Taubat Sambal – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

Bismillah.

Assalamu’alaikum.

saudaraku seiman semoga di pagi hari ini  Allah subhanahu wa ta’ala  senantiasa selalu melimpahkan rahmatnya kepada kita semua. Saudaraku seiman disamping saya ada cabe, ketika melihat cabe ini saya teringat penyakit saya yaitu penyakit maag dan semua orang, semua dokter menyatakan bahwasanya jika ingin sembuh dari penyakit maag maka minimal kurangilah makan cabe akan tetapi, saya termasuk orang yang suka makan sambal dan tentunya sambal terbuat dari cabe.

 

Ketika saya merasa sakit maag maka pada saat itu saya akan teringat kesalahan saya yaitu memakan cabe pada saat itu saya akan bertekad dalam hati untuk berhenti makan cabe tapi ketika dihidangkan kembali sambal maka saya memakan lagi sambal tersebut yang tentunya terbuat dari cabe.

 

Nah,bapak ibu saudara saudariku yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala begitulah kira-kira gambaran orang-orang yang beristighfar akan tetapi, tidak meninggalkan maksiat.

 

Didalam kitab al-adzkar Imam Nawawi rahumahullahu ta’ala menyebutkan perkataan dari Al-fudhail bin Iyadh rahimahullah beliau berkata:

 

“Beristighfar tetapi tidak meninggalkan maksiat”

Ini adalah taubatnya tukang para tukang dusta sering sekali sebagian dari orang bertaubat, bertaubat tetapi, pada hari yang sama dia melakukan kesalahan yang sama padahal dia sudah bertaubat pada-Nya, ini bukan istighfar yang diminta, ini bukan istighfar yang di inginkan.

 

Sering sekali orang yang sakit maag tetapi dia kembali memakan cabenya, dia kembali memakan sambalnya bahkan semakin menjadi-jadi, ini bukan cara pengobatan yang benar. Coba perhatikan sekarang perkataan yang sangat menarik dari Imam Al-Qurthubi rahimahullahu ta’ala dalam kitab tafsir beliau, beliau mengatakan:

 

“Istighfar yang di inginkan adalah istighfar yang dengan istighfar tersebut seseorang melepaskan sifat terus menerusnya didalam melakukan dosa dan maksiat dan istighfar tersebut menancap didalam hati bukan hanya sekedar dengan melafadzkan lisan, kemudian beliau mengatakan adapun orang yang hanya mengucapkan dengan lisannya astahgfirullah, dia beristighfar dengan lisan, dia beristighfar dengan lisan  dia akan tetapi hatinya senatiasa ingin terus menerus untuk mengerjakan maksiat”

 

Maka kata pala ulama sebagaimana yang di nukilkan Imam Al-Qurthubi rahimahullahu ta’ala,

 

“istighfarnya tersebut membutuhkan kepada istighfar yang lain”

 

kenapa? Karena istighfar yang sebelum nya tidak benar-benar dan sekali lagi ini bukan istighfar yang di cari, ini bukan taubat yang sebenar-benar taubat karena salah satu syarat mutlak daripada taubat meminta ampun beristighfar kepada Allah subhanhu wata’ala. memutusakan segala dosa yang kita bertaubat darinya.

 

Selamat beristighfar, semoga istighfar kita sekarang tidak membutuhkan istighfar yang lain karena kita benar-benar bertaubat.

Wallahu a’lam washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wal hamdulillah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Durasi: 00:06:27
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 21 April 2016
Editor:

Leave a Reply