Ceramah Singkat: Terjebak dalam Dua Pilihan – Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc.

Alhamdulillah…

Ikhwatul islam azza kumullah wa iyyakum..

Terkadang kita melihat atau kita di hadapkan dalam kehidupan kita pada perkara yang sebenarnya kedua – duanya penting. Namun terkadang kita bingung bagaimana menghadapi dua perakara yang sifatnya dua – duanya penting tersebut. Maka dari itu kita harus mengetahui sebuah kaidah ushul fiqih yang mengatakan, apabila ketemu dua mashlahat maka kita ambil mashlahat yang lebih besar.

Contoh misalnya apa bila yang wajib dan yang sunnah bertemu tentu kita dahulukan yang wajib. Apabila yang dua – duanya wajib, maka kita dahulukan fardhu ain dari pada fardhu kifayah, kalau ternyata dua – duanya fardhu ‘ain maka kita lebih dahulukan yang lebih besar manfaatnya.

Perkara ini sangat penting sekali di dalam Kehidupan kita. Karena terkadang kita melihat ya ada sebagian orang yang tidak mengetahui hal seperti ini. Akhirnya dia jatuh kepada jerat – jerat syaithan. Dengan cara akhirnya dia lebih mendahulukan sesuatu yang tidak lebih utama dan meninggalkan yang lebih utama.

Sebuah contoh, hadits (qudsi) Nabi H. Nabi H bersabda,
Allah ta’ala berfirman,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ

Wama taqaraba ilayya abdi bi syai’in ahabba ilayya mimmaftaradtuhu alaihi

“Tidaklah hambaku bertaqorrub kepadaku dengan sesuatu yang paling aku cintai dari apa, aku wajibkan kepadanya.” (H.R Bukhari)

Allah mengatakan dalam ayat ini, dalam hadits qudsi ini, bahwa amalan yang paling di cintai adalah yaitu sesuatu yang sifatnya wajib. Berarti yang wajib harus kita dahulukan!

Dahulukan panggilan Allah dan Rasul

Contoh di dalam peraktek Nabi H, yaitu sebuah dari hadits nabi saw bahwa ada seorang sahabat yang beranama Said bin Al Mu’alla yang sedang sholat sunnah. Kemudian, Nabi H memanggil, ternyata sa’id tidak menyahut panggilan Rasulullah H sampai Said salesai dari sholat.

Kemudian setelah selesai sholat datanglah ia kepada Rasulullah H. Maka rasulullah H mengatakan;

“Apa yang mencegah kamu tadi, untuk menyahut panggilanku ketika ‘aku’ memanggil kamu?”
“Tadi aku sedang sholat ya Rasulullah.” kata Said.
Maka kata Rasulullah H apa?, kata Rasulullah,
“Bukankan Allah ta’ala berfirman ;”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Yaa ayyuhaa alladziina aamanuu istajiibuu lillaahi walilrrasuuli idzaa da’aakum limaa yuhyiikum…

“Hai orang-orang yang beriman, jawablah panggilan Allah dan Rasulnnya apabila keduanya memanggil kamu kepada sesuatu  yang menghidupkan dihatimu.” (Al Anfal(8): 24)

Disini Rasulullah H menegur Said, bahwa seharusnya kamu dahulukan yang wajib. Menyahut panggilan Rasulullah itu hukumnya wajib, sedangkan sholat sunnah itu hukumnya sunnah.

Maka ini menunjukkan Ikhwatul islam azza kumullah wa iyyakum, kita dalam hal seperti ini, berusaha mendahulukan yang lebih utama/wajib/yang lebih besar maslahat dan manfaatnya dari pada yang tidak demikian.

Cerdas memilih amalan

Sebuah contoh dari praktek ulama, contoh misalnya Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya;

“Mana yang lebih engkau sukai, sholat malam atau menulis ilmu…?”

Kata Imam Ahmad kalau aku sholat malam maka itu pahalanya untuk diriku sendiri, tapi kalau aku menuntut ilmu, aku menulis ilmu maka manfaatnya untuk diriku dan untuk manusia dan ini lebih aku sukai dari pada sholat malam.

Berarti subhanallah, seseorang yang di berikan oleh Allah E kefakihan dalam keadaan seperti ini dia berusaha untuk memilih yang lebih besar manfaatnya, lebih besar mashlahatnya dan lebih wajib hukumnya.

Terkadang dalam kehidupan kita sehari-hari. Apabila kita puasa sunnah menyebabkan kita lalai dari melakukan sebuah kewajiban. Misalnya ada seseorang yang bekerja di sebuah perusahaan kebetulan pekerjaannya berat, dia puasa sunnah tetapi puasa sunnah itu menyebabkan dia lemah dalam melakukan pekerjaan tersebut. Sementara itu kewajiban dia dan amanah yang telah di bebankan oleh perusahaan oleh dia, ternyata dia tetap memilih untuk tetap dia puasa dan akhirnya dia lemah melakukan amanah yang sifatnya wajib. Kita katakan ini orang tertipu.

Makanya disebutkan sebuah atsar adalah Abdullah bin Mas’ud I. Sedikit puasa sunnahnya. beliau berkata kalau aku berpuasa, aku lemah dari sholat dan aku lebih memilih amalan sholat dari pada berpuasa.

Masya Allah, disini Abdullah bin Mas’ud mengatakan, ‘sholat  itu lebih utama dari pada puasa

Dimikian pula juga ya Ikhwatul islam, apabila kita seorang wanita misalnya di pagi hari dia ingin dzikir pagi dan petang. Kemudian tapi dia juga punya kewajiban untuk melayani suami, untuk mengurus anak. Kalau ternyata si wanita ini lebih mendahulukan dzikir pagi dan petang dari pada melayani suaminya, mengurus anaknya. Kita katakan, “orang ini tertipu.

Maka hendaklah kita cerdas dan kita berusaha untuk melihat mana yang lebih besar manfaatnya, mana yang lebih besar mashlahatnya. Sehingga kita pada saat itu kita bisa memilih terbesar dan terbaik dan terbagus pahalanya disisi Allah E.

Memilih ilmu yang lebih urgen

Ikhwatul islam azza kumullah wa iyyakum,

Nah inilah yang tentunya kita berusaha perhatikan dalam menuntut ilmu misalnya. Kalau misalnya disuatu hari ada beberapa tabligh akbar. Kita lihat mana materinya  yang betul-betul paling urgen, paling penting bagi kita dan paling kita butuhkan dalam kehidupan kita. Sehingga kita bisa memilihnya, jangan sampai kita mendahulukan menuntut ilmu bahasa arab tapi kita tinggalkan menuntut ilmu tentang tauhidullah jalla wa’ala.

Nah ini dia Ikhwatul islam azza kumullah wa iyyakum sebuah kaidah yang sangat agung, yang besar yang tentunya perlu untuk kita perhatikan hal – hal seperti ini, sehingga kita bisa mendapatkan pahala yang lebih besar disisi Allah E.

Wabila taufik,
Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa Anta astaghfiruka wa atubu ilaik.

Durasi: 00:08:47
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 26 October 2016
Editor: kamti