Serial Aqidah Islam (01): Untuk Apa Kita Diciptakan? – Ustadz Afifi Abdul Wadud

Bismillahirrahmanirrahim
“Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh”

Alhamdulillah, para pemirsa yang dirahmati oleh Allah E.

Kanapa dan untuk apa kita hadir di dunia?

Diantara kebaikan seorang muslim adalah kefahaman terhadap agamanya. Rasulullah Hbersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

Manyudillahu khairan yufaqqihhu fi dinniini…

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan fahamkan dia tentang agama dia. (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Dan sebesar – besar pemahaman atau pemahaman paling pokok yang harus dimiliki seorang muslim adalah pemahaman yang berkaitan kenapa dia diciptakan oleh Allah E. Untuk apa kehadiran dia dalam kehidupan ini. Pertanyaan yang tidak setiap orang di berikan taufik oleh Allah D untuk mampu menjawabnya dan memahami tentang penciptaan atau tujuan penciptaan mereka.

Sehingga berbahagiahlah seorang muslim yang difahamkan oleh Allah E khususnya berkaitan dengan perkara hal yang mendasar ini, kenapa dia hadir di dunia? Siapa yang menghadirkan dia? Dan untuk apa dia dihadirkan didunia sekarang ini? Sebuah pertanyaan yang mengusik milyaran manusia akan tetapi tidak setiap orang sanggup memiliki jawaban yang menentramkan hati mereka.

Kewajiban mengenal Rabb

Allah E dengan hidayahnya, menjelasakan pada kita bahwa kehadiran kita di dunia untuk dua perkara yang sangat penting.

Perkara pertama: yakni kewajiban kita untuk mengenal Rabb, mengenal siapa itu Allah E. dengan bentangan alam yang Allah tunjukkan kepada kita sekalian. Sebagaimana ditunjukkan oleh Allah D;

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allaahu alladzii khalaqa sab’a samaawaatin wamina al-ardhi mitslahunna yatanazzalu al-amru baynahunna lita’lamuu anna allaaha ‘alaa kulli syay-in qadiirun wa-anna allaaha qad ahatha bikulli syay-in ‘ilmaan.  

Dialah Allah E. Siapa itu Allah? Allahlah yang telah menciptakan 7 langit, demikian pula Allah E telah menciptakan ini bumi semisal penciptaan langit. Lalu Allah E pula yang telah meletakkan tiap – tiap  ciptaannya, Amrullah aturan-aturan Allah (yang menurut manusia dalam istilah hukum alam). (QS Al-Thalaq (65): 12)

Ketika Allah telah menunjukkan kepada kita. Itulah ciptaan Allah langit, itulah ciptaan Allah bumi, itulah aturan – aturan Allah yang  Allah letakkan. Dalam setiap ciptaan Allah D.

Apa yang Allah inginkan dari kita? Allah katakan (dalam ayat di atas),

lita’lamuu anna allaaha ‘alaa kulli syay-in qadiirun wa-anna allaaha qad ahatha bikulli syay-in ‘ilmaan.

“Agar kalian mengetahui bahwasanya Allah E maha mampu atas segala sesuatunya dan agar anda mengetahui bahwasanya ilmu Allah meliputi segala-galanya.”

Para pemirsa yang dirahmati oleh AllahD. Cobalah perhatikan dari ayat tersebut ketika Allah menerangkan tentang segala hal yang berkaitan ciptaan Allah E.

Allah menginginkan di akhir ayatnya agar kita mengetahui, agar kita berilmu. Berilmu tentang apa? Berilmu tentang siapa yang mengadakan itu semua. Berilmu tentang Allah E,

Lita’lamuu anna allaaha ‘alaa kulli syay-in qadiirun wa-anna allaaha qad ahatha bikulli syay-in ‘ilmaan.

“Agar anda tahu, agar kalian mengetahui bahwasanya Allah D. Maha kuasa atas segala sesuatu dan ilmu Allah meliputi segala – galanya.”

Ayat yang semisal ini sangat banyak dalam kitabullah Al-qur’an seperti diantaranya:

…وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم

Wa’lamu annallaha bikulli syai’in aliim

“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah E maha mengetahui atas segala sesuatu” (QS. Al Baqarah (2): 231)

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Wa’lamu annallaha bima ta’maluna bashir

“Dan agar kalian mengetahui sesungguhnya Allah E, maha melihat terhadap amalan semua yang anda lakukan.”  (QS. Al Baqarah (2): 233)

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ 

Wa’lamu annallaha ghaniyyun hamiidun

Agar anda mengetahui “Dan ketahuilah anda bahwasanya Allah D dzat yang maha kaya lagi maha terpuji.”  (QS. Al Baqarah (2): 267)

Kalimat wa’lamu, fa’lamu, fa’lam… a’nna lailahaillallah, ini semua adalah merupakan kalimat-kalimat yang menuntut kita agar kita mengetahui siapa itu Allah E. Maka ilmu yang berkaitan dengan pengetahuan kita terhadap Allah dan siapa itu Allah merupakan semulia – mulia ilmu, merupakan seutama – utama ilmu dan inilah yang Allah katakan diantaranya dalam, atau yang ini yang dikatakan Nabi, (sebagaimana di atas)

Manyudillahu khairan yufaqqihhu fi dinniini…

“Sehingga kefahaman agama yang paling utama, yang paling mendasar sebelum kita memahami yang lain – lain adalah mengetahui siapa pencipta kita, siapa yang mengadakan seluruh ala jagad raya ini, bagaimana sifat – sifat yang Allah D miliki. Sehingga kita mengenal siapa itu D. Ini adalah point yang pertama.

Tujuan keberadaan manusia di dunia

Point yang kedua adalah mengetahui tentang untuk apa kita dicpitakan oleh Allah, mengetahui tujuan kenapa kita diciptakan oleh Allah D .

Setelah Allah menunjukkan pula seluruh ciptaan Allah D. Maka sekarang pertanyaan yang paling mendasar sekali, untuk apa kita sendiri diciptakan oleh Allah D?

Allah E menjelaskan kepada kita dalam ayat yang paling masyhur, insya Allah… telah kita kenal semua,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ. مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُون. إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Wa maa kholaqtul jinna wal ‘insa illa li ya’buduuni. Maa uriidu minhum min rizqin wamaa uriidu an yuth’imuuni. Inna allaaha huwa alrrazzaaqu dzuu alquwwati almatiinu

Dalam surat adz-dzariat, Allah E menjelaskan “Dan tidak ku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka semata-mata beribadah kepada Allah E“. (QS Adz-Dzariyat (51): 56 -58)

Yang kata sahabat Ibnu Abbaz I, makna “liya’buduni ‘a li wahyuduni” agar manusia dan jin mereka semata-mata mentauhidkan Allah E. Karena berbeda antara orang yang mereka beribadah kepada Allah dengan orang mereka mentauhidkan Allah E.

Orang yang beribadah kepada Allah, belum tentu mereka mentauhidkan Allah D. Yang di tuntut oleh Allah E adalah bagaimana seorang hamba mereka beribadah kepada Allah dan dia mentauhidkan Allah E. Lalu Allah mengatakan, (di ayat 57);

Maa uriidu minhum min rizqin wamaa uriidu an yuth’imuuni

“Allah E tidaklah membutuhkan dari mereka ini rizki, tidak pula Allah membutuhkan dari mereka  sajian makanan.”

Inna allaaha huwa alrrazzaaqu dzuu alquwwati almatiinu

“Sesungguhnya Allah D dzat yang maha memberikan rizki lagi memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.” (Ayat 58)

Dua pokok dasar Akidah Islam

Para pemirsa yang dirahmati oleh Allah E. Dua ini sangat mendasar yang perlu kita ketahui.

Yang pertama adalah ‘ilmu yang berkaitan dengan siapa yang menciptakan semua alam jagad raya dan Allah telah tunjukkan dan apa tujuan Allah ketika menunjukkan semua ciptaannya kepada kita, yakni ilmu yang berkaitan dengan siapa itu Allah azza wa jalla dan itualah Allah inginkan setelah kita mengetahui  ragam ciptaan Allah yang sangat banyak dan aturan-aturan yang ada dalam ciptaan Allah azza wa jalla. ini yang pertama adalah mengenalnya seorang hamba terhadap Allah swt

Adapun yang kedua tadi, berkaitan dengan amal. Lalu apa yang hamba lakukan setelah dia mengenal di balik semua ciptaan yang ada adalah Allah E.

Sebagaimana yang telah kita sampaikan bahwasanya yang di tuntut dari hamba adalah dia mentauhidkan Allah dalam ibadah mereka. Atau (sebagai) hamba dia beribadah kepada Allah E dalam beribadah yang ia hanya tujukan kepada Allah dan tidak dia tujukan selain Allah E.

Apakah Allah membutuhkan hamba?

Ada pertanyaan penting telah kita mengetahui demikian para pemirsa yang dirahmati oleh Allah E. Boleh jadi akan terbesit dalam diri seorang atau dalam diri kita, kenapa Allah menginginkan kita beribadah kepada Allah D.

Apakah Allah E membutuhkan kita semuanya. Maka pertanyaan – pertanyaan ini sering mengusik dalam diri seseorang, karena syaithon akan sering membisikkan – bisikkan yang akan mengantarkan manusia berfikir buruk.

Maka sesungguhnya apabila kita mau sedikit memperhatikan apa yang dijelaskan Allah E sesungguhnya insya Allah kita akan mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang pertanyaan kenapa Allah E menciptakan kita dan menginginkan kepada kita beribadah kepada Allah D.

Allah tidak membutuhkan hambaNya, justru hamba selalu merasa bergantung padaNya

Apakah Allah membutuhkan kita?  Jawabannya adalah, “sama sekali Allah tidak membutuhkan para hambanya”
Diantara yang Allah kenalkan pada kita…

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ 

Wa’lamu annallaha ghaniyyun hamiidun

“Ketahuilah sesungguhnya Allah E Dzat Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. Al Baqarah (2): 267)

Allah dengan kekayaannya, Allah bukanlah dzat yang fakir, Allah dzat yang maha kaya. Sehingga Allah tidak membutuhkan kita semuanya. Apapun dari kita tidak ada yang dibutuhkan dari kita oleh Allah E. Sama sekali Allah tidak membutuhkan para makhluknya, sehingga diayat lain Allah mengatakan,

إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

…innallaha la ghoniyyun ‘anil ‘alamina 

“Sesungguhnya Allah E benar – benar tidak membutuhkan kepada para hambanya, kepada para makhluknya.” (QS Ali-‘Imran (3): 97 dan QS Al-‘Ankabut (29): 6)

Karena Allah telah mencukupi dirinya sendiri dan bahkan para makhluk yang mereka butuhkan Allah E. Sebagaimana yang Allah E katakan di ayat lainnya,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهَِ

Ya ayyuhannasu antumul fuqara’u ilallahi…

“Wahai manusia anda semua yang fakir, anda semua yang sangat membutuhkan mutlak Allah E.” (QS Fathir (35): 15)

Sehingga rasul kita yang mulia H, beliau memberikan bimbingan kepada kita dalam doa diantara doa yang dipajatkan oleh Allah D,

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ

Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin

“Wahai dzat yang menegakkan semua urusan, wahai dzat yang hidup, yang menegakkan semua urusan, dengan rahmatmu ya Allah kami beristighosah, kami meminta agar di mudahkan segala kesulitan yang menimpa kami…. Ya Allah perbaiki semua urusanku. Kita punya banyak urusan, kita punya urusan diri kita, kita punya urusan dengan keluarga kita, kita punya urusan dengan masyarakat kita, kita punya urusan dengan penguasa kita. Urusan kita sangat banyak… Ya Rabb perbaikilah urusanku.”

(HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah no. 46, An-Nasa’i dalam Al-Kubra 381: 570, Al-Bazzar dalam musnadnya 4/ 25/ 3107, Al-Hakim 1: 545. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 227).

Lalu perhatikan bagaimana Rasulullah H mengajarkan kepada kita pada kalimat berikutnya,

wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin

“Ya Rabb jangan engkau serahkan dalam memperbaiki semua keadaanku. Kepada diriku sendiri. Walaupun sekejap mata.”

Alangkah doa rasulullah H yang sangat mulia ini. Beliau bagaimana mengajarkan kepada kita. Agar kita merasa bergantung kepada Allah D. Karena kita hakekatnya adalah orang – orang yang sangat membutuhkan kepada Allah E.

Oleh karena itulah orang – orang yang mereka nampak menyombongkan diri, tidak mau tunduk kepada Allah, dan tidak mau beribadah kepada Allah E, karena daintaranya mereka terhinggapi perasaan merasa cukup dan merasa tidak membutuhkan Allah E.

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى

Innal insana la yathgha

“Sesungguhnya manusia benar-benar mereka sangat durhaka, mereka melapaui batas.” (QS Al-‘Alaq (96): 6)

Kenapa mereka melampaui batas? Kenapa mereka tidak beribadah kepada Allah? Kenapa mereka durhaka kepada Allah? Kenapa mereka tidak merasa membutuhkan Allah, sehingga dia tunduk, patuh, bersimpu dihadapan Allah E.

Apa kata Allah?

أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى

Anraaa hustaghnaaa

“Karena dia melihat dirinya sudah serba cukup” (QS Al-‘Alaq (96): 7)

Dia kaya, dia telah mencukupi dirinya, tidak membutuhkan yang lainnya, sampai dia merasa tidak membutuhkan Allah E.

Ini tipuan syaithan kepada manusia, maka Allah ingatkan, bahwasanya Allah E ‘ghaniyyun’, dan kita semua ini ‘fuqorah ilallah’.

Kekafiran/keimanan manusia tidak berdampak pada Allah

Para pemirsa yang dirahmati oleh Allah E, oleh karena itu Nabiyallah Musa S mengatakan kepadda kaumnya ‘bani israil’,

إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ

Intakfuruu ‘antum waman fiil ardhi jamii’an fa innallaha la ghaniyyun hamiidun

“Seandainya kalian semuanya kafir, bahkan apabila semua manusia yang ada di muka bumi dia kafir. Allah E tetap dalam keadaan dzat yang maha kaya, allah tidak jadi bangkrut/miskin, tidak menjadi sengsara, jatuh karena manusia kafir terhadap Allah D. Allah lagi tetap keadaan terpuji.” (QS Ibrahim (14): 8)

Walaupun diantara manusia tidaklah menyembah  Allah E. Karena Allah tidak membutuhkan hambanya, Allah tidak membutuhkan para makhluknya. Demikian pula ketika Allah E menjelaskan dalam hadits kudsinya, yang menunjukkan betapa Allah tidak membutuhkan kepada hambanya, Allah adalah dzat yang maha kaya dan bahkan hamba yang membutuhkan Allah E.
Allah katakan,

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا

“Wahai hambaku seandainya kalian manusia dan jin yang dari awal sampai yang paling akhir — dan kita tidak mengerti berapa triliyun, berapa jumlah manusia dan jin dari semenjak awal diciptakan sampai akhir terjadinya kiamat — , seandainya mereka berdiri di satu hati manusia, atau hati mereka seakan – akan di puncak ketakwaan kepada Allah D sehinggga jin dan manusia sejagat dari awal sampai akhir dipuncak ketakwaan kepada Allah azza wa jalla tidak menambah sedikit pun dari ketakwaan mereka semua kerajaan Allah D. Sebaliknya, apabila bangsa jin dan manusia mereka berada di satu hati yang paling fajir, yang paling kafir, yang paling durhaka. Maka sungguh tidak akan berkurang kerajaan Allah E. (HR. Muslim no. 2577)

Maka jawaban pertama , kenapa Allah E memerintahkan kita beribadah kepada Allah, apakah Allah membutuhkan kita. Sama sekali Allah tidak membutuhkan kita, bahkan kita yang membutuhkan Allah E.

Insya allah kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya..
Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Referensi:

  1. https://rumaysho.com/11790-dzikir-dan-doa-dengan-ya-hayyu-ya-qayyum.html
  2. https://rumaysho.com/1701-sangat-butuh-pada-allah.html
Durasi: 00:20:12
Pencatat: Khoir Bilah on 01 November 2016
Editor: kamti