Tausiyah Singkat : Kecintaan Ulama Kepada Buku – Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Kitab – kitab para ulama bukan hanya kita pajang, bukan hanya kita taruh di lemari kita. Sebenarnya kalau kita bisa memanfaatkannya dengan baik kita akan mendapatkan faedah ilmu yang begitu luar biasa.

Memang para ulama gemar untuk mengoleksi buku, memang para ulama gemar untuk mencari buku dan mereka mengumpulkannya bahkan mereka mencari dari berbagai negeri. Ada yang mencari sanad, ada yang mencari buku – buku yang mungkin sudah hampir punah.

Ulama terdahulu semangat mengoleksi dan mempelajari buku

Diantara contohnya para ulama yang gemar mengoleksi buku diantaranya adalah Ibnul Qoyim. Diceritakan oleh Ibnu Hajar Asqalani bahwasannya Ibnul Qoyim ketika meninggal dunia dia memiliki perbendaharaan buku kitab yang begitu banyak sampai sampai anak – anaknya ketika mendapatkan buku – buku dari Ibnul Qoyim mereka menjualnya sampai itu memakan waktu yang lama. Dan padahal itu sudah dibagi bagi jumlahnya untuk anak – anak dari Ibnul Qoyim. Ini menunjukan bahwasannya begitu banyaknya buku – buku yang dikoleksi oleh Ibnul Qoyim.

Yahya bin Ma’in dia punya buku yang tertata di lemari penuh yang tertata dalam seratus empat belas lemari dan ada empat lemari besar yang semuanya berisi penuh dengan buku, yang semuanya penuh dengan kitab, kitab – kitab para ulama.

Contoh lagi para ulama yang punya semangat untuk mengoleksi buku bahkan buku ini yang selalu menemaninya, yaitu seperti guru dari Ibnul Qoyim, yaitu Ibnu Taimiyah.

Ketika Ibnu Taimiyah dalam keadaan sakit, maka yang selalu menemaninya adalah sebuah buku sebuah kitab. Dia ketika sadar dia membacanya, ketika dia tidak sadar dia meletakannya dan ketika itu sampai seorang dokter yang memeriksa Ibnu Taimiyah itu mewanti wanti, wahai Ibnu Taimiyah janganlah engkau menyibukkan waktumu dengan ini, ini bisa memudharatkanmu jika engkau sibuk membaca buku. Apa – apa waktumu engkau habiskan sibuk dengan buku tersebut.

Maka, kita lihat disini semangatnya para ulama untuk mengoleksi buku. Namun, mereka bukan mengoleksinya saja, mereka membacanya, menghayatinya, menarik faedah – faedah didalamnya kemudian mereka amalkan.

Empat kiat mendapat manfaat dari kitab

Intinya disini, kami memberikan kiat – kiat agar kita bisa mendapatkan manfaat dari buku. Kiat singkat yang kami berikan;

Pertama, dalamilah bahasa arab. Karena dengan kita dalami bahasa arab akan terbuka cakrawala ilmu dan itulah yang jadi pembuka. Jadi dengan mempelajari bahasa arab terutama dalam mempelajari kaedah – kaedah dalam ilmu nahwu dan sharaf selain kita memperbanyak kosakata itu akan membuka pintu untuk mempelajari ilmu agama. Beda dengan orang yang tidak menguasai bahasa arab.

Yang kedua, ketika kita menguasai bahasa arab, maka belajarlah dari seorang guru. kita kaji kitab – kitab dari guru tersebut. Kenapa kita musti punya guru?, karena kalau kita cuma otodidak mempelajari buku tersebut tanpa panduan seorang yang lebih paham, seorang yang lebih berilmu kita bisa salah paham dalam memahami buku tersebut. Jadi, duduklah bermajlis dengan seorang guru agar kita bisa mendapatkan faedah ilmu yang bermanfaat.

Kemudian yang ketiga, yang kita lakukan adalah selain kita pelajari dari bahasa arab kemudian mengkajinya dari seorang guru kemudia kami contohkan dari apa yang dilakukan oleh para ulama, yaitu koleksinya buku – buku yang bermanfaat.

Buku – buku apa yang kita pilih kita cari dari ulama – ulama yang sudah punya ilmu yang siqqoh yang kredibel dalam masalah ilmu, ilmu – ilmu yang terpercaya jadi bukan dari sembarang penulis, bukan dari sembarang orang namun dari ulama yang sudah punya ilmu yang terpercaya.

Ada Ibnu Hajar, ada Imam Nawawi, ada juga ulama – ulama besar saat ini yang mereka punya buku – buku yang mumpuni yang ketika itu kita mengkajinya kita akan mendapatkan faedah yang begitu banyak.

Seperti inilah yang kita kaji yang kita koleksi dari apa yang sudah disarankan oleh para ulama mulai dari buku – buku aqidah, fikih – fikih dasar terutama kita mempelajari dari mazhab tertentu tanpa punya sifat untuk fanatik namun ini cuma sebagai dasar saja. Kemudian buku – buku dalam masalah akhlak, tazkiyatu nufus, dan kitab atau buku – buku yang lain.

Kemudian kiat yang terakhir, hendaklah kita punya sikap semangat dan pintar membagi waktu ketika kita belajar. Nabi katakan;

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

— Ihrish ‘ala maa yanfa’uka wasta’in billahi wala ta’jiz

“Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu minta tolonglah pada Allah dengan banyak berdoa supaya mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan (janganlah — Ed) pantang menyerah, jangan punya rasa malas ketika belajar.” (HR. Ahmad 9026, Muslim 6945, dan yang lainnya).

Inilah kiat – kiat ya ikhwan sekalian, amalkanlah kiat – kiat ini mulai dari kita mempelajari bahasa arab, belajar dari seorang guru, berusaha untuk mengkoleksi buku – buku yang ini adalah buku – buku yang bermanfaat, mulai dari buku – buku bahasa Indonesia yang mungkin kita pahami yang kita koleksi.

Kalau kita sudah punya kemampuan kita mengumpulkan buku – buku bahasa Arab dan pintar dalam membagi waktu serta (jangan — Ed) pantang menyerah untuk terus belajar.

Maka, ingatlah faedah yang besar. Orang yang mempelajari ilmu agama, orang yang menekuni ilmu agama dia tidak akan pernah bingung ketika beramal karena dia punya dasar ilmu.

Kemudian inilah yang menjadi sebab dasar untuk banyak mendapat kebaikan.

Kata Nabi;

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

— Manyudillahu khairan yufaqqihhu fi dinniini…

“Siapa yang menginginkan kebaikan maka Allah akan memahamkan baginya untuk memahami agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Dan mudah – mudahan Allah memberi kita taufik untuk meraih ilmu dari ilmu itu kita bisa amalkan dari kita amalkan bisa kita dakwahkan pada orang lain dan kita sabar dalam menjalani hal – hal tadi.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

=== ## ===

Sumber;

  1. https://muslimah.or.id/7999-bersemangatlah-dan-jangan-lemah.html
Durasi: 00:07:54
Pencatat: Haris Eko Prasetyo on 10 November 2016
Editor: kamti

Cambuk Hati: Hiburan Saldo – Ustadz Ammi Nur Baits

Saya yakin anda tentu telah menghafal surat Al-Humazah, salah satu surat di juz ‘Amma yang mengingatkan kita agar tidak menjadi orang yang rakus harta.

Kita bisa menyimpulkan demikian karena dalam surat ini Allah E mencela orang yang terlalu suka menghitung hartanya, seolah hartanya yang bisa membuat dia bahagia, yang ini merupakan karakter orang musyrik. Allah E berfirman:

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ

— Waylun likulli humazatin lumazatin

“Kecelakaan bagi setiap pengumpat dan pencela” (0:50)(QS Al Humazah (104): 1)

Sebagian ahli tafsir menyebutkan ayat ini turun terkait beberapa orang musyrikin Quraisy yang suka menghina Nabi H dan suka menghina kaum muslimin seperti Umayyah bin Kholaf atau Al-walid bin Mughiroh, bagaiman karakter mereka? Allah E jelaskan dilanjutan ayat, mereka itu yang memiliki karakter:

الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ

—  alladzii jama’a maalan wa’addadahu

“Mereka orang yang suka mengumpulkan harta dan suka menghitung-hitungnya” (1:25) (QS Al Humazah (104): 2)

Anda bisa perhatikan, orang ini memiliki karakter pertama suka mengumpulkan harta dan yang kedua merasa senang dengan melihat dan menghitung hartanya.

Kata sebagian ulama makna wa’addadah dari kata ta’did yang artinya menghitung jumlah uang atau jumlah harta yang dia miliki yang itu semua diluar kebutuhannya.

Kenapa harus dihitung? Karena dia merasa nyaman ketika mengetahui jumlah hartanya, Allah E sebutkan tujuan mereka dilanjutan ayat:

يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

— yahsabu anna maalahu akhladahu

“Dia mengira bahwa hartanya itu yang akan membuat dia kekal hidup di dunia ini” (2:13) (QS Al Humazah (104): 3)

Dia menyangka hartanya yang akan membahagiakannya, dengan hartanya dia merasa bisa aman dari sakit, aman dari setiap bencana dan musibah, itulah karakter orang musyrik.

Sekalipun ayat ini untuk mencela orang musyrikin, namun bukan berarti tidak berlaku bagi orang muslim yang membacanya. Karena bisa jadi ada orang muslim yang meniru kebiasaan buruk orang kafir.

Anda bisa perhatikan, umumnya manusia merasa tenang, merasa tentram ketika melihat hartanya. Dia mendapatkan kebahagiaan ketika menghitung uangnya, hari ini dia buka uangnya, dia hitung di lemarinya, dia lihat, dia hitung, besok lagi dia buka lemarinya, dia hitung – hitung lagi uangnya.

Padahal dia tau dengan yakin bahwa uangnya tidak di apa – apakan sama sekali. Ini contoh kecintaan pada harta (seperti) di masa silam.

Setelah ini setelah masyarakat dimudahkan dengan berbagai fasilitas internet, orang bisa melihat hartanya hanya dengan sekali klik, ya itulah kebiasaan melihat saldo rekening.

Banyak orang yang merasa senang ketika dia membuka saldo rekeningnya. Pagi saldo dibuka masuk kerja, sore hari mau keluar kantor saldo lagi dibuka, dia merasakan ketenangan ketika dia bisa melihat saldo rekeningnya.

Saya tidak berbicara untuk mereka yang banyak melakukan transaksi yang lalu lintas keuangannya lancar. Seperti anda yang mungkin melakukan bisnis online, boleh saja anda membuka rekening anda karena ada transaksi masuk atau keluar.

Yang menjadi masalah ketika ada orang yang dia jadikan saldo rekeningnya itu sebagai hiburan baginya, dia merasa nyaman ketika melihat saldo rekeningnya, padahal dia sama sekali tidak melakukan transaksi apapun dengan rekeningnya.

 

Saldo rekening, itulah hiburan masa kini!..

Durasi: 00:04:39
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 08 November 2016
Editor: kamti

Langkah Menuju Sukses – Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudaraku seiman dan seaqidah di manapun anda berada. Kehidupan di dunia pasti perlu dengan tantangan, derita, musibah, kegagalan dan berbagai hal yang kalau anda pikirkan terasa sesak di hati, sakit di hati. Semakin anda pikirkan semakin anda mungkin berputus asa, tidak kuasa menahannya.

Namun tahukah anda? Bahwa satu derita, akan melupakan derita yang lainnya. Derita hari ini melupakan derita hari kemarin, derita hari esok akan melupakan derita hari ini. Itulah dinamika kehidupan.

Kalian jangan berputus asa. Semuanya itu akan berlalu. Itulah kehidupanmu. Itulah sejarah yang terus akan berputar, tidak akan pernah berhenti di satu tempat. Karenanya janganlah derita hari ini kemudian anda berputus asa. Tidak sepantasnya seorang muslim patah arah hanya karena tantangan, yang di hadapi hari ini seberat apapun. Rasulullah H mengatakan,

لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ

Laa yatamannayanna ahadukum al mauta lidhurrin nazala bihi.
Jangan pernah anda merasa putus asa, sampai-sampai anda merasa perlu untuk meminta kepada Allah E agar segera di matikan, agar segera di akhiri hayat anda. Hanya karena apa, hanya karena tidak kuasa menahan beban hidup. Tidak kuasa menahan derita hidup kemudian anda putus asa.

Percayalah hari akan terus berputar, kondisi akan terus berubah. Karena Allah E tidak pernah menentukan, tidak pernah membuat dunia ini kekal bagi siapa pun. Lihatlah betapa banyak orang yang sukses sebelum anda sekarang mereka tinggal kenangan dalam sejarah. Betapa banyak orang yang menderita dalam sejarah, namun di saat ini mereka orang yang paling banyak tersenyum karena telah berbahagia. Mereka tidak lagi ingat akan apa yang mereka telah lalui hari kemarin. Demikian juga dengan diri anda. Jangan pernah anda putus asa.

Ingat! Optimislah bahwa rejeki semua di tangan Allah, Qodrat semua ada di tangan Allah E. Semboyan seorang muslim,

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا 

Qul lay yusiibanaa ilaa maa kataballahu lanaa huwa maulaanaa.
“Tidak akanlah ada, tidak mungkin ada apapun yang menimpa anda baik itu bencana atau apapun wujudnya kecuali itu telah merupakan garis, merupakan suratan takdir yang telah Allah tuliskan”. (QS At Taubah 51)

Sabar, tabah, terima apapun kondisi yang ada dan semuanya itu pasti akan berlalu. Bahkan sebagai orang beriman pantasnya anda bersyukur. Semakin berat dalam hidup, semakin besar ujian hidup anda itu cermin bahwasanya anda adalah orang besar. Orang yang Allah siapkan untuk menjadi orang yang besar.

Rasulullah H mengatakan,

أَشَدُّ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ 

Assyaddu balaaan al anbiyaau tsummal amtsal fala amstal.
“Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi kemudian orang yang di bawah mereka dan seterusnya sesuai dengan tingkat keimanannya”.

Karenanya ingat Allah E telah menegaskan hidup dinamika di dunia ini,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Wa lanabluwannakum bisyaiin minal khoufi wal juu’i naqshin minal amwaali wal anfusi wats tsamaraat wa basysyirish shobirin.
“Sungguh pasti kami akan menguji kalian dari sedikit rasa khauf (merasa takut), kekurangan harta”. (QS Al Baqarah 155)

Ada orang yang meninggal dunia dan juga karena kekurangan, paceklik, kekeringan, kemarau itu adalah sesuatu hal yang wajar. Janganlah anda takut, janganlah anda gentar apalagi anda putus asa, percayalah masa depan anda ada di tangan anda, ada di lembaran sejarah anda. Masing-masing kita membawa kodrat sukses dalam hidup ini.

Namun yang sering kali yang menyebabkan kita sering merasa gagal adalah karena kita tidak menyadari bahwa kita sedang meniti sebuah langkah. Melangkah lah suatu langkah demi langkah untuk menuju pada sukses. Derita demi derita itu adalah anak tangga untuk sampai tahapan sukses. Sebagaimana dahulu anda kecil tertatih-tatih berjalan, terjatuh bangun, terjatuh bangun namun pada saatnya toh anda juga pandai berlari. Demikianlah gambaran hidup tidak pernah ada yang abadi karenanya tadi telah disampaikan itulah dinamika kehidupan yang terus akan berputar.

Percaya, anda tidak akan di jemput oleh ajal anda kecuali benar benar qodrat sukses anda benar-benar anda genggam dan tidak mungkin ada orang lain yang merebutnya dari tangan anda.

Semoga pesan singkat ini dapat memotivasi anda sehingga anda tidak pernah putus asa. Sehingga anda tidak pernah ditimpa rasa putus asa seberat apapun tantangan hidup di dunia ini.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


REFERENSI TRANSKRIP

[1] Berdoa Minta Kematian Ketika Sakit.
[2] Tafsir At Taubah Ayat 50-61.
[3] Seseorang Akan Mendapat Ujian Sebanding Kualitas Imannya.
[4] Tafsir Al Baqarah Ayat 154-162.

Durasi: 00:05:52
Pencatat: Khoir Bilah on 12 June 2016
Editor: Abu Ahmar

Kajian Singkat : Serba-serbi Doa – Ustadz Nuzul Dzikri, Lc

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudaraku yang dirahmati oleh Allah E.
Banyak di antara kita, dia rajin berdoa siang malam, dia mengucapkan “Ya Rabbiy… Ya Rabbiy…” Pagi dan petang dia mengangkat tangannya dan mengatakan “Allahuma.. Allahuma…”. Tapi dia merasa doanya tidak dikabulkan oleh Allah E.

Saudaraku yang dirahmati oleh Allah E.
Jangan putus asa, jangan sampai kita meninggalkan doa hanya gara-gara masalah ini. Karena Nabi kita H bersabda dalam Hadis Bukhari dan Muslim;

يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ

–Yustajaabu liahadikum maa lam ya’jal.
“Doa seorang dari kalian akan dikabulkan oleh Allah E selama ia tidak terburu – buru”.

Lalu para sahabat bertanya kepada Nabi, “Bagaimana maksud terburu-buru ya Rasulullah?” Lalu Nabi mengatakan

 دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِى  

–Da’watu falam yustajab lii
“Aku sudah berdoa siang dan malam, berdoa, berdoa namun Allah tidak mengabulkan doaku”.

فيستحسر عند ذلك ويدع الدعاء

–Fayastahsir ‘inda dzalika wayad’uddu’aa
“Lalu ia putus asa dan ia meninggalkan doa”.

Ini fatal, justru ketika kita nyeletuk “Aku sudah berdoa terus, aku berdoa terus, aku berdoa terus, dan Allah tidak pernah kabulkan doaku.” Maka pada saat itulah benar-benar doa Anda tidak diterima dan tidak dikabulkan oleh Allah E. Dan para ulama kita mengatakan, bahwa apabila kita sudah nyeletuk aku sudah berdoa siang dan malam, namun Allah tidak pernah mengabulkan. Al Imam Ibnu Bathoh mengatakan, “Itu seperti orang yang beribadah lalu dia ungkit-ungkit ibadahnya”. Seperti orang yang bersedekah lalu ia ungkit-ungkit sedekahnya. Seperti orang yang telah memberi dan berinfak, lalu dikatakan kemarin aku kasih satu juta, lalu dua bulan yang lalu tiga juta, lalu tiga bulan yang lalu sepuluh juta. Itu persis seperti orang yang mengatakan, aku berdoa siang dan malam, tapi Allah tidak kabulkan doa-doaku. Dan itu membuat doa kita tidak diterima oleh Allah E.

Oleh karena itu apa yang harus kita lakukan:

Yang pertama, terus berdoa. Para ulama terdahulu kita mengatakan,

*** Laa ana asyyaddhu khosyatan an akhroman dua min an ukhroman al ijabah ***

“Aku lebih khawatir aku tidak diberikan taufik untuk berdoa daripada doaku tidak diterima oleh Allah E. Yang pertama tetap berdoa, karena doa adalah ibadah yang sangat luar biasa. Anggap saja doa kita tidak dikabulkan oleh Allah E, tapi bukankan doa sendiri itu ibadah yang sangat luar biasa. Maka yang pertama tetaplah berdoa.

Yang kedua, evaluasi diri. Jangan-jangan kita melakukan penghalang-penghalang dikabulkannya doa tersebut. Evaluasi harta kita, evaluasi makanan kita, evaluasi minuman yang kita konsumsi, evaluasi bagaimana respon kita dalam menyambut perintah dan larangan Allah E. Evaluasi diri. Pasti ada yang salah.

Yang ketiga, apabila kita sudah mengevaluasi dan kita merasa bahwa semua syarat-syarat doa sudah kita penuhi, semua adab-adab doa sudah kita lakukan. Maka bergembiralah, karena Allah pasti akan mengabulkan doa kita. Allah berfirman dalam surat Ghafir:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

–Ud’unii astajiblakum.
“Mintalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan.”

Dan Allah bukan munafiq, ketika Allah memberikan janji maka pasti Allah akan berikan janji tersebut. Namun, Allah tidak sesempit pola pikir kita. Karena itulah manusia. Manusia berfikir sangat sempit. Ketika kita meminta keturunan yang ada di pola kita, kita melihat bayi mungil yang diberikan oleh Allah E kepada kita. Pada saat kita meminta mobil, maka kita berharap mobil itu ada di garasi kita. Sedangkan Allah Al-Alim Al-khabir, yang paling tahu mana yang terbaik untuk kita. Oleh karena itu, bisa jadi yang kita minta itu bukan yang terbaik untuk kita. Oleh karena itu Allah tidak berikan permintaan kita, namun Allah ganti dengan yang lain.

Bukankah Nabi kita H bersabda dalam Hadist Riwayat Imam Ahmad:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُواللَّهُ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ

–Maa min muslimin yad’uullah bida’watin laisa fiihaa itsmun wa laa qothii’atun rahiman illa a’thoohullahu bihaa ihdaa tsalaatsin.
“Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah E dengan sebuah doa yang tidak ada unsur dosa, tidak ada unsur memutuskan tali silaturahim, tidak ada unsur kezhaliman”. Artinya doanya baik, maka pasti Allah akan kabulkan namun dengan satu dari tiga cara”. Saudaraku, satu dari tiga cara:

إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ 

–Imma an tu’ajjalu lahu da’watuhu.
Yang pertama, kemungkinan yang pertama Allah kabulkan dengan memberikan apa yang kita inginkan. kita minta rumah, Allah kasih rumah. kita minta mobil, Allah kasih mobil. kita minta keturunan, Allah kasih kita anak kepada kita. itu opsi yang pertama.

  وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ 

–Wa imma an tuddakhirihaa lahu fil akhiroh.
Kemungkinan yang kedua
, Allah tidak berikan yang kita minta. Namun Allah simpan di akhirat. Kita minta rumah, Allah tidak kasih kita rumah sampai meninggal kita masih ngontrak, namun Allah bangunkan istana di surga. A. Itulah lucunya manusia, ketika Allah ganti di surga dengan istana yang begitu sempurna lalu dengan bodohnya kita protes kepada Allah. “Aku minta berhari-hari, bertahun-tahun, tapi Allah gak kasih aku rumah”. Anda tidak tahu bahwa Anda sudah memiliki istana di surga dan ketika Anda nyeletuk demikian, istana itu dihancurkan kembali oleh Allah E. Doa salah seorang dari kalian dikabulkan selama dia tidak terburu-buru. Apa itu terburu-buru dia ungkit aku berdoa siang dan malam namun tidak ada yang dikabulkan oleh Allah E. Padahal tanpa dia sadari, dia sudah memiliki istana di surga. Dia sudah punya fasilitas di surga. Oleh karena itu tahan lisan kita jangan sok tahu di hadapan Allah. Mungkin Allah tidak kabulkan tapi Allah ganti di akhirat. Kita meminta keturunan, minta anak yang sholeh, Allah tidak kasih kita anak tapi Allah berikan kita keturunan di surga nanti. Jangan komplain dengan kebodohan kita kepada Allah.

وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا

–Wa imma an tashrifa ‘anhu min assuui mitslahu.
Kemungkinan yang ketiga
, Allah tidak berikan apa yang kita inginkan. Namun Allah palingkan kita dari musibah bencana yang seharusnya menimpa kita. Kita meminta mobil kepada Allah, mobil itu seharga 500 juta. Allah gak kasih. Tapi Allah jaga kita dari penyakit kanker yang seharusnya menimpa kita, yang kalau kita mengambil paket kemo dan seluruh pengobatan, maka itu akan menghabiskan 500 juta dari kita. Tapi karena kebodohan kita, kita komplain kepada Allah E. Kita minta rumah, Allah gak kasih kita rumah. Tapi Allah palingkan kita dari sebuah kecelakaan maut, yang apabila kita terkena kecelakaan tersebut kita membutuhkan biaya pengobatan bermilyar-milyar rupiah. Tapi lagi-lagi itulah manusia karena kebodohan kita. Kita protes kepada Allah dan kita katakan aku sudah berdoa siang dan malam tapi tidak ada yang dikabulkan oleh Allah E.

Tiga cara Allah kabulkan;
1. Allah berikan apa yang kita inginkan.
2. Allah tidak berikan tapi Allah akan ganti di akhirat, Allah simpan untuk akhirat kita. karena akhirat lebih baik, dan akhirat itu lebih baik bagi Anda daripada dunia.
3. Allah tidak berikan tapi Allah palingkan kita dari musibah yang senilai dari apa yang kita minta.

Begitu para sahabat mendengar penjelasan Nabi H mereka langsung bergairah, mereka katakan:

قَالُوا إِذًا نُكْثِرُ قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

–Qoluu idzan nuktsir. Qoola Allahu Aktsar.
Kalau begitu kami akan perbanyak doa Ya Rosulullah. Apa kata Nabi kita H, Allah akan lebih banyak lagi mengabulkan doa-doa Anda.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Referensi Transkrip
[1] 13 Adab dalam Berdoa.
[2] Keutamaan Doa, Adab dan Sebab Dikabulkan.

Durasi: 00:11:31
Pencatat: Haris Eko Prasetyo on 10 June 2016
Editor: Abu Ahmar

Kisah Kejujuran yang Berbuah Manis – Ustadz Mizan Qudsiah, Lc.

Bismillahirrahmanirrahim.

Saudaraku yang aku cintai dan aku sayangi karena Allah E. Puji dan syukur kepada Allah selalu kita ucapkan dan kita haturkan hanya kepada-Nya. Nikmat begitu banyak yang kita terima, sampai Allah ‘D katakan:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Sekiranya kalian menyebut dan menghitung nikmat-nikmat Allah E kalian tidak mampu untuk menghitungnya”. (QS. An Nahl: 18)

Maka, sepantasnya seorang beriman untuk bisa mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Bentuk syukur kita kepada Allah E adalah diantaranya  seorang mukmin, seorang muslim dituntut untuk berlaku jujur. Allah D sebutkan dalam Al Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ 

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah E dan jadilah kalian termasuk orang-orang yang jujur”. (QS. at-Taubah: 119)

Secara khusus Rasulillah H telah menyebutkan dalam sebuah hadits:

عليكمْ بالصِّدقِ ؛ فإنَّ الصِّدقَ يهدي إلى البِرِّ ، وإن البِرَّ يهدي إلى الجنَّةِ ، ولا يزالُ الرَّجلُ يصدُقُ ويتحرَّى الصِّدقَ حتَّى يكتَبَ عندَ اللَّهِ صِدِّيقًا . وإِيَّاكم والكذِبَ ، فإن الكذِبَ يهدي إلى الفُجورِ ، وإن الفجورَ يهدي إلى النَّارِ ، ولا يزالُ الرَّجلُ يكذِبُ ويتحرَّى الكذِبَ حتَّى يُكتبَ عندَ اللَّهِ كذَّابًا

“Nabi H menjelaskan: jujurlah kalian karena kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa kepada surga Allah E. Dan senantiasa seorang berusaha untuk berlaku jujur dan berusaha berbuat jujur sehingga Allah E akan mencatatnya termasuk orang-orang yang jujur. Kemudian, hindarilah kebohongan dan jauhkanlah kebohongan, kedustaan. Sesungguhnya kebohongan itu akan membawa kepada kejahatan-kejahatan. Dan kejahatan itu akan membawa orang ke api neraka. Dan senantiasa seorang untuk berbuat kebohongan berduta, berdusta, berdusta sehingga Allah E akan mencatatnya termasuk orang-orang yang berdusta”.

Dusta, sungguh sangat mengerikan akibatnya. Namun sebaliknya kejujuran sungguh sangat nikmat ujungnya yaitu surga Allah E. Telah banyak manfaat yang bisa diambil dan bisa dirauk ketika seorang berlaku jujur diantaranya sebagaimana telah diqishohkan dalam hadits Rasulillah H yaitu tiga orang sahabat yang tidak sempat ikut berperang di perang tabuk (Ka’ab bin Malik, Hilal dan Muroroh).

Apa yang menyelamatkan Ka’ab bin Malik I setelah dia mengungkapkan tidak ada alasan dihadapan Nabi H untuk tidak ikut berperang, melainkan hanya bermalas-malasan saja? Yang menjadikannya diselamatkan oleh Allah E adalah jujur, kejujurannya, dia mengakui kesalahannya dihadapan Rasulillah H maka Allah E pun telah mengabadikan namanya dalam Al Qur’an. Karena apa? Karena kejujurannya.

Kemudian kita juga melihat suatu qishshoh atau kita mendengar suatu qishshoh di zaman Al-Hajjaj Ibnu Tsaqofi kita mengetahui bagaimana kejahatannya Hajjaj. Bagaimana kebengisannya dia mencari seseorang yang mana orang tersebut ingin dihukum oleh Hajjaj. Mau ditangkap namun sekian kali dan sekian waktu dan sekian lama dia tidak menemukan orang ini. Datanglah salah seorang dari pembantunya mengatakan, “Wahai Hajjaj jikalau kamu menghendaki untuk menangkap si fulan kamu panggil bapaknya. Kamu tanya bapaknya. Karena apa? Karena diketahui bapaknya adalah orang yang jujur dan disini adalah saat pembuktian bagaimana kejujuran sang ayah.”

Akhirnya, dipanggillah sang Bapak oleh Hajjaj Ibnu Yusuf Ats-Tsaqofi. “Mana anakmu fulan? Aku mencarinya, aku membutuhkannya.” Orang-orang di sekelilingnya sungguh tidaklah mengira bahwasanya si bapak ini akan berkata jujur yang mana Hajjaj mengatakan aku sudah sekian lama untuk mencarinya namun aku tidak menemukan, maka sang bapak mengatakan, “Wahai Hajjaj jikalau engkau ingin mendapatkan anakku engkau datangi rumah si ini, pada waktu begini”.

Maka benar, ternyata apa yang dikatakan oleh sang bapak, persis, didapatkanlah sang anak dan ditangkap oleh Hajjaj Ibnu Yusuf. Orang-orang disaat itu sudah hawatir dan takut kalau sekiranya si fulan sudah ditangkap, habislah dia. Namun apa? Yang namanya kejujuran Allah E tidak pernah akan sia-siakan Dia.

Sahabat Nabi O yang mulia diterima taubatnya oleh Allah E karena apa? Karena kejujurannya. Kemudian begitu dihadapkan sang anak ini dihadapan Hajjaj. Apa kata Hajjaj ibnu Yusuf? “Wahai fulan, aku lepaskan engkau dan engkau selamat dan engkau bebas dariku. Karena apa? Kejujuran orang tuamu yang telah memberitakan kepadaku tempatmu sehingga aku bisa menangkap dirimu.”

Subhanallah, maka orang islam kaum muslimin hendaklah berlaku jujur dalam ucapannya, dalam perbuatannya. Sebab apa? Sebelum diakhirat kita sudah menuai hasil dan manfaat dari kejujuran tersebut. Dan ingat Nabi H telah menyebutkan:

يُطْبَعُ الْمُؤْمِنُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّالْكَذِب

“Allah E mentabiatkan orang beriman itu berbuat apa saja kecuali dusta, kecuali bohong, Allah E tidak mentabiatkan orang beriman itu berbohong”. (HR. Bukhari)

Akhlak, jujur, ini sudah habis atau hampir habis terkikis dari hati kaum muslimin, oleh karena itu tugas kita dan kewajiban kita sebagai seorang mukmin untuk mempertahankan akhlak yang mulia ini yaitu jujur dengan perbuatan kita dalam ucapan kita, keseharian kita terhadap Allah E kemudian terhadap Nabi-Nya H, kemudian terhadap istri kita, terhadap anak kita, terhadap sesama kita bahkan terhadap orang kafir pun kita tetap untuk berlaku jujur.

Saudaraku yang berbahagia dan dirahmati Allah E, akhlak islam mesti dijunjung tinggi, perangai kejujuran mesti diletakkan kapan pun dan dimana pun, kedustaan dan kebohongan tidak diizinkan oleh agama melainkan hanya tiga tempat saja:

Pertama, Dalam peperangan.

Kedua, Ucapan suami terhadap istrinya

Ketiga, Ketika mendamaikan

Mudah-mudahan apa yang kita sampaikan ini bermanfaat sehingga kita dikaruniai oleh Allah D kejujuran dan dijauhkan dari kedustaan dan bohong karena itu merupakan akhlak yang buruk dan sifat dari sifat orang-orang munafiqin, wal iyyadzubillah


Referensi Transkrip:
[1] Tak Sanggup Menghitung Nikmat Allah.
[2] Berlakulah Jujur!.
[3] Sulitnya Mencari Orang yang Jujur.
[4] Dusta Pangkal Petaka.

Durasi: 00:11:12
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 04 June 2016
Editor: Abu Ahmar