“Puasa Sejati” – Ustadz Abdullah Zaen, MA

Bismillahirrahmaanirrahiim, Alhamdulillahirobbil ‘alamin washolatu wassalamu’alaa nabiyinna muhammadin wa ‘ala alihi wasohbihi ajma’in amma ba’du

Dikisahkan pada suatu hari Imam Ahmad ibnu Hambal rohimahullah ta’ala, salah seorang ulama besar islam sedang berpuasa, menjelang berbuka puasa ketika beliau akan berbuka dengan dua potong roti kering datang seorang pengemis kerumah beliau meminta minta, Imam ahmad merasa iba terhadap pengemis tesebut, apa yang dilakukan oleh beliau? ternyata dua potong roti kering yang beliau siapkan untuk berbuka puasa dua duanya diberikan kepada sang pengemis tersebut sehingga tidak ada makanan tersisa didalam rumah imam ahmad.

Lantas beliau berbuka dengan apa? beliau berbuka dengan segelas air putih dan juga beliau bersahur untuk keesokan harinya juga dengan segelas air putih. Luar biasa bukan, begitulah sosok orang-orang yang puasanya telah mempengaruhi perilaku kesehariannya, dan puasa yang bagaimanakah yang akan mempengaruhi perilaku seorang hamba?

Puasa bukan sembarang puasa, tapi adalah puasa sejati, apakah puasa sejati?

Puasa sejati bukanlah seperti yang dipahami oleh banyak kalangan, bahwa puasa adalah hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum saja, puasa itu bukan hanya menahan lapar, bukan hanya menahan haus saja, bukan!

Akan tetapi puasa itu maknanya lebih luas dari itu, sebagaimana yang di isyaratkan oleh salah seorang sahabat nabi sholallahu ‘alaihi wasallam, yang bernama Zabir bin Abdullah Rodiyallahu ‘anhu, kata beliau Idzaa sumta, falyasum sam’uka walisaanuka wabashooruka.

Kata Zabir kalo engkau berpuasa hendaklah telinga kamu ikut berpuasa, lisan kamu ikut berpuasa dan mata kamu ikut berpuasa, jadi Zabir bin Abdullah memberikan sebuah makna yang sangat dalam dari ibadah puasa, ternyata puasa itu bukan hanya sekedar menahan perut, menahan lapar dalam perut atau menahan dahaga dari kerongkongan, bukan! tapi beliau menjelaskan bahwasanya puasa itu adalah puasa telinga, puasa itu juga puasa mata, puasa itu juga puasa lisan.

Apa itu puasa mata ustadz? Puasa mata tentunya adalah puasa menjaga mata ini supaya tidak melihat hal2 yang diharamkan oleh Allah subhanahuwata’ala, demi mengamalkan firman Allah subhanahuwata’la “Kullil mu’minina yaguddu min abshoorihim wayahfadzu furuujahum”, katakanlah (wahai Muhammad) kepada kaum mu’minin agar mereka menundukan  pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka.

Sama juga Allah subhanahuwata’ala berkata kepada kaum mu’minat wakullil mu’iminaati yagudnaa min abshoorihinna wayahfadjnaa furuujahunna, katakanlah (wahai Muhammad) kepada kaum mu’minat, hendaklah mereka senantiasa menundukan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya. Jadi di dalam ayat ini Allah subhanahuwata’ala menjelaskan kepada kita bahwa mata ini pergunakanlah untuk sesuatu yang tidak dimurkai oleh Allah, maka kita sangat heran dengan perilaku sebagian orang yang berpuasa ketika sore harinya atau bahkan pagi harinya dan biasanya yang sore harinya mereka kongkow-kongkow kemudian katanya ngabuburit dan seterusnya di jalan-jalan, pandangan matanya tidak dijaga, padahal dia lagi berpuasa, terus puasanya puasa apa? Apakah puasanya itu hanya sekedar puasa perut saja, tidak! mata juga diperintahkan untuk berpuasa, inilah puasa yang sejati, tidak cukup hanya mata kita yang diperintahkan untuk berpuasa, lisan kita juga diperintahkan untuk puasa.

Puasa lisan maksudnya adalah menggunakan lisan ini dalam hal-hal yang diridhoi oleh Allah Subhanahuwata’ala. Kalo misalnya tidak bisa untuk mengucapkan kata-kata yang baik, maka diam!. Kata nabi sholallahu ‘alaihi wassalam “Man kaana yuminu billahi wal yaumil aahir fal yaqul khoiron awu liyasmut” , kata nabi sholallhu ‘alaihi wassalam barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik, kalo tidak bisa berkata baik maka kata nabi sholallahu ‘alaihi wassalam diam!.

Ini lah puasa, puasa lisan yah, aneh sekali orang yang berpuasa tapi masih saja ia suka menggunjing orang lain, dia masih saja suka berbohong kepada orang lain, dia masih saja suka mencaci orang lain, ini puasa kayak apa? Puasa model apa yang seperti ini?

Nabi Sholallahu ‘alaihi wassalam menegaskan dalam sebuah hadits yang shohih, kata nabi sholallahu ‘alaihi wassalam Man lam yada’ qoula zuuri wal’amala bihi falaisa lillahi haajatun fii ‘an yad’a tho’aamahu wa syaroobahu, kata nabi sholallahu ‘alaihi wassalam orang yang berpuasa kemudian dia tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, falaisa lillahi haajatun fii ‘an yad’a tho’aamahu wa syaroobahu, Allah tidak butuh dengan puasa dia, Subhanallah.

Ini peringatan keras dari nabi kita Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam, bahwa orang yang berpuasa tapi dia masih rajin untuk menggunjing orang lain, dia masih gemar untuk berdusta, dia masih suka untuk mencaci menghina orang lain, orang-orang yang seperti ini puasanya tidak dibutuhkan alias na’udzubillahimindzaalik bisa sampai taraf tidak diterima oleh Allah subhanahuwata’ala seandainya dia tidak memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukun puasa, na’udzubillahimindzaalik, inilah puasa lisan.

Terus apa puasanya telinga ustadz? Puasa telinga adalah sama, kita berusaha untuk tidak memasukkan sesuatu kedalam telinga kita kecuali sesuatu itu adalah sesuatu yang baik. Maka jangan habiskan waktu kita ketika berpuasa dan juga ketika tidak berpuasa untuk mendengarkan gosip-gosip yang biasa disiarkan di acara-acara televisi yang membahas tentang aib orang lain, membeberkan aib nya, membongkar aib nya, dibuka dihadapan umum, untuk apa kita dengarkan itu? Jangan kita habiskan waktu siang kita untuk mendengarkan hal-hal yang tidak baik, mendengarkan nyanyian, mendengarkan dangdut, mendengarkan sereosa, mendengarkan keroncong dan seterusnya, gendingan kalo orang jawa.

Habiskan umur kita! Untuk apa? Untuk mendengarkan bacaan Al qur’an, mendengarkan pengajian dan seterusnya, inilah puasanya telinga.

Maka puasa sejati adalah orang yang telah berpuasa bukan hanya perutnya saja, tapi orang yang berpuasa dengan telinganya dia berpuasa, matanya dia berpuasa, lisannya dia berpuasa, bahkan seluruh anggota tubuhnya ikut berpuasa, tangannya ikut berpuasa, kakinya ikut berpuasa, hatinya ikut berpuasa. Tangannya tidak mengganggu orang lain, tidak menyalakan petasan yang bisa mengagetkan orang lain, mengganggu istirahat orang lain.

Itulah puasa yang hakiki, itulah puasa yang sejati, maka selamat berpuasa dengan puasa yang sejati, jangan sekedar berpuasa tanpa makna.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat, wallahu ta’ala wa a‘lam washollahu ‘alaa nabiyinna Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shohbihi ajma’iin.

Durasi: 00:09:08
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 26 April 2016
Editor:

Leave a Reply