Ceramah Singkat: Adab Dalam Menuntut Ilmu -Ustadz Muflih Safitra

Alhamdulillahirobbil ‘alamin wa sholatu wassalamu ‘ala ashrofil anbiyai wal mursalin wa ‘ala ‘alihi wa shohbihi ajma’in

Kaum muslimin yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala
Rasulullah z bersabda:

”Barang siapa menempuh suatu jalan, yang dia tempuh jalan tersebut dalam rangka mencari ilmu agama maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga.”

Di antara jalan menuju surga adalah dengan belajar ilmu agama. Untuk bisa memuluskan jalan tersebut menuju surga, maka kita harus memperhatikan hal-hal yang menjadikan kita sukses atau sebab-sebab yang menjadikan kita sukses dalam menuntut ilmu agama.

Ada banyak orang di sana yang belajar ilmu agama, tapi ternyata putus di tengah jalan karena dia tidak memperhatikan adab-adab dalam menuntut ilmu agama. Ada orang di sana yang belajar ilmu agama tapi ilmunya tidaklah bermanfaat bagi dirinya bahkan justru menjadi mudhorot bagi orang lain. Ini dikarenakan tidak mengerti adab-adab atau hal –hal yang harusnya dia perhatikan selama dia menjalankan proses menuntut ilmu agama.

Pada kesempatan kali ini kami ingin menyampaikan beberapa hal yang hendaknya seorang yang menuntut ilmu agama atau seorang tholibul ‘ilmi, dia perhatikan ketika dia menuntut ilmu agama, agar ilmu agamanya benar-benar bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, serta tidak mendatangkan mudhorot bagi orang lain maupun juga dirinya.

Di antara adab-adab tersebut :

• Menuntut ilmu agama ikhlas untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengatakan bahwasanya di antara orang-orang yang pertama kali masuk ke dalam neraka, mereka adalah orang-orang yang belajar ilmu agama agar dikatakan menjadi seorang ‘alim. Mereka belajar ilmu agama agar dikatakan seorang yang ‘alim.

Ini adalah niat yang tidak benar. Kita belajar ilmu agama agar kita mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala karena dia merupakan satu bentuk ibadah. Kita belajar ilmu agama untuk mengangkat kebodohan dari diri kita pribadi dan orang lain, khususnya keluarga, orang tua, istri dan anak kita. Dan kita belajar agama dalam rangka membela syariat manakala datang orang –orang yang secara sengaja atau mereka berupaya untuk memadamkan cahaya Allah Subhanahu wa Ta'ala.

• Benar –benar bekerja keras saat belajar agama
Sesuatu yang luar biasa tidak didapatkan dengan cara yang biasa-biasa. Orang ingin belajar ilmu agama, dia ingin mendapatkan sesuatu yang sebenarnya luar biasa. Karena mayoritas manusia adalah orang-orang awam, maka tidak bisa dia dapatkan ilmu tersebut kecuali dengan cara belajar. Menuntut ilmu agama dengan kerja keras.

• Tidak cepat puas
Jangan baru sedikit yang dia ketahui lalu kemudian dia berhenti belajar. Ada yang pernah mengatakan, “Saya sudah malas belajar dikarenakan saya merasa ilmu saya sudah cukup.” Padahal, seseorang kalau belajar ilmu agama dengan lebih banyak dan lebih banyak lagi maka dia akan mendapati bahwasanya ilmu agama itu adalah lautan.
Seorang ulama mengatakan :

“ Barang siapa yang menuntut ilmu agama sejengkal maka nanti dia akan sombong. Barang siapa menuntut ilmu agama satu hasta atau lebih banyak atau lebih besar dari sekedar sejengkal maka nanti dia baru akan tahu bahwasanya dia adalah orang yang jahil. Barang siapa menuntut ilmu agama lebih banyak lagi dari itu maka nanti dia baru akan tahu bahwasanya ilmu itu adalah lautan yang luas, tidak ada tepinya.”

Di antara hal-hal lainnya yang hendaknya perlu kita perhatikan dalam menuntut ilmu agama, antara lain
• Menjadikan ilmunya bukan sebagai hakim bagi orang lain
Ada orang yang menuntut ilmu agama, ilmunya kemudian mendorong dia untuk selalu menghakimi orang lain. Dalam artian kurang lebih seperti ini;
Ada temannya sholat, dia dalam keadaan berpeci, berbaju gamis, tapi temannya mungkin ketika itu dikarenakan masih awam memakai baju kaos. Lalu kemudian ia mudah meremehkan temannya tersebut. “ Harusnya seperti ini, bergamis,” katanya, “jangan seperti yang ini hanya berkaos, dan tidak pakai peci serta bercelana panjang.”

Ini adalah bentuk penghakiman. Karena bisa jadi di antara temannya itu mungkin ada yang masih awam dan sebenarnya kalau dia belajar agama kalau ada yang mendakwahinya, ada yang mengarahkan dia kepada ilmu-ilmu agama, ternyata nanti dia lebih baik daripada temannya yang sudah ngaji ini,yang sudah bergamis,yang sudah berpeci ini.

Kaum muslimin…. di sana ada orang –orang yang belum belajar agama dikarenakan mereka tidak tahu dan butuh dakwah kita. Dan ternyata ketika mereka telah mengetahuinya, rupanya mereka ternyata lebih baik dalam mengamalkan agama ini daripada kita. Ada orang di sana yang bersedekah seribu, seribu rupiah. Lalu ada kemudian ada di antara tholibul ‘ilmi dia mengatakan, “Masa cuma seribu?! Seperti saya ini, kalau bersedekah dua puluh ribu, lima puluh ribu.”

Padahal bisa jadi dia bersedekah seribu dikarenakan ada kita di dekatnya. Dan ketika tidak ada kita di dekatnya, dia bersedekah seratus ribu, lebih banyak daripada yang kita sedekahkan, dikarenakan dia ingin menutupi ibadahnya. Maka, jangan sampai kemudian kita menjadikan ilmu agama sebagai hakim bagi orang lain.

• Hendaknya mencari guru yang tepat dan tidak menuntut kesempurnaan
Artinya, hendaknya dia mencari seorang guru yang benar-benar bisa mengajarkan dia ilmu, yang orang tersebut mumpuni, mengerti bahasa arab, mengerti kaidah fiqih, mengerti ushul fiqih, mustholah hadits, dan ilmu-ilmu alat yang lainnya, mengerti ilmu tafsir, baik tafsir Alquran maupun tafsir Hadits. Dan kemudian janganlah sampai dia menuntut kesempurnaan, dikarenakan tidak ada orang yang sempurna.

Ketika seorang belajar kepada para ulama pun, tidak ada satu orang ulama pun yang selamat dari kesalahan. Namun hendaknya kita memaklumi kesalahan mereka dalam artian kita menuntut ilmu agama kepada orang yang tepat dan tidak menuntut kesempurnaan.

Adab yang lain yang hendaknya diperhatikan seorang tholabul ‘ilmi,
• Hendaklah tholibul ‘ilmi menyadari kapasitas dirinya
Dalam artian, ketika memang dia tidak tahu suatu perkara, jangan kemudian dia katakan ,”Begini dan begitu…”. Tanpa ilmu.

Sebagian ulama mengatakan,” Adalah bagian dari ilmu, ketika mengatakan ‘tidak tahu’, manakala memang tidak tahu.”

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

“Jangan engkau ikut-ikut sesuatu yang kamu tidak ada ilmu padanya. Berbicara kehormatan orang lain yang engkau tidak mengetahui kondisinya. Engkau merendahkan orang lain yang engkau tidak mengetahui perkara aslinya. Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati kita semua nanti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.”

Adab lain yang juga tidak kalah pentingnya,
• Menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia
Karena hampir tidak berguna seseorang memiliki ilmu agama ketika akhlaknya tidak berubah dengan bertambahnya ilmunya. Dia mengetahui bahwasanya dilarang berghibah tapi dia tetap berghibah. Dia tahu bagaimana hukumnya dosa, hukumnya berdusta dia tetap berdusta, dan yang sejenisnya. Dia mengetahui bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih mencintai seseorang berjalan bersama saudaranya dalam rangka memenuhi hajat saudaranya, artinya membantu dirinya dalam kesulitan-kesulitannya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih dia cintai daripada i’tikaf satu bulan penuh di Masjid Nabawi. Dia telah mengetahuinya tapi manakala ada orang ingin meminta bantuannya, sangat berat hatinya. Ini bukanlah akhlak yang mulia.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan ;
“Tidak ada yang lebih berat di timbangan seorang muslim melebihi akhlak yang baik.”

Adab yang lain yang perlu kita perhatikan,
• Setelah mendapatkan ilmu, kita berdakwah dengan hikmah.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan :
“ Jika seandainya Allah memberikan hidayah kepada satu orang dikarenakan sebab perantaraanmu maka engkau mendapatkan pahala atau sesuatu yang lebih berharga daripada unta merah, yaitu harta yang paling berharga yang dimiliki orang arab ketika itu.”

Adab yang terakhir,
• Hendaknya penuntut ilmu senantiasa bekerja atau bekerja sama dengan teman-temannya di antara kaumnya.
Saling bekerja sama, saling bahu membahu dalam menjalankan kebaikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

“Saling tolong menolonglah dalam al birr (kebaikan ) dan juga ketaqwaan. Dan jangan tolong menolong dalam permusuhan dan juga jangan tolong menolong dalam kemaksiatan.”

Hendaknya mereka saling tolong menolong dalam kebaikan. Ada yang mengisi pengajian, ada yang menjadi moderator, ada yang memberikan pengumuman, ada yang mendesain pamflet, leaflet, ada yang menjadi kameramen dan seterusnya dalam rangka menegakkan kalimat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan ini adalah tolong menolong yang dipuji oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ini yang dapat kami sampaikan, kurang lebihnya kami memohon maaf. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membimbing kita agar bisa menuntut ilmu agama dengan memperhatikan adab-adabnya sehingga jalan menuju surganya Allah Subhanahu wa Ta'ala janjikan bagi mereka menuntut ilmu agama akan menjadi mulus bagi kita.

Wa shollallahu ‘ala nabiyuna Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in…

Durasi: 00:13:40
Pemateri:
Pencatat: Ummu Ukasyah on 07 May 2016
Editor: Ahmad Zawawi