Posted in Akhlak

Cambuk Hati: Hiburan Saldo – Ustadz Ammi Nur Baits

Saya yakin anda tentu telah menghafal surat Al-Humazah, salah satu surat di juz ‘Amma yang mengingatkan kita agar tidak menjadi orang yang rakus harta.

Kita bisa menyimpulkan demikian karena dalam surat ini Allah E mencela orang yang terlalu suka menghitung hartanya, seolah hartanya yang bisa membuat dia bahagia, yang ini merupakan karakter orang musyrik. Allah E berfirman:

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ

— Waylun likulli humazatin lumazatin

“Kecelakaan bagi setiap pengumpat dan pencela” (0:50)(QS Al Humazah (104): 1)

Sebagian ahli tafsir menyebutkan ayat ini turun terkait beberapa orang musyrikin Quraisy yang suka menghina Nabi H dan suka menghina kaum muslimin seperti Umayyah bin Kholaf atau Al-walid bin Mughiroh, bagaiman karakter mereka? Allah E jelaskan dilanjutan ayat, mereka itu yang memiliki karakter:

الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ

—  alladzii jama’a maalan wa’addadahu

“Mereka orang yang suka mengumpulkan harta dan suka menghitung-hitungnya” (1:25) (QS Al Humazah (104): 2)

Anda bisa perhatikan, orang ini memiliki karakter pertama suka mengumpulkan harta dan yang kedua merasa senang dengan melihat dan menghitung hartanya.

Kata sebagian ulama makna wa’addadah dari kata ta’did yang artinya menghitung jumlah uang atau jumlah harta yang dia miliki yang itu semua diluar kebutuhannya.

Kenapa harus dihitung? Karena dia merasa nyaman ketika mengetahui jumlah hartanya, Allah E sebutkan tujuan mereka dilanjutan ayat:

يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

— yahsabu anna maalahu akhladahu

“Dia mengira bahwa hartanya itu yang akan membuat dia kekal hidup di dunia ini” (2:13) (QS Al Humazah (104): 3)

Dia menyangka hartanya yang akan membahagiakannya, dengan hartanya dia merasa bisa aman dari sakit, aman dari setiap bencana dan musibah, itulah karakter orang musyrik.

Sekalipun ayat ini untuk mencela orang musyrikin, namun bukan berarti tidak berlaku bagi orang muslim yang membacanya. Karena bisa jadi ada orang muslim yang meniru kebiasaan buruk orang kafir.

Anda bisa perhatikan, umumnya manusia merasa tenang, merasa tentram ketika melihat hartanya. Dia mendapatkan kebahagiaan ketika menghitung uangnya, hari ini dia buka uangnya, dia hitung di lemarinya, dia lihat, dia hitung, besok lagi dia buka lemarinya, dia hitung – hitung lagi uangnya.

Padahal dia tau dengan yakin bahwa uangnya tidak di apa – apakan sama sekali. Ini contoh kecintaan pada harta (seperti) di masa silam.

Setelah ini setelah masyarakat dimudahkan dengan berbagai fasilitas internet, orang bisa melihat hartanya hanya dengan sekali klik, ya itulah kebiasaan melihat saldo rekening.

Banyak orang yang merasa senang ketika dia membuka saldo rekeningnya. Pagi saldo dibuka masuk kerja, sore hari mau keluar kantor saldo lagi dibuka, dia merasakan ketenangan ketika dia bisa melihat saldo rekeningnya.

Saya tidak berbicara untuk mereka yang banyak melakukan transaksi yang lalu lintas keuangannya lancar. Seperti anda yang mungkin melakukan bisnis online, boleh saja anda membuka rekening anda karena ada transaksi masuk atau keluar.

Yang menjadi masalah ketika ada orang yang dia jadikan saldo rekeningnya itu sebagai hiburan baginya, dia merasa nyaman ketika melihat saldo rekeningnya, padahal dia sama sekali tidak melakukan transaksi apapun dengan rekeningnya.

 

Saldo rekening, itulah hiburan masa kini!..

Durasi: 00:04:39
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 08 November 2016
Editor: kamti
Scroll to top
Shares
%d bloggers like this: