Posted in Hikmah

Bahagia Ketika Sakit – Ustadz Ammi Nur Baits

Mungkin anda sering mendengar kata pepatah “tiada gading yang tak retak”, pepatah yang terkenal dimasyarakat kita, sebagaimana gading tidak ada manusia yang tidak pernah sakit saya, anda, dia, mereka siapapun dia pasti pernah merasakan sakit.

 

karena itu sebenarnya bukanlah sakit yang menjadi masalah terbesar bagi kita namun yang lebih penting untuk kita perhatikan adalah bagaimana kita bisa menjadi hamba yang baik ketika sakit karena sakit itu pasti, sementara bagaimana cara melakukan yang terbaik ketika sakit itu kembali kepada pilihan kita.

 

Kita bisa mendapatkan banyak pahala ketika sakit, sebaliknya sakit yang kita alami menjadi sebab munculnya dosa. Mari kita ingat sabda Nabi SAW beliau pernah mengatakan,

 

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla ketika mencintai suatu kaum Dia akan menguji mereka, menguji dengan musibah, siapa yang ridho dengan musibah itu dengan ujian Allah, maka Allah SWT akan ridho kepadanya. Sebaliknya siapa yang marah dengan musibah itu maka dia akan mendapatkan murka dari Allah SWT” (HR.Ahmad dan Tirmidzi)

 

Mari kita perhatikan hadits di atas, Allah SWT jadikan musibah sebagai sebab ujian bagi manusia karena itu sesungguhnya ujian yang Allah berikan kepada para hambaNya hakikatnya didasari kecintaan Allah SWT kepada hambaNya karena seorang hamba akan bisa mendapatkan derajat yang lebih tinggi ketika mereka mendapatkan ujian dan mampu bersabar terhadap ujian tersebut. Sebaliknya ketika kita tidak bersabar dia akan mendapatkan balasan yang sebaliknya.

 

namun ada dua sikap manusia yang berbeda ketika mereka mendapatkan musibah, ada yang memahami musibah itu dengan baik sehingga dia bisa ridho terhadap ujian yang Allah berikan.

 

bagaimana caranya?

Dia berkeyakinan bahwa ujian itu adalah sumber pahala baginya sehingga dia tidak sama sekali merasa telah didzolimi oleh Allah, merasa telah dihina oleh Allah disaat itulah Allah akan memberikan keridhoan dan pahala yang besar baginya karena dia husnudzon kepada Allah (berbaik sangka kepada Allah).

 

Sebaliknya ada orang yang menyikapi  musibah itu dengan cara yang salah, dia menganggap sakit ini adalah kedzoliman, ketidak adilan dari Allah ‘azza wajalla, mengapa dia sakit sementara orang lain tidak sakit.

 

mereka tidak bisa mendapatkan kenikmatan atau mengapa dia tidak bisa mendapatkan kenikamatan hidup sementara tetangganya bisa mendapatkan kenikmatan, dia marah, dia tidak sabar dengan musibah yang di alaminya, dia su’udzon kepada Allah ‘azza wajalla, sebagai hukumannya Allah ta’ala justru murka kepadanya.

 

Bapak ibu saudara yang budiman, satu pertanyaan yang patut kita renungkan bersama ketika orang itu marah atau jengkel dengan musibah yang dia derita apakah dengan marahnya itu akan bisa menghilangkan musibahnya? Atau misalnya kita bawa pada kondisi orang sakit, ketika orang sakit itu merasa marah atau dia jengkel dengan musibah sakitnya apakah dengan itu dia bisa cepat mendapatkan kesembuhan? Kita sangat yakin yang terjadi justru sebaliknya.

 

Mereka yang marah ketika sakit, tidak ridho dengan sakit yang dideritanya akan semakin memperparah sakitnya, kenapa? Dia sakit dua kali, dia sakit badannya dan juga sakit batinnya, sakit dua kali sakit lahir dan batin.

 

Mari kita simak bagaimana kondisi Rasulullah SAW  ketika sakit, sahabat Abu Sa’id Al-Khudri RA pernah mengunjungi Rasulullah SAW yang kala itu beliau sedang sakit, ketika sahabat(Abu Sa’id) meletakkan tangannya dibadan Nabi SAW ternyata beliau merasakan panas yang luar biasa, Nabi SAW sedang sakit parah sampai badan beliau panas semacam ini kemudian Nabi SAW bersabda:

“Sesungguhnya kami para Nabi diberi ujian yang sangat berat tujuannya agar kami mendapatkan pahala yang dilipatgandakan”

 

Mendengar ini sahabat(Abu Sa’id) pun bertanya ya Rasulullah siapakah manusia yang paling berat ujiannya didunia ini? Kata Rasulullah SAW beliau menjawab:

“Ujian ynag paling berat adalah mereka yang bersatu sebagai para Nabi dan orang-orang sholeh, sungguh diantara mereka ada yang diuji dengan kemiskinan sampai harta yang tertiggal hanya baju yang dia pakai, ada juga yang diuji dengan kutu dibadannya dan rambutnya sampai kutu itu membunuhnya. Sungguh para Nabi dan orang-orang sholeh itu mereka lebih berbangga dan berbahagia dengan ujian yang mereka derita melebihi kebanggaan kalian ketika kalian mendapatkan rizki” (Hadits shohih riwayat Abu Ya’la dan Baihaqi)

 

Seperti itulah yang diajarkan Nabi SAW dan orang sholeh, mereka bisa berbahagia ketika sakit bahkan lebih bahagia dibandingkan manusia biasa ketika mendapatkan kenikamatan, mereka lebih gembira dengan ujian yang dideritanya melebihi kegembiraan orang yang baru saja mendapatkan banyak harta karena mereka mayakini sakit adalah sumber pahala baginya.

 

Kita bisa simak kisah yang lain, ketika sahabat(Sa’ad bin Abi Waqqosh RA) pada saat diusia tua beliau, beliau pernah dating ke Makkah matanya sudah buta, melihat kedatangan Sa’ad masyarakat berdatangan dan menyambutnya karena beliau seorang sahabat, seorang ulama dan mereka meyakini Sa’ad bin Abi Waqqosh adalah orang yang do’anya sangat mustajab seperti yang disabdakan Nabi SAW ,

Maka satu demi satu orang meminta dido’akan oleh Sa’ad bin Abi Waqqosh sampai akhirnya datang seorang pemuda yang bernama Abdullah bin Sa’ib beliau memperkenalkan diri kepada Sa’ad bin Abi Waqqosh saya Abdullah bin Sa’ib, setelah berkenalan kemudian Abdullah bertanya keheranan wahai pamanku, anda mendo’akan banyak orang karena do’a itu mustajab namun mengapa anda tidak berdo’a meminta kebaikan untuk diri anda sendiri? Sehingga Allah SWT mengembalikan penglihatan anda.

Mendengar ucapan ini Sa’ad tersenyum kemudian beliau mengatakan:

“Wahai anakku keputusan Allah, takdir Allah aku menerima takdir Allah terhadapku itu lebih indah dibandingkan mataku”

 

Beliau lebih bangga bisa bersabar menerima takdir dari pada Allah kembalikan penglihatannya, itulah para sahabat, orang-orang sholeh, Nabi SAW dan para sahabat mereka bangga dengan sakitnya dan musibah yang mereka derita, insya Allah kitapun bisa melakukannya, bebahagia ketika mendapatkan musibah , bebahagia ketika sakit, tinggal saatnya mulai sekarang kita melatihnya, semoga bermanfaat.

 

Durasi: 00:09:33
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 06 May 2016
Editor:
Scroll to top
Shares
%d bloggers like this: