Ceramah Singkat: Terjebak dalam Dua Pilihan – Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc.

Alhamdulillah…

Ikhwatul islam azza kumullah wa iyyakum..

Terkadang kita melihat atau kita di hadapkan dalam kehidupan kita pada perkara yang sebenarnya kedua – duanya penting. Namun terkadang kita bingung bagaimana menghadapi dua perakara yang sifatnya dua – duanya penting tersebut. Maka dari itu kita harus mengetahui sebuah kaidah ushul fiqih yang mengatakan, apabila ketemu dua mashlahat maka kita ambil mashlahat yang lebih besar.

Contoh misalnya apa bila yang wajib dan yang sunnah bertemu tentu kita dahulukan yang wajib. Apabila yang dua – duanya wajib, maka kita dahulukan fardhu ain dari pada fardhu kifayah, kalau ternyata dua – duanya fardhu ‘ain maka kita lebih dahulukan yang lebih besar manfaatnya.

Perkara ini sangat penting sekali di dalam Kehidupan kita. Karena terkadang kita melihat ya ada sebagian orang yang tidak mengetahui hal seperti ini. Akhirnya dia jatuh kepada jerat – jerat syaithan. Dengan cara akhirnya dia lebih mendahulukan sesuatu yang tidak lebih utama dan meninggalkan yang lebih utama.

Sebuah contoh, hadits (qudsi) Nabi H. Nabi H bersabda,
Allah ta’ala berfirman,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ

Wama taqaraba ilayya abdi bi syai’in ahabba ilayya mimmaftaradtuhu alaihi

“Tidaklah hambaku bertaqorrub kepadaku dengan sesuatu yang paling aku cintai dari apa, aku wajibkan kepadanya.” (H.R Bukhari)

Allah mengatakan dalam ayat ini, dalam hadits qudsi ini, bahwa amalan yang paling di cintai adalah yaitu sesuatu yang sifatnya wajib. Berarti yang wajib harus kita dahulukan!

Dahulukan panggilan Allah dan Rasul

Contoh di dalam peraktek Nabi H, yaitu sebuah dari hadits nabi saw bahwa ada seorang sahabat yang beranama Said bin Al Mu’alla yang sedang sholat sunnah. Kemudian, Nabi H memanggil, ternyata sa’id tidak menyahut panggilan Rasulullah H sampai Said salesai dari sholat.

Kemudian setelah selesai sholat datanglah ia kepada Rasulullah H. Maka rasulullah H mengatakan;

“Apa yang mencegah kamu tadi, untuk menyahut panggilanku ketika ‘aku’ memanggil kamu?”
“Tadi aku sedang sholat ya Rasulullah.” kata Said.
Maka kata Rasulullah H apa?, kata Rasulullah,
“Bukankan Allah ta’ala berfirman ;”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Yaa ayyuhaa alladziina aamanuu istajiibuu lillaahi walilrrasuuli idzaa da’aakum limaa yuhyiikum…

“Hai orang-orang yang beriman, jawablah panggilan Allah dan Rasulnnya apabila keduanya memanggil kamu kepada sesuatu  yang menghidupkan dihatimu.” (Al Anfal(8): 24)

Disini Rasulullah H menegur Said, bahwa seharusnya kamu dahulukan yang wajib. Menyahut panggilan Rasulullah itu hukumnya wajib, sedangkan sholat sunnah itu hukumnya sunnah.

Maka ini menunjukkan Ikhwatul islam azza kumullah wa iyyakum, kita dalam hal seperti ini, berusaha mendahulukan yang lebih utama/wajib/yang lebih besar maslahat dan manfaatnya dari pada yang tidak demikian.

Cerdas memilih amalan

Sebuah contoh dari praktek ulama, contoh misalnya Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya;

“Mana yang lebih engkau sukai, sholat malam atau menulis ilmu…?”

Kata Imam Ahmad kalau aku sholat malam maka itu pahalanya untuk diriku sendiri, tapi kalau aku menuntut ilmu, aku menulis ilmu maka manfaatnya untuk diriku dan untuk manusia dan ini lebih aku sukai dari pada sholat malam.

Berarti subhanallah, seseorang yang di berikan oleh Allah E kefakihan dalam keadaan seperti ini dia berusaha untuk memilih yang lebih besar manfaatnya, lebih besar mashlahatnya dan lebih wajib hukumnya.

Terkadang dalam kehidupan kita sehari-hari. Apabila kita puasa sunnah menyebabkan kita lalai dari melakukan sebuah kewajiban. Misalnya ada seseorang yang bekerja di sebuah perusahaan kebetulan pekerjaannya berat, dia puasa sunnah tetapi puasa sunnah itu menyebabkan dia lemah dalam melakukan pekerjaan tersebut. Sementara itu kewajiban dia dan amanah yang telah di bebankan oleh perusahaan oleh dia, ternyata dia tetap memilih untuk tetap dia puasa dan akhirnya dia lemah melakukan amanah yang sifatnya wajib. Kita katakan ini orang tertipu.

Makanya disebutkan sebuah atsar adalah Abdullah bin Mas’ud I. Sedikit puasa sunnahnya. beliau berkata kalau aku berpuasa, aku lemah dari sholat dan aku lebih memilih amalan sholat dari pada berpuasa.

Masya Allah, disini Abdullah bin Mas’ud mengatakan, ‘sholat  itu lebih utama dari pada puasa

Dimikian pula juga ya Ikhwatul islam, apabila kita seorang wanita misalnya di pagi hari dia ingin dzikir pagi dan petang. Kemudian tapi dia juga punya kewajiban untuk melayani suami, untuk mengurus anak. Kalau ternyata si wanita ini lebih mendahulukan dzikir pagi dan petang dari pada melayani suaminya, mengurus anaknya. Kita katakan, “orang ini tertipu.

Maka hendaklah kita cerdas dan kita berusaha untuk melihat mana yang lebih besar manfaatnya, mana yang lebih besar mashlahatnya. Sehingga kita pada saat itu kita bisa memilih terbesar dan terbaik dan terbagus pahalanya disisi Allah E.

Memilih ilmu yang lebih urgen

Ikhwatul islam azza kumullah wa iyyakum,

Nah inilah yang tentunya kita berusaha perhatikan dalam menuntut ilmu misalnya. Kalau misalnya disuatu hari ada beberapa tabligh akbar. Kita lihat mana materinya  yang betul-betul paling urgen, paling penting bagi kita dan paling kita butuhkan dalam kehidupan kita. Sehingga kita bisa memilihnya, jangan sampai kita mendahulukan menuntut ilmu bahasa arab tapi kita tinggalkan menuntut ilmu tentang tauhidullah jalla wa’ala.

Nah ini dia Ikhwatul islam azza kumullah wa iyyakum sebuah kaidah yang sangat agung, yang besar yang tentunya perlu untuk kita perhatikan hal – hal seperti ini, sehingga kita bisa mendapatkan pahala yang lebih besar disisi Allah E.

Wabila taufik,
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa Anta astaghfiruka wa atubu ilaik.

Durasi: 00:08:47
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 26 October 2016
Editor: kamti

Kajian Kitab: Umdatul Ahkam – Ustadz Aris Munandar, Eps.3

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala Alihi wa Ashabihi wa man tabi’ahum bi ihsani ila yaumiddiin. Amma ba’du,

Kaum muslimin – muslimat rohimani warohimakumullah, kembali kita lanjutkan kajian hadits – hadits, hukum dari kitab Umadatul Ahkam karya al abdul ghani almaghdisi V ta’ala.

Dalam kesempatan kali ini kita masuk pada hadits yang ketiga, yaitu sebuah hadits dari sahabat nabi yang bernama Abdullah Ibnu Amr Ibn ‘Al ‘As dan juga sahabat Abu Huraira ditambah ibunda ‘Aisyah J.

Sahabat menceritakan sabda Nabi H ;

وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنْ النَّارِ

wailul lil a’qabi minannar

“Celakalah tumit-tumit karena untuknya neraka Allah E” yaitu tumit yang tidak basah dengan air saat berwudhu.

Hadits ini berasal dari 3 orang sahabat nabi saw dari sahabat Abdullah Ibnu Amr ibn ‘Al ‘As, kemudian sahabat Abu Huraira, dan ibunda ‘Aisyah J.

Kalau yang di lihatkan sahabat Abdullah Ibnu Amr ibn ‘Al ‘As itu diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim, sedangkan jalur dari sahabat Abu Huraira juga di riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim sedangkan yang berasal dari ibunda ‘Aisyah J, cuma diriwayatkan oleh Muslim saja tanpa Bukhari.

Latar belakang hadist

Hadits ini memiliki sababul huruf, latar belakang historis kenapa Nabi H menyampaikan hadits ini. Ceritanya pada saat itu para sahabat berwudhu dengan tergesa – gesa karena waktu sholat sudah mepet dan banyak diantara mereka ketika membasuh kaki tidak memperhatikan tumitnya. Sehingga banyak dari tumit itu yang kering karena tidak terbasuh oleh air.

Nabi H melihat fonomena seperti ini berteriak dengan suara yang lantang mengatakan,

wailul lil a’qabi

“Celakalah yaitu tumit-tumit yang tidak basah saat berwudhu”

Kenapa celaka minannar? Karena untuknya neraka Allah E.

Kaum muslimin – muslimat rohimani warohimakumullah, berakaitan dengan kata – kata wailun, maknanya ada sebagian ulama yang mengatakan Wailun = satu jurang di neraka, namun pendapat yang lebih tepat, makna wailun adalah kalimat “litahdid wala iqot” adalah sekedar kalimat ancaman dan kalimat yang menunjukkan adanya hukuman. Ini pendapat yang lebih tepat tentang pengertian wailun.

Tumit harus basah saat wudhu

Pelajaran yang bisa kita petik dari hadits ini menunjukkan haramnya membiarkan tumit tidak basah oleh air saat berwudhu. Karena Nabi H mengancam tumit seperti ini keadaannya neraka Allah E. Maka ketika berwudhu kita tidak boleh membiarkan tumit kering, tidak tersiram air wudhu, kita harus cek dan pastikan bahwasanya tumit betul – betul telah basah dengan air wudhu.

Tumit kering bisa terjadi manakala seorang berwudhu dengan keran. Dia sekedar menjulurkan kakinya di bawah keran. Ketika cuma demikian maka ada kemungkinan besar tumit itu kering, tidak basah dengan air wudhu. Oleh karena itu maka ketika kita berwudhu pastikan tumit kita basah dengan air wudhu. Inilah pendapat jumhur umat islam, bahwasanya tumit  harus basah oleh air wudhu tidak boleh kering. Tumit adalah bagian dari kaki yang wajib untuk di basuh saat berwudhu.

Dua macam siksa neraka

Bapak-ibu kaum muslimin-muslimat rohimani warohimakumullah,

Pelajaran yang lain berkaitan dengan hadits ini, menunjukkan bahwasanya siksa neraka itu ada dua macam. Ada siksa yang bersifat menyeluruh, (siksaan) seluruh badan. Ada orang yang disiksa seluruh badannya oleh Allah E, tanpa terkecualikan.

Siksaan jenis yang kedua adalah siksaan parsial. Contohnya dalam hadits ini ada orang cuma tumitnya saja yang di bakar oleh Allah E, tanpa anggota tubuh yang lainnya. Maka ini menunjukkan adanya siksaan parsial.

Niat saja belum cukup

Kemudian kaum muslimin – muslimat rohimani warohimakumullah, dalam hadits ini terdapat pelajaran bahwasanya semata – mata dengan niat yang baik belum cukup. Sekedar bersemangat untuk berwudhu itu belum cukup, wudhunya harus benar, karena boleh jadi orang itu niatnya baik ingin berwudhu ternyata hasilnya masuk neraka.

Ada orang semangat untuk mau mengerjakan sholat, semangat untuk berwudhu, namun tumitnya itu kering, maka hasilnya dia masuk neraka. Padahal orang ini mau beribadah kepada Allah E, niatnya adalah beribadah kepada Allah E.

Niat yang luhur, mulia… namun karena dia seenaknya sendiri, semaunya sendiri, tidak ikut aturan hasilnya malah sangat mengecewakan, suatu hal yang menyedihkan… Dia masuk neraka karena perbuatannya berwudhu namun tidak perhatian dengan kondisi tumit saat berwudhu.

Demikian bahasan tentang hadits yang ke 3 di umdatul ahkam.

Wa shalallahu a’la nabina muhammadin wa ‘ala ‘alaihi wa shabbi wa sallam

Durasi: 00:07:35
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 25 October 2016
Editor: kamti

Kajian Singkat : Serba-serbi Doa – Ustadz Nuzul Dzikri, Lc

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudaraku yang dirahmati oleh Allah E.
Banyak di antara kita, dia rajin berdoa siang malam, dia mengucapkan “Ya Rabbiy… Ya Rabbiy…” Pagi dan petang dia mengangkat tangannya dan mengatakan “Allahuma.. Allahuma…”. Tapi dia merasa doanya tidak dikabulkan oleh Allah E.

Saudaraku yang dirahmati oleh Allah E.
Jangan putus asa, jangan sampai kita meninggalkan doa hanya gara-gara masalah ini. Karena Nabi kita H bersabda dalam Hadis Bukhari dan Muslim;

يُسْتَجَابُ لأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ

–Yustajaabu liahadikum maa lam ya’jal.
“Doa seorang dari kalian akan dikabulkan oleh Allah E selama ia tidak terburu – buru”.

Lalu para sahabat bertanya kepada Nabi, “Bagaimana maksud terburu-buru ya Rasulullah?” Lalu Nabi mengatakan

 دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِى  

–Da’watu falam yustajab lii
“Aku sudah berdoa siang dan malam, berdoa, berdoa namun Allah tidak mengabulkan doaku”.

فيستحسر عند ذلك ويدع الدعاء

–Fayastahsir ‘inda dzalika wayad’uddu’aa
“Lalu ia putus asa dan ia meninggalkan doa”.

Ini fatal, justru ketika kita nyeletuk “Aku sudah berdoa terus, aku berdoa terus, aku berdoa terus, dan Allah tidak pernah kabulkan doaku.” Maka pada saat itulah benar-benar doa Anda tidak diterima dan tidak dikabulkan oleh Allah E. Dan para ulama kita mengatakan, bahwa apabila kita sudah nyeletuk aku sudah berdoa siang dan malam, namun Allah tidak pernah mengabulkan. Al Imam Ibnu Bathoh mengatakan, “Itu seperti orang yang beribadah lalu dia ungkit-ungkit ibadahnya”. Seperti orang yang bersedekah lalu ia ungkit-ungkit sedekahnya. Seperti orang yang telah memberi dan berinfak, lalu dikatakan kemarin aku kasih satu juta, lalu dua bulan yang lalu tiga juta, lalu tiga bulan yang lalu sepuluh juta. Itu persis seperti orang yang mengatakan, aku berdoa siang dan malam, tapi Allah tidak kabulkan doa-doaku. Dan itu membuat doa kita tidak diterima oleh Allah E.

Oleh karena itu apa yang harus kita lakukan:

Yang pertama, terus berdoa. Para ulama terdahulu kita mengatakan,

*** Laa ana asyyaddhu khosyatan an akhroman dua min an ukhroman al ijabah ***

“Aku lebih khawatir aku tidak diberikan taufik untuk berdoa daripada doaku tidak diterima oleh Allah E. Yang pertama tetap berdoa, karena doa adalah ibadah yang sangat luar biasa. Anggap saja doa kita tidak dikabulkan oleh Allah E, tapi bukankan doa sendiri itu ibadah yang sangat luar biasa. Maka yang pertama tetaplah berdoa.

Yang kedua, evaluasi diri. Jangan-jangan kita melakukan penghalang-penghalang dikabulkannya doa tersebut. Evaluasi harta kita, evaluasi makanan kita, evaluasi minuman yang kita konsumsi, evaluasi bagaimana respon kita dalam menyambut perintah dan larangan Allah E. Evaluasi diri. Pasti ada yang salah.

Yang ketiga, apabila kita sudah mengevaluasi dan kita merasa bahwa semua syarat-syarat doa sudah kita penuhi, semua adab-adab doa sudah kita lakukan. Maka bergembiralah, karena Allah pasti akan mengabulkan doa kita. Allah berfirman dalam surat Ghafir:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

–Ud’unii astajiblakum.
“Mintalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan.”

Dan Allah bukan munafiq, ketika Allah memberikan janji maka pasti Allah akan berikan janji tersebut. Namun, Allah tidak sesempit pola pikir kita. Karena itulah manusia. Manusia berfikir sangat sempit. Ketika kita meminta keturunan yang ada di pola kita, kita melihat bayi mungil yang diberikan oleh Allah E kepada kita. Pada saat kita meminta mobil, maka kita berharap mobil itu ada di garasi kita. Sedangkan Allah Al-Alim Al-khabir, yang paling tahu mana yang terbaik untuk kita. Oleh karena itu, bisa jadi yang kita minta itu bukan yang terbaik untuk kita. Oleh karena itu Allah tidak berikan permintaan kita, namun Allah ganti dengan yang lain.

Bukankah Nabi kita H bersabda dalam Hadist Riwayat Imam Ahmad:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُواللَّهُ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ

–Maa min muslimin yad’uullah bida’watin laisa fiihaa itsmun wa laa qothii’atun rahiman illa a’thoohullahu bihaa ihdaa tsalaatsin.
“Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah E dengan sebuah doa yang tidak ada unsur dosa, tidak ada unsur memutuskan tali silaturahim, tidak ada unsur kezhaliman”. Artinya doanya baik, maka pasti Allah akan kabulkan namun dengan satu dari tiga cara”. Saudaraku, satu dari tiga cara:

إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ 

–Imma an tu’ajjalu lahu da’watuhu.
Yang pertama, kemungkinan yang pertama Allah kabulkan dengan memberikan apa yang kita inginkan. kita minta rumah, Allah kasih rumah. kita minta mobil, Allah kasih mobil. kita minta keturunan, Allah kasih kita anak kepada kita. itu opsi yang pertama.

  وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ 

–Wa imma an tuddakhirihaa lahu fil akhiroh.
Kemungkinan yang kedua
, Allah tidak berikan yang kita minta. Namun Allah simpan di akhirat. Kita minta rumah, Allah tidak kasih kita rumah sampai meninggal kita masih ngontrak, namun Allah bangunkan istana di surga. A. Itulah lucunya manusia, ketika Allah ganti di surga dengan istana yang begitu sempurna lalu dengan bodohnya kita protes kepada Allah. “Aku minta berhari-hari, bertahun-tahun, tapi Allah gak kasih aku rumah”. Anda tidak tahu bahwa Anda sudah memiliki istana di surga dan ketika Anda nyeletuk demikian, istana itu dihancurkan kembali oleh Allah E. Doa salah seorang dari kalian dikabulkan selama dia tidak terburu-buru. Apa itu terburu-buru dia ungkit aku berdoa siang dan malam namun tidak ada yang dikabulkan oleh Allah E. Padahal tanpa dia sadari, dia sudah memiliki istana di surga. Dia sudah punya fasilitas di surga. Oleh karena itu tahan lisan kita jangan sok tahu di hadapan Allah. Mungkin Allah tidak kabulkan tapi Allah ganti di akhirat. Kita meminta keturunan, minta anak yang sholeh, Allah tidak kasih kita anak tapi Allah berikan kita keturunan di surga nanti. Jangan komplain dengan kebodohan kita kepada Allah.

وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا

–Wa imma an tashrifa ‘anhu min assuui mitslahu.
Kemungkinan yang ketiga
, Allah tidak berikan apa yang kita inginkan. Namun Allah palingkan kita dari musibah bencana yang seharusnya menimpa kita. Kita meminta mobil kepada Allah, mobil itu seharga 500 juta. Allah gak kasih. Tapi Allah jaga kita dari penyakit kanker yang seharusnya menimpa kita, yang kalau kita mengambil paket kemo dan seluruh pengobatan, maka itu akan menghabiskan 500 juta dari kita. Tapi karena kebodohan kita, kita komplain kepada Allah E. Kita minta rumah, Allah gak kasih kita rumah. Tapi Allah palingkan kita dari sebuah kecelakaan maut, yang apabila kita terkena kecelakaan tersebut kita membutuhkan biaya pengobatan bermilyar-milyar rupiah. Tapi lagi-lagi itulah manusia karena kebodohan kita. Kita protes kepada Allah dan kita katakan aku sudah berdoa siang dan malam tapi tidak ada yang dikabulkan oleh Allah E.

Tiga cara Allah kabulkan;
1. Allah berikan apa yang kita inginkan.
2. Allah tidak berikan tapi Allah akan ganti di akhirat, Allah simpan untuk akhirat kita. karena akhirat lebih baik, dan akhirat itu lebih baik bagi Anda daripada dunia.
3. Allah tidak berikan tapi Allah palingkan kita dari musibah yang senilai dari apa yang kita minta.

Begitu para sahabat mendengar penjelasan Nabi H mereka langsung bergairah, mereka katakan:

قَالُوا إِذًا نُكْثِرُ قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

–Qoluu idzan nuktsir. Qoola Allahu Aktsar.
Kalau begitu kami akan perbanyak doa Ya Rosulullah. Apa kata Nabi kita H, Allah akan lebih banyak lagi mengabulkan doa-doa Anda.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Referensi Transkrip
[1] 13 Adab dalam Berdoa.
[2] Keutamaan Doa, Adab dan Sebab Dikabulkan.

Durasi: 00:11:31
Pencatat: Haris Eko Prasetyo on 10 June 2016
Editor: Abu Ahmar

PENTING! NONTON DULU 10 + 1 INI SEBELUM PUASA :)

Bulan Ramadhan telah tiba. Umat islam diseluruh dunia bergembira dan berlomba-lomba untuk memperubanyak ibadah. Namun banyak hal yang perlu diluruskan terkait kebiasaan yang dilakukan ketika bulan Ramadhan, khususnya di Indonesia. Berikut adalah 11 hal yang perlu diluruskan ketika puasa:

Hal Pertama: Tradisi Padusan

Menjelang bulan suci Ramadhan kaum muslimin di Indonesia melakukan ritual padusan. Mereka anggap itu untuk membersihkan jiwa dan raga, agar terbebas dari segala dosa. Ini adalah budaya yang tidak sesuai dengan Islam. Islam tidak pernah mengajarkan membersihkan dosa dengan cara padusan.

Hal Kedua: Nyekar

Ziarah kubur termasuk amal mulia dalam Islam. Karena ziarah kubur bisa mengingatkan orang akan kematian. Islam memberikan kelonggaran untuk melakukan ziarah kubur di waktu kapanpun. Karena itu kita tidak boleh membatasinya hanya ketika menjelang Ramadhan.

Hal Ketiga: Teriak Sahur (Membangunkan sahur sahur)

Banyak daerah memiliki cara berbeda untuk menunjukan waktu sahur. Ada yang memukul tiang listrik, kentongan, teriak-teriak sambil membawa rebana dan lain-lain. Padahal Islam telah memiliki cara sendiri untuk menunjukan waktu sahur, yaitu adzan awal sebelum subuh. Lebih baik kita melakukan sunnah daripada melakukan tindakan yang mengganggu istirahat masyarakat.

Hal Keempat: Waktu Imsak

Sebagian kaum muslimin beranggapan bahwa batas waktu makan dan minum adalah imsak. Yang benar justru sebaliknya, 10 menit sebelum subuh adalah waktu terbaik untuk makan sahur. Amar bin Mai’mun menceritakan: “Dahulu para sahabat nabi Muhammad H adalah orang-orang yang paling segera berbuka dan paling telat sahur (HR. Baihaqi)

Hal Kelima: Mengeraskan Bacaan Niat Puasa

Sobatku, niat letaknya di hati bukan dilisan karena inti niat adalah keinginan untuk melakukan suatu amal. Jika seseorang sudah ada keinginan berarti dia sudah berniat, Rasulullah H tidak pernah mencontohkannya.

Hal Keenam: Sikat Gigi Ketika Berpuasa

Sikat gigi ketika berpuasa hukumnya diperbolehkan, hanya saja perlu waspada ketika menggunakan pasta gigi. Jangan sampai ada bagian yang tertelan. Nabi H menganjurkan untuk menjaga kebersihan mulut mendekatkan ridha Allah. Siwak itu membersihkan mulut dan mendekatkan pada ridha Allah (HR. Ahmad dan dishahihkan Syu’aib Al Arna’uth).

Hal Ketujuh: Muntah Ketika Puasa

Sobatku, muntah tanpa disengaja tidak membatalkan puasa sedangkan muntah dengan sengaja puasanya batal. Jika kita merasa perutnya mual dan akan keluar sesuatu maka jangan memaksakan diri untuk memuntahkannya. Rasulullah H bersabda: “Siapa yang tidak sengaja muntah tidak wajib qodho dan siapa yang sengaja muntah wajib qodho artinya puasanya batal”. (HR. Turmudzi dan dishahihkan Al Albani)

Hal Kedelapan: Mencicipi Masakan

Sobatku, mencicipi masakan ketika sedang berpuasa selama tidak tertelah hukumnya boleh. Ibnu Abbas pernah mengatakan: “Tidak mengapa mencicipi cuka atau makanan lainnya selama tidak masuk kekerongkongan”. (HR. Bukhari secara mualaq)

Hal Kesembilan: Tidur Berpahala

Apakah tidurnya orang yang berpuasa itu berpahala? Pertanyaan ini berasal dari hadits yang menyatakan “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya adalah mustajab dan pahala amalannyapun akan dilipatgandakan”. Namun hadits ini statusnya palsu, ada perawi yang bergelar pendusta.

Hal Kesepuluh: Bekam Dan Donor Darah Ketika Berpuasa

Mengeluarkan darah tidak membatalkan puasa. Dalilnya Nabi H memberi keringanan untuk berbekam ketika berpuasa. Hanya saja jika ini dikhawatirkan menyebabkan lemas maka tidak dibolehkan. Sahabat Anas bin Malik pernah ditanya “Apakah kalian membenci bekam bagi orang yang berpuasa?”. Anas mengatakan: “Tidak, kecuali jika bisa menyebabkan lemas”. (HR. Bukhari). Sobatku, bagi yang ingin bekam dan donor darah disarankan untuk dilakukan di malam hari atau mendekati waktu berbuka.

Hal Kesebelas: Kesalahan Do’a Berbuka Puasa

Sebagian masyarakat Indonesia berbuka puasa dengan membaca do’a “Allahumma laka sumtu wabika aamantu wa ‘alaa rizkika afthortu birohmatika yaa arhamarroohimiin.” Do’a tersebut dinilai dhoif oleh sebagian ulama. Do’a shohih yang diajarkan oleh Rasulullah H adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar, lafadz do’anya adalah “Dzhabadzoomau wab tallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru In syaa Allah”.

Demikianlah sebelas hal yang perlu diluruskan ketika puasa, semoga Allah memudahkan kita untuk meraih banyak pahala selama menjalankan ibadah di bulan mulia.

Durasi: 00:05:43
Pemateri:
Pencatat: Arif Risnandar on 05 June 2016
Editor: Abu Ahmar

Nasehat Islami: Kiat Mendapatkan Anak Sholeh – Ustadz Subhan Bawazier

Ma’aa syirol muslimin wal muslimat sidang majelis pemirsa yang Allah B muliakan dunia dan akhirat, banyak orang yang menghayalkan memiliki anak yang sholeh. Mereka mengafal do’a yang memang Allah E ajarkan. Kita meminta dengan satu model do’a yang Rasulullah G ajarkan:

ربي حبلي من الصالحين

Robbi hablii minash shoolihiin.

“Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. Ash Shaffaat: 100) [1]

Al ‘alaamah Ibnul Qoyyim Al Jauziiyah orang yang berani mengatakan bahwa terkadang takdir itu merupakan sebab akibat. Kalau cuma kesholehan dikhayalkan tanpa ada muqodimah dalam perbuatan, inikan mimpi di siang bolong. Anak yang sholeh tidak datang begitu saja, buatlah sebab.

Paling tidak yang pertama, carilah pasangan yang sholeh dan sholehah karena pasangan yang sholeh dan sholehah ini menjadi penyebab awal dasar orang tersebut memiliki anak-anak yang sholeh.

Yang kedua, kalau sudah pasangan yang sholeh dan sholehah kita cari. Tolonglah nanti prosesnya pun nanti harus sholeh, sholeh yang dimaksud adalah yang benar seperti apa yang Allah B inginkan:

لقد كان لكم في رسول الله أصوة حسنة

Laqod kaana lakum fii rosuulillahi uswatun hasanah,

“Telah ada suri tauladan yang terbaik pada diri RasulullahG“. (QS Al Ahzab : 21)

Menjadikan Rasul sebagai suri tauladan ini bukan cuma sekedar diucapan, tingkah laku Rasulullah G yang diterima oleh orang-orang di manapun yang mendengar dakwah beliau. Artinya kesolehan datang dengan mencontoh Rasulullah G.

Kalau sudah mencontoh Rasulullah G kemudian besarkan anak-anak kita yang Allah titipkan kepada kita di lingkungan yang sholeh juga. Paling tidak yang paling mudahlah sudah. Yah kita membeli rumah tolong dengan cara yang sholeh. Karena sering sekali orang yang membeli rumah ini mendustai orang yang memiliki rumah sebelumnya. Apakah ditakut-takutin, “Ini daerah bakal kena jalur hijau”, orang jual murah. Ataupun ketika membangunnya pun nanti dengan cara yang dzolim atau mungkin dia diam-diam datang ke notaris, minta dikecilkan ukuran bangunannya supaya murah ongkos biaya yang lain-lainnya. Inikan semua bentuk kedzoliman, sementara ayat sudah baku mengatakan:

وما للظالمين من أنصار

Wamaa lidz dzoolimiina min ashoor.

“Tidak akan pernah ada penolong buat orang yang berbuat kedzoliman”.  (QS Al Baqarah 270, Ali Imran 192, Al Maaidah 72).

Kita minta kemuliaan dari Allah B tadi

ربي حبلي من الصالحين

Robbi hablii minash shoolihiin

Mungkinkah kesholehan datang dengan cara berbuat dzolim? Sementara ada hadits yang mengatakan bahwa:

و إن الله تعالى لا ينال ما عنده إلا بالطاعة وأجمل في طلاب

Wa innallaha ta’ala laa yunaalu maa indahu illaa bith thoo’ah wa ajmilu fi thoolab,

“Sesungguhnya Allah ta’ala seluruh kebaikan yang kalian inginkan adanya disisi Allah, dan tidak mungkin kalian dapatkan yang disisi Allah tanpa menta’ati Allah”. (HR Ibnu Abbas)

Sekarang bagaimana kalian khayalkan sebuah kebaikan dengan cara yang Allah B murkai. Wallahi ya akhii fillah,

وما للظالمين من أنصار

Sampai kapanpun takkan pernah ada penolong buat orang yang berbuat kedzoliman.

Maka jangan cuma dikhayalkan

رب حبلي من الصالحين
ربنا حبلنا من أزواجنا و ذرياتنا قرة أعين وجعلنا للمتقين إماما

Robbi hablii minash shoolihiin, robbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzuriyyaatinna qurrota a’yun waj’alnaa lilmuttaqiina imaama.

Itukan tinggal do’a, siapapun bisa menghafalnya. Walaupun orang yang mendzolimi Rasul. Walaupun orang yang mendzolimi Abu Bakar dan Umar, pun mereka hafal do’a tersebut. Tapi kalau sebab nggak dibuat bagaimana kemuliaan akan datang?

هل جزاء الإحسان إلا الإحسان

Hal jazaaul ihsaan ilal ihsan

Sudah jelas ayatnya, “Bukankah kebaikan akan datang dengan cara yang baik”. (QS Ar Rahman : 60).

Ayo! Buat kebaikan jangan cuma mengkhayalkan, yaitu menginginkan sebuah kesholehan tanpa sebab. Mudah-mudahan Allah jadikan kita orang yang mengerti bahwa kesholehan itu datang dengan sebab, cara yang betul dengan izin Allah.

Wallahu a’lam bish showwab, akhiiru da’waana ‘anilhamdulillahirobbil ‘aalamiin.. 


Referensi
[1] Doa Meminta Anak yang Sholeh.

Durasi: 00:04:51
Pemateri:
Pencatat: Arif Risnandar on 29 May 2016
Editor: zakkiy