Kajian Kitab: Umdatul Ahkam – Ustadz Aris Munandar, Eps.3

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala Alihi wa Ashabihi wa man tabi’ahum bi ihsani ila yaumiddiin. Amma ba’du,

Kaum muslimin – muslimat rohimani warohimakumullah, kembali kita lanjutkan kajian hadits – hadits, hukum dari kitab Umadatul Ahkam karya al abdul ghani almaghdisi V ta’ala.

Dalam kesempatan kali ini kita masuk pada hadits yang ketiga, yaitu sebuah hadits dari sahabat nabi yang bernama Abdullah Ibnu Amr Ibn ‘Al ‘As dan juga sahabat Abu Huraira ditambah ibunda ‘Aisyah J.

Sahabat menceritakan sabda Nabi H ;

وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنْ النَّارِ

wailul lil a’qabi minannar

“Celakalah tumit-tumit karena untuknya neraka Allah E” yaitu tumit yang tidak basah dengan air saat berwudhu.

Hadits ini berasal dari 3 orang sahabat nabi saw dari sahabat Abdullah Ibnu Amr ibn ‘Al ‘As, kemudian sahabat Abu Huraira, dan ibunda ‘Aisyah J.

Kalau yang di lihatkan sahabat Abdullah Ibnu Amr ibn ‘Al ‘As itu diriwayatkan dari Bukhari dan Muslim, sedangkan jalur dari sahabat Abu Huraira juga di riwayatkan oleh Bukhari dan Muslim sedangkan yang berasal dari ibunda ‘Aisyah J, cuma diriwayatkan oleh Muslim saja tanpa Bukhari.

Latar belakang hadist

Hadits ini memiliki sababul huruf, latar belakang historis kenapa Nabi H menyampaikan hadits ini. Ceritanya pada saat itu para sahabat berwudhu dengan tergesa – gesa karena waktu sholat sudah mepet dan banyak diantara mereka ketika membasuh kaki tidak memperhatikan tumitnya. Sehingga banyak dari tumit itu yang kering karena tidak terbasuh oleh air.

Nabi H melihat fonomena seperti ini berteriak dengan suara yang lantang mengatakan,

wailul lil a’qabi

“Celakalah yaitu tumit-tumit yang tidak basah saat berwudhu”

Kenapa celaka minannar? Karena untuknya neraka Allah E.

Kaum muslimin – muslimat rohimani warohimakumullah, berakaitan dengan kata – kata wailun, maknanya ada sebagian ulama yang mengatakan Wailun = satu jurang di neraka, namun pendapat yang lebih tepat, makna wailun adalah kalimat “litahdid wala iqot” adalah sekedar kalimat ancaman dan kalimat yang menunjukkan adanya hukuman. Ini pendapat yang lebih tepat tentang pengertian wailun.

Tumit harus basah saat wudhu

Pelajaran yang bisa kita petik dari hadits ini menunjukkan haramnya membiarkan tumit tidak basah oleh air saat berwudhu. Karena Nabi H mengancam tumit seperti ini keadaannya neraka Allah E. Maka ketika berwudhu kita tidak boleh membiarkan tumit kering, tidak tersiram air wudhu, kita harus cek dan pastikan bahwasanya tumit betul – betul telah basah dengan air wudhu.

Tumit kering bisa terjadi manakala seorang berwudhu dengan keran. Dia sekedar menjulurkan kakinya di bawah keran. Ketika cuma demikian maka ada kemungkinan besar tumit itu kering, tidak basah dengan air wudhu. Oleh karena itu maka ketika kita berwudhu pastikan tumit kita basah dengan air wudhu. Inilah pendapat jumhur umat islam, bahwasanya tumit  harus basah oleh air wudhu tidak boleh kering. Tumit adalah bagian dari kaki yang wajib untuk di basuh saat berwudhu.

Dua macam siksa neraka

Bapak-ibu kaum muslimin-muslimat rohimani warohimakumullah,

Pelajaran yang lain berkaitan dengan hadits ini, menunjukkan bahwasanya siksa neraka itu ada dua macam. Ada siksa yang bersifat menyeluruh, (siksaan) seluruh badan. Ada orang yang disiksa seluruh badannya oleh Allah E, tanpa terkecualikan.

Siksaan jenis yang kedua adalah siksaan parsial. Contohnya dalam hadits ini ada orang cuma tumitnya saja yang di bakar oleh Allah E, tanpa anggota tubuh yang lainnya. Maka ini menunjukkan adanya siksaan parsial.

Niat saja belum cukup

Kemudian kaum muslimin – muslimat rohimani warohimakumullah, dalam hadits ini terdapat pelajaran bahwasanya semata – mata dengan niat yang baik belum cukup. Sekedar bersemangat untuk berwudhu itu belum cukup, wudhunya harus benar, karena boleh jadi orang itu niatnya baik ingin berwudhu ternyata hasilnya masuk neraka.

Ada orang semangat untuk mau mengerjakan sholat, semangat untuk berwudhu, namun tumitnya itu kering, maka hasilnya dia masuk neraka. Padahal orang ini mau beribadah kepada Allah E, niatnya adalah beribadah kepada Allah E.

Niat yang luhur, mulia… namun karena dia seenaknya sendiri, semaunya sendiri, tidak ikut aturan hasilnya malah sangat mengecewakan, suatu hal yang menyedihkan… Dia masuk neraka karena perbuatannya berwudhu namun tidak perhatian dengan kondisi tumit saat berwudhu.

Demikian bahasan tentang hadits yang ke 3 di umdatul ahkam.

Wa shalallahu a’la nabina muhammadin wa ‘ala ‘alaihi wa shabbi wa sallam

Durasi: 00:07:35
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 25 October 2016
Editor: kamti