Serial Fikih Islam (29): Perbedaan Cara Sholat Pada Perempuan – Ustadz Abduh Tuasikal

 

 

Innalhamdalillaah nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastagfiruh wa na’uzubillahi min syururi anfusina wa min sayyi`ati a’malina man yahdillahu fa laa mudillalah  wa man yudlilhu fa la hadiyalah wa asyhadu alla ilaha illallaah wahdahu la syarikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma salli ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala alihi wa man tabi’ahum bi ihsan ila yaumiddin.

 

Para pemirsa sekalian, kali ini kita akan melihat pembahasan dari kitab matan al-gayah wat taqrib atau yang dikenal juga dengan matan Abu Syuja. Kali ini membahas tentang masalah sholat, dimana Abu Syuja akan membahas tentang pembeda antara sholat laki-laki dan sholat perempuan, ya pembeda antara sholat laki-laki dan sholat perempuan. Beliau menyampaikan hal ini setelah menyampaikan tentang rukun sholat, setelah menyampaikan tentang sunnah-sunnah sholat, lalu beliau menyampaikan apa saja perbedaan antara sholat laki-laki dan sholat perempuan.

 

Di sini yang pertama beliau sampaikan untuk sholat laki-laki ya untuk sholat laki-laki, laki-laki itu sholat ya dengan menjauhkan lengannya, menjauhkan lengannya saat dia itu turun ruku’ atau sujud, ketika sujud nampak jauh dari lambungnya ya itu nampak jauh dari lambungnya. Kemudian saat ruku’ ketika itu keadaannya tangan itu memegang lutut dan keadaan itu membungkuk, ya keadaan itu membungkuk. Nah itu posisi saat sujud dan ruku’.

 

Perbedaannya dengan perempuan ya saat perempuan itu ruku’ atau sujud itu kata beliau ya bahwasanya sholat perempuan itu

تضم بعضها إلى بع

tadummu ba’duha ila ba’d

“saling bertemu antara satu dengan lainnya”

bahwasanya sholat perempuan itu merapat untuk anggota-anggota badannya. Jadi tidak merenggang jauh, misalnya antara ya dia ketika sujud membuka tangannya, tidak demikian, namun merapatkannya. Hal ini disebabkan mubalagatu fi sakat karena tujuannya untuk menutup diri pada wanita agar dia lebih sempurna. Maka agar lebih rapat untuk wanita dibandingkan dengan laki-laki saat melaksanakan sholat.

 

Namun perlu dipahami bahwasanya yang lebih tepat dalam masalah ini, ketika wanita itu sholat gerakannya saat ruku’ ataupun sujud itu sama dengan laki-laki. Itu tadi tidak dibangun atas dalil yang menunjukkan ada perbedaan antara sholat laki-laki dan perempuan dalam masalah ruku’ ataupun sujudnya, yang tepat ketika ruku’ atupun sujud, saat sujud misalnya perempuan tetap juga membuka tangannya ya membuka tangannya jauh dari lambungnya sama dengan laki-laki karena tidak ada perbedaan dalam masalah ini. Inilah yang lebih tepat ketika seorang wanita itu melakukan sujudnya.

 

Kemudian perbedaan yang lainnya lagi ini disebutkan oleh Abu Syuja yang berikutnya adalah dalam masalah mengeraskan suara. Kalau untuk laki-laki mereka mengeraskan suaranya

في موضع الجهر

fi maudih’il jahr

“pada tempat yang jahr”

yaitu ketika membaca surat-surat atau membaca bacaan-bacaan yang dijahrkan. Dan ini dilakukan pada sholat-sholat tertentu yaitu pada sholat-sholat yang dikerjakan di malam hari sholat magrib, kemudian sholat isya, dan sholat subuh. dI sini bacaannya itu dijahrkan.

 

Sedangkan untuk perempuan dikatakan oleh Abu Syuja

تخفض صوتها بحضرة الرجال الأجانب

takhfudhu shautaha bi hadratir rijalil ajanib,

“merendahkan suaranya saat ada lelaki asing”

mereka melirihkan suara tatkala hadir laki-laki asing saat itu ya, yaitu laki-laki yang bukan mahram saat itu ya. Namun asalnya disini kalau kita lihat dari perkataan Abu Syuja berarti kalau tidak ada laki-laki tetap suaranya itu dikeraskan, semisal dia melaksanakan sholat maghrib walaupun sendirian, semisal dia malaksanakan sholat isya ataupun sholat subuh tetap dikeraskan.

 

Namun kalau ada laki-laki ya yang hadir saat itu mungkin dia melakukannya di masjid atau melakukannya di rumah, namun dekat pintu keluar sehingga nanti orang-orang mendengarnya. Maka ketika yang lebih bagus dikatakan Abu Syuja

تخفض صوتها

takhfudhu shautaha

“merendahkan suaranya”

dia memelankan suaranya, melirihkan suaranya daripada mengeraskannya. Nah ini menunjukkan juga bahwasanya suara perempuan itu bisa mengundang fitnah. Sebagaimana yang Allah a katakan:

فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

falaa takhdha’na bilqauli fayatma’al lazi fii qalbihi marad (Al-Ahzaab:32).

“Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara. sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya”

Maka janganlah wanita itu melembut-lembutkan suaranya ya, mendayu-dayukan suaranya sehingga dapat membuat orang yang punya penyakit dalam hatinya itu terjangkitlah penyakit dalam hatinya.

 

Kemudian yang ketiga lagi perbedaannya lagi adalah sholat laki-laki ketika dia itu memeringatkan imam, maka sebagaimana yang diperintahkan dalam hadits

kalau imam itu keliru maka makmum itu memperingatkannya dengan mengucapkan subhanallah. makmum mengingatkannya dengan mengucapkan subhanallah. Sedangkan untuk perempuan ya mereka melakukannya dengan memperingatkan imam dengan tashfiiq menepuk telapak tangannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

“jika imam itu keliru maka

فليسبح

falyusabbih

“maka bertasbihlah”

فإنّ إذا سبّح إلتفت غليه

fa inna iza sabbaha iltafat ilaihi

“karena ketika seseorang itu mengucapkan tasbih subhanallah maka imam itu akan mengingatnya”,

maka akan mengingatnya, namun untuk perempuan kata nabi e

وإنما تصفيق للنساء

wa innama tashfiiq lin nisaa`

“sedangkan untuk menepuk di sini digunakan untuk perempuan”

 

Yang dimaksudkan menepuk ya para pemirsa sekalian disini menepuknya itu bukan seperti ini (menepuk kedua telapak tangan atau tepuk tangan), namun cara menepuknya bagi perempuan ketika mengingatkan imam adalah telapak tangan bagian dalam menepuk punggung telapak tangan kiri. Sekali lagi telapak tangan bagian itu dalam menepuk punggung telapak tangan kiri. Ini yang disebut dengan tashfiiq. jadi cara menepuknya adalah sepeti ini (menepuk kedua telapak tangan atau tepuk tangan). Bukan main-main seperti ini (menepuk seperti biasa). Ini namanya abq ya ini namanya main-main ya ini tidak diperbolehkan dalam sholat bisa membuat sholatnya itu batal, namun caranya adalah dengan menepuk telapak tangan bagian dalam ke punggung telapak tangan kiri. Menepuk seperti ini (menepuk kedua telapak tangan atau tepuk tangan).

 

Kemudian yang jadi pembeda selanjutnya adalah dalam masalah menutup aurat. Di sini dikatakan oleh Abu Syuja untuk laki-laki auratnya adalah

ما بين صرته و رقبتيه

maa baina surratihi wa ruqbataihi

“apa yang terletak antara pusar dan kedua lututnya”

 

yaitu antara pusar dan lutut ya untuk laki-laki auratnya adalah antara pusar dan lutut. Ini sudah jelas sangat jelas sekali disebutkan di antaranya dari hadits Abu Ayub Al-Anshori dimana dia pernah mendengar Nabi e bersabda (7.30)

“Dan yang di atas lutut itu adalah aurat dan yang di bawah pusar itu adalah aurat” ya yang di atas lutut itu adalah aurat dan yang di bawah pusar itu adalah aurat.

 

Artinya disini kita perhatikan bahwa ini aurat laki-laki seperti itu. Namun dalam keadaan dia sholat hendaknya dia memakai pakaian yang lebih sempurna tidak sebatas hanya menutup pusar dan lutut, tidak demikian, tetap dia melakukan sholat itu menutup aurat dengan sempurna. Artinya sampai pundakpun dia tutup begitu juga dibagian bawah lututpun dia menutupnya.

 

Kemudian untuk perempuan bedanya auratnya adalah seperti kata Abu Syuja

جميع بدن الحرة عورة إلّا وجهها وكفيها

jami’u badanil hurrah auratun illa wajha wa kaffaiha

“keseluruhan badan wanita merdeja adalah aurat kecuali wajah dan dua telapak tangannya”

untuk wanita merdeka maka seluruh tubuhnya itu adalah aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Di sini kenapa dikecualikan demikian? Karena ini memang pendepat jumhur atau meyoritas ulama, di mana mereka menafsirkan firman Allah a:

وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

wa laa yubdiina ziinatahunna illa maa zhahara minhaa (An-Nur:31)

“Janganlah wanita itu menampakkan perhiasan diri mereka kecuali yang boleh dinampakkan bagi mereka”

 

Yaitu apa yang boleh di nampakkan? Para ulama katakan: wajah dan kedua telapak tangan wajah dan kedua telapak tangan. Perhatikan! disini kalau kita lihat dalam penjelasan dalam kitab Fathul Qarib yang dimaksudkan adalah wajah dan telapak tangan ini di tampakkan ketika dalam sholat. Artinya seluruh tubuh yang tertutup kecuali wajah dan telapak tangan.

 

Namun kata penulis Fathul Qarib Imam Ibnul Qossim Al-Gazzi bahwasanya untuk selain sholat tetap seluruh tubuhnya itu tertutup, artinya di luar sholat tetap seluruh tubuhnya itu tertutup. Nah inilah perbedaan antara sholat laki-laki dan perempuan.

 

Tadi kita lihat dalam masalah sujud yang lebih tepat itu sama, yang kemudian dalam masalah mengeraskan suara ya tadi sudah dibedakan oleh Abu Syuja: kalau sholat “jahriyah” laki-laki itu mengeraskannya, kalau sholat untuk perempuan perempuan tetap mengeraskan suaranya kecuali jika ada laki-laki asing.

 

Kemudian dalam masalah lagi mengingatkan imam kalau laki-laki dengan mengucapkan subhanallah, kalau perempuan dengan menepuk telapak tangannya. Kemudian yang terakhir adalah dalam masalah aurat. Aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut, sedangkan aurat perempuan yaitu adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.

 

Mudah-mudahan apa yang disampaikan oleh Abu Syuja bermanfaat dan bisa terus menambahkan pengetahuan tentang masalah sholat dan mudah-mudahan Allah SWT anugerahkan ilmu yang bermanfaat. Wa billahi taufiq wal hidayah.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Durasi: 00:10:28
Pencatat: Khoir Bilah on 22 October 2016
Editor: taufik