Cambuk Hati: Anak Sisa – Ustadz Ammi Nur Baits

Ketika anda merencanakan anak anda untuk menjadi seorang dokter. Anda akan menyiapkan dari kecil, anda akan pantau belajarnya, anda pantau kegiatannya dan seterusnya.

Tak jauh berbeda ketika anda menghendaki putra anda menjadi seorang engineer, atau seorang arsitek atau seorang perancang teknologi yang handal, anda pun akan menyiapkannya dengan serius. Demikian pula ketika anda menghendaki putra anda menjadi seorang aparat Negara, menjadi pejabat, menjadi pemimpin yang handal berpolitik atau menjadi seorang ekonomi yang handal. Mungkin anda siapkan rencana itu sejak dini.

Bagi masyarakat kita mereka sepakat, semua itu cita-cita besar. Seolah hanya anak cerdas yang berhak mendudukinya. Sehingga ketika ada anak yang cerdas ditengah mereka semua akan menyarankan agar dia kuliah di bidang sains, kuliah di teknologi, atau minimal ilmu umum. Mereka demikian bangga ketika anaknya bisa kuliah umum atau mendalami sains dan teknologi.

Namun sangat disayangkan kebanggan semacam ini ternyata tidak berlaku untuk ilmu agama. Bagi sebagian masyarakat pesantren pilihan paling dasar, pilihan terakhir dalam belajar. Mereka bahkan akan menyayangkan ketika ada anak cerdas yang masuk ke pesantren. Pesantren itu tempatnya anak sisa, bukan anak cerdas.

Anda mungkin sering mendengar bagaimana sikap orang tua di masyarakat ketika ada anak nakal ditengah mereka, ”awas kamu nakal nanti aku pondokkan.”  Allahu ‘alam musta’an.

Jadi terkenal pondok pesantren dikesankan sebagai tempat kumpulan anak-anak nakal, buangan dari sekolah-sekolah lainnya. Apa yang anda bayangkan ketika karakter semacam ini berlaku dimasyarakat. Anda bisa memastikan mungkin para tokoh agama dimasa mendatang, calon-calon tokoh agama akan dipegang oleh mereka yang kurang serius dalam belajar, atau di pegang oleh mereka yang dulu yang masa silamnya adalah masa silam yang nakal yang kurang cerdas.

Baik, barangkali kita perlu sadar, kita bisa perhatikan bagaimana Allah E memilih Rasulnya, Allah akan menunjuk manusia terbaik ditengah mereka. Allah berfirman:

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ

Allaahu yasthafii mina almalaa-ikati rusulan waminannaasi

“Allah ta’ala memilih para utusan dari kalangan malaikat dan dari manusia.” (Al-Hajj:75)

Allah pilih dari mereka, di ayat lain Allah berfirman:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ

Warabbuka yakhluqu maa yasyaau wayakhtaaru

“Robmu menciptakan apa saja yang dia hendaki, dia memilihnya sesuai yang Dia kehendaki.” (Al-Qasas:68)

Tentu saja untuk urusan risalah Allah pilih yang terbaik. Allah tunjuk manusia pilihan karena mereka akan mendakwahkan, mengemban dakwah islam yang akan menyampaikan,

“ ًقَوْلا ثَقِيلا ”

Qoulan Tsaqiila. Kalimat yang berat yaitu Al-qur’an.

Karena Al-qur’an yaitu sesuatu yang sangat berharga. Sehingga sudah sepantasnya. Generasi yang meneruskan perjuangan para nabi. Haruslah generasi pilihan, generasi yang cerdas akal dan cerdas mental.

Bukan anak-anak sisa, yang terkesan suram masa depannya. Para da’i itu menghadapi masyarakat cakupannya lebih luas, bahkan lebih luas dari pada dokter menghadapi pasien. Atau seorang engineer yang berurusan dengan teknologi.

Ketika dokter melayani pasien, technocrat merancang kemajuan teknologi, seorang ekonom mengendalikan roda bisnis, para dai mereka mendidik umat menentukan kualitas agama dan moral masyarakat. Sekali lagi berikan perhatian untuk calon penduduk umat dimasa mendatang.

Arahkan anak cerdas untuk akhirat bukan semata-mata menekuni ilmu dunia!

Durasi: 00:04:44
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 19 October 2016
Editor: kamti