Cambuk Hati: HARAM… Itu Juga Solusi – Ustadz Ammi Nur Baits

Ketika ada postingan video tentang larangan riba ada salah satu pemirsa yang berkomentar,

“lalu solusinya apa?”

Itu salah satu contoh yang sebenarnya komentar semacam ini banyak kita jumpai. Komentar dari sebagian kaum muslimin yang memberikan kesan tidak sepakat, ketika mereka mendapatkan keterangan tentang aturan syari’at mengenai masalah tertentu terutama ketika hukum itu bertentangan dengan kebiasaan masyarakat atau kepentingan pribadinya.

 

Yang lebih menyedihkan lagi ada sebagian yang beranggapan selama mereka belum menemukan alternatif  yang halal, mereka anggap hukum itu tidak berlaku. MasyaAllah.

 

Baik, kita akan melihat lebih dekat bagaimana keterangan Allah E tentang kewajiban kita dalam mengikuti syari’at. Yang pertama kita patut menyadari bahwa tidak semua hukum yang Allah E turunkan itu berpihak pada kepentingan kita atau kepentingan masyarakat, bahkan hukum syari’at yang itu kalau kita pelajari justru bertentangan dengan kepentingan pribadi kita atau masyarakat.

 

Karena keterbatasan akal manusia sehingga mereka tidak mampu membuat aturan yang bisa mewujudkan semua kemaslahatan dalam hidupnya, sehingga kita butuh aturan Allah E, Allah Maha Tau masa depan sehingga Allah tau apa yang paling maslahat untuk kehidupan kita. Kita ingat firman Allah E:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ

“Bisa jadi kalian membenci sesuatu sementara itu baik bagi kalian dan sebaliknya bisa jadi kalian mencintai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian”

 

Lalu Allah E mengakhiri ayat ini dengan mengatakan:

وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Allah E yang maha mengetahui sementara kalian tidak mengetahui (karena keterbatasan kita)” (Surat Al-Baqarah [2:216])

 

Kemudian yang kedua, kita menyakini bahwa Allah E menurunkan syari’at ini bukan untuk merepotkan diri kita tapi semua untuk kemaslahatan hidup kita. Kita bisa lihat bagaimana firman Allah E di surat thoha:

(طه (١) مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى (٢) إِلا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى  (٣

“Tidaklah Aku turunkan al-qur’an ini kepadamu agar membuat kamu jadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah E

 

Karena itu termasuk su’udzon kepada Allah ketika anda meyakini Allah E menurunkan hukum syari’at itu untuk membuat repot hidup kita.

 

Yang ketiga, kita patut menyadari bahwa kepasrahan terhadap hukum Allah E merupakan konsekuensi dari iman. Allah E mengingatkan di surat an-nisa (65):

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Demi Allah mereka tidak akan beriman sampai mereka melakukan 3 hal. Yang pertama, sampai mereka wahai Muhammad menjadikan engkau sebagai hakim, sebagai pengutus perkara terhadap perselisihan yang terjadi di antara mereka. Kemudian yang kedua, mereka tidak mendapatkan dalam diri mereka kesempitan terhadap keputusan yang telah engkau berikan. Kemudian yang ketiga, dan mereka pasrah dengan sepenuh hati terhadap semua keputusan yang engkau berikan”

 

Kata Ibnul Qoyyim rohimahullah bahwa 3 syarat ini merupakan syarat untuk orang bisa disebut sebagai orang mukmin. Sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kitabnya Madarij As-Salikin.

 

Kemudian catatan yang ke empat, coba kita lihat bagaimana kepasrahan para sahabat Nabi H. Ada banyak sekali hukum yang ketika Allah turukan hukum itu bertentangan dengan kepentingan para sahabat. Kita bisa ambil contoh misalnya masalah khomr.

 

Khomr, benda ini dulunya sebelum diharomkan termasuk komoditas ekspor Madinah, khomr menjadi salah satu sumber penghasilan bagi masyarakat Madinah. Anda bisa bayangkan ketika kurma dan anggur mengalami panen raya, tidak mungkin semua  bisa dijual langsung habis, salah satu trik yang mereka lakukan adalah dibuat khomr agar bisa dijual dengan harga yang lebih mahal dengan kurun waktu yang lebih lama.

 

Namun coba kita lihat ketika khomr ini diharomkan masyaAllah, mereka semua membuang khomr menumpahkan khomr-khomr itu dijalan sambil mengatakan “ya Allah kami berhenti tidak akan  melakukan hal ini lagi ya Allah”. Kisah ini diriwayatkan oleh imam Ahmad.

 

Coba anda perhatikan ketika salah satu komoditas yang menjadi sumber penghasilan para sahabat itu diharomkan apakah terdengar suara dari mereka? Lalu solusinya bagaimana wahai Rasulullah?

 

Karena itu fahami, bagi para sahabat hukum itu sendiri sudah merupakan solusi, khomr harom itu solusi, riba itu harom itu solusi, ghoror dalam jual beli harom itu solusi, tidak boleh menjual barang yang tidak kita miliki itu solusi bagi para sahabat. Sehingga semua hukum syari’at yang Allah brikan baik yang halal maupun yang harom itu solusi bagi mereka.

 

Lalu apa yang harus kita lakukan setelah dilarang? Perhatikan! Semua yang Allah halalkan itulah alternatif  lainnya dan mengingat yang halal jauh lebih banyak Allah E tidak merincinya dalam al-qur’an. Krena itulah kedepankan sifat sami’na wa atho’na “kami dengar dan kami ta’at ya Allah”. Karena alternatif yang halal jauh lebih banyak dari pada yang harom.

Durasi: 00:07:10
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 12 November 2016
Editor: Ahmad Zawawi

Cambuk Hati: Mendung Tak Berarti Hujan – Ustadz Ammi Nur Baits

Salah satu di antara kebiasaan Nabi H ketika beliau melihat mendung yang sangat gelap pertanda akan datangnya hujan. Yang dilakukan oleh Rasulullah H beliau selalu merasa takut kepada Allah E.

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari ‘Aisyah J beliau mengatakan:

كَانَ إِذَا رَأَى نَاشِئاً فِي أُفُقٍ  تَرَكَ عَمَلَهُ- وَإِنْ كَانَ فِي صَلَاةٍ

Kaana idzaa roaynaasyian fii ufuqin taroka ‘gamalahu wa in kaana fii sholaatin

“Rasulullah H ketika melihat sesuatu yang menakutkan di langit mendung yang sangat gelap, beliau tinggalkan semua aktivitasnya, sampaipun ketika beliau sedang sholat.”

Dalam riwayat Bukhori Muslim, Aisyah juga menceritakan:

إِذَا رَأَى مَخِيلَةً فِى السَّمَاءِ أَقْبَلَ وَأَدْبَرَ وَدَخَلَ وَخَرَجَ وَتَغَيَّرَ وَجْهُهُ

idzaa tagoyyaro fissamaa tagoyyaro lahu

“Apabila ada mendung gelap di atas maka roman muka Nabi H berubah terlihat seperti orang yang sangat ketakutan, beliau keluar masuk rumah, datang pergi,   فَإِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ سُرِّىَ عَنْهُ namun ketika hujan turun barulah kelihatan wajah gembira di muka Rasulullah H.”

Kata ‘Aisyah:

عَرَفْتُ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ

‘Araftu dzaalika fii wajhih

“Saya tau itu karena melihat wajah Nabi H

‘Aisyah merasa keheranan dengan sikap Nabi H ini ketika mendung, di saat banyak sahabat merasa bahagia, merasa gembira. Rasulullah H justru merasa sangat takut kepada Allah E.

Mendung gelap dan menakutkan bisa jadi awal adzab

Ketika ‘Aisyah bertanya kepada beliau: wahai Rasulullah anda memilki sikap yang aneh, disaat mendung gelap kenapa anda takut kepada Allah E?

Apa jawab Nabi H?

 لَعَلَّهُ كَمَا قَالَ قَوْمٌ فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ

La’gallahu kamaa qola ya ‘ Aisyah qoumun falamaa roauhu ‘gariidhoo mustaqbila au diyatihim

Wahai ‘Aisyah mungkin ini seperti yang pernah Allah ceritakan tentang kaum ‘Aad, kaum ‘Aad dihukum oleh Allah E, dibinasakan oleh Allah E dengan Allah turunkan hujan yang sangat lebat, angin yang sangat dingin sampai mereka semuanya mati karena kekufuran mereka, dan muqoddimahnya,  pengantarnya adalah datangnya mendung yang sangat gelap di atas mereka.

Allah ceritakan

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ

Falammaa roautu ‘gaaridhon mustaqbala au diyaatihim

“Ketika kaum ‘Aad melihat عَارِضًا awan yang sangat gelap, مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ mulai datang mendekati lembah mereka, tempat tinggal mereka, قَالُوا mereka hanya berkomentar هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا, ini adalah mendung yang sebentar lagi akan membawa hujan bagi kami.” [Al-Ahqaf (46): 24]

Artinya, sama sekali tidak ada perasaan takut dalam diri mereka!

Ini berbeda dengan kebiasaan Nabi H. Coba kita bandingkan antara kondisi orang musyrikin dengan kebiasaan Rasulullah H, ketika Nabi H melihat suasana langit yang gelap, yang menakutkan, yang terjadi Rasulullah H takut kepada Allah E. Karena beliau khawatir, jangan-jangan ini adalah muqoddimah adzab untuk ummatnya.

Berbeda dengan orang musyrik, orang musyrik melihat suasana semacam itu sama sekali tidak ada perasaan takut kepada Allah E. Sehingga yang terjadi, mereka hanya komentar “sebentar lagi turun hujan.”.

Perilaku aneh umat hari ini

Ada sesuatu yang lebih mengherankan lagi, jika kita saksikan banyak masyarakat di tengah kita ketika mereka melihat peristiwa alam dan fenomena alam yang menakutkan, yang terjadi bukannya mereka takut kepada Allah E, namun yang terjadi adalah mereka akan mengeluarkan HP mereka, mereka mengeluarkan kamera mereka kemudian potret sana potret sini bahkan selfie di depan peristiwa yang menakutkan tadi.

Mungkin kita masih sering melihat ada orang yang selfie dengan background angin lisus, dengan background puting beliung, dengan background apa misalnya kilat yang menyambar, dengan background suasana-suasana yang menakutkan seolah itu sesuatu yang membanggakan. Yang kita pahami mereka tidak takut kepada Allah E.

Maka bandingkan tradisi mereka dengan tradisi orang musyrik, dengan tradisi Rasulullah H. Melihat fenomena alam, Rasulullah H ingat Allah, beliau takut kepada Allah E. Berbeda dengan orang di zaman sekarang, terkadang banyak di antara mereka melihat fenomena alam bukannya takut kepada Allah E, tapi dijadikan ajang untuk selfie.

Lalai peluang adzab sekarang sangat besar

Padahal kalau kita bandingkan, peluang datangnya adzab di masa Nabi E dengan peluang datangnya adzab di masa kita jauh lebih besar peluang datangnya adzab di masa kita. Di masa beliau banyak orang sholeh bahkan ada Nabi H sehingga untuk peluang datangnya adzab sangat kecil, tapi di masa kita masya Allah manusia banyak melakukan kemaksiatan sehingga peluang datangnya adzab bisa jadi lebih besar.

Namun suasana hati yang berbeda, Rasulullah H semakin takut kepada Allah ketika beliau melihat suasana gelap semacam itu, fenomena alam yang menakutkan, tapi kita justru malah membanggakan, tapi kita justru malah senang, merasa bangga bahkan menggunakannya sebagai  background untuk fotografi.

Mestinya kita takut dan ingat Allah

Perlu kita pahami bahwa Allah E menurunkan berbagai macam tanda kekuasaannya, peristiwa – peristiwa besar itu tujuan besarnya adalah agar kita takut kepada-Nya. Allah berfirman:

وَمَا نُرْسِلُ بِالآيَاتِ إِلا تَخْوِيفًا

Wa maa nursilu bil aayaati illaa takhwiiqoo

“Tidaklah Aku mengirimkan ayat – ayat tanda kekuasaan-Ku kecuali untuk menakut – nakuti mereka” [Al-Isra (17) :59]

Maka tujuan besar Allah ciptakan, Allah tunjukkan kepada kita berbagai macam fenomena alam yang luar biasa adalah agar kita takut kepada pencipta-Nya.

Durasi: 00:06:41
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 11 November 2016
Editor: kamti

Mengenal Harta Haram – Ustadz Ma’ruf Nursalam,Lc

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Kaum muslimin rohimakumullah, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

   لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِل

00:34 laa ta’kulu amwalukum bainakum bil bathil

“Janganlah kalian makan harta sesama kalian dengan cara yang bathil”. (QS An-Nisa’ (4) ayat 29).

Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

  ايما لحم نبت من حرام فالنار أولى به

00:48 ayuma lahmin nabata min haromin fannaru awlabi
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, demikian kemudian di sambut oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan sabdanyanya: “Daging manapun yang tumbuh karena makan harta yang bathil, yang harom maka neraka tempat kembalinya”

Karena itu ma’asyarol mu’minin penting sekali bagi kita untuk mengetahui harta yang harom dan setelah di jelaskan oleh ulama ahlus sunnah berdasarkan al-qur’an, berdasarkan dengan sunnah maka harta yang harom itu ada dua hal, yaitu :

1. harom karena bendanya 

2. harom karena cara mendapatkannya.

Nah ini perlu kita fahami secara global bahwa harta yang harom karena bendanya misalnya di firmankan oleh Allah dalam al-qur’an:

  حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ 

01:48 hurimat ‘alaikum maitatu waddammu wa lahmu khinziir wamaa uhilla lighoirillah bihi.

“Di haromkan atas kalian bangkai, darah, daging babi dan seluruh hewan yang di sembelih untuk selain Allah”

Nah ini bendanya harom, maka kita harus betul-betul sadar bahwa kalau sampai makan harta yang harom, maka disabdakan oleh Rasulullah “neraka tempat kembalinya”. Contoh lagi yang harom karena bendanya, makan yang (harom) harom karena bendanya, Rasulullah bersabda:

كلُّ مُسكرٍ حرامٌ، وكلُّ خَمرٍ حرامٌ 

02:26 kullu muskirin harom, wa kullu homrin harom.

“Setiap yang memabokkan itu masuk di dalam kata khomr dan setiap khomr hukumnya adalah harom”

Nah ini harom karena bendanya, ada model harom yang kedua, bendanya halal tapi cara mendapatkannya harom maka itu juga harom.

Bagaimana cara mendapatkan benda yang harom secara umum di dalam islam? yang di haromkan adalah yang pertama karena ada unsur  kedzoliman, dzolim kepada Allah misalnya wajib mengeluarkan zakat tidak di keluarkan zakatnya maka seluruh hartanya nanti akan menjadi azab baginya karena seluruh hartanya menjadi harom. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيم , يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ
03:33 waladzi yaknizuuna dzahaba wal fidhota wala yunfiqunahaa fi sabilillah fa basyirhum bi’adzaabin alim. yauma yuhma ‘alaiha fi nari jahannama fatukwa bihaa jibahuhum wajunubuhum wadhuhuruhum hadzaa maa kanaztum lianfusikum fadzuuquu maa kuntum taknizuun.

“Orang yang menyimpan emas,  menyimpan perak artinya menyimpan harta kekayaan dan tidak menginfakkan hartanya di jalan Allah, beri kabar azab yang sangat pedih. Nanti pada hari kiamat akan di panaskan di atas neraka jahannam hartanya lalu digosokkan di mukanya, di pinggangnya dan di punggungnya, lalu di katakan: “Ini yang kamu simpan untuk kamu sendiri, rasakan akibat simpananmu sendiri”. (QS At-Taubah (9) ayat 34-35)

Nah itu kenapa? Karena dzolim tidak mengeluarkan hartanya, karena dzolim tidak mengeluarkan zakatnya.

Lagi, muamalah yang harom, disebabkan muamalah yang harom itu seperti apa? Yang mengandung riba, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

  وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

04:35 wa ahallallahu bai’a, wa harroma ribaa

“Dan Allah menhalalkan jual beli dan Allah mengharamkan riba” (QS Al-Baqarah (2) ayat 275)

Karena itu harta bendanya halal tapi kalau caranya mendapatkan itu ada unsur riba maka itu juga harom.

Dan yang terakhir muamalah yang mengandung ghoror, yang mengandung unsur ketidak jelasan misalnya jual beli barang yang ada di dalamnya berbeda ini nilainya 100.000, ini nilainya 500.000, ini nilainya hanya 10.000 terbungkus di dalam kemasan yang sama, di beli dengan harga yang sama misalnya 50.000, kalau untung dapat besar, kalau ndak untung dapat yang sangat rendah.

Maka ini juga harom, karena apa? Karena transaksi yang mengandung ghoror, yang mengandung unsur ketidak jelasan dan akhirnya menimbulkan penipuan terhadap orang yang rugi dan keberuntungan yang tidak jelas kepada orang yang beruntung.

Nah kesimpulannya bahwa harta yang harom itu terbagi menjadi dua:  harom bendanya dan harom karena usahanya. Dan harom bendanya di firmankan oleh Allah misalnya: bangkai, darah, daging babi dan seluruh hewan yang di sembelih untuk selain Allah itu harom. Dan harom karena usahanya misalnya: harta yang mestinya dizakati tadi tidak di zakati. Yang kedua harta yang mengandung unsur riba dan yang ketiga harta atau muamalah yang mengandung unsur ketidak jelasan atau penipuan.

Mungkin ini tausiyah yang bisa di sampaikan  mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semuanya. walhamdulillahi robbil ‘alamin

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Durasi: 00:06:27
Pencatat: Khoir Bilah on 10 November 2016
Editor: Abu Ahmar

Samudera Kehidupan – Abuz Zubair Hawaary, Lc.

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Saudara dan saudari kaum musimin muslimat yang semoga dan senantiasa dirahamati dan diberkahi oleh Allah F. Ketika anda dilahirkan ke dunia ini, anda memulai perjalanan kehidupan anda. Mengarungi samudera kehidupan.

Anda dilahirkan, diciptakan oleh Allah F ke dunia ini untuk menjalani hidup sebagai seorang hamba yang mentauhidkan Allah tabaroka wata’ala, beribadah kepada-Nya semata sesuai dengan tujuan penciptaan anda.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

— wamaa kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu” (QS Adz-Dzariyat (51) ayat 56)

Ketika engkau dilahirkan anda mulai memulai perjalanan hidup ini. Maka mahabbatullah adalah yang memimpin, membawa anda untuk melanjutkan perjalanan menyeberangi samudera kehidupan ini. Sedangkan rodja (harapan) anda kepada Allah F akan rahmat, keutamaan-Nya serta takut anda akan azab dan siksa-Nya.

Laksana dua sayap yang akan menyeimbangkan langkah anda ketika menyebreangi samudera kehidupan ini menuju Allah F. Ketika mahabbah itu tidak ada, maka tidak ada lagi yang menuntun anda untuk menuju Allah F. Anda akan buta, bayangkan seekor burung ketika kehilangan kepala bahkan dia akan mati, tidak ada lagi kehidupan. Dia tidak akan dapat melanjutkan perjalanan.

Saat rodja (harapan) dan khouf (takut) atau salah satu darinya melemah, anda seekor burung yang patah salah satu sayapnya, berusaha terbang untuk sampai ke tujuan tetapi tidak sanggup. Bangkit, bangun,  terbang, terjatuh, terbang, terjatuh apalagi kalau keduanya patah, maka dia akan jatuh dan menjadi mangsa syaithon-syaithon yang akan melahapnya.

Saudaraku, saudariku yang semoga senantiasa dirahmati dan diberkahi oleh Allah F. Ketika anda dalam kandungan ibu anda, tau-tau anda seperti berada di sebuah dermaga bersiap-siap untuk memulai perjalanan. Saat anda dilahirkan perjalanan pun dimulai, maka di engah samudera kehidupan itu, ombak gelombang, badai menjadi ujian bagi anda. Menguji keteguhan iman anda, ketegaran anda meniti jalan yang lurus, menuju tujuan itu.

Kita harus faham dari mana kita memulai, dari dermaga mana kita memulai perjalanan ini. Kita harus mengerti dan faham apa tujuan yang akan kita capai. Kemudian bahtera apa yang akan kita gunakan untuk mengarungi samudera ini. Kemudian apa bekal kita di tengah perjalanan.

Kita diciptakan oleh Allah tabaroka wata’ala dan tujuan kita adalah Allah F, kita hidup hanya untuk Allah tabaroka wata’ala, hidup dan mati kita semuaya adalah untuk Allah tabaroka wata’ala. Ketakwaan yang merupakan islam secara keseluruhan menjadi bekal kita dalam mengarungi samudera. Al-qur’an dan sunnah adalah bahtera yang akan membawa kita.

Mari saudaraku, arungi samudera kehidupan dengan penuh cinta kepada Allah F, dengan rodja dan khouf yang menjaga keseimbangan kapal anda. Dengan bekal ketakwaan, berhati-hati dalam kehidupan. Kesabaran, ketegaran dan keistiqomahan dalam menghadapi ujian dan cobaan, berpandukan kepada ilmu yang bersumber dari kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Mudah-mudahan perjalanan anda akan dijaga oleh Allah tabaroka wata’ala. Mudah-mudahan gelombang, badai di lautan akan bisa anda lalui sehingga akhirnya ketika pertama kali kaki anda menjejak surga saat itu anda akan beristirahat menikamati buah dan hasilnya, melihat wajah Allah F di surga.

Walhamdulillahi robbil alamin

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

* Supported by Lafdzi

Durasi: 00:07:00
Pencatat: Khoir Bilah on 09 November 2016
Editor: Abu Ahmar

Kapan Jadi Bid’ah? – Ustadz Riyadh bin Badr Bajrey.

Sering kita dengar para ahli ilmu memperingati kita dari hal-hal yang disifatkan oleh mereka, “Bid’ah”. Sering mereka memperingatkan kita. Bahwa jangan mengamalkan amaln itu bahwa itu bid’ah, bahwa itu bid’ah.

Dan sering sekali timbul di dalam benak kita pertanyaan. Apakah segala sesuatu yang tidak ada contohnya dari Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam maka harus kita hukumkan bid’ah?

Dan selalukah yang namanya bid’ah demikian terlarang dan sesat?

Dan kapan menghukumi sesuatu itu adalah bid’ah yang memang sesat dan terlarang,  Tidak boleh dilakukan?

Kapan menghukumi sesuatu bahwa itu adalah itu adalah bid’ah yang memang di perbolehkan?

Yang pertama yang perlu kita ketahui bahwa yang dihukumkan bid’ah oleh para ulama adalah hal-hal yang memiliki keterkaitan dengan agama. Misalnya, dari sisi bentuk-bentuk ritual, ibadah dan lain-lain atau bentuk-bentuk keyakinan, aqidah dan lain-lain yang tidak ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Hal-hal demikianlah yang sering dihukumi para ulama dengan hukum bid’ah.

Bukankah banyak hal yang berkaitan juga  dengan agama, namun tidak ada pada masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam namun kita tidak menghukumi bid’ah seperti penggunaaan teknologi dan lain-lain untuk berdakwah. Misalnya mikrofon untuk berdakwah, untuk mengkomandangkan adzan dan lain-lain. Atau penggunaan pesawat terbang untuk pergi haji atau umroh dan lain-lain ini hal-hal yang ada keterkaitanya dengan agama namun tidak di contohkan oleh Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam. Apakah ini juga kita hukumi bid’ah?

Maka coba kita fahami hal ini dengan kaidah yang indah yang di berikan, yang pernah disampaikan oleh Syaikh Zaid Ruslan hafidzallah tentunya dari kitab-kitab para ulama salaf rohimakumullah dihimpunnya hal ini seperti kitab Al-Imam Asysyathibi rohimahumullah yang berjudul Al I’tishom dan lain-lain.

Ada tiga sifat yang kita harus nilai pada suatu hal sehingga kita dapat menghukumnya apakah hal itu bid’ah atau tidak:

  1. Apakah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mampu melakukannya?
  2. Adakah kondisi atau situasi pada masa Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam yang mendorong dia untuk melakukan hal tersebut?
  3. Adakah riwayat dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang menegaskan dengan shahih bahwasanya Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, melakukan hal itu sedemikian rupa?

Coba kita pahami kaidah ini. Hukumkan sesuatu hal yang kita hukumkan bid’ah. Misalkan membaca Al-fatihah (mengirimkan bacaan Al-fatihah) untuk yang meninggal. Maka bagaimana menghukumkannya? Coba lihat.

  1. Apakah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mampu membaca Al-fatihah? Tentunya jawabannya adalah mampu,
  2. Adakah situasi dan kondisi yang menuntut Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengirimkan Al-fatihah kepada individu-individu tertentu? Tentunya ada. Para sahabat yang mati berjuang membela Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sahabatnya sepantasnyalah Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam mengirimkan Al-fatihah kepada mereka sebagai bentuk kemuliaan Rasul kepada mereka. Setelah itu semua adakah ada.
  3. Adakah atsar, riwayat yang shahih bahwa Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam mengirimkan Al-fatihah kepada mereka? maka jawabannya adalah tidak ada Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan hal tersebut. Maka kita hukumi hal tersebut, ibadah tersebut sama dengan bid’ah.

Demikian pula membacakan yasin untuk yang telah meninggal pada hari-hari tertentu, pada hari ketujuh, hari ke empat puluh setelah meninggalnya seseorang. Bagaimana kita menghukumi hal ini kembali dengan kaidah yang tadi:

  1. Apakah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mampu membacakan Yasin? Tentunya ya. Rasul mampu membaca surat Yasin.
  2. Apakah ada orang-orang yang pantas Rasul yasinin/bacakan atasnya surat yasin setelah mereka mereka meninggal? Tentunya iya. Para sahabat ridwanallaha ‘alaihim ajmain yang mati membela agama ini, membela Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam dan dakwah ini.
  3. Adakah riwayat shahih yang mengatakan bahwa Rasul membacakan yasin untuk mereka? Maka jawabannya tidak ada sama sekali. Apalagi membacakan yasin di hari-hari tertentu, seperti hari ketujuh, hari ke empat puluh, hari seratus kematian.

Demi Allah hal ini tidak ada sama sekali, riwayat yang menyatakan bahwa Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan hal tersebut, melakukan hal tersebut. Maka kita hukumkan hal tersebut bid’ah.

Namun ada beberapa kasus yang dimana kita hukumkan hal itu tidaklah menjadi bid’ah yang kita larang dalam artian bid’ah dari sisi bahasa, hal yang baru. Namun di perbolehkan, dikarenakan tidak melanggar kaidah dan ketetapan-ketetapan agama.

Contohnya:

Kita bicarakan tentang misalnya mikrofon yang digunakan untuk adzan (mengkomandangkan adzan) terapkan tadi 3 syarat tadi:

Yang pertama, apakah Rasul saw dan para sahabatnya mampu membuat mikrofon maka jawabanya adalah tidak karena keterbatasan teknologi yang ada pada saat itu. Maka penggunaan hal tersebut tidaklah kita hukumkan bid’ah. Karena kenapa? Itu bukan hal yang kita bahas, yang kita sedang bahas dan kita hukumkan bid’ah adalah hal-hal toh Rasul dan para sahabatnya mampu lakukan namun setelah itu semua mereka tak melakukannya tidak melakukan sedemikian rupa sebagaimana dilakukan oleh kaum muslimin sekarang yang mengaku mengikuti sunnah Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Begitu pun pesawat terbang yang kita gunakan untuk perjalanan umroh atau haji, apakah itu menjadi bid’ah apabila kita mau murni mengikuti Rasul dan para sahabatnya bukankah kita harus menaiki onta ke mekkah untuk menjalankan umroh kita atau haji kita maka hukumkan dengan kaedah tadi… Apakah Rasulullah saw mampu membuat pesawat terbang, Apakah para sahabat mampu membuat pesawat terbang sedemikian rupa?? Tentu jawabannya adalah tidak. Maka ini bukanlah hal yang sedang kita bahas, ini diluar pembahasan kita, hal-hal tersebut teknologi kemajuan zaman diperbolehkan oleh Allah swt didalam syaria’atnya apabila hal tersebut tidak melanggar kaedah-kaedah, ketetapan-ketetapan yang ada. Tidak terjadi di dalamnya penipuan, tidak terjadi di dalamnya kedzoliman, tidak terjadin di dalamya mudharat dan lain-lain. Yang ada malah mempermudah usaha manusia dalam melakukan kegiatan-kegiatan, maka hal-hal tersebut diperbolehkan…

Kemudian ada beberapa jenis amalan yang kedua yang apabila Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya pun Rasul mampu melakukannya namun Rasul tidak lakukan namun kita pada zaman sekarang melakukannya dan kita tidak juga menghukumi bid’ah.

contohnya: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada umul mukminin ‘aisyah Radhiallahu 'anhu,

لولا حِدْثانُ قومِكِ بالكفرِ لَهدَمْتُ الكعبةَ وبنيتها على قواعد إبراهيم

07:59 laula hinsanu qoumiki bi kufr lahadamtul kabah wa bainatuha ‘ala qowaida ibrahim

“Kalau bukan karena kaummu baru saja kafir kemarin yakni belum lama mereka berada di islam, belum terlau kuat aqidah mereka niscaya aku akan hancurkan ka’bah dan aku kembali bangun sesuai dengan pondasinya Nabi Ibrahim 'Alaihi salaam

Dimana Nabi Ibrahim 'Alaihi salaam membuat ka’bah jauh lebih besar bentuknya dibandingkan ka’bah yang ada zaman rasul dikarenakan pada saat itu ka’bah hancur dan di bangun kembali oleh kaum quraisy namun kekurangan dana akhirnya mereka membangunnya lebih kecil dari pondasi yang dibuat oleh nabi Ibrahim 'Alaihi salaam

Rasul berkata kepada Ummul mukminin ‘Aisyah, “Andai saja kaum belum lama kafir kemarin yakni belum terlalu kuat aqidahnya di dalam islam niscaya aku akan hancurkan ka’bah dan aku akan bangun kembali sesuai dengan kaidahnya atau pondasinya nabi Ibrahim 'Alaihi salaam”.

Kalau lihat betapa situasi dan kondisi yang ada pada zaman rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Menahannya untuk melakukan hal tersebut, menghindari kemudharotan yang terjadi lebih besar. Padahal rasul mampu kalau dia mau lakukan, Rasul mampu hanya untuk membangun tembok  ka’bah, mampu. Namun tidak rasul lakukan.

Kemudian dilakukanlah sepeninggal Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam yang pertama oleh Abdullah ibnu Zubair Radhiallahu 'anhu ketika dia menjadi khalifah di makkah akhirnya dia memutuskan menghancurkan ka’bah dan membangun kembali sesuai dengan pondasi nabi Ibrahim 'Alaihi salaam meneruskan apa yang rasul saw niatkan dimasa hidupnya. Terlihat dalm hal ini rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mampu melakukannya namun dia tidak melakukannya namun apabila dilakukan di masa setelahnya maka tidak juga menjadi bid’ah.

Kerena kenapa? Di karenakan situasi dan kondisi yang ada di zaman Rasul belum tepat untuk melakukannya dan hal tersebut lebih tepat dilakukan di masa-masa setelahnya ketika aqidah pada umat telah menancap kuat. Begitu pun banyak hal lain sepeti  hal yang kita lempar ketika haji yang kita kenal dengan nama jumroh. Pada zaman dahulu kala jumroh tersebut hanya sebuah tiang dan sekarang jumroh tesebut berupa tembok bangunan yang megah.

Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam apabila pada masanya  ingin merubah tiang tersebut menjadi sebuah tembok rasul mampu melakukannya, membangun tembok bukanlah hal yang tidak mampu dilakukan oleh umat-umat terdahulu. Namun rasul tidak merubah jumroh tersebut menjadi tembok bagaimanapun.

Dikarenakan apa? Syarat yang kedua tadi. Situsi dan kondisi dizaman rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam belum menuntut. Rasul dan para sahabat untuk melakukan hal tersebut. Jumlah kaum muslimin masih sedikit sehingga satu tiang itu sudah cukup sebagai sasaran lemparan jumroh. Terbayangkah apabila kita paksakan satu tiang ini tetap kita gunakan untuk jumlah kaum muslimin yang ada dan melaksankan haji tahun ini. Apa yang terjadi? Maka mudhorot yang lebih besar akan terjadi, maka pada saat itu tidaklah kita hukumi bid’ah ketika para pengusaha yang ada merubah tiang yang dilempar untuk jumroh ni menjadi tembok yang besar sebagaimana yang kita lihat di masa ini.

Semoga kaidah-kaidah yang kita sampaikan ini dapat membuat atau dapat membantu kita memahami agama ini dengan baik.

Durasi: 00:11:42
Pencatat: Khoir Bilah on 08 November 2016
Editor: Abu Ahmar