PENTING! NONTON DULU 10 + 1 INI SEBELUM PUASA :)

Bulan Ramadhan telah tiba. Umat islam diseluruh dunia bergembira dan berlomba-lomba untuk memperubanyak ibadah. Namun banyak hal yang perlu diluruskan terkait kebiasaan yang dilakukan ketika bulan Ramadhan, khususnya di Indonesia. Berikut adalah 11 hal yang perlu diluruskan ketika puasa:

Hal Pertama: Tradisi Padusan

Menjelang bulan suci Ramadhan kaum muslimin di Indonesia melakukan ritual padusan. Mereka anggap itu untuk membersihkan jiwa dan raga, agar terbebas dari segala dosa. Ini adalah budaya yang tidak sesuai dengan Islam. Islam tidak pernah mengajarkan membersihkan dosa dengan cara padusan.

Hal Kedua: Nyekar

Ziarah kubur termasuk amal mulia dalam Islam. Karena ziarah kubur bisa mengingatkan orang akan kematian. Islam memberikan kelonggaran untuk melakukan ziarah kubur di waktu kapanpun. Karena itu kita tidak boleh membatasinya hanya ketika menjelang Ramadhan.

Hal Ketiga: Teriak Sahur (Membangunkan sahur sahur)

Banyak daerah memiliki cara berbeda untuk menunjukan waktu sahur. Ada yang memukul tiang listrik, kentongan, teriak-teriak sambil membawa rebana dan lain-lain. Padahal Islam telah memiliki cara sendiri untuk menunjukan waktu sahur, yaitu adzan awal sebelum subuh. Lebih baik kita melakukan sunnah daripada melakukan tindakan yang mengganggu istirahat masyarakat.

Hal Keempat: Waktu Imsak

Sebagian kaum muslimin beranggapan bahwa batas waktu makan dan minum adalah imsak. Yang benar justru sebaliknya, 10 menit sebelum subuh adalah waktu terbaik untuk makan sahur. Amar bin Mai’mun menceritakan: “Dahulu para sahabat nabi Muhammad H adalah orang-orang yang paling segera berbuka dan paling telat sahur (HR. Baihaqi)

Hal Kelima: Mengeraskan Bacaan Niat Puasa

Sobatku, niat letaknya di hati bukan dilisan karena inti niat adalah keinginan untuk melakukan suatu amal. Jika seseorang sudah ada keinginan berarti dia sudah berniat, Rasulullah H tidak pernah mencontohkannya.

Hal Keenam: Sikat Gigi Ketika Berpuasa

Sikat gigi ketika berpuasa hukumnya diperbolehkan, hanya saja perlu waspada ketika menggunakan pasta gigi. Jangan sampai ada bagian yang tertelan. Nabi H menganjurkan untuk menjaga kebersihan mulut mendekatkan ridha Allah. Siwak itu membersihkan mulut dan mendekatkan pada ridha Allah (HR. Ahmad dan dishahihkan Syu’aib Al Arna’uth).

Hal Ketujuh: Muntah Ketika Puasa

Sobatku, muntah tanpa disengaja tidak membatalkan puasa sedangkan muntah dengan sengaja puasanya batal. Jika kita merasa perutnya mual dan akan keluar sesuatu maka jangan memaksakan diri untuk memuntahkannya. Rasulullah H bersabda: “Siapa yang tidak sengaja muntah tidak wajib qodho dan siapa yang sengaja muntah wajib qodho artinya puasanya batal”. (HR. Turmudzi dan dishahihkan Al Albani)

Hal Kedelapan: Mencicipi Masakan

Sobatku, mencicipi masakan ketika sedang berpuasa selama tidak tertelah hukumnya boleh. Ibnu Abbas pernah mengatakan: “Tidak mengapa mencicipi cuka atau makanan lainnya selama tidak masuk kekerongkongan”. (HR. Bukhari secara mualaq)

Hal Kesembilan: Tidur Berpahala

Apakah tidurnya orang yang berpuasa itu berpahala? Pertanyaan ini berasal dari hadits yang menyatakan “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya adalah mustajab dan pahala amalannyapun akan dilipatgandakan”. Namun hadits ini statusnya palsu, ada perawi yang bergelar pendusta.

Hal Kesepuluh: Bekam Dan Donor Darah Ketika Berpuasa

Mengeluarkan darah tidak membatalkan puasa. Dalilnya Nabi H memberi keringanan untuk berbekam ketika berpuasa. Hanya saja jika ini dikhawatirkan menyebabkan lemas maka tidak dibolehkan. Sahabat Anas bin Malik pernah ditanya “Apakah kalian membenci bekam bagi orang yang berpuasa?”. Anas mengatakan: “Tidak, kecuali jika bisa menyebabkan lemas”. (HR. Bukhari). Sobatku, bagi yang ingin bekam dan donor darah disarankan untuk dilakukan di malam hari atau mendekati waktu berbuka.

Hal Kesebelas: Kesalahan Do’a Berbuka Puasa

Sebagian masyarakat Indonesia berbuka puasa dengan membaca do’a “Allahumma laka sumtu wabika aamantu wa ‘alaa rizkika afthortu birohmatika yaa arhamarroohimiin.” Do’a tersebut dinilai dhoif oleh sebagian ulama. Do’a shohih yang diajarkan oleh Rasulullah H adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar, lafadz do’anya adalah “Dzhabadzoomau wab tallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru In syaa Allah”.

Demikianlah sebelas hal yang perlu diluruskan ketika puasa, semoga Allah memudahkan kita untuk meraih banyak pahala selama menjalankan ibadah di bulan mulia.

Durasi: 00:05:43
Pemateri:
Pencatat: Arif Risnandar on 05 June 2016
Editor: Abu Ahmar