Ceramah Singkat: Tinggalkan yang Meragukan – Ustadz Badrusalam, Lc.

Tinggalkan yang meragukan kepada yang tidak meragukan. Apa itu ragu? Kapan sesuatu itu disebut dengan meragukan? Ragu artinya antara iya dan tidak nya sama-sama seimbang. Itu namanya ragu. Maka Rosululloh mengatakan :”tinggalkan apa yang meragukan kamu  kepada apa yang tidak membuat kamu ragu”.

 

Ragu, ya ketika kita ingin memutuskan apakah iya atau tidak kita tidak tau, karena antara iya dan tidak nya ternyata sama, fivety-fivety, berarti itu ragu. Kalau kita perhatikan perkara yang meragukan ini banyak sekali ya di dalam kehidupan kita.

 

Sebuah contoh,

apabila kita misalnya ragu ketika sedang sholat apakah dua atau tiga? Kita bingung apa yang harus kita lakukan ketika kita ragu itu, maka Rosululloh mengatakan :

 

”ambil yang tidak meragukan”

 

yaitu yang yakin. Yang yakin itu yang tidak meragukan. Kalau kita misalnya ragu kita sholat nya tiga atau dua .berarti yang yakin dua yang meragukan tiga berarti kita ambil yang dua, tambah satu lagi kemudian sujud sahwi  2 roka’at .

 

Ikhwatal islam a’azzaniyallohu wa iyyakum, ada beberapa perkara yang itu kita katakan masih di dalam ambang keraguan . yang pertama hadits lemah. Tahukah kita bahwa hadits lemah itu masih di ambang keraguan . dalam ilmu hadits, hadits yang lemah yang paling ringan lemahnya itu kalau ada perawi yang di sebut sayyiul hifdz, apa itu? Yaitu buruk hafalan. Kapan seorang perawi disebut buruk hafalan? Kata Al-hafidz ibnu hajar ,

 

“yaitu sisi benarnya tidak bisa mengalahkan sisi salahnya”

 

seimbang, berarti salah benarnya seimbang , ini namanya ragu. Berarti  atas dasar itu hadits lemah itu menghasilkan keraguan.

Makanya Imam bukhory dan Imam muslim mengatakan bahwa hadits lemah tidak boleh dipakai baik dalam masalah hokum, aqidah, demikian pula dalam fadhilah ‘amal mutlaq tidak boleh dipakai. Kenapa? Karena hadits lemah hanya menghasilkan keraguan. Bukankah Rosululloh SAW melarang kita mengikuti  dugaan-dugaan? Kata Rosululloh SAW :

 

”Jauhi oleh kamu dugaan, karena itu sedusta-dustanya perkataan”

 

Sedangkan hadits lemah itu hanya menghasilkan dugaan akhi,, iya hadits lemah itu hanya menghasilkan dugaan atau keraguan. Berarti hadits lemah harus di tinggalkan sama sekali. Maka pendapat yang mengatakan boleh mengamalkan hadits lemah itu pendapat yang sebetulnya tidak mempunyai dasar . hanya sebatas kehati-hatian saja tidak cukup . ya sampai sesuatu itu terangkat dari sesuatu yang sifatnya meragukan.

 

Taqlid, kalau kita mengikuti seseorang dengan tanpa dalil berarti antara ada dalil dan tidak ada dalilnya sama-sama seimbang. Kita enggak tau ketika anda mengikuti pendapat kyai kemudian kita tidak tau dalil nya apa alias taqlid membeo, maka itu tidak di sebut ilmu, kenapa? Karena taqlid itu hakikatnya masih meragukan antara ada dalil, antara tidak ada dalil masih sama-sama kuat. Makanya imam suyuthi berkata,

 

“Para ulama’ bersepakat bahwa taqlid itu bukan ilmu dan bahwasannya orang yang bertaqlid itu bukan alim, bukn ulama’”

 

Kalau dalam permasalahan-permasalahan kita selalu mengikuti yang ragu, yang ragu, bahaya untuk agama kita ya akhi,, maka kembalikan kepada yang yakin kata Rosululloh :

 

”Tinggalkan yang meragukan kamau kepada yang tidak meragukan kamu”

 

Dalam masalah ibadah para ulama’ memberikan kaidah

“Pada asalnya ibadah itu adalah tidak boleh”

kenapa? Karena ibadah itu adalah hak Allah dan Rosululloh SAW bersabda:

”barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada di atas nya perintah kami mka amalan tersebut tertolak “ berarti pada asalnya ibadah itu kenapa? Tidak boleh . nah sekarang kalau kita merasa ragu, ini ibadah di sunnahkan apa enggak? Ada yang mengatakan bid’ah, ada yang mengatakan di sunnahkan . maka jangan kita amalkan dulu. Kenapa? Karena pada asknya ibadh itu tidak boleh sampai kita mendapatkan betul-betul dalil  yang kuat, yang menunjukkan akan di perintahkannya ibadah tersebut .

 

Dalam masalah dunia, masalah dunia itu pada asalnya halal. Maka pada waktu itu jangan kita haramkan dulu sampai ada dalil yang tegas mengharamkan . kalau kita ragu ini halal apa haram kita katakan saya tidak berani mengharamkan karena saya belum menemukan dalilnya tapi saya juga belum berani untuk memakan karena di khawatirkan ini syubhat  sedangkan syubhat itu di anjurkan kita untuk meninggalkannya.

 

Kemudian akhwal isam a’azzaniyallohu wa iyyakum dalam masalah pernikahan pada asalnya kemaluan itu haram. Sesorang suami yang ragu apakah sudah menjatuhkan talaq apa  belum? kata para ulama’ pada asalnya talaq belum ada. Dalam masalah mu’amalah, pada asalnya mu’amalah itu halal tidak boleh kita mengharamkan sampai ada dali.

 

Nah, kita kembalikan kepada yang yakin, sehingga pada waktu itu kita akan merasa tenang dalam hidup kita. Ketika kita misalnya jam 11 sudah berwudhu kemudian pas masuk dzuhur  kita ragu tadi saya batal apa enggak ya? Kaya nya batal deh, kaya nya enggak deh. Maka, pada asalnya wudhu masih ada karena kita sudah yakin tadi kita sudah berwudhu. Maka kalau kita tidak berwudhu lagi, tidak mengapa .

 

Beda kalau kita misalnya sudah yakin tadi saya masuk WC saya buang air tapi setelah itu saya ragu tadi saya wudhu apa nggak ya? Maka pada waktu itu kita kembalikan kepada asalnya yang nggak yakin bahwa kita belum wudhu, Subahanallah ini sebuah kaidah yang agung ya akhul islam a’azzaniyallah waiyyakum ia menunjukkan bahwa kita didalam masalah beragama harus berdasarkan kepada sesuatu yang sifatnya berilmu bukan sesuatu yang meragukan kalau kita menuntut ilmu Allah SWT kitapun seharusnya demikian tidak mencukupkan diri hanya dengan sebatas membeo dan membeo dan membeo mengikuti pendapat tanpa kita mengetahui dalilnya karena taqlid itu sudah saya sebutkan masih pada kategori yang meragukan bisa jadi ada dalilnya dan bisa jadi tidak ada dalilnya.

 

Akhul islam a’azzaniyallah waiyyakum ketika kita dihadapkan pada permasalahan dimasyarakat kita, kita ragu mana yang bener sih? Yang ini apa yang itu? Keraguan itu akibat daripada ketidak tahuan kita, keraguan itu muncul akibat daripada kurangnya keilmuan kita akhirnya kita jadi ragu-ragu, saya yakin kalau kita ilmunya sudah banyak sudah faham tentang permasalahan tersebut kita tidak akan ragu lagi, tapi ketika keilmuan kita kurang atau keilmuan kita terbalik akhirnya pada waktu itu keraguan itu terus menghantui hati kita

 

Yaitulah sebabnya banyak orang yang merasa bingung ketika dihadapan para fenomena ini masing-masing mengaku dirinya diatas kebenaran, akhirnya dia merasa bingung mana sih diatas kebenaran ini, siapa yang benar? Semua mengaku dirinya benar, kita katakan:

 

”Tinggalkan yang meragukan dengan cara apa? Nuntut ilmu”

 

Cari teraturnya bagaimana pendapat ulamanya penafsirannya dalilnya dari Alqur’an dan Hadits Nabi SWA sehingga kita beragama betul-betul diatas keyakinan bukan berdasarkan kepada sesuatu yang meragukan, tinggalkan yang ragu ambil yang tidak meragukan.

 

Durasi: 00:10:23
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 29 April 2016
Editor:

Leave a Reply