Lemah vs. Lemah Siapa yang Menang? – Ustadz Abdullah Zaen, MA.

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakaatuh.

 

Saya yakin semua dari kita pernah mengucapkan ta’awaudz, yaitu ungkapan ‘Auudzubillahiminasyaithoonnirroziim, dan saya yakin semuanya sudah hafal dan kalo ditanya tentang artinya sekilas mungkin banyak yang sudah tahu.

 

‘Auudzubillahiminasyaithoonnirroziim, aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan atau syaitan yang terkutuk, tapi sudahkah kita mendalami makna dari kalimat yang mulia ini? Kemudian sudahkan kita mengetahui kenapa kita diperintahkan oleh Allah subhanahuwata’ala untuk memohon perlindungan kepadanya, apakah syaitan adalah makhluk yang kuat sehingga kita perlu bantuan Allah subhanahuwata’ala, kalo memang syaitan makhluk yang lemah kenapa kita perlu meminta bantuan Allah subhanahuwata’ala? Inilah yang in syaa Allah akan sedikit kita kupas pada kesempatan yang berbahagia kali ini.

 

Pertanyaan pertama tentunya adalah kenapa kita minta perlindungan sama Allah, apakah syaitan adalah sosok makhluk yang begitu kuat sehingga kita perlu untuk meminta perlindungan kepada Allah, kalo memang syaitan itu makhluk yang lemah terus kenapa kita tidak mengandalkan kekuatan diri kita saja, kalo misalnya anda na’udzubillahimindzaalik dirampok misalnya, anda misalnya dirampok oleh sepuluh perampok yang mana sepuluh perampok itu adalah orang yang kuat-kuat, saya yakin saat itu anda perlu bantuan, anda perlu meminta pertolongan kepada orang lain untuk menghadapi sepuluh perampok yang kuat-kuat tersebut, namun sekarang kalo misalnya ada perampok datang kepada anda dia orangnya kurus, lemah bahkan mungkin anak kecil lah katakanlah, dia anak kecil akan merampok anda dan anda tidak perlu bantuan kepada orang lain karena anda merasa bisa menangani perampok itu sendiri.

 

Syaitan adalah makhluk yang lemah, silahkan anda dalam Al Qur’an surat An Nisa ayat 76 disitu Allah subhanahu wat’ala berfirman:

 

Inna kaidasy syaithooni kaada dhoiifa

“Sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah”

 

Sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah, jadi sejatinya syaitan adalah makhluk yang lemah, syaitan adalah makhluk yang lemah, terus kenapa kita perlu bantuan dari Allah subhanahu wata’ala untuk menghadapi makhluk yang lemah tersebut, apakah kita tidak cukup dengan kekuatan yang kita miliki sendiri, mengapa kita perlu butuh bantuan Allah subhanahu wata’ala, jawabannya adalah karena kita sebagai manusia juga makhluk yang lemah, makannya dalam Al Qur’an surat An Nisa juga, dan ini menarik, surat An Nisa juga di ayat berbeda  yaitu ayat ke 28 Allah subhanahu wata’ala menegaskan:

 

Wa khuliqol insaanu dhoiifa

“Manusia itu diciptakan sebagai makhluk yang lemah”

 

Berarti syaitan lemah dan manusia juga lemah, berarti sekarang lemah versus lemah, ah kalo lemah ketemu sama lemah siapa yang menang, yang jadi pertanyaan siapa yang menang?

 

Yang menang adalah yang minta pertolongan kepada yang maha kuat yaitu Allah subhanahuwata’ala, dari sinilah kemudian Allah subhanahuwata’ala berfirman di dalam surat yang lainnya yaitu dalam Al Qur’an surat Al A’raf ayat 200, Allah subhanahuwata’ala berfirmant:

 

Wa imam yanzhugonnaka minasy syaithooni nazghun fasta’idz billaahi

 

Kata Allah subhanahuwata’ala “seandainya kalian sedang diganggu oleh syaitan maka mintalah perlindungan kepada Allah subhanahuwata’ala”

Mintalah perlindungan kepada Allah subhanahuwata’ala, kenapa kata Allah subhanahuwata’ala

Innahuu samii’un ‘aliim

“Sesungguhnya Allah subhanahuwata’ala maha mendengar dan maha melihat”

 

Jadi dalam Ayat ini Allah subhanahuwata’ala memerintahkan kita untuk meminta perlindungan kepada Allah jala wa ‘ala karena Allah subhanahuwata’ala punya kemampuan supaya kita menang melawan syaitan kita harus minta perlindungan dan pertolongan serta bantuan dari dzat yang maha kuat yaitu Allah subhanahuwata’ala.

 

Dari sinilah kita diperintahkan untuk ber isti’adzah, maka jangan sampai diantara kita terlalu mengandalkan kekuatan dirinya sendiri, mentang-mentang ana udah sholat lima waktu dengan rajin, ana sudah berdzikir, ana sudah berpuasa, ana sudah berhaji tidak mungkin syaitan akan menang melawan saya, ini semuanya adalah penyakit yang sangat berbahaya.

 

Makannya Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam diantara do’a yang sering beliau ucapkan sebagaimana diriwayatkan oleh imam Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad dan do’a ini atau hadits ini dinilai hasan oleh syaikh Al Albani, kata nabi shollallahu ‘alaihi wasallam:

Allahumma Rohmataka Arju

“Ya Allah aku mengharapkan rahmat-Mu wahai Allah, aku mengharapkan kasih sayang-Mu wahai Allah”

Kemudian kata nabi apa?

 

Walaa takilnii illa nafsii thorfata ‘aiin,

“Janganlah engkau jadikan aku bergantung pada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata”

 

Sekejap mata itu, berapa sih? Sekejap mata, satu detik atau bahkan kurang dari itu, nabi kita Sholallahu ‘alaihi wassalam tidak mau menggantungkan diri pada kekuatan dirinya sendiri saja, karena apa karena manusia adalah makhluk yang lemah.

 

Seandainya nabi kita Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam adalah merupakan sosok makhluk yang paling bertakwa, keimanannya paling unggul, ketakwaannya paling tinggi diantara sekian banyak manusia yang ada di muka bumi saja mengakui kelemahan dirinya kenapa kita seperti itu wahau kaum muslimin dan kaum muslimat yang kami hormati.

 

Maka mari kita berusaha untuk mengucapkan ‘Auudzu billahiminasysyaithoonirrojiim bukan hanya sekedar dilisan kita tapi kita masukkan kedalam hati kita, kita meyakini bahwa kita adalah makhluk yang lemah, kita adalah insan yang fakir yang membutuhkan bantuan dari Allah subhanahuwata’ala sehingga kita senantiasa menggantungkan nasib kita, urusan kita, kepentingan kita, seluruh kehidupan kita hanya kepada Allah subhanahuwata’ala.

 

Watawakkal ‘alal hayyilladzii laa yamuut,

kata Allah subhanahuwata’ala: “Bertawakal lah kalian kepada yang maha hidup yang tidak akan pernah mati”.

 

Jadi disinilah kita diperintahkan oleh Allah subhanahuwata’ala untuk menggantungkan diri kita, untuk menggantungkan nasib kita kepada yang maha hidup dan yang tidak akan pernah mati.

 

Kata para ulama, disini ada tiga jenis yang kita tidak boleh menggantungkan diri kepada mereka:

  1. Benda mati, yang memang jelas-jelas dia itu mati seperti batu, keris, jimat kemudian berhala, patung dan seterusnya benda mati, ini yang pertama kita tidak boleh menggantungkan diri kepada benda mati atau misalnya yang kedua selain benta mati adalah
  2. Makhluk hidup, makhluk hidup yang akan mati, jangan kita menggantungkan diri kepada makhluk hidup yang akan mati karena mereka suatu saat nanti akan hilang, mereka suatu saat nanti akan tidak ada di muka bumi ini, ini makhluk hidup yang akan mati, yang akan mati siapa ya manusia, jin, syaitan dan seterusnya dan yang ketiga adalah
  3. Makhluk hidup yang sudah mati, siapa itu ya merekalah yang ada di kuburan, jangan kita gantungkan diri kita kepada mereka.

 

Tapi gantungkanlah seluruh urusan kita, mohonlah perlindungan dan bantuan dari Allah subhanahuwata’ala, Al Hayyi yang maha hidup Alladzii laa yamuut yang tidak akan pernah mati.

 

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, wallahuta’ala wa a’lam, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.

Durasi: 00:09:48
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 28 April 2016
Editor:

2 thoughts on “Lemah vs. Lemah Siapa yang Menang? – Ustadz Abdullah Zaen, MA.

  1. Pingback: Materi Tematik | Lemah VS Lemah Siapa yang Menang ? – apbias

Leave a Reply