Posted in Aqidah, Hikmah, Kisah
Comments Post a Comment

Tausiyah Singkat: Prioritas Tauhid Dalam Dakwah – Ustadz Riyadh Badr Bajrey

u

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh,

Ikhwani wa Akhwatu rahimahumullah,

Diantara sunnatullah atas alam semesta ini adalah dimana Allah subhanahu wata’ala akan selalu jadikan perselisihan dan pertikaian diantara manusia. Demikian memang Allah subhanahu wata’ala dengan itu jaga alam semesta. Hal ini yang pernah kita jelaskan dan kita namai dengan sunnah tadafuu.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

xxx

Kalau bukan karena Allah subhanahu wata’ala benturkan manusia satu sama lain niscaya muka bumi akan hancur. Maka benturan yang terjadi antara manusia, diantara mahluk-mahluk yang bernama manusia ini memang sengaja Allah subhanahu wata’ala jadikan yang dengannya itu semoga terjagalah keseimbangan alam semesta. Allah jadikan segala hal yang terjadi dengan segala hikmah-Nya, baik kita pahami ataupun tidak kita pahami hikmah tersebut.

Kemudian, Allah subhanahu wata’ala pun menegaskan apabila Allah subhanahuwata’ala inginkan agar manusia bersatu, maka Allah akan jadikan demikian. Namun, tidak demikian memang kehendak Allah pada alam semesta-Nya ini yang kita kenal dengan nama iradah kauniyah atau qadarullah kauniyah. dimana Allah subhanahu wata’ala berfirman :

xxx

“Andai saja Tuhanmu inginkan niscaya Dia akan jadikan manusia satu umat untuk satu kesatuan. Namun, yang ada niscaya mereka akan selalu berselisih satu sama lainnya, kecuali orang – orang yang dirahmati oleh Rabmu oleh Tuhanmu”.

Demikian pula akhirnya dimasa ini kita menghadapi golongan-golongan sesat. Golongan-golongan yang membahayakan bagi kita para ahlul islam, ahlussunnah yang memperjuangkan tauhid yang memperjuangkan sunnah Rasulullahi shalallahi ‘alaihi wassalam. Demikian pula kaum – kaum sebelum kita menghadapi hal tersebut, kesesatan dan para musuh islam. Kemudian juga ahlul sirk yang menghadapi para ahlul tauhid. Yang memerangi mereka yang mencelakakan mereka bahkan membuhuni mereka. Demikian memang sunnatullah atas alam semesta. Namun, Allah subhanahu wata’ala telah memberikan solusi kepada kita untuk mengatasi hal itu. Yaitu, adalah agar kita bersabar menghadapi hal itu. Sabar dengan segala aspeknya, sabar untuk tetap menjalankan apapun yang Allah perintahkan, walapun terasa berat di hati. Sabar untuk tetap meninggalkan apapun yang dilarang oleh Allah subhanahuwata’ala kalaupun hati kita menginginkan hal itu. Dan juga sabar untuk menerima apapun yang Allah tentukan atas kita walapun tidak sesuai dengan keinginan kita.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

xxx

Andai saja kalian bersabar dan terus bersabar kemudian kalian bertaqwa yakni lakukan apapun yang Allah perintahkan atas mu dan jauhi apa yang dilarang-Nya. Niscaya, maka tipu daya propaganda mereka sebesar apapun tidak berefek kepada kalian. Selama kalian bertahan diatas hal tersebut.

Maka, bersabarlah. Untuk terus mencara pengetahuan mencari hidayah tentang apa yang seharusnya kau yakini dan kau praktekkan sebagai seorang muslim, sebagai seorang ahlussunnah. Sibukkan dirimu dengan itu, terapkan ilmu – ilmu itu didalam kehidupanmu. Serulah istri dan anak-anakmu kepada tauhid, kepada sunnah. Dan janganlah kita menyibukkan diri dengan pergerakan-pergerakan musuh islam dan para ahli-ahli kesesatan. Seperti syiah, khawarij, mu’tazilah yang tidak akan pernah mereka berhenti memusuhi islam. Jangan kita teralihkan perhatian dan kesibukkan kita dengan hal-hal demikian. Sementara kita teralihkan dari kewajiban kita yang inti, yaitu untuk apa mempelajari ISLAM, mengenal Allah, mengenal rosul-Nya dan mengenal agama-Nya dan mempraktekkannya di dalam kehidupan.

Kami sampaikan hal ini dikarenakan sering kali berangkat dari kecintaan kaum muslimin terhadap agamanya dan berangkat dari rasa bela kaum muslimin terhadap agamanya. Kemudian mereka begitu mengkhawatirkan dan memberikan perhatian yang besar terhadap golongan sesat yang bernama Syiah. Sehingga akhirnya mereka sering kali membahas dan membicarakan hal tersebut mengadakan pertemuan-pertemuan untuk membicarakan tentang kesesatan kesesatan tersebut. Namun, semangat mereka untuk menuntut ilmu, untuk mengetahui apa yang seharusnya mereka ketahui dan mengamalkan apa yang seharusnya mereka amalkan, tidak sebesar semangat mereka untuk membahas tentang kesesatan tersebut.

Apalagi kemudian hal itu sampai menimbulkan kekhawatiran yang luar biasa, sehingga mendorong memprovokasi kaum muslimin untuk melakukan tindakan-tindakan preventif atau tindakan-tindakan balasan terhadap syiah dan golongan-golongan lain yang dimana tindakan pencegahan dan balasan ini pun adalah dengan cara yang tidak dibenarkan oleh syariat islam. Dengan penggalangan suara yang demi Allah, gaya demikian hanya datang dari kafir tidak diajarkan oleh syariat islam. Dengan demonstrasi yang demi Allah, diajarkan oleh kafir, tidak diajarkan oleh syariat islam. Juga dengan bersatu mengedepankan kata-kata persatuan dan mengkebelakangkan perbedaan tauhid, bersatulah sebagian kita dengan ahlul bid’ah dengan orang-orang yang memusuhi sunnah, memusuhi tauhid hanya demi untuk menyatukan pergerakan mereka dalam rangka menghadapi syiah tersebut.

Ini sebuah kekeliruan yang sangat fatal, kalaupun berangkat dari niat yang baik. Dari sense of belonging yang ada, dari rasa kepemilikan kaum muslimin terhadap agamanya. Namun, cara tersebut keliru, tidaklah kita dibenarkan untuk bergabung menyatukan barisan kita dengan para pemuka-pemuka ahlul bid’ah yang menyerukan kepada konsep-konsepnya yang kita hukumi syirik. Seperti tawasulnya, atau menyerukan kepada bid’ah-bid’ah yang mereka kira itu bentuk pendekatan diri kepada Allah. Namun, kita lihat dan kita nilai hal tersebut adalah sebuah kesesatan.

Tidak boleh kita bersatu dengan mereka, kalaupun kita memiliki musuh yang sama dengan mereka. Demikianlah manhaj yang diajarkan oleh Rosul shalallahi ‘alaihi wassalam dan salafushaleh. Tidaklah pernah mereka mengedepankan kata persatuan sebelum mereka memperbaiki dan menyamakan tauhid. Kalimat tauhid qabla tauhid kalimah, dikerenakan persatuan diatas manhaj yang berbeda, diatas konsep yang berbeda, diatas tauhid yang berbeda hanyalah persatuan yang semu. Yang demi Allah, hanyalah mungkin terjadi walaupun terjadi persatuan tersebut selama mereka masih memiliki ‘common enemy‘ musuh bersama.

Ketika musuh tersebut tiada, maka kita akan memerangi kembali satu sama lain. Seperti contoh yang terjadi di Afganistan;

Ketika Rusia menjajah Afganistan, 14 panji ormas islam lebih bersatu dalam rangka melawan penjajah kafir Rusia. Disitu terdapat para penyembah kubur, tasawuf, para harakiyah, hizbiyah, mu’tazilah dan syiah semua bersatu dalam rangka menghadapi kafir Rusia yang menjajah mereka. Namun, ketika Rusia berhasil dihengkankan dari negeri Afganistan tersebut, apa yang terjadi yang ada ormas – ormas ini memperebutkan kekuasaan satu sama lain. Mereka merasa lebih berhak satu pihak merasa lebih berhak daripada pihak yang lain atas tanah Afganistan, akhirnya mereka memerangi satu sama lain. Dan setiap kelompok berteriak Allahuakbar.

Demikian yang Allah janjikan,

xxx

Sesungguhnya setiap kelompok akan berbangga – bangga dengan apa yang ada pada mereka. Maka, ikhwani rahimakumullah menghadapi kesesatan, menghadapi musuh islam bukanlah dengan terprovokasi, bukanlah dengan berteriak bahwa mereka sesat, demi Allah bukan.

Namun, dengan semakin bersemangat untuk mempelajari apa yang seharusnya kita ketahui dan kita praktekkan sebagai kaum muslimin. Menerapkannya didalam kehidupan, dan janganlah kau keluhkan mereka yang memusuhi sunnah, memusuhi islam, dikerenakan memang demikian tugas mereka di muka bumi untuk itu Allah jadikan mereka di muka bumi, kalau kau mau keluhkan kita keluhkan diri kita masing-masing yang tidak mau berusaha mengenal islam dengan baik dan menerapkannya didalam kehidupan kita. Kita keluhkan diri kita yang tidak menjalankan tanggungjawab kita dengan baik sebagai seorang muslim, ahlussunnah yang mengikuti Rosul shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabat salaful ummah.

Wassalamu’alaum warahmatullahi wa barakatuh.

 

Durasi: 00:10:11
Pencatat: Haris Eko Prasetyo on 12 May 2016
Editor: Abu Ahmar

Leave a Reply

Scroll to top
Shares
%d bloggers like this: