Semua Mengaku Ahlus Sunnah – Ustadz Riyadh Bin Badr Bajrey

Ustadz bagaimana pengertian Ahlussunnah Waljama’ah sebenarnya sebab banyak sekali orang maupun golongan yang mengaku dirinya Ahlussunnah padahal amalan mereka jelas bertentangan dengan Tauhid bahkan perbuatan mereka berbau syirik?

 

:Barokallah fikum, Syuf Ahlussunnah mah semua juga ngaku Ahlussunnah, Al-qur’an dan hadits semua juga ngaku Alqur’an dan hadits punya dalil dari Alqur’an dan hadits semua. Ente mau debat sama Ahmadiyyah lagi dia punya Dalil dari Alqur’an sama Sunnah, Kalau Qur’an dan sunnah kemudian terus langsung bener aja bahaya, Kemudian kita sampai kepada pertanyaan terakhirnya, Thoyyib Alqur’an dan Sunnah cuman menurut faham siapa? Gitu kan? Ini yang menjadi titik pembeda kita dengan mereka bukan dalam penggunaan Qur’an dan Sunnah semuanya juga pake Qur’an dan Sunnah semuanya punya Dalil, ya nggak? Semuanya juga punya Dalil, Yang jadi permasalahan sekarang bukan punya Dalil apa nggak,

 

Ahli bid’ah sekarang udah pinter nyolong-nyolong Dalil apa lagi kalo tu Dalil ada bangset tulisan dibawahnya dishohihkan sama Albani wah udah kenyang aja ni orang-orang sawah ama Dalil.

 

beginian mah, Sawah tau kan? Salafi Wahabi, Pinter dia nyolong Dalil udeh nyolong-nyolong pinter, Jadi permasalahnnya sekarang bukan punya Dalil apa nggak! punya Dalil cuman kan bagaimana caramu memahami Dalil itu disitu.

 

kan yang  jadi permasalahan setiap kelompok juga punya Dalil dari Alqur’an dan Assunnah cuman kita lihat mana apakah meraka memahami ayat tersebut dan mempraktekkan Ayat atau Hadits tersebut sebagaimana praktek generasi terbaik yaitu Salafussalih atau tidak? Ini yang menjadi pembeda bagi diri kita dan mereka itulah Salafi pada intinya.

 

Salafi adalah: Ketika gamblangnya ni telaknya gamblangnya ketika pada Salafussalih misalnya dalam satu kasus ada dua pendapat  atau ada tiga pendapat maka  jangan kau buat pendapat ke empat, Itu Salafi sekali lagi gamblangnya seorang Salafi adalah ketika dalam satu kasus ternyata dari golongan Sahabat ada dua pendapat maka jangan kau bikin pendapat ke tiga, Ada tiga pendapat jangan kau bikin pendapat ke empat, Itu Salafi.

 

Antara mereka (yaduuru fiihim, ya’ni al-haq) kebenaran ada pada mujmalnya mereka(para sahabat) bukan di per individunya, kita tinggal tarjih cari yang lebih rojih di antara dua pendapat ini, lebih tiga pendapat ini atau cari jama’ atau taufiq kita cari titik temunya satu sama lain supaya ketemu, yang jelas kita nggak bikin pendapat baru yang tidak ada pada mereka, itu salafi, itu seorang ahlus sunnah.

 

Jadi lihat apakah mereka memahami sholawat sebagaimana para sahabat dulu bersholawat? Atau tidak? Atau justru mereka bikin sholawat-sholawat baru? Lihat itu ada nggak pada para sahabat? tahlil, di perintahkan? Di perintahkan(laa ilaha illallah) ini kalimat tauhid luar biasa, cuman bagaimana mereka bertauhid nggak memahami tahlil ini? Apa dengan menyebutkannya, menyanyi bersama-sama dan lain-lain? Atau sesuai dengan seperti yang di contohkan oleh para sahabat ridwanullahu ‘alaihim jami’an,

 

demikian bedanya antara ahlus sunnah dengan bukan kalaupun semuanya akan menggunakan dalil dari al-qur’an dan assunnah.

 

Jadi nanti yang jadi permasalahan adalah bicara memahaminya, tepat atau tidak, sesuai ataukah tidak dengan cara para sahabat memahami hal tersebut, mempraktikkan hal tersebut, thoyyib, barakallahuli walakum pertanyaan yang masuk kita cukupkan sekian.

 

Durasi: 00:05:05
Pencatat: Khoir Bilah on 26 April 2016
Editor:

Leave a Reply