Bincang Santai: Kesurupan Jin, Bolehkah Berobat ke Dukun? – Ust. Abdullah Taslim, MA.

Tamu Penanya (TP): “Assalamu’alaikum”
Ustadz (U): “wa’alaikumussalam wa rahamtullahi wa barakatuh,,, barakallahufikum. kaifa haluk?”
TP: “Alhamdulillah, khoir… antum gimana kabarnya ustadz?.”
U: “Alhamdulillah.”
TP: “Maaf mengganggu ini ustadz.”
U: “Labasa Inysa Allah.”

TP: “Gini ustadz, nih kan di masyarakat ini, masalah ruqiyah ustadz… Jadi di masyarakat ini banyak orang-orang meruqiyah. dukunlah yah.. Tapi mereka tidak sesuai dengan sunnah. Tapi yang permasalahannya ini, banyak masyarakat bilang ‘loh tidak apa-apa’ toh sembuh (jinnya juga keluar). bagaimana ustadz pandang dari agama?.”

U: “Ya,,, barakallahufikum, ini kenyataan yang terjadi di masyarakat nih cukup menjadi kendala. biasanya orang itu memamg selalu memandang hasil dan hasil di jadikan sebagai ukuran.

Jadi agama itu mengajarkan kepada kita cara yang di ridhoi oleh Allah, cara yang kesudahannya akan baik. meskipun mungkin sepintas kita atau orang tidak menganggap ada hasil yang sesuai dengan keinginannya. Ini perlu difahami dari kaidah awal kita membahas masalah ini.

Contoh sederhana, para Nabi dan para Rasul mereka adalah da’i yang terbaik, penyeru yang terbaik, ilmunya paling tinggi, paling bagus cara berdakwahnya, paling diridhoi oleh Allah E. Sekarang pertanyaannya apakah para Nabi dan para Rasul pengikutnya mesti banyak? Tidak kan?.

Nabi H dalam hadits Bukhori Muslim haditsnya Ibnu Abbas Rodhiallahu ta’ala ‘anhuma pernah bersabda:

عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

Uridhot alayyal umamu fa ra’aitunnabiyya wamaahu ruhaithu wannabiyyu wamaahu rojulu wa rojulani wannabiyyu laisa maahu ‘ahadun

“Ditampakkan kepadaku ummat – ummat yang terdahulu, aku melihat seorang Nabi yang pengikutnya kurang dari 10 orang, aku melihat seorang Nabi yang pengikutnya 1 atau 2 orang dan aku melihat seorang Nabi yang tidak punya pengikut sama sekali. ” (HR Muslim No. 220 versi Syarh Sahih Muslim)

Disini Nabi tersebut tidak tercela “kenapa kamu tidak punya pengikut? Gagal kamu dalam berdakwah”, tidak. Keberhasilan dalam berdakwah itu adalah ketika kita bisa menegakkan dakwah yang sesuai dengan petunjuk Allah karena dakwah itu ibadah.

Memang kita berusaha sekuat tenaga dengan jalan – jalan yang disyari’atkan untuk orang akan tertarik mengikuti dakwah, tapi hidayah akhirnya adalah ada ditangan Allah E.

Makanya Nabi ini tidak dikatakan gagal dalam dakwahnya hanya karena dia tidak punya pengikut atau pengikutnya cuma satu atau dua orang. Tapi dia tetap berhasil karena dia tetap bersabar menunaikan perintah Allah, menegakkan agamaNya dalam setiapa apa yang disampaikannya.

Dan Nabi ini tidak diperintahkan untuk merubah cara berdakwahnya karena orang tidak tertarik, harus bikin cara – cara yang baru supaya orang tertarik, tidak. Tetap dia istiqomah dalam dakwahnya meskipun sampai dia mati tidak ada yang mengikutinya. Luar biasa.

Nah kembali kepada pertanyaan antum masalah ruqyah atau pengobatan jin yang tidak sesuai syar’i ternyata jinnya keluar.

Ini pertama perlu kita bahas, secara asal ini sudah menyimpang karena melanggar kriteria ibadah: ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Allah. Cara – cara yang tidak syar’i ada cara menyelesaikan mengeluarkan jin dengan bantuan dukun, ini malah bisa terjerumus dalam perbuatan syirik. Rasulullah H bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Man ata kahinan aw arrofan fashodaqohu bimayaqulu fa qod kafara bima unzila muhammadin

“Barang siapa yang mendatangi seorang dukun atau tukang ramal bertanya dan membenarkan, sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi H” (HR Abu Daud).

Apalagi ini mengikuti, meminta pengobatan, meminta penyembuhan dan seterusnya, tidak benar. Atau dengan cara – cara yang hanya sekedar pandangan misalnya dipukul orang tersebut, dengan alasan memukul jinnya, ada yang saya dengar malah di rendam, ditenggelamkan dalam air sampai dia gelagapan nafasnya supaya jinnya ikut gelagapan, kalau orangnya mati gimana?

Ini hal – hal yang terkadang orang melakukan sekali pengalaman berhasil di anggap semua harus seperti itu. Ingat ini adalah ibadah, ibadah harus ada ketentuan syar’i padanya. Makanya saya katakan tadi yang pertama kita niatkan ketika meruqyah adalah untuk beribadah kepada Allah.

Disamping kita menolong saudara kita yang ini tentu keutamaannya besar, kita juga ingin menegakkan ibadah, menegakkan tauhid, melatih diri kita dan orang lain untuk selalu bersandar kepada Allah, bergantung kepadaNya. Ini adalah sebaik – baik perwujudan tauhid dalam kehidupan manusia.

Disamping itu yang kita perhatikan juga adalah masalah keluarnya jin tersebut, siapa yang menganggap itu berhasil? kalau kita misalnya mengeluarkan jin dengan bantuan dukun na’udzubillahi min dzalik, itu hakikatnya jin kita di adu dengan jin dukun tersebut.

Ketika suatu saat jinnya mungkin lebih kuat menang. Thoyyib, mungkin jin yang keluar ini dendam cari lagi pimpinannya yang lebih kuat, datang lagi kepada orang tersebut karena marah ternyata jinnya dukun tersebut tidak bisa menghadapinya, apa yang terjadi?.

Resikonya orang ini bisa binasa. Karena dia tergantung kepada makhluk yang sekuat apapun dia adalah makhluk. Kenapa dia tidak bergantung kepada yang maha kuat dan maha perkasa. Al’azizul qowiyyul matin (yang maha perkasa, yang maha kuat dan maha kokoh), ‘Ala kulli syai’in qodir (yang maha kuasa atas segala sesuatu).

Inilah keutamaan kita mengembalikan ruqyah sesuai dengan syari’at Allah agar kita bersandar kepada yang memang maha kuasa terhadap alam semesta beserta isinya.

Jadi saya katakan tadi fenomena lepasnya sebentar atau sekedar sembuh itu bisa jadi juga ada rekayasa dari sang dukun. Mungkin itu adalah jinnya sendiri yang kemudian dia yang menyuruhnya, kemudian dia mengesankan supaya orang tertarik dengan pengobatannya dan segera bisa keluar.

TP: Jadi ada kerja sama?
U: Ada kerja sama, bisa jadi. Tidak mesti tapi bisa jadi seperti itu.

Atau itu tadi sekedar jinnya dikalahkan sementara. Ini semua adalah perkara yang kita harus hati-hati karena ini masalah ghoib, masalah yang diluar kemampuan kita untuk bisa melihatnya. Maknya berlindung kepada Allah E dalam perkara seperti ini, kembali kepada petunjukNya adalah sebaik – baik cara yang dituntunkan dalam islam.

Semoga Allah E memberikan hidayah kepada kaum muslimin untuk kembali kepada petunjukNya dan petunjuk RasulNya H untuk kebaikan dan penjagaan diri mereka dari segala keburukan.

Itu yang saya ketahui, wallahu ta’ala a’alam bish showab.

Durasi: 00:08:21
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 03 November 2016
Editor: kamti