Posted in Hikmah

Cambuk Hati: Mendung Tak Berarti Hujan – Ustadz Ammi Nur Baits

Salah satu di antara kebiasaan Nabi H ketika beliau melihat mendung yang sangat gelap pertanda akan datangnya hujan. Yang dilakukan oleh Rasulullah H beliau selalu merasa takut kepada Allah E.

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari ‘Aisyah J beliau mengatakan:

كَانَ إِذَا رَأَى نَاشِئاً فِي أُفُقٍ  تَرَكَ عَمَلَهُ- وَإِنْ كَانَ فِي صَلَاةٍ

Kaana idzaa roaynaasyian fii ufuqin taroka ‘gamalahu wa in kaana fii sholaatin

“Rasulullah H ketika melihat sesuatu yang menakutkan di langit mendung yang sangat gelap, beliau tinggalkan semua aktivitasnya, sampaipun ketika beliau sedang sholat.”

Dalam riwayat Bukhori Muslim, Aisyah juga menceritakan:

إِذَا رَأَى مَخِيلَةً فِى السَّمَاءِ أَقْبَلَ وَأَدْبَرَ وَدَخَلَ وَخَرَجَ وَتَغَيَّرَ وَجْهُهُ

idzaa tagoyyaro fissamaa tagoyyaro lahu

“Apabila ada mendung gelap di atas maka roman muka Nabi H berubah terlihat seperti orang yang sangat ketakutan, beliau keluar masuk rumah, datang pergi,   فَإِذَا أَمْطَرَتِ السَّمَاءُ سُرِّىَ عَنْهُ namun ketika hujan turun barulah kelihatan wajah gembira di muka Rasulullah H.”

Kata ‘Aisyah:

عَرَفْتُ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ

‘Araftu dzaalika fii wajhih

“Saya tau itu karena melihat wajah Nabi H

‘Aisyah merasa keheranan dengan sikap Nabi H ini ketika mendung, di saat banyak sahabat merasa bahagia, merasa gembira. Rasulullah H justru merasa sangat takut kepada Allah E.

Mendung gelap dan menakutkan bisa jadi awal adzab

Ketika ‘Aisyah bertanya kepada beliau: wahai Rasulullah anda memilki sikap yang aneh, disaat mendung gelap kenapa anda takut kepada Allah E?

Apa jawab Nabi H?

 لَعَلَّهُ كَمَا قَالَ قَوْمٌ فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ

La’gallahu kamaa qola ya ‘ Aisyah qoumun falamaa roauhu ‘gariidhoo mustaqbila au diyatihim

Wahai ‘Aisyah mungkin ini seperti yang pernah Allah ceritakan tentang kaum ‘Aad, kaum ‘Aad dihukum oleh Allah E, dibinasakan oleh Allah E dengan Allah turunkan hujan yang sangat lebat, angin yang sangat dingin sampai mereka semuanya mati karena kekufuran mereka, dan muqoddimahnya,  pengantarnya adalah datangnya mendung yang sangat gelap di atas mereka.

Allah ceritakan

فَلَمَّا رَأَوْهُ عَارِضًا مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ

Falammaa roautu ‘gaaridhon mustaqbala au diyaatihim

“Ketika kaum ‘Aad melihat عَارِضًا awan yang sangat gelap, مُسْتَقْبِلَ أَوْدِيَتِهِمْ mulai datang mendekati lembah mereka, tempat tinggal mereka, قَالُوا mereka hanya berkomentar هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا, ini adalah mendung yang sebentar lagi akan membawa hujan bagi kami.” [Al-Ahqaf (46): 24]

Artinya, sama sekali tidak ada perasaan takut dalam diri mereka!

Ini berbeda dengan kebiasaan Nabi H. Coba kita bandingkan antara kondisi orang musyrikin dengan kebiasaan Rasulullah H, ketika Nabi H melihat suasana langit yang gelap, yang menakutkan, yang terjadi Rasulullah H takut kepada Allah E. Karena beliau khawatir, jangan-jangan ini adalah muqoddimah adzab untuk ummatnya.

Berbeda dengan orang musyrik, orang musyrik melihat suasana semacam itu sama sekali tidak ada perasaan takut kepada Allah E. Sehingga yang terjadi, mereka hanya komentar “sebentar lagi turun hujan.”.

Perilaku aneh umat hari ini

Ada sesuatu yang lebih mengherankan lagi, jika kita saksikan banyak masyarakat di tengah kita ketika mereka melihat peristiwa alam dan fenomena alam yang menakutkan, yang terjadi bukannya mereka takut kepada Allah E, namun yang terjadi adalah mereka akan mengeluarkan HP mereka, mereka mengeluarkan kamera mereka kemudian potret sana potret sini bahkan selfie di depan peristiwa yang menakutkan tadi.

Mungkin kita masih sering melihat ada orang yang selfie dengan background angin lisus, dengan background puting beliung, dengan background apa misalnya kilat yang menyambar, dengan background suasana-suasana yang menakutkan seolah itu sesuatu yang membanggakan. Yang kita pahami mereka tidak takut kepada Allah E.

Maka bandingkan tradisi mereka dengan tradisi orang musyrik, dengan tradisi Rasulullah H. Melihat fenomena alam, Rasulullah H ingat Allah, beliau takut kepada Allah E. Berbeda dengan orang di zaman sekarang, terkadang banyak di antara mereka melihat fenomena alam bukannya takut kepada Allah E, tapi dijadikan ajang untuk selfie.

Lalai peluang adzab sekarang sangat besar

Padahal kalau kita bandingkan, peluang datangnya adzab di masa Nabi E dengan peluang datangnya adzab di masa kita jauh lebih besar peluang datangnya adzab di masa kita. Di masa beliau banyak orang sholeh bahkan ada Nabi H sehingga untuk peluang datangnya adzab sangat kecil, tapi di masa kita masya Allah manusia banyak melakukan kemaksiatan sehingga peluang datangnya adzab bisa jadi lebih besar.

Namun suasana hati yang berbeda, Rasulullah H semakin takut kepada Allah ketika beliau melihat suasana gelap semacam itu, fenomena alam yang menakutkan, tapi kita justru malah membanggakan, tapi kita justru malah senang, merasa bangga bahkan menggunakannya sebagai  background untuk fotografi.

Mestinya kita takut dan ingat Allah

Perlu kita pahami bahwa Allah E menurunkan berbagai macam tanda kekuasaannya, peristiwa – peristiwa besar itu tujuan besarnya adalah agar kita takut kepada-Nya. Allah berfirman:

وَمَا نُرْسِلُ بِالآيَاتِ إِلا تَخْوِيفًا

Wa maa nursilu bil aayaati illaa takhwiiqoo

“Tidaklah Aku mengirimkan ayat – ayat tanda kekuasaan-Ku kecuali untuk menakut – nakuti mereka” [Al-Isra (17) :59]

Maka tujuan besar Allah ciptakan, Allah tunjukkan kepada kita berbagai macam fenomena alam yang luar biasa adalah agar kita takut kepada pencipta-Nya.

Durasi: 00:06:41
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 11 November 2016
Editor: kamti
Scroll to top
Shares
%d bloggers like this: