Orang Paling Baik di Dunia – Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Saudaraku seiman dan seaqidah..,

Kalau suatu hari anda ditanya sama orang menurut anda siapakah orang yang paling baik didunia ini?

Kalau anda ditanya, menurut anda siapakah orang yang paling baik didunia ini?
Akankah anda berkata, ‘saya’?

Dan sebaliknya, kalau ada yang berkata siapakah didunia ini orang yang paling buruk?

Mungkinkah anda akan berkata saya.

 

Saya yakin anda tidak terlalu percaya diri untuk mengatakan anda adalah orang yang paling baik. Karena saya yakin anda bukanlah orang yang sombong namun, disaat yang sama saya yakin anda juga tidak rela untuk dikatakan orang yang paling buruk, orang yang paling jahat, orang yang paling hina karena itu ibadalah.

 

Saudaraku seiman dan seaqidah,

Senantiasa, Mengenali siapakah saya? Siapakah diri saya?

 

Dimanakah kedudukan saya disisi Allah E?
Apakah saya adalah orang yang paling baik, atau sebaliknya orang yang paling buruk?
Atau barangkali saya sekedar menjadi orang baik dan juga sekedar bukan orang yang paling buruk. ini adalah muhasabah yang seharusnya kita lakukan, ingat!.

 

Dari hari ke hari, waktu ke waktu, kita itu terus beramal dan bekerja dan berbuat, bisa jadi suatu hari kita amalan kita itu tinggi iman kita sedang naik, namun ada waktu-waktu dimana iman kita mengalami penurunan, lemah iman, karena itu setiap saat kita harus sadar secara sadar meningkatkan iman kita, dahulu para sahabat semisal Umar bin Khottob mengatakan ketika berjumpa dengan sahabatnya,

ta’al, najlis nu’minu sa’atan”

“Marilah kita duduk bersama-sama untuk sejenak meningkatkan iman kita”.

 

Kemudian mereka duduk bersama dan salah seorang dari mereka membacakan, melantunkan ayat-ayat al Qur’an.

 

Al Qur’an, ketika anda senatiasa membacanya, dekat dengannya, percayalah iman anda akan bertambah.

 

Ketika anda senantiasa dekat dengan siroh Rasulullah H, maka iman anda juga akan bertambah.

 

Dan ketika anda tengan tulus melantunkan, mengucapkan, melafadzkan astaghfirullah wa atubu ilaih, laa ilaahaillallah atau ucapan yang semisal.

 

Allahu akabar, walhamdulillah, niscaya anda akan merasakan ada sesuatu yang merasuk dalam diri anda seakan iman anda itu naik, karena itu Allah E berfirman :

” وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً ”

Kalau mereka dibacakan kepadanya ayat-ayat Allah E iman mereka bertambah. (Potongan ayat QS. Al-Anfal: 2)

Orang-orang yang beriman bukanlah orang-orang yang gengsi, orang yang besar kepala dan menyombongkan diri, berbuat dosa namun merasa dirinya suci, melakukan banyak kemaksiatan namun merasa dirinya adalah orang-orang yang bersih, tidak punya dosa, sangat disayangkan bila anda sebagai seorang muslim kemudian dengan tanpa rasa bersalah mengatakan, ketika dikatakan kepada anda,

“ittaqillah yaa akhy “

Bertakwalah kamu kepada Allah, bertaubatlah yaa saudaraku

 

Ikhwatil iman, bertaubatlah, beristighfarlah, kemudian anda mengatakan

“apa dosa saya? apa salah saya? “padahal Rasul H telah menegaskan,

“Kullu bani adam khatta”

Setiap manusia itu banyak berbuat dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah at-tawabun. orang yang ringan tangan untuk bertaubat kepada Allah E.

 

Beristighfar kembali ke jalan Allah, karena itu jangan terperdaya dengan amal ibadah anda, namun sebaliknya senantiasa ingatlah, senantiasa hadirkan dalam diri anda bahawa anda banyak dosa sehingga tumbuh kesadaran bagi anda untuk terus berbenah diri beristighfar, memohon ampunan Allah E, dengan demikian kita akan betul-betul menjadi ummat Rasulullah H yang senantiasa meneladani kehidupan beliau.

 

Dahulu Rasulullah H beliau adalah orang yang paling mulia, paling banyak amalannya,paling sedikit dosanya, namun demikian minimal dalam satu hari beliau beristighfar kepada Allah E sebanyak 100 kali.

 

Sudahkah anda melakukan itu?

Seberapa banyak kah anda beristighfar kepada Allah?

 

Atau sebaliknya anda selama ini hanya pandai menghitung kebaikan, saya sudah berbuat demikian, saya beribadah demikian dan demikian, namun anda paling malas anda bahkan merasa enggan untuk menghitung dan mengingat dosa anda. Dahulu Abdullah bin Mas’ud I mengatakan,

“uddhu sayyi’atikum”

Hitunglah oleh kalian, ingat-ingatlah oleh kalian dosa-dosa kalian.

Adapun kebaikan maka tidak perlu, tidak ada orogansinya untuk menghitung dan mengingatnya, saya sudah demikian-demikian, tidak perlu! karena apa? Karena Allah telah menghitungnya, Allah telah mencatatnya dan Allah pasti telah menyiapkan balasannya.

 

Namun dosa anda, kalau anda tidak menghitungnya maka tidak akan ada yang memohonkan ampunan untuk anda kepada Allah selain diri anda sendiri. kalau anda tidak bertaubat kepada Allah maka siapa yang akan memohonkan ampun dan taubat kepada anda selain diri anda sendiri?

Semoga Allah E senantiasa memberikan tazkiyatun nafs (kesucian batin dalam diri kita) sehingga tumbuh kesadaran untuk beristighfar memohon ampunan kepada Allah E.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

 

Durasi: 00:07:19
Pencatat: Khoir Bilah on 14 May 2016
Editor: Abu Ahmar