Posted in Adab, Aqidah
Comments Post a Comment

Tips Belajar Ilmu Agama Ustadz Ammi Nur Baits

mungkin dulu waktu sma pernah mendapatkan pelajaran tentang kelistrikan.
bagaimana sebuah lampu bisa menyala, membuat denah lampu atau gambar dari mulai catu daya sumber daya ke lampu

misal dsini kita gambarkan dsini ada sebuah sumber daya
kita tidak tau brapa volt yang jelas dia sumber daya

lalu kita hubungkan kabel, lalu disini dipasang sebuah saklar, selanjutnya dsini ada lampu
kita bisa mngatakan lampu ini akan menyala jika yang pertama sumber daya ini ada arus listrik, yang kedua saklarnya tertutup, yang ketiga lampunya masih sehat tidak rusak, yang keempat kabelnya nyambung tidak terputus

1. sumbernya bagus
2. lampunya bagus
3. kabelnya nyambung tidak terputus
4. saklar tertutup
kita tarik sebuah pelajaran yang disampaikan al imam ibnul qoyyim dalam kitabnya alfawaid

beliau mengatkan bahwa ilmu yang kita dapatkan, ilmu yang kita dengar itu adalah ibarat sebuah arus yang mampu menyalakan hati kita

namun bagaimana agar ilmu itu bermanfaat dan bisa menyala dalam hati kita kata ibnul qoyyim ada 4 syarat ilmu bisa bermanfaat bagi hati kita yang telah disebutkan allah swt di surat qof ayat 37

sesungguhnya dalam ayat itu merupakan peringatan bagi orang yang hatinya hidup, orang yang masih memiliki hati dan dia mendengarkan, hatinya menyaksikan apa yang disampaikan.

kta imam ibnul qoyyim dari ayat ini belia menyimpulkan bahwa syarat sebuah ilmu bisa bermanfaat jika disana terpenuhi 4 hal

yang pertama adalah kata beliau digambarkan dalan ayat
sesungguhnya dalam ayat2 itu adalah peringatan

aka syarat pertama adalah adanya pemberi pengaruh sumber ilmu yang kuat, sumber ilmu yang mampu mempengaruhi audience, sumber ilmu yang sehat.

karena itulah syarat yang mutlak ketika orang belajar adalah dia harus mmemastikan bahwa orang yang dia jadikan sebagai sumber ilmu adalah orang yang layak diambil ilmunya. karena tidak semua orang kemudian layak diambil ilmunya

pesan muhammad bin sirri, seorang ulama tabiin

beliau mengatakan ilmu itu bagian dari agama, karna itu perhatikanlah dari mana ilmu itu kalian ambil
tdak semua orang layak dijadikan sbg guru, tidak semua layak dijadikan sumber ilmu, hanya orang tertentu saja yg dia komitmen terhadap alquran dan sunnah sesuai pemahaman para sahabat merekalah yang layak dijadikan sumber ilmu
karena itu di masa silam para ulama memahami ketika mereka mengambil sumber ilmu, mereka mengambil guru mreka meyakini ini akan dipertanggung jawabkan disisi allah swt

sampe imam syafii dalam sebuah pujiannya yang disampaikan kepada gurunya imam malik

saya ridho utk menjadikan imam malik sebagai hujjah antara diriku dan allah swt

artinya apa, beliau memahami mengambil guru akan dipertanggung jawabkan kepada alah swt

semakin kuat sumber ilmu, semakin kuat sumber arus listrik maka kita bisa memastikan cahaya yang akan dipancarkan semakin terang

demikian pula ketika semakin guru bertakwa kepada allah, semakin berilmu maka akan memberikan pengaruh semakin besar pada muridnya

maka para sahabat nabi saw mereka menjadi pahlawan islam, orang2 hebat dalam agama karena gurunya manusia paling istimewa nabi muhammad saw

sehingga ketika ada pertanyaan, mungkinkan ada diantara dari kita yang memiliki iman seperti sahabat jawabannya tidak mungkin gurunya berbeda
mereka manusia yang dididik langsung yang dididik langsung oleh manusia terbaik yaitu nabi saw. sementara kita gurunya jelas tidak bisa dibandingkan

sampe allah mnjamin bahwa para sahabat selama ada rosulullah ditengah-tengah mreka tidak akan murtad

bagaimana mungkin kalian akan bisa jadi kafir sementara kalian masih dibacakan ayat allah dan ditengah kalian ada rosulullah.
kemudian syarat yang yang kedua lampunya ini adalah lampu yang sehat.

objek penerima ilmu itu masih sehat, masih bisa menerima nasehat. artinya yang allah gambarkan dalam itu,
peringatan bagi orang yang memiliki hati,

artnya hati yang masih hidup, hati yang memiliki peluang untuk ditembus dengan nasehat, bukan hati yang mati

oleh karena itu allah nyatakan alquran adalah sebagai peringatan bagi yang hidup.

allah berfirman
bahwasanya yang disampaikan oleh muhammad adalah peringatan dan quran yang jelas utk jadi peringatan utk yg hatinya hidup

bukan hanya fisiknya yang hidup namun hatinya hidup, orang yang hatinya hidup, memiliki peluang ditembus dengan hidayah.

sebaliknya ketika orang itu hatinya mati, dia akan menjadi hati yang sama sekali tidak bisa menerima dan menyerap ilmu. maka sebanyak apapun nasehat yang dia dengar karena hatinya mati, tidak ada peluang utk dia bisa manfaatkan, tidak ada peluang utk menembus kedalamnya

allah mencela keadaan orang2 munafik, yang mreka masya allah bertetangga dengan nabi sawa, hidup disekitar abu bakar, umar, utsman ali
disana ada nabi, mereka sering mendengarkan nasehat dari nabi, mereka sering mendengarkan umar abu bakar manusia2 terbaik, namun apa yang terjadi, sama sekali tidak bermanfaat baginya

apakah mereka tidak mau mengkaji isi alquran ataukah ada kunci dalam hatinya.

maka orang2 yang hatinya terkunci inilah yang hatinya mati

sama sepeti lampu yang sudah mati, dikasih arus berapapun tidak akan nyala
sebagaimana hati manusia kalau hatinya sudah mati, mau dikasih guru secerdas apapun, sepitnter apapun dengan dalil berapapun akan dia tolak

anda bisa perhatikan orang2 jil, liberal, mereka ber ktp islam, namun masya allah begitu sulitnya semua ayat quran yang mereka dengar seolah-olah terbantahkan dengan akal mereka
kemudian syarat yang ketiga dia mendengarkan dengan seksama

pendengarannya terpasang normal, bukan pendengaran yang trtutup
karena itulah rosullah mengajarkan adab ketika belajar,

diantaranya adalah rosululah saw memberikan pelajaran kepada sahabatnya ketika menghadiri jumatan mandi dulu segar sehingga tidak ngantuk
lebih dekat imam, konsentrasi dengan imam,dilarang bicara, tidak boleh mainan dst itu semua dalam rangka mendengarkan dengan seksama sehiangga orang bisa konsentrasi mendengarkan khatib

dulu para ulama sangat mencela keras orang yang menghadiri jumatan kemudian ngantuk, orang yang menghadiri masjlis ilmu kemudian tertidur, kata ibnu masud orang ini orang yang tertusuk jarumnya setan, semua sikap ini dicela para sahabat.

namun masya allah kondisinya terbalik, di jaman kita yang namanya tidur ketika jumatan adalah hal yang lumrah. bahkan orang kalau sulit tidur datangilah jumatan datangilah kajian bisa dia pastikan dia akan ngantuk. untuk apa dia duduk datang disana kalau hanya untuk ngantuk, pendengaran tertutup karena tidur
yang keempat adalah hatinya konsentrasi

hatinya konsentrasi bisa jadi ada orang yang fisiknya di masjid, namun batinnya dirumah, hatinya diluar, hatinya dipasar. dia tidak memfikirkan apa yang sedang dia dengar apa yang sedang dia lihat, yang dia fikirkan yang lain sehingga hatinya bukan hati yg konsentrasi dengan apa yang dia alami

kata ibnul qoyyim

disana tidak ada penghalang antara hati dengan sumber ilmu

bisa jadi kabelnya bagus, lampunya bagus, sumbernya bagus, tapi saklarnya belum dipasang, saklaranya tidak nutup

sehingga disana ada penghalang maka seperti itu pula ketika kita belajar, kadang fisik didepan ustadz namun hati kita, namun hati kita gak tau pergi kemana jauhnya, kita tidak tau hati kita dsitu atau tidak

sebagaimana kita sholat, takbiratul ikram, sedang membaca iftitah, alfatihah namun sama sekali tidak pernah merenungkan apa yang kita sedang membaca, hati kita lari entah jauh kemana.

karena kita tidak konsetrasi ketika kita belajar

Durasi: 00:14:50
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 22 April 2016
Editor:

Leave a Reply

Scroll to top
Shares
%d bloggers like this: