Posted in Aqidah, Hikmah

Nasihat bagi Para Jamaah Haji – Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

Sesungguhnya di dalam haji terdapat pelajaran yang sangat banyak sekali. Baik itu pelajaran yang berhubungan dengan masalah tauhid, manhaj ataupun berhubungan dengan masalah tazkiyatun nufus. Karena haji adalah momen yang sangat penting sekali untuk senantiasa kita mengingat tentang hikmah – hikmah yang agung dari pensyariatan haji itu.

Yang paling besar yaitu memetik hikmah dari haji dari sisi aqidah. Dimana haji merupakan simbol tentang tauhidullah, mentauhidkan Allah. Simbol kepasrahan seorang hamba kepada Rabbnya. Simbol ketaatan hamba yang total kepada Allah E. Lihatlah yang diucapkan oleh jamaah haji disaat mereka berihram, kalimat – kalimat yang penuh dengan isinya adalah tauhidullah jalla wa ala.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ

Labaik Allahumma Labaik, Labaik lasyarikalakalabik, Innal hamda wa ni’mataka lakawalmulk, lasyarikalak.

Labaik Allahumma Labaik Ya Allah aku menyahut panggilanmu ya Allah.
Labaik lasyarikalakalabik Ketika kita berkata Ya Allah aku menyahut panggilanmu karena ini memang menunjukkan hakikat dari perealisasian seorang hamba untuk menyahut panggilan Allah dan RasulNya. Allah ta’ala berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Yaa ayyuhaa alladziina aamanuu istajiibuu lillaahi walilrrasuuli idzaa da’aakum limaa yuhyiikum wai’lamuu anna allaaha yahuulu bayna almar-i waqalbihi wa-annahu ilayhi tuhsyaruuna

“Hai orang – orang yang beriman sahutlah panggilan Allah dan RasulNya, apabila keduanya memanggil kamu pada sesuatu yang bisa menghidupkan hatimu.” (QS Al-Anfal: 24)

Allah E mewajibkan setiap hamba hambaNya untuk menyahut panggilan Allah dan RasulNya. Ini dia kita menyahut panggilan Allah pada saat berhaji. Demikian seorang hamba untuk berusaha semaksimal mungkin menyahut panggilan Allah karena ia sadar dirinya hamba. Dirinya diberikan berbagai macam kenikmatan oleh Allah. Kewajiban dia sebagai seorang hamba adalah untuk tunduk dan patuh kepadaNya.

Labaik kala syarikala ka labaik Ya Allah aku menyahut panggilanMu tidak ada sekutu bagimu, peniadaan sekutu bagi Allah menunjukkan bahwa ia betul – betul mentauhidkan Allah. Lasyarikalak Tidak ada tandingan bagiMu ya Allah, karena sesungguhnya syirik merupakan dosa yang paling besar bahkan kezholiman yang paling besar adalah kesyirikian.

Allah Ta’ala berfirman;

…إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

… inna alsysyirka lazhulmun ‘azhiimun.

“…. sesungguhnya kesyirikan itu kezholiman yang besar.” (QS Luqman: 13)

Bahkan Allah tidak akan pernah mengampuni dosa syirik. Dan masih mengampuni dosa yang lebih rendah dari kesyirikan.

Allah berfirman;

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Innallaha laa yaghfiru an yusyraka bihi wayaghfiru maa duuna dzaalika liman yasyaaa…

“Susungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan mengampuni dosa lebih rendah dari itu bagi siapa yang Allah kehendaki.” (QS An Nisa: 48)

Innalhamda wa nikmata laka walmulk.
Sesungguhnya pujian nikmat dan kerajaan semuanya milik engkau. Subhanallah seorang hamba mengakui bahwa Rabb nya maha terpuji dan memang Allah terpuji dalam perbuatannya, Allah terpuji dalam sifat – sifat dan namaNya, Allah terpuji dalam penciptaanNya, Allah terpuji dalam syariatNya, bahkan Allah terpuji dalam semua perbuatanNya dan ketentuanNya. Walaupun terkadang manusia tidak mengerti apa yang Allah inginkan dibalik itu semuanya.

Coba hitung berapa banyak nikmat yang diberikan kepada kita setiap detiknya, setiap menitnya,

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

wa-in ta’udduu ni’mata allaahi laa tuhsuuhaa …

Jika kamu menghitung – hitung nikmat Allah kamu tidak akan bisa menghitung – hitungnya. (QS An Nahl: 18)

Maka ketika seorang hamba mengakui bahwa nikmat itu semua hanya milik Allah itu menunjukkan bahwa dirinya mengaku fakir, tidak memiliki apapun. Kenikmatan badan dia, kenikmatan mata dia, kenikmatan seluruh yang Allah berikan kepada dia dalam kehidupan dunia, semuanya milik Allah.

Demikian pula kerajaan semua milik Allah semuanya, bumi dan langit yang menciptakan Allah, maka raja yang hakiki adalah Allah. Kelak tentu nanti pada hari kiamat, Allah E adalah raja dimana raja – raja dunia pada waktu itu tidak lagi memiliki kerajaan sedikit pun juga.

Subhanallah, ucapan yang diucapkan yang penuh dengan mentauhidkan Allah, menjauhkan kesyirikan yang merupakan penghambahaan yang total kepada Allah saja, bukan kepada selain Allah. Maka lihatlah perbuatan – perbuatan haji itu ketka kita thawaf di ka’bah dan kita tidak mau thawaf diselain ka’bah. Kenapa? Karena Allah dan  rasulNya tidak pernah memerintahkan untuk thawaf diselain ka’bah. Kalau bukan karena Allah dan RasulNya tentu kita tidak akan melakukan thawaf di ka’bah. Bukan berarti kita mengagungkan ka’bah.

Ketika kita thawaf di ka’bah apakah kita berarti menyembah ka’bah? Tidak. Ketika kita sholah menghadap ka’bah dan sujud kepada ka’bah, apakah berarti kita menyembah ka’bah? Tidak. Tapi karena pencipta ka’bah, Rabbnya Ka’bah, memerintahkan kita untuk thawaf di ka’bah. Memerintahkan kita untuk sholat menghadap ke ka’bah. Kalau bukan karena perintah Rabbnya kita tidak akan pernah melakukan itu. Kita hanya bersujud kepada Allah.

Sebagian orang menganggap ketika kita thawaf di ka’bah kita seakan – akan telah mengagungkan dan menyembah ka’bah, ini sebuah pemahaman yang tentu sangat – sangat aneh sekali. Sebab kita thawaf di ka’bah itu karena perintah pencipta ka’bah, bukan kah Allah telah berfirman dalam surat Al Baqarah.

“Dan hendaklah mereka thawaf di baitul Atiq yaitu ka’bah”

Allah yang memerintahkan, oleh karena itulah Umar bin Khatab ra, ketika beliau mencium hajar aswad apa kata Umar;

إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

“Aku ini tau bahwa kamu itu hanyalah batu, kamu tidak bisa memberi manfaat dan mudorot sama sekali, kalau bukan karena aku melihat Rasulullah saw mencium kamu, aku tidak akan mencium kamu.”

Ini semua kita lakukan karena sebagai taat ketaatan kita kepada Allah dan RasulNya. Karena Allah yang memerintahkan kita ketika kita thawaf di ka’bah, kita memperbanyak dzikir kepada Allah, melaksanakan perintah Allah, mentauhidkan Allah, mengesakan Allah, menjauhkan kesyirikan – kesyirikan, sehingga pada waktu itu jadilah ia seorang hamba yang betul – betul tunduk dan patuh dan taslim kepada Allah E.

Lihatlah bagaimana ketundukan yang total yang dilakukan oleh para jamaah haji. Ketika mereka harus wukuf di arafah dibawah terik matahari yang menyengat kemudian mereka pun harus pergi ke mina melempar jumrah dengan tujuh batu kerikil yang mungkin kita tidak mengerti kenapa harus tujuh? Kenapa harus melempar dengan batu? Ada apa hikmah dibalik itu? Terkadang kita tidak mengerti. Tapi kita harus taslim, kita harus tunduk dan patuh kepada Allah. Itu merupakan konsekuensi dari tauhid kepada Allah C.

Dan seorang hamba tidak sempurna keimanannya, kecuali apabila ia betul – betul mempunyai jiwa taslim yang sempurna. Allah berfirman;

 فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Falaa warabbika laa yu/minuuna hattaa yuhakkimuuka fiimaa syajara baynahum tsumma laa yajiduu fii anfusihim harajan mimmaa qadhayta wayusallimuu tasliimaan.

“Tidak demi Rabb mu mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam perkara yang mereka selisihkan kemudian mereka tidak mendapatkan dalam diri mereka rasa berat untuk menerima keputusanmu lalu merekapun taslim dengan sebenar – benarnya taslim.” (QS An Nisa: 65)

Itulah hamba, dia taslim walaupun dia tidak mengerti apa hikmah dibalik daripada ibadah tapi ia tau ini perintah Allah. Baik ia tau hikmahnya atau pun ia tidak tau, tetap ia lakukan dengan penuh keihklasan mengharapkan wajah Allah semata.

Betapa indahnya haji itu, betapa ia adalah simbol keikhlasan, betapa ia adalah simbol tauhid kepada Allah C, simbol taslim yang sempurna seorang hamba kepada Rabbnya. Maka, kita berusaha untuk memetik hikmah yang agung ini untuk menjadi hamba yang sempurna dan mentauhidkan Allah B.

Durasi: 00:11:41
Pemateri:
Pencatat: Haris Eko Prasetyo on 17 October 2016
Editor: kamti
Scroll to top
Shares
%d bloggers like this: