Posted in Fikih

Serial Fikih Islam (34): Hukum-Hukum Seorang Makmum – Ustadz Abduh Tuasikal

Alhamdulillah wash-shalatu was-salaamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi wa man tabi’ahum bi ihsani ila yaumid din

Mengenai sholat jama’ah kita sudah mengetahui bahwasanya pendapat yang paling tepat dalam masalah ini sholat jama’ah itu dihukumi wajib, nah sholat jama’ah itu dihukumi wajib (fardhu ‘ain), artinya bagi laki-laki baik dia ketika itu mukim atau bersafar tetap diwajibkan untuk sholat jama’ah.

 

Sekarang ada beberapa aturan dalam masalah sholat jama’ah ini yang harus diperhatikan, di sini akan dibahas oleh al-qadi Abu Syuja’. Jika yang terjadi ada jama’ah yang terletak di dalam masjid, ada jama’ah yang berdiam di masjid dan ada jama’ah yang di luar masjid bagaimana? Apakah di sini dibolehkan ataukah tidak.

 

Ya masalah di sini nanti ada akan disinggung oleh Abu Syuja’, yang paling masalah disini adalah jika jama’ahnya (makmumnya) itu berada di luar masjid. Apakah ketika dia berada di luar masjid sholatnya itu masih sah ataukah tidak. Nah disini ulama masa silam sudah membahas hal ini di antaranya al-qadi Abu Syuja’ itu membahasnya dalam matan Al-Gaayah wat Taqriib. Beliau katakan bahwasanya tempat mana saja jika seseorang itu sholat di masjid, selama dia tidak, posisinya itu mendahului imam (imam berada di depan, dia tidak mendahuluinya) maka sah sholatnya.

 

Abu Syuja’ itu mengatakan bahwasanya sah sholatnya

وهو عالم بصلاته

wa huwa ‘aalimun bishalaatihi

“dan dia mengetahui sholatnya”

selama dia mengetahui sholatnya imam.

 

Jadi boleh jadi dia mengetahuinya karena melihat langsung sholat imam tersebut atau dia melihat gerakan orang yang berada di depannya atau dari suara yang di dengar lewat pengeras suara atau suara yang dikeraskan saat itu, maka tatkala itu dia sholat dalam masjid seperti itu sholatnya itu sah walaupun mungkin jaraknya dia ke belakang ke belakang itu agak jauh berada di shaf terbelakang. Selama dia masih melihat imam atau dia mendengar suaranya imam atau melihat orang yang berada di depannya, shaf yang di depannya maka ketika itu sholatnya itu sah. Nah ini yang dibahas oleh Abu Syuja’ ya ketika seseorang itu sholat di dalam masjid.

 

Kemudian di bahas lagi oleh Abu Syuja’ bagaimana sekarang jika jama’ah atau ketika makmum itu berada khaarijal masjid berada di luar masjid, apakah ketika itu dibolehkan ataukah tidak. Di sini al-qadi Abu Syuja’ masih membolehkannya namun jika memenuhi syarat. Syaratnya di sini adalah disebutkan ada dua, ada dua syarat yang mesti dipenuhi ketika makmum itu berada di luar masjid. Boleh jadi berada di jauh di area-area luar masjid di sini ada area masjid di jauh dari situ atau berdiri di samping kanan dan kirinya ya, di samping kanan dan kirinya.

 

Nah di sini dikatakan oleh al-qadi Abu Syuja’ beliau katakan makmum yang berada di luar masjid syaratnya adalah yang pertama dia harus dekat qariiban harus dekat. Di sini digambarkan oleh ulama Syafi’iyyah mereka memberikan jarak yaitu sekitar (kalau kita konfersikan ke meter) itu adalah sekitar 135 meter, ya artinya 100 meter lebih itu masih dikatakan jaraknya itu masih dikatakan sah untuk berjama’ah, itu masih dikatakan qariib masih dikatakan dekat.

 

Kemudian dikatakan lagi ya syarat yang kedua

وهو عالم بصلاته وهو عالم بصلاته

wa huwa ‘aalimun bishalaatihi wa huwa ‘aalimun bishalaatihi

“dan dia mengetahui sholatnya dan dia mengetahui sholatnya”

yaitu mengetahui sholatnya imam.

 

Tadi mengetahuinya sudah kita jelaskan. Mengetahuinya itu bisa jadi melihat, bisa jadi itu mendengar, bisa jadi mengetahui dari shaf yang bersambung di depannya. Jadi mengetahuinya seperti itu. Kemudian tadi bukan dua saja,

ternyata Abu Syuja tambahkan tiga

ولا حائل هناك

wa laa ha`ila hunaak

“Tidak ada penghalang di situ”

tidak ada penghalang saat itu, ya tidak ada penghalang saat itu.

 

Namun disini dikatakan oleh ulama yang lainnya boleh ada penghalang asalkan itu bersambung, jadi boleh jadi beda ruangan asalkan itu bersambung shafnya, ada yang bersambung shafnya ke ruangan tersebut, maka masih tetap dikatakan sah. Namun kalau Abu Syuja’ ini menyaratkan tidak ada penghalang pintu, dinding saat itu. Namun pendapat yang lebih tepat di sini adalah selama ada penghalang di situ masih bisa shafnya itu bersambung dan masih mendengar suaranya imam, masih mengetahui sholatnya imam maka sholatnya itu sah. Nah ini syarat yang dipenuhi.

 

Artinya di sini kalau seseorang misalnya imamnya itu di masjid kemudian dia berada di rumahnya sendiri di samping masjid (tidak bersambungnya shaf disitu), lalu dia sholat niatkan berjama’ah untuk imamnya berda di masjid, maka seperti ini sholatnya tidak sah. Walaupun mungkin dia dengar suaranya, tapi karena tidak bersambung ya maka sholatnya tidak sah.

 

Begitu pula kalau seseorang cuma menonton (melihat dari tv), seperti kita lihat kadang ada tayangan langsung sholat berjama’ah di Masjidil Haram, kemudian ada yang sholat di rumahnya berniat supaya mengikuti imam yang berada di Masjidil Haram, inipun tidak dibolehkan. Karena apa? Shafnya ketika itu tidak bersambung, meskipun dia dengar suaranya imam, meskipun dia mendengar suaranya imam tetapi shafnya tidak bersambung saat itu, ini juga tidak dikatakan qariib dekat. Maka sholat berjama’ah saat itu tidaklah sah.

 

Maka ini aturan yang harus dilihat tatkala seseorang itu berda di dalam masjid jadi makmum (jadi jama’ah), maka dia harus mengetahui sholatnya imam. Kemudian kalau dia berda di luar masjid intinya syaratnya harus dipenuhi yang pertama dekat, kemudian yang kedua adalah mengetahui sholatnya imam, kemudian yang ketiga adalah shafnya itu bersambung. Tiga syarat ini yang mesti dipenuhi, maka sholat berjama’ahnya itu baru dikatakan sah.

 

Jadi inilah aturan yang mesti diperhatikan ketika seorang itu menjadi makmum dalam sholat berjama’ah, jadi kita tidak asal-asalan untuk membuat shaf. Maka aturan-aturan ini dipenuhi agar sholat kita menjadi sempurna, sholat kita menjadi sah dan amalan inilah yang nanti akan diterima di sisi Allah a. Demikian ya para pemirsa sekalian mudah-mudahan bermanfaat. wa billahi taufik wal hidayah.

Wassaalamu’alaikum warahmatullaah wabarakaatuh.

Durasi: 00:06:31
Pencatat: Khoir Bilah on 19 October 2016
Editor: taufik
Scroll to top
Shares
%d bloggers like this: