Belajar Islam: Luasnya Samudra Kalimat La Ilaha Illallah – Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kita semuanya menginginkan agar kita mengakhiri hidup kita di dunia ini dengan kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH, karena rasul shalallahu alaihi wassalam mengatakan “Barangsiapa yang akhir ucapannya di dunia ini kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH, maka dia masuk syurga.” Semoga Allah E menjadikan kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH menjadi akhir ucapan kita di dunia ini.

Namun permasalahannya, tidak semua orang bisa mengakhiri hidupnya dengan ucapan yang sangat mulia tersebut. Dengan kalimat taqwa, kalimat ikhlas, kalimat yang dengannya Allah E  menciptakan langit dan bumi, yang dengannya Allah E menciptakan syurga dan neraka, kalimat yang dengannya Allah memerintahkan nabiNya untuk memerangi orang – orang yang kafir kepada Allah E, kalimat yang dengannya seseorang bisa masuk islam, kalimat yang dengannya orang itu masuk syurga Allah subhanahuwata’ala.

Namun masalahnya kaum muslimin, kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH bukanlah ucapan di bibir semata. Seandainya kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH hanya ucapan di bibir semata, maka orang munafikun tidak diancam masuk neraka, tidak dijadikan sebagai penghuni kerak api neraka. Demikian pula, seandainya kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH itu sekedar ucapan saja, maka semua orang mungkin saja bisa mengakhiri hidupnya dengan kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH. Akan tetapi, kalimat tauhid memiliki banyak kandungan, memiliki banyak hal yang wajib untuk kita memahaminya. Seandainya kalimat tauhid hanya ucapan di bibir tidak perlu rasul shalallahu alaihi wassalam selama 13 tahun mendakwahkan kalimat tersebut di kota Mekkah. Padahal yang didakwahi oleh beliau adalah orang – orang Arab yang paham terhadap kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH.

Oleh karena itulah untuk kita sejenak merenungkan tentang luasnya samudera kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH. Dan itu termasuk nikmat yang amat sangat agung, merupakan nikmat yang terbesar yang Allah berikan kepada manusia di atas muka bumi ini. Sebagaimana kata ulama terdahulu yang bernamau Sufyan bin Uyaina radhiyallahu anhu, beliau mengatakan “Tidak Allah memberikan nikmat yang paling agung yang paling mulia kepada hambaNya daripada mengenalkan kepada meraka memahamkan kepada meraka tentang kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH.”

Maka marilah kita bersama – sama menggapai nikmat yang sangta luar biasa tersebut, yaitu dengan kita memahami meskipun secara global tentang apa itu yang terkandung dari kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH. Baik secara maknanya, syarat – syaratnya ataupun rukun – rukunnya.

Yang pertama,
makna yang benar daripada kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH sebagaimana yang disampaikan oleh para ulama adalah “Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah”. Sebagaimana Allah berfirman “Yang demikian itu karena Allah adalah satu – satunya sesembahan yang haq dan yang selain Allah adalah sesembahan yang bathil.” Maka wajib untuk kita memahami mentafsirkan mengartikan LAILAHAILLALLAH dengan tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah. Kemudian jika ada yang bertanya bagaimana dengan sebagian orang yang mengartikan LAILAHAILLALLAH dengan tidak ada tuhan atau pencipta selain Allah. Maka kita jawab bahwasannya pengartian seperti itu tidaklah dibenarkan, pengartian penafsiran LAILAHAILLALLAH dengan tidak ada tuhan atau pencipta selain Allah tidaklah sesuai dengan apa yang diinginkan daripada kalimat tauhid tersebut. Apa alasannya, apa hujjahnya, yang pertama secara bahasa kata ILAH adalah alma’bud, bukan tuhan bukan pencipta, kalau pencipta dalam segi bahasa Arab alkhaliq. atau Tuhan lebih tepat diartikan ArRab dalam bahasa Arab. Alhamdulillahirabbil’alamin segala puji bagi Allah Rab Tuhan semesta alam. al ilah tidak diartikan dengan alkhaliq ataupun arrab. ini yang pertama dari segi bahasa Arab salah mengartikan LAILAHAILLALLAH dengan tidak ada tuhan atau pencipta selain Allah.

Kemudian yang kedua,
Jika LAILAHAILLALLAH diartikan tidak ada tuhan atau pencipta selain Allah, maka orang musyrikin jahiliyah mereka otomatis masuk islam. Tidak mungkin mereka diperangi oleh rasul e . Tidak mungkin mereka dihalalkan darahnya oleh rasul  e. Karena meraka yakin dengan seyakin yakinnya bahwasannya Allah satu satunya yang menciptakan mereka. Satu satunya yang mengatur alam semesta ini, yang menurunkan rezeki kepada mereka sebagaimana yang banyak Allah kisahkan dalam Alquran. “Apabila engkau bertanya kepada mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi, serentak mereka menjawab Allah.” Kalau engkau Nabi Muhammad e  bertanya kepada kamu musyrikin jahiliyah siapa yang menciptakan mereka serentak mereka menjawab Allah. “Katakanlah wahai Nabi Muhammad e  siapakah yang menurunkan rezeki kepada mereka dari langit maupun di bumi, dan siapakah yang memiliki atau menciptakan penglihatan dan pendengaran, siapakah yang mengeluarkan dari yang mati kepada yang hidup, dari yang hidup kepada yang mati, dan siapa yang mengatur alam semesta ini, serentak orang musyrikin menjawab Allah.” Mereka tahu tauhid ArRububiyah yang menciptakan yang mengatur yang menurukan rezeki hanya Allah subhanahuwata’ala. Kalau seandainya LAILAHAILLALLAH artinya tidak ada tuhan atau pencipta selain Allah, maka kaum musyrikin jahiliyah otomatis masuk islam. tidak mungkin diperangi oleh rasul shalallahu alaihi wassalam. Berarti itu bukan arti daripada kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH.

Kemudian yang ketiga,
Mengapa kita mengatakan mengartikan LAILAHAILLALLAH dengan tidak ada Tuhan selain Allah itu salah karena orang musyrikin di zaman jahiliyah mereka adalah orang – orang yang betul – betul paham tentang kalimat tersebut. Karena kalimat tersebut dari bahasa mereka dan mereka paham betul bahasa mereka tentang kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH. Oleh karena itulah ketika rasul e  menyeru mereka untuk mengucapkan kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH, apa jawaban mereka ?, “apakah nabi Muhammad itu ingin menjadikan sesembahan yang banyak ini, sesembahan yang satu saja?” ini suatu yang aneh. sesuatu yang tidak biasa mereka perbuat, karena mereka banyak menyembah selain AllahE  Menyembah sesembahan selain Allah subhanahuwata’ala. Mereka paham dengan sebenarnya maksud daripada kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH, yaitu hanya menjadikan Allah satu satunya zat yang berhak untuk disembah. itu yang mereka pahami daripada kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH. Dan itu adalah bahasa mereka dan itu diikrarkan oleh AlQuran bahwasannya betul kalau diartikan LAILAHAILLALLAH dengan tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah subhanahuwata’ala. Bukan tidak ada Tuhan atau pencipta selain Allah subhanahuwata’ala.

Demikian pula mereka mengatakan sebagaimana yang Allah firmankan “Mereka apabila diseru untuk mengucapkan LAILAHAILLALLAH mereka sombong. Dan mereka mengatakan apakah kami harus meninggalkan sesembahan – sesembahan yang banyak untuk mengikuti seorang penyair yang gila.” yaitu tuduhan keji kepada nabi kita Muhammad e . Mereka enggan untuk bertauhid, enggan untuk mengesakan Allah dalam beribadah karena mereka telah berkarat hati mereka dengan kesyirikan, mewarisi kebudayaan dan adat istiadat nenek moyang mereka untuk menyembah kepada selain Allah subhanahuwata’ala. Maka didatangkan tauhid yaitu tauhid al uluhiyah mereka pun enggan, sombong tidak mau mengucapkannya, tidak mau mengamalkannya karena lebih mendahulukan adat istiadat, lebih mendahulukan warisan nenek moyang mereka daripada apa yang Allah perintahkan ataupun yang diperintahkan oleh rasul e . Ini adalah alasan bahwasannya tidak dibenarkan mengartikan LAILAHAILLALLAH dengan tidak ada Tuhan atau pencipta selain Allah E .

Kemudian yang berikutnya mengapa kita mengartikan LAILAHAILLALLAH dengan tidak ada Tuhan selain Allah itu salah karena orang yang paling paham tentang kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH adalah para nabi dan para rasul. Karena mereka adalah orang – orang yang pertama kali diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikan kalimat tersebut kepada kaum mereka. dan mereka sepakat menyatakan mengatakan mengartikan bahwasannya LAILAHAILLALLAH artinya tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah E . Kalau kita lihat bagaimana dakwah nabi dan para rasul, Allah berfirman “Dan sungguh kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang rasul yang mengucapkan sembahlah Allah saja dan tinggalkanlah thogut (yaitu semua sesembahan selain Allah E ).” Demikian pula Allah berfirman “Tidaklah kami mengutus sebelummu seorang rasul kecuali kami wahyukan kepadanya LAILAHAILLALLAH” ini adalah arti yang benar daripada kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH.

Demikian pula ketika Allah mengkisahkan dakwahnya nabi Nuh S  “Dan sungguh kami telah mengutus nabi Nuh kepada kaumnya beliau mengatakan Wahai kaumku sembahlah Allah, ibadahilah Allah, tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah subhanahuwata’ala.” ini yang dipahami oleh para nabi dan para rasul arti LAILAHAILLALLAH yang sebenarnya bukan tidak ada Tuhan selain Allah.

LAILAHAILLALLAH itu berkaitan erat dengan tauhid al uluhiyah tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah E . bukan tauhid ar rububiyah. Demikian pula kalau kita mau cermati lebih lanjut lagi bahwasannya mengatakan tidak ada Tuhan selain Allah ini tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Tidak ada Tuhan selain Allah karena dilapangan kita dapati banyak Tuhan – Tuhan selain Allah E. Seperti yang Allah firmankan lewat kisah nabi Yusuf alaihi wassalam. Beliau mengatakan kepada dua orang temannya yang ada di penjara “Apakah Tuhan – Tuhan yang banyak itu lebih baik ataukah Allah yang maha esa lagi maha perkasa.” ini sekali lagi menunjukkan tidak benar mengartikan LAILAHAILLALLAH dengan tidak ada Tuhan selain Allah.

Kemudian kesalahan dalam mengartikan bukan sekedar kesalahan dalam istilah ataupun dalam lafaz atau dalam pengartian namun lebih daripada itu ketika mereka salah dalam mengartikan mereka juga jatuh kedalam kesalahan mempraktekkan kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH. Sebagian kaum muslimin ketika mereka mengatakan LAILAHAILLALLAH artinya tidak ada Tuhan selain Allah atau tidak ada pencipta selain Allah, maka mereka pun tidak segan segan untuk meminta minta kepada selain Allah. Dengan anggapan namanya syirik itu kalau meyakini ada Tuhan atau pencipta selain Allah itu kata mereka syirik. Adapun meminta minta kepada kuburan keramat, meminta minta kepada wali yang telah mati mereka tidak meyakini itu sebagai syirik, padahal itu syirik kepada Allah subhanahuwata’ala. atau tawasul kepada orang yang telah mati. Allah mengatakan dan orang – orang yang menjadikan sekutu sekutu bagi Allah, mereka mengatakan kita tidak beribadah kepada mereka namun mereka hanya sekedar wasilah atau perantara agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat – dekatnya. Namun Allah telah memvonis mereka telah menjadikan sekutu – sekutu bagi Allah subhanahuwata’ala. Ini disebabkan karena mereka salah mengartikan LAILAHAILLALLAH. Kalau seandainya mereka mengatakan LAILAHAILLALLAH itu adalah artinya tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah, maka insyaaAllah mereka akan lurus tauhidnya, mereka akan betul betul beribadah hanya kepada Allah subhanahuwata’ala saja dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Ini yang berkaitan dengan makna kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH.

Kemudian, kalau sholat ada rukunnya, tidak sah sholat tanpa terpenuhi rukun-rukunnya. Seperti membaca Al Fatihah, takbiratul ihram, termasuk rukun sholat tanpa itu tidak sah sholat orang tersebut. Demikian pula dengan kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH, kata para ulama memiliki dua rukun yang harus terpenuhi dalam diri orang yang mengucapkannya, apa dua rukun tersebut; An Nafi wal isbat. yaitu peniadaan dan penetapan.

Apa arti peniadaan, yaitu meniadakan semua sesembahan selain Allah subhanahuwata’ala, mengingkari sesembahan selain Allah subhanahuwata’ala.
dan menetapkan Al isbat yaitu menetapkan bahwasannya Allah satu satunya sesembahan yang hak.

Yang demikian itu karena Allah sesembahan yang hak dan selain Allah sesembahan yang bathil. LAILAHAILLALLAH, LAILAHA peniadaan meniadakan semua sesembahan selain Allah subhanahuwata’ala. Dan ILLALLAH menetapkan hanya Allah satu satunya sesembahan yang hak. Tidak boleh beribadah kecuali hanya kepada Allah. Dan itulah makna yang sering kita ucapkan setiap kita sholat, “Hanya kepadamulah Ya Allah kami beribadah, dan hanya kepadamulah Ya Allah kami memohon pertolongan.”

Barangsiapa yang kufur kepada thogut kepada semua sesembahan selain Allah dan dia hanya beriman kepada Allah, maka dia telah berpegang dengan kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH. Dan itu harus betul betul terpenuhi dua rukun tersebut An Nafi wal Isbat, tidak cukup hanya menetapkan Allah sebagai sesembahan kita saja namun juga harus kita berlepas diri dari semua sesembahan selain Allah subhanahuwata’ala.

Allah berfirman mengkisahkan tentang dakwah Nabi Ibrahim alaihi salam ; “Dan sungguh telah ada suri tauladan yang baik pada diri Ibrahim dan pada dakwah para nabi – nabi bersama beliau ketika mereka mengatakan kepada kaumnya kami berlepas diri daripada kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami mengkufuri ibadah kalian dan telah nampak permusuhan antara kami dan kalian selama lamanya sampai kalian beriman kepada Allah E .”

Harus ada pengingkaran, harus ada rasa berlepas diri membenci kesyirikan dan orang – orang yang berbuat kesyirikan. Dan itulah makna islam yang sebenarnya. Al Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah dengan bertauhid kepadaNya, tunduk patuh kepada perintahNya, dan berlepas diri dari kesyirikan dan orang – orang yang berbuat kesyirikan. Ini adalah islam yang sebenarnya. tidak cukup orang itu bertauhid namun harus berlepas diri daripada kesyirikan, menyekutukan Allah dengan selainnya terutama dalam masalah ibadah.

Kemudian diantara hal yang perlu kita ketahui dari kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH bahwasannya kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH memiliki syarat sebagaimana sholat ada syaratnya menghadap kiblat, thoharoh, berwudhu termasyuk syarat sholat. Tidak sah sholat tersebut tanpa menghadap kiblat atau tanpa berwudhu. Demikian pula kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH tidak bermanfaat bagi orang yang mengucapkannya tanpa dia menyempurnakan syarat – syarat nya.

Seorang ulamat tabi’in yang bernama Wahab bin Munabih rahimahullahu ta’ala pernah ditanya “Bukankah kuncinya syurga itu adalah LAILAHAILLALLAH, kemudian kata beliau benar bahwasannya kalimat tauhid itu adalah kuncinya syurga. Akan tetapi namanya kunci itu pasti ada gigi giginya. Jika engkau datang dengan membawa kunci yang ada gigi giginya maka dibukakan syurga bagimu, jika tidak maka tidak dibukakan syurga bagimu.” Apa yang dimaksud dengan gigi gigi tersebut yaitu kata para ulama adalah syarat – syarat LAILAHAILLALLAH bahwasannya LAILAHAILLALLAH merupakan kuncinya syurga namun syaratnya harus terpenuhi. Syarat – syarat kalimat tersebut.

Itu juga yang ditegaskan oleh seorang ulama yang bernama Hafid Alhakam V , beliau mengatakan “Dengan tujuh syarat itulah kalimat tauhid itu diikat dan dalil – dalilnya telah ada dalam nash Alquran maupun sunnah yang shahih dan tidaklah orang yang mengucapkannya bisa mengambil manfaat dari kalimat tersebut sampai dia menyempurnakan tujuh syarat tersebut.” kemudian kata beliau apa tujuh syarat tersebut; berilmu, yakin, menerima, kemudian tunduk patuh, kemudian jujur, cinta, dan ikhlas dalam mengucapkannya. ini tujuh syarat LAILAHAILLALLAH,

yang pertama berilmu;
orang yang mengucapkan kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH harus dia mengilmui apa maknanya, apa rukun – rukunnya, apa syarat – syaratnya, apa pembatal – pembatalnya, apa yang terkandung didalam kalimat tauhid tersebut. sebagaimana yang kita ketahui Imam Bukhori mengatakan “Ilmu itu sebelum orang berucap dan sebelum orang itu beramal.” Allah mengatakan “Ketauhilah bahwasannya tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah subhanahuwata’ala.” Perintah untuk kita memahami arti daripada kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH tersebut dan apa yang terkandung didalamnya. Demikian pula rasul shalallahu alaihi wassalam bersabda “barangsiapa yang meninggal dunia sedang dia tahu tentang kandungan LAILAHAILLALLAH, maka dia bisa masuk syurga.”

kemudian yang kedua;
diantara syarat LAILAHAILLALLAH adalah al yaqin. Yakin dengan makna kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH, yaitu tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah subhanahuwata’ala. Tidak boleh orang itu mengucapkan kalimat tauhid namun ragu dengan maknanya. Ragu bahwasannya Allah satu satunya sesembahan yang hak. Ini adalah suatu hal yang tidak selayaknya harus yakin bahwasannya tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah. Allah mengatakan “Sesungguhnya orang – orang yang beriman dengan sebenarnya adalah yang beriman kepada Allah dan rasulNya kemudian mereka tidak ragu.” Tidak ragu bahwasannya Allah subhanahuwata’ala adalah satu satunya sesembahan yang hak dan tidak ragu bahwasannya semua sesembahan selain Allah adalah sesembahan yang bathil. Demikian pula rasul shalallahu alaihi wassalam mengatakan “Aku bersaksi bahwasannya tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan bahwasannya aku adalah utusan Allah.” kemudia kata beliau “Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allah dengan dua kalimat syahadat tersebut tanpa ada keraguan maka dia akan masuk kedalam syurga Allah subhanahuwata’ala.”

kemudian yang ketiga;
menerima lapang dada terhadap kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH, lapang dada terhadap kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH tersebut. Tidak sombong seperti kaum musyrikin jahiliyah, tidak mau mengucapkannya enggan dengan kalimat tauhid tersebut. Menganggap aneh kalimat tauhid tersebut. “Sesungguhnya mereka apabila diseru untuk mengucapkan kalimat LAILAHAILLALLAH sombong.” adapun orang yang beriman harus dia lapang dada, harus dia menerima LAILAHAILLALLAH dengan segala bentuk konsekuensinya yaitu beribadah hanya kepada Allah saja dan tidak menyembah kepada selain Allah subhanahuwata’ala.

kemudian yang keempat;
tunduk patuh kepada kalimat tauhid tersebut, tunduk patuh kepada syariat Allah subhanahuwata’ala. Allah berfirman “Sekali kali tidaklah mereka beriman sampai mereka menjadikanmu wahai nabi Muhammad sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan dan mereka tidak mendapatkan keberatan dalam diri mereka terhadap apa yang engkau putuskan dan mereka betul betul pasrah tunduk menyerahkan diri kepada keputusanmu wahai nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam.”  Ciri orang yang beriman tunduk kepada ajaran Allah dan rasulNya, tunduk kepada konsekuensi daripada kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH.

kemudian yang kelima;
yaitu jujur dalam mengucapkannya. bukan seperti orang munafik yang mereka mengatakan “Mengatakannya dengan lisan mereka namun hatinya mengingkari.” makanya mereka didalam kerak api neraka. Harus kita jujur dalam mengucapkan kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH. harus kita betul betul menerima konsekuensinya dari lubuk hati kita yang terdalam.

kemudian yang keenam;
adalah al ikhlas, memurnikan ibadah hanya kepada Allah. Yang itu juga merupakan konsekuensi daripada kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH. Apa gunanya kita mengucapkan LAILAHAILLALLAH namun kita masih menyembah selain Allah, masih meminta minta kepada kuburan keramat, kepada wali yang telah mati, atau minta minta kepada paranormal atau dukun, yang itu semuanya adalah syirik kepada Allah subhanahuwata’ala. Bertentangan dengan kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH. kemudian Allah berfirman “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk mengikhlaskan agama hanya untuk Allah semata, itulah agama yang lurus.”

kemudian yang terakhir;
Cinta kepada kalimat tauhid tersebut, cinta kepada konsekuensi kalimat tauhid tersebut. Allah berfirman “Diantara manusia ada orang – orang yang menjadikan tandingan – tandingan bagi Allah, mereka mencintai tandingan – tandingan tersebut seperti mencintai Allah. Adapun orang yang beriman sangat amat cintanya kepada Allah subhanahuwata’ala.”

Ini adalah syarat LAILAHAILLALLAH yang harus betul betul kita perhatikan dan harus betul betul kita amalkan agar kalimat tersebut bermanfaat bagi kita di dunia dan di akhirat.

Dan inilah yang bisa kita sampaikan, semoga Allah subhanahuwata’ala mengakhiri hidup kita dengan kalimat tauhid LAILAHAILLALLAH.

Durasi: 00:29:01
Pencatat: Haris Eko Prasetyo on 22 May 2016
Editor: Abu Aufa