebagai seorang hamba yang mentauhidkan Allah tabaroka wata’ala, beribadah kepada-Nya semata sesuai dengan tujuan penciptaan anda.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

— wamaa kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu” (QS Adz-Dzariyat (51) ayat 56)

Ketika engkau dilahirkan anda mulai memulai perjalanan hidup ini. Maka mahabbatullah adalah yang memimpin, membawa anda untuk melanjutkan perjalanan menyeberangi samudera kehidupan ini. Sedangkan rodja (harapan) anda kepada Allah F akan rahmat, keutamaan-Nya serta takut anda akan azab dan siksa-Nya.

Laksana dua sayap yang akan menyeimbangkan langkah anda ketika menyebreangi samudera kehidupan ini menuju Allah F. Ketika mahabbah itu tidak ada, maka tidak ada lagi yang menuntun anda untuk menuju Allah F. Anda akan buta, bayangkan seekor burung ketika kehilangan kepala bahkan dia akan mati, tidak ada lagi kehidupan. Dia tidak akan dapat melanjutkan perjalanan.

Saat rodja (harapan) dan khouf (takut) atau salah satu darinya melemah, anda seekor burung yang patah salah satu sayapnya, berusaha terbang untuk sampai ke tujuan tetapi tidak sanggup. Bangkit, bangun,  terbang, terjatuh, terbang, terjatuh apalagi kalau keduanya patah, maka dia akan jatuh dan menjadi mangsa syaithon-syaithon yang akan melahapnya.

Saudaraku, saudariku yang semoga senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah F. Ketika anda dalam kandungan ibu anda, tau-tau anda seperti berada di sebuah dermaga bersiap-siap untuk memulai perjalanan. Saat anda dilahirkan perjalanan pun dimulai, maka di engah samudera kehidupan itu, ombak gelombang, badai menjadi ujian bagi anda. Menguji keteguhan iman anda, ketegaran anda meniti jalan yang lurus, menuju tujuan itu.

Kita harus faham dari mana kita memulai, dari dermaga mana kita memulai perjalanan ini. Kita harus mengerti dan faham apa tujuan yang akan kita capai. Kemudian bahtera apa yang akan kita gunakan untuk mengarungi samudera ini. Kemudian apa bekal kita di tengah perjalanan.

Kita diciptakan oleh Allah tabaroka wata’ala dan tujuan kita adalah Allah F, kita hidup hanya untuk Allah tabaroka wata’ala, hidup dan mati kita semuaya adalah untuk Allah tabaroka wata’ala. Ketakwaan yang merupakan islam secara keseluruhan menjadi bekal kita dalam mengarungi samudera. Al-qur’an dan sunnah adalah bahtera yang akan membawa kita.

Mari saudaraku, arungi samudera kehidupan dengan penuh cinta kepada Allah F, dengan rodja dan khouf yang menjaga keseimbangan kapal anda. Dengan bekal ketakwaan, berhati-hati dalam kehidupan. Kesabaran, ketegaran dan keistiqomahan dalam menghadapi ujian dan cobaan, berpandukan kepada ilmu yang bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Mudah-mudahan perjalanan anda akan dijaga oleh Allah tabaroka wata’ala. Mudah-mudahan gelombang, badai di lautan akan bisa anda lalui sehingga akhirnya ketika pertama kali kaki anda menjejak surga saat itu anda akan beristirahat menikamati buah dan hasilnya, melihat wajah Allah F di surga.

Walhamdulillahi robbil alamin

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

* Supported by Lafdzi

Durasi: 00:07:00
Pencatat: Khoir Bilah on 09 November 2016
Editor: Abu Ahmar

Nasihat bagi Para Jamaah Haji – Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

Sesungguhnya di dalam haji terdapat pelajaran yang sangat banyak sekali. Baik itu pelajaran yang berhubungan dengan masalah tauhid, manhaj ataupun berhubungan dengan masalah tazkiyatun nufus. Karena haji adalah momen yang sangat penting sekali untuk senantiasa kita mengingat tentang hikmah – hikmah yang agung dari pensyariatan haji itu.

Yang paling besar yaitu memetik hikmah dari haji dari sisi aqidah. Dimana haji merupakan simbol tentang tauhidullah, mentauhidkan Allah. Simbol kepasrahan seorang hamba kepada Rabbnya. Simbol ketaatan hamba yang total kepada Allah E. Lihatlah yang diucapkan oleh jamaah haji disaat mereka berihram, kalimat – kalimat yang penuh dengan isinya adalah tauhidullah jalla wa ala.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ

Labaik Allahumma Labaik, Labaik lasyarikalakalabik, Innal hamda wa ni’mataka lakawalmulk, lasyarikalak.

Labaik Allahumma Labaik Ya Allah aku menyahut panggilanmu ya Allah.
Labaik lasyarikalakalabik Ketika kita berkata Ya Allah aku menyahut panggilanmu karena ini memang menunjukkan hakikat dari perealisasian seorang hamba untuk menyahut panggilan Allah dan RasulNya. Allah ta’ala berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Yaa ayyuhaa alladziina aamanuu istajiibuu lillaahi walilrrasuuli idzaa da’aakum limaa yuhyiikum wai’lamuu anna allaaha yahuulu bayna almar-i waqalbihi wa-annahu ilayhi tuhsyaruuna

“Hai orang – orang yang beriman sahutlah panggilan Allah dan RasulNya, apabila keduanya memanggil kamu pada sesuatu yang bisa menghidupkan hatimu.” (QS Al-Anfal: 24)

Allah E mewajibkan setiap hamba hambaNya untuk menyahut panggilan Allah dan RasulNya. Ini dia kita menyahut panggilan Allah pada saat berhaji. Demikian seorang hamba untuk berusaha semaksimal mungkin menyahut panggilan Allah karena ia sadar dirinya hamba. Dirinya diberikan berbagai macam kenikmatan oleh Allah. Kewajiban dia sebagai seorang hamba adalah untuk tunduk dan patuh kepadaNya.

Labaik kala syarikala ka labaik Ya Allah aku menyahut panggilanMu tidak ada sekutu bagimu, peniadaan sekutu bagi Allah menunjukkan bahwa ia betul – betul mentauhidkan Allah. Lasyarikalak Tidak ada tandingan bagiMu ya Allah, karena sesungguhnya syirik merupakan dosa yang paling besar bahkan kezholiman yang paling besar adalah kesyirikian.

Allah Ta’ala berfirman;

…إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

… inna alsysyirka lazhulmun ‘azhiimun.

“…. sesungguhnya kesyirikan itu kezholiman yang besar.” (QS Luqman: 13)

Bahkan Allah tidak akan pernah mengampuni dosa syirik. Dan masih mengampuni dosa yang lebih rendah dari kesyirikan.

Allah berfirman;

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Innallaha laa yaghfiru an yusyraka bihi wayaghfiru maa duuna dzaalika liman yasyaaa…

“Susungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan mengampuni dosa lebih rendah dari itu bagi siapa yang Allah kehendaki.” (QS An Nisa: 48)

Innalhamda wa nikmata laka walmulk.
Sesungguhnya pujian nikmat dan kerajaan semuanya milik engkau. Subhanallah seorang hamba mengakui bahwa Rabb nya maha terpuji dan memang Allah terpuji dalam perbuatannya, Allah terpuji dalam sifat – sifat dan namaNya, Allah terpuji dalam penciptaanNya, Allah terpuji dalam syariatNya, bahkan Allah terpuji dalam semua perbuatanNya dan ketentuanNya. Walaupun terkadang manusia tidak mengerti apa yang Allah inginkan dibalik itu semuanya.

Coba hitung berapa banyak nikmat yang diberikan kepada kita setiap detiknya, setiap menitnya,

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

wa-in ta’udduu ni’mata allaahi laa tuhsuuhaa …

Jika kamu menghitung – hitung nikmat Allah kamu tidak akan bisa menghitung – hitungnya. (QS An Nahl: 18)

Maka ketika seorang hamba mengakui bahwa nikmat itu semua hanya milik Allah itu menunjukkan bahwa dirinya mengaku fakir, tidak memiliki apapun. Kenikmatan badan dia, kenikmatan mata dia, kenikmatan seluruh yang Allah berikan kepada dia dalam kehidupan dunia, semuanya milik Allah.

Demikian pula kerajaan semua milik Allah semuanya, bumi dan langit yang menciptakan Allah, maka raja yang hakiki adalah Allah. Kelak tentu nanti pada hari kiamat, Allah E adalah raja dimana raja – raja dunia pada waktu itu tidak lagi memiliki kerajaan sedikit pun juga.

Subhanallah, ucapan yang diucapkan yang penuh dengan mentauhidkan Allah, menjauhkan kesyirikan yang merupakan penghambahaan yang total kepada Allah saja, bukan kepada selain Allah. Maka lihatlah perbuatan – perbuatan haji itu ketka kita thawaf di ka’bah dan kita tidak mau thawaf diselain ka’bah. Kenapa? Karena Allah dan  rasulNya tidak pernah memerintahkan untuk thawaf diselain ka’bah. Kalau bukan karena Allah dan RasulNya tentu kita tidak akan melakukan thawaf di ka’bah. Bukan berarti kita mengagungkan ka’bah.

Ketika kita thawaf di ka’bah apakah kita berarti menyembah ka’bah? Tidak. Ketika kita sholah menghadap ka’bah dan sujud kepada ka’bah, apakah berarti kita menyembah ka’bah? Tidak. Tapi karena pencipta ka’bah, Rabbnya Ka’bah, memerintahkan kita untuk thawaf di ka’bah. Memerintahkan kita untuk sholat menghadap ke ka’bah. Kalau bukan karena perintah Rabbnya kita tidak akan pernah melakukan itu. Kita hanya bersujud kepada Allah.

Sebagian orang menganggap ketika kita thawaf di ka’bah kita seakan – akan telah mengagungkan dan menyembah ka’bah, ini sebuah pemahaman yang tentu sangat – sangat aneh sekali. Sebab kita thawaf di ka’bah itu karena perintah pencipta ka’bah, bukan kah Allah telah berfirman dalam surat Al Baqarah.

“Dan hendaklah mereka thawaf di baitul Atiq yaitu ka’bah”

Allah yang memerintahkan, oleh karena itulah Umar bin Khatab ra, ketika beliau mencium hajar aswad apa kata Umar;

إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Aku ini tau bahwa kamu itu hanyalah batu, kamu tidak bisa memberi manfaat dan mudorot sama sekali, kalau bukan karena aku melihat Rasulullah saw mencium kamu, aku tidak akan mencium kamu.”

Ini semua kita lakukan karena sebagai taat ketaatan kita kepada Allah dan RasulNya. Karena Allah yang memerintahkan kita ketika kita thawaf di ka’bah, kita memperbanyak dzikir kepada Allah, melaksanakan perintah Allah, mentauhidkan Allah, mengesakan Allah, menjauhkan kesyirikan – kesyirikan, sehingga pada waktu itu jadilah ia seorang hamba yang betul – betul tunduk dan patuh dan taslim kepada Allah E.

Lihatlah bagaimana ketundukan yang total yang dilakukan oleh para jamaah haji. Ketika mereka harus wukuf di arafah dibawah terik matahari yang menyengat kemudian mereka pun harus pergi ke mina melempar jumrah dengan tujuh batu kerikil yang mungkin kita tidak mengerti kenapa harus tujuh? Kenapa harus melempar dengan batu? Ada apa hikmah dibalik itu? Terkadang kita tidak mengerti. Tapi kita harus taslim, kita harus tunduk dan patuh kepada Allah. Itu merupakan konsekuensi dari tauhid kepada Allah C.

Dan seorang hamba tidak sempurna keimanannya, kecuali apabila ia betul – betul mempunyai jiwa taslim yang sempurna. Allah berfirman;

 فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Falaa warabbika laa yu/minuuna hattaa yuhakkimuuka fiimaa syajara baynahum tsumma laa yajiduu fii anfusihim harajan mimmaa qadhayta wayusallimuu tasliimaan.

“Tidak demi Rabb mu mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam perkara yang mereka selisihkan kemudian mereka tidak mendapatkan dalam diri mereka rasa berat untuk menerima keputusanmu lalu merekapun taslim dengan sebenar – benarnya taslim.” (QS An Nisa: 65)

Itulah hamba, dia taslim walaupun dia tidak mengerti apa hikmah dibalik daripada ibadah tapi ia tau ini perintah Allah. Baik ia tau hikmahnya atau pun ia tidak tau, tetap ia lakukan dengan penuh keihklasan mengharapkan wajah Allah semata.

Betapa indahnya haji itu, betapa ia adalah simbol keikhlasan, betapa ia adalah simbol tauhid kepada Allah C, simbol taslim yang sempurna seorang hamba kepada Rabbnya. Maka, kita berusaha untuk memetik hikmah yang agung ini untuk menjadi hamba yang sempurna dan mentauhidkan Allah B.

Durasi: 00:11:41
Pemateri:
Pencatat: Haris Eko Prasetyo on 17 October 2016
Editor: kamti

Mutiara Hikmah: Romantis Di Meja Makan – Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah, MA.

Romantis di meja makan, Nabi O, romantis di meja makan. Nabi O tidak pernah mencela makanan sedikitpun. Kalau beliau suka beliau makan, tidak suka beliau tinggalkan.

Kadang kala istri kita masak, kita lihat asin, “eh, gimana masak nggak enak seperti ini”. Jangan, Nabi tidak pernah melakukan ini, Nabi O, kalau memang kita rasakan nggak enak, mungkin kurang pas (bilang ke istri), “ya Allah sepertinya aku kenyang ini dik, minta maaf lah, aku lagi tidak nafsu makan”, minta maaf sama istri.

Tidak perlu mencela makanan, ada suami yang kalau makan (bilang), “makanan apaan ini” ditumpahin. Hati –  hati Nabi tidak pernah mencela makanan, itu rizki dari Allah E, alhamdulillah ada itu rizki, maka jangan dicela, kalau tidak suka tinggalkan. Minta maaf sama istri, katakan “aku kok kayaknya lagi kurang pas sama ini”. Nabi O, Aisyah cerita, Nabi yang sudah tua, udah umurnya di atas 55 tahun, sudah hampir 60 tahun. Kata Aisyah J

كُنْتُ أَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٌ

“Pernah suatu hari aku minum, aku minum dalam kondisi haid”, kata Aisyah J, kemudian gelasnya kuberikan ke Nabi, Nabi pegang gelasnya, Nabi minum dari tempat mulutku minum.”

Nabi minum dari tempat mulutnya minum, bukan dicari (untuk dihindari), kalau kita khan “Nah ini ada bekasnya istri nih,” Nabi minum dari tempat istrinya. Apalagi sekarang ini kalau di rumah mungkin istri kita pakai lipstik, kelihatan itu tempat minumnya khan, kita ambil, nggak perlu punya gelas 2 jamaah, jadi suami istri itu cukup gelasnya berapa? Satu!. Itu Nabi gantian sama Aisyah J, kemudian diletakkan mulutnya di tempat mulutnya Aisyah.

Kemudian Aisyah cerita,

وَأَتَعَرَّقُ الْعَرْقَ وَأَنَا حَائِضٌ

“dalam kondisi haid”

Ingat, sedang tidak suci maksudnya, dalam kondisi haid Aisyah makan daging, daging yang ada tulangnya digigit, kemudian di serahkan ke Nabi,

ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ

“Nabi O meletakkan mulutnya di tempat aku menggigit daging itu”

Sampai seperti itu Rasulullah H, jadi kalau bisa makan sepiring berdua bersama istri kita, insya Allah itu akan lebih menghidupkan sunah Rosul H.

Kemudian sunah yang lain ini di meja makan yang kadang kala terlupakan, bahkan termasuk sunah yang di tinggalkan, dalam hadist Bukhori & Muslim, Nabi O bersabda;

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا أَوْ يُلْعِقَهَا

Kalau seorang diantara kalian makan, jangan diusap tangannya, jangan dicuci tanganmu, sampai dia menjilati tanganmu, atau dijilatkan tanganmu.

MasyaAllah, jadi itu sunah Nabi yang terkadang hilang sekarang ini, jadi kalau seumpamanya suami lagi makan, ibu – ibu nih suaminya lagi makan masya Allah, mau dicuci tangannya atau mau dijilatin suaminya bilang;

“Bang biar anna yang jilatin tangan abang”

Sunah jamaah, iya fadhol nggak apa – apa, ada istri kita lagi makan, kita jilatin tangannya, boleh apa nggak boleh?

“Yah ustadz, jijik ustadz”

Nggak, lihat itu bagaimana kedokteran sekarang ini di jari – jari kita itu ada enzim, enzim apa itu kata mereka, yang bisa membuat pencernaan lebih baik daripada makan pakai sendok, itu kata dokter. Tapi yang jelas ini sunah Rosul H, kadang kala kita lihat istri kita itu, anak kita lagi makan, kemudian tangannya banyak coklat diapain sama istri kita? Dipegang dijilatin tangannya tuh, subhanallah, itu sunah yang kadang kala terlupakan. Hadist ini diriwayatkan imam Bukhori dan Muslim.

Tapi sunah ini jangan dilakukan di restoran, suami istri karena mau romantis – romantisan, makan, setelah makan suaminya ngomong “Dik, kau jilatin ini dik” yah, jangan lah. Usahakan karena ma’ruf ya, karena sesuatu yang datang dari hati, di rumah pun jangan memerintah, “”dik sini dik, eh mana, sini – sini, nih jilatin dulu” yaahh.. itu bukan romantis kalau gitu, itu penghinaan.

Durasi: 00:05:25
Pencatat: kamti on 14 October 2016
Editor: kamti