Bakti Anak Kuliahan Umum atau Anak Pesantren? – Ustadz Maududi Abdullah, Lc

Ketika anak kita 2 orang satunya pintar luar biasa kita sekolahkan ke kedokteran dengan biaya yang luar biasa, sementara yang satunya kurang pintar rada-rada badung kita masukkan pesantren alhasil yang kedokteran ini punya rumah gedung dua lantai sementara anak kita yang tamat pesantren ngontrak,rumah kontrakan dengan 2 kamar saja satu untuk dia dan istrinya satu untuk anaknya.

 

Kalau kita tinggal di rumah itu harus tidur di ruang tamu dan anak yang tamat pesantren ini benar-benar berbakti sama kita, menghibur kita, akhlaknya mulia kepada kita, tidak pernah menyakiti hati kita dan selalu mengabulkan apa yang kita inginkan asal dia bisa kabulkan nggak mungkin dia tolak, sementara anak kita yang kaya itu nggak pernah kita di caci, nggak pernah kita di maki, nggak pernah kita juga di pukuli.

 

Cuman, kalau sudah datang tanggal 1 ambil uang sepuluh juta setelah lempar bilang ambil nih upah kamu membesarkan saya! Cukup dia nggak lakuin yang lain.

 

Pak bu kira-kira mau nginap dimana di rumah gedung apa kontrakan? Mau nginap dimana?gedung apa kontrakan? Terjawab sudah.Ternyata rumah gedung yang kita siapkan dengan dana yang besar untuk kuliah ke kedokteran yang dia lakukan nggak memberikan apapun kepada kita dan ternyata pesantren yang mampu membuat ana badung kita menjadi anak baik dan kepintarannya membuat dia berilmu sekedarnya saja sehingga sulit untuk fight dalam kehidupan dunia membuat dia tinggal di rumah kontrakan lebih betah kita bersama anak itu dibanding anak yang punya rumah gedung. Haa kenapa? Karena  yang satunya pesantren, yang satunya tidak kita kenalkan kepada agama.

 

Bapak ibu, ketika anak bapak ibu nanti besar demi Allah bapak dan ibu tidak berharap harta sedikitpun dari anak itu saya yakin dan percaya, saya yakin dan percaya bapak nggak akan pernah berharap harta dari anak, ibu juga tidak akan pernah berharap harta dari anak yang ibu harapkan dari anak, yang bapak harapkan dari anak adalah bakti anak itu di hari tua kita. Ya atau tidak? tunjukkan kepada saya mana ilmu bakti kepada anak yang di ajarkan di semester pendek dan semester panjang! Nggak ada,itu ilmunya pesantren.

 

Kalau toh pun ada di fakultas dalam mata pelajaran agama sambil lewat bagaikan angin yang lewat setelah itu dia pun lewat dan tidak bersisa di dada untuk kemudian berbuah menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Pergilah ke Panti Jompo!dengarkan jeritan orang-orang tua kita disana banyak diantaranya menangis, banyak di antara mereka menangis, hampir tiap malam mereka menangis.

 

Apa yang mereka tangiskan? Apakah karena rumitnya hidup di Panti Jompo? Mereka mengatakan tidak, tidak rumit di Panti Jompo ini bahkan enak, mereka adalah orang tua yang pernah hidup di zaman Belanda dan bahkan juga pernah hidup di zaman Jepang, terpaan perihnya  kehidupan dunia bagi mereka itu soal yang biasa namun yang membuat mereka menangis, yang mengantar mereka ke Panti Jompo anaknya, anak mereka, anak mereka, darah dagingnya yang mengantarkannya ke Panti Jompo itu yang tidak bisa dia terima, itu yang meneteskan air matanya setiap malam.

 

Dia dalam hidupnya adalah aib, dia dalam hidup anaknya adalah beban, dia dalam hidup anaknya adalah kebinasaan, dia dalam hidup anaknya adalah malu, malu punya orang tua renta, malu punya orang tua seperti ini, orang kampungan yang tidak mengerti apa-apa itu yang membuat mereka menangis tak tahan melihat perlakuan anaknya hanya karena istrinya tidak mau hidup dengan bapaknya rela dia masukkan bapaknya ke Panti Jompo demi menjaga istrinya yaitu anak orang lain dan kalau kita mendidik hanya dengan uang dan kita targetkan hidup anak kita untuk uang, kita targetkan masa depan anak kita hanya dengan uang siap-siap di hari tua anda akan di masukkan ke dalam Panti Jompo. Tinggal menunggu hari.

 

Durasi: 00:05:43
Pencatat: Khoir Bilah on
Editor:

Leave a Reply