Beramal Tanpa Henti – Ustadz Abu Fairuz, MA.

Setiap orang mukmin, hendaklah berupaya mencari jalan keselamatan bagi dirinya. Dan setiap mukmin, hendaklah senantiasa beramal dan beramal sebagai sarana untuk menyelamatkan diri daripada adzab Allah E.

Dalam kehidupan ini saya pernah menemukan orang-orang yang saya begitu kagum dengan mereka, dengan sikap-sikap mereka. Saya pernah, dalam perjalanan ibadah haji menjadi penterjemah salah satu seorang syaikh. Saya melihat sosok beliau telah tua rentah. Beliau terkena penyakit pengkapuran pada kakinya dan saya senantiasa menemani beliau dalam berjalan. Saya melihat betapa gigihnya beliau dalam berdakwah mengajak manusia kepada jalan Allah E.

Demi berdakwah beliau rela untuk masuk dari pada satu bus kepada bus yang lain. Menyampaikan misi, menyampaikan dakwah kepada jama’ah haji. Saya berusaha mengikuti beliau.

Subhanallah…

Membawa mikrofon kemana pun berada. Saya kagum dengan semangat beliau hafidzallahu F. Setiap kali datang jamah dia turun di bandara maka dia segera bergegas mengejar jama’ahnya tersebut. Dan berupaya memberikan kepada mereka faedah. Mengajak mereka kepada tauhid yang benar, mengajarkan kepada mereka bagaimana tata cara ibadah haji yang benar. Sungguh mengangumkan…

Suatu ketika saya bertanya, “Ya Syaikh, bukankah anda sudah tua, bukankah anda terkena penyakit, membuat anda sulit untuk berjalan. Tapi kenapa anda begitu semangat dalam mendakwah mengajak manusia kepada Allah E. Sementara wahai Syaikh, saya perhatikan sebagian dari pada da’i-da’i mereka hanya sekedar mengisi satu, dua kegiatan kemudian dia istirahat, santai. Tapi anda gak pernah istirahat wahai Syaikh… Anda gak pernah santai wahai Syaikh, Apa kiranya motivasi anda begitu kuatnya anda mendakwah kemana-mana. Padahal anda mengetahui anda telah tua dan kaki anda telah yakni menderita pengkapuran”.

Dia mengatakan kepada saya “Ya ahmad hidup ini kita gak pernah tahu kapan berakhir dan kitapun tidak  pernah tahu pula, dari sekian banyak amalan yang kita lakukan mana yang diterima oleh Allah E

Maka beliau mengatakan, “Ya Ahmad jangan-jangan satu patah kata, dua patah kata ini yang dapat menyebabkan  adzab Allah, jangan-jangan langkah yang kita langkahkan untuk mendakwahi manusia. Datang ke bus-bus mereka, ada satu dua orang mendapat hidayah. Jangan-jangan ini yang menyelamatkan kita wahai Ahmad. Karena kita ndak pernah tahu mana amalan yang dapat menyelamatkan kita. Sungguh banyak sekali amalan-amalan yang kita lakukan tapi kita nggak tau mana yang di terima oleh Allah E. Karena amalan kita dipenuhi berbagai macam unsur riya, unsur ujub, unsur bangga tapi hal ini tidak membuat kita menyerah kalah”.

Beliau berkata sambil mengingatkan, “Hendaklah anda selalu senantiasa beramal ibadah, kerjakan teru sdan kerjakan terus semua kebaikan dan jangan pernah berhenti”

Wallahu ‘alam…

Jangan-jangan satu, dua daripada amal ibadah yang dilakukan. Pekerjaan yang anda lakukan itulah yang menjadi penyelamat anda dari Adzab Allah E.

Sungguh yakni pesan yang begitu mendalam yang senantiasa saya kenal dalam diri pribadi saya. Dan semoga saya, semoga anda, semoga kita seluruhnya.. Terus-menerus berusaha beramal ibadah, beraktifitas mengerjakan semua kebaikan-kebaikan dan mengharapkan. Dengan harapan, Semoga satu, dua kebaikan tersebut dapat menyelamatkan kita dari adzab Allah E.

Demikianlah, wallahu tabarka wa ta’ala.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Durasi: 00:04:51
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 16 May 2016
Editor: Abu Ahmar