Nikmatnya Di Ghibah – Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc.

Saudaraku yang dirahmati Allah swt. Pernahkah kita dikunjing oleh seseorang dicaci oleh seseorang , dicela oleh seseorang atau mungkin di fitnah oleh seseorang, mungkin orang tersebut hanya berani berbicara di belakang kita atau mungkin dihadapan kita. Kira-kira apa komentar kita dan respon kita ketika kita di gunjing dan di ghibahin oleh orang.

 

saya rasa kita sudah bisa menerka banyak diantara kita yang marah yang mengumpat, yang menunjukkan kekecewaannya karena merasa di tikam dari belakang saat ini di gunjing atau dighibahin oleh teman atau sahabatnya. Bahkan ada diantara kita  ada yang mendatangi rumah tersebut dan melabraknya.

 

kita luapkan emosi kita dan kekecewaan kita di hadapan dirinya. Bahkan banyak diantara kita berupaya membuat skor menjadi 1-1.

 

Kita gunjing dia di beberapa tempat pergaulan kita. Kita sebutkan aib-aibnya sebagaimana dia menyebutkan aib kita. Kita umbar kejelakan-kejelekannya, rahasia-rahasianya yang selama ini kita simpan…. sebagaimana dia mengungkapkan rahsia-rahasia kita.

 

…. itulah yang mungkin terjadi di masyarakat kita pada saat-saat ini. Tahukah kita? Bahwa menjadi korban gunjingan orang, fitnahan orang, itupun dialami oleh para ulama kita.

 

Mari kita simak bagaimana respon kita!

Salah satu catatn sejarah sejarah yang menarik dalam masalah ini apa yang yang terjadi dan dia lamai hasan al bashri suatau ketika ada yang memberikan laporan ke beliau bahwa ada yang menggunjing dan mengghibahin beliau di belakang beliau.

 

Apa yang beliau lakukan, apa yang dilakukan hasan al- bashri. Apakah beliau langsung marah? Beliau langsung meluapkan emosinya, beliau langsunga melabrak orang tersebut? Ternyata tidak!

 

Yang  beliau lakukan adalah beliau siapkan sepiring kurma. Lalu ia kirimkan ke orang  yang menggunjing beliau tersebut. Lalu ketika berhadapan pengunjing, penggibah.

 

Beliau mengatakan,

Telah sampai berita kepada diriku bahwa engkau telah menghibahkan dan memberikan sebagian pahalamu kepada diriku, jazakallahu khairon (semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan balasan kepada dirimu yang banyak) dan aku berikan kepada dirimu sepiring kurma sebagai hadiah karena aku ingin membalasmu. Dan tolong maafkan diriku apabila aku tidak bisa memberikan balasan sebagaimana yang engkau berikan pada diriku.

 

Apa maknanya?

Al hasan al bashri meminta maaf kepada orang tersebut. Mohon maaf saya tidak bisa membalas  pahala engkau dengan pahala serupa. Saya tidak bisa menghadiahkan pahala saya sebagaimana engkau menghadiahkan pahalamu kepada diriku. Allahu Akbar…

 

Dighibahi, digunjing, difitnah bukannya malah marah dan mengamuk justru menyiapkan sepiring kurma untuk di hadiahkan kepada orang yang menggibahi orang tersebut.

 

Sudahkah iman kita, keyakinan kita, pemahaman kita sampai pada derajat seperti itu. Mungkin ada yang berkata, apakah beliau masih waras ustadz? Beliau sangat waras dan inilah sebuah contoh dari kecerdasan, keimanan seseorang. Kecerdasan emosional seseorang. Pada saat itu yang ada di benak beliau  sabda nabi salallahu ‘alaihi wa sallam, ketika nabi salallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda ( dalam hadits riwayat Imam muslim, seraya bertanya kepada para sahabat) :

 

“Tahukah kalian wahai para sahabatku, siapakah orang yang paling bangkrut? “

 

para sahabat langsung merespon dan menjawab,

 

Orang yang bangkrut di tengah-tengah kami orang yang tidak memiliki dirham dan perhiasan. Orang yang tidak punya harta, hartanya habis karena sebuah kegagalan dalam bisnis misalnya.

 

Lalu nabi salallahu ‘alaihi wasallam meluruskan pemahaman tersebut apabila dikaitkan dengan agama. Nabi kita salallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

 

“orang yang bangkrut dari umatku  yaitu orang yang datang pada hari kiamat nanti, membawa pahala sholat, pahala puasa, pahala zakat. Dan pada saat yang bersamaan ia datang di hari tersebut  dengan membawa dosa telah mencela seseorang, telah menuduh seseorang tanpa bukti, telah mengambil harta orang dengan cara yang haram, telah menumpahkan darah seseorang, dan telah memukul dan menyakiti seseorang. Lalu Allah swt mengambil pahalanya untuk Allah berikan kepada korban-korbannya.

 

Ia punya pahala sholat ia berikan kepada orang yang ia gibahi di dunia. Pahala puasanya Allah berikan kepada orang yang ia fitnah di dunia. Pahala zakatnya Allah berikan kepada orang yang hartanya diambil olehnya. Korban-korban kedzolimannya mendapatkan pahala darinya. Lalu nabi melanjutkan sabda tersebut dan apabila pahalanya sudah habis, namun korban-korban kedzolimannya itu masih ada, masih banyak apa yang terjadi berikutnya, lalu dosa-dosa korban tersebut dilimpahkan oleh Allah pada dirinya, sehingga dia penuh dengan dosa dan kehabisan pahala.

 

Dan pada akhirnya dilemparkan di dalam api neraka… naudzbillah min dzalik.

Inilah hadits yang dipahami oleh para ulama dan bukan hanya dipahami namun mereka  meletakkan di dalam sanu bari mereka dan mereka bumikan di dalam kehidupan mereka. Mereka tidak marah ketika dighibahi, mereka tidak marah ketika difitnah, bahkan mereka bersyukur kepada Allah swt.

Abdurrahman bin Mahdi pernah mengatakan,

 

Kalau saja aku tidak membenci bahwa ada unsur kemaksiatan kepada Allah, kalau saja aku tidak membenci Allah dimaksiatin maka aku sangat berharap. Seluruh orng di negeri ini membicarakan diriku, memfitnah diriku dan menggibahi diriku. Allahu Akbar!

 

Abdurrahaman bin Mahdi mengatakan demikian,

Saya sangat berharap seluruh orang menggunjing diri saya, saya sangat berharap semua orang memfitnah diri saya kalau tidak ada unsur kemaksiatan kepada Allah, tapi aku benci Allah di maksiati dengan cara seperti itu. maka aku tidak berharap demikian.

 

Kenapa demikian? saudaraku yang dirahmati Allah.

Karena mereka faham dan mereka yakin setiap gunjingan, setiap fitnahan itu sama saja mentransfer pahala untuk diri mereka. Mereka mendapatkan pahala orang tersebut, tanpa bersusah payah. Mereka akan mendapatkan pahala puasa. Pahala zakat, pahala sedekah tanpa harus beramal dengan diri mereka sendiri dan kalau pemfitnah atau penggibah tersebut tidak memiliki pahala. Maka kita sebagai korban mereka akan mentransfer dosa-dosa kita kepada pengunjing, penggibah dan pemfitnah tersebut.

 

jika kita benar-benar faham hakekat dan fakta ini. Apakah masih ada alasan untuk marah, Apakah masih ada alasan untuk kecewa,. Apakah masih ada alasan untuk meluapkan emosi bahkan mengumpat atau bahkan berusaha mengubah skor menjadi satu sama.

 

Renungkanlah…

Resapilah…

Agar kita benar-benar faham masalah ini dan terakhir bagi para penggibah, para pemfitnah, bertaubatlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kenapa anda memfitnah seseorang? Karena anda benci dia, kira-kira mau tidak anda memberikan uang anda kepada orang yang anda benci. Tentu saja jawabanya tidak.

 

Kalau anda tidak mau memberikan uang anda kepada orang yang anda benci. Kenapa anda dengan mudahnya memberikan pahala anda kepada orang yang anda benci, kenapa anda dengan mudahnya memberikan ganjaran-ganjaran dari amal ibadah anda kepada orang yang anda benci. Dan mengapa anda mempertaruhkan sehingga orang tersebut memberikan dosa dia kepada kita. Allahu Akbar…

 

Renungkanlah…

Mulai sekarang cegahlah diri kita agar tidak menggibah orang dan memfitnah orang. Dan apabila kita sudah terlanjur beristighfarlah dan bertaubatlah kepada Allahu azza wa jalla.

 

Semoga nasehat kali ini bermanfaat. Untuk si pembicara pribadi khususnya maupun yang mendengarkan dan menyaksikan secara umum!

 

Durasi: 00:12:42
Pencatat: Khoir Bilah on
Editor: