Apa itu Hizbi? – Ustadz Abdullah Taslim, MA.

Apa maksudnya jangan hizbi?

Bagaimana jangan hizbi-hizbiyah itu ustadz??

Hizbi itu artinya fanatik golongan, kelompok tertentu.  Dan ketika dikatakan hizbi berarti celaan,  kan orang tidak boleh fanatik kecuali pada kebenaran. Kita tidak boleh fanatik kecuali kepada Sunnah Rasul H, petunjuk Allah dan Rasulnya H.

Adapun hizbiyah adalah berfanatik kepada manusia tertentu, kelompok tertentu padahal dia bisa salah, bisa benar,  dibela mati-matian namanya hizbi.

Nah sekarang, saat ini bagaimana, apakah tidak boleh kita berfanatik?  Pertama di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul H kita ketahui generasi terbaik umat ini para sahabat Nabi H itu dibagi menjadi sahabat Muhajirin dan Anshar.

Dipuji di dalam Al-Qur’an nama tersebut:

Orang-orang yang  pertama dan terdahulu yang masuk islam dari kalangan sahabat Muhajirin dan Anshar kemudian orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada Allah.

Dua nama dan penamaan tersebut disebutkan di kalangan sahabat (dibagi) yang seperti ini karena penamaan tersebut tidak membawa kepada fanatik tetap meskipun dia Muhajirin asalnya tinggal di Mekkah ketika di suruh hijrah. Ya dia hijrah ke Madinah. Penduduk Madinah yang dinamakan Anshar meskipun  dia tinggal di Madinah tidak menjadi halangan bagi dia untuk bergaul, berbaur dengan sahabatnya, membantu saudara-saudaranya sesama muslim yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah.

Berarti penamaan ini, penamaan yang di puji  dalam Al-Qu’an. Karena mereka menamakan ini bukan untuk fanatik tetapi sekedar untuk membedakan dalam hal-hal yang perlu untuk di bedakan diantara dua kelompok besar dari kalangan para sahabat  tersebut L ta’ala ajmain.

Tapi pernah terjadi penamaan ini disalah gunakan sebagian sahabat, yang langsung ditegur oleh Rasulullah H ada di sebutkan dalam hadits. Ketika salah seorang Muhajirin memanggil kaum Muhajirin dengan bangga:

“Wahai muhajirin”. Dia pengen banggakan nama Muhajirin,

Anshar pun membalas:

“Wahai orang-orang Anshar”. (Yakni bangga dengan penamaan tersebut)

Ditegur oleh Rasulullah H:

“Apakah masih ada seruan jahiliyah ketika aku masih hidup di kalangan kalian?”

Di tegur langsung mereka hentikan, jadi coba lihat! ketika dimanfaatkan sesuatu yang buruk jadilah hizbiyyah atau fanatik golongan,  seperti ini tercela.

Makanya sekarang kalau kita cinta kepada ulama Ahlu sunnah. Cinta kepada Imam Syafi’I, Imam Ahmad, cinta kepada Syaikh AlBani, Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsaimin V

Apakah ini hizbi? Belum tentu, kita mencintai orang yang beriman itu adalah ibadah, bahkan dalam sebuah hadits yang shohih atau atsar yang shohih Ali bin Abi Thalib I pernah mengatakan:

“Mencintai orang yang berilmu karena ilmunya, karena pemahamannya terhadap sunnah, semangatnya membela sunnah, ini termasuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah (kebaikan)”

Tapi yang salah, cinta menjadikan fanatik, cinta kepada selain Rasulullah H. Manusia bisa salah bisa benar, sepintar apapun, setinggi apapun ilmunya seorang ulama tidak boleh kita katakan semua pendapatnya kita anggap benar, tidak kita keluar kepada pendapat yang lain, tidak boleh. Cuma Rasulullah H yang terjaga dari kesalahan, dengan penjagaan Allah E. Makanya Anas bin Malik W ta’ala berkata:

“Tidak ada seorangpun sepeninggalnya Nabi H kecuali bisa diambil perkataannya kalau benar, bisa ditolak kalau salah kecuali Nabi H yang diambil semuanya”

Makanya sekarang apakah kita mencintai kelompok tertentu, misalnya ada yang bertanya, “Saya cuma ngaji dikelompok sunnah, saya tidak mau ngaji di tempat yang lain”.

Ada orang-orang yang keras mengatakan, “Itu hizbiyah”. Kita katakan ‘keliru anda’.

Ketika kita menghadiri suatu pengajian karena dia membawakan sunnah, dia menerangkan Al-Qur’an penafsiran yang benar, sesuai dengan kebenaran.

Yang pengajian ini tidak membawakan ilmu yang benar, tidak membawakan kemana-mana, saya tidak mau hadiri… tidak dikatakan fanatik seperti ini!

Karena Allah memuji dalam Al-Qur’an adanya hizbullah (golongan yang selalu mengikuti keridhoan Allah).

“Mereka adalah golongan Allah, ketahuilah bahwasanya golongan Allah mereka adalah orang-orang yang beruntung”

Siapakah yang namanya golongan Allah? Yang selalu membela kebenaran,  mengajarkan Al Qur’an dengan pemahaman para ulama salaf, para sahabat M ajmain. demikian pula sunnah-sunnah atau hadits-hadits Rasulullah H.

Jadi hizby itu maksudnya dicela ketika sesorang hanya menjadikan kelompok inilah ukuran kebenaran. Siapa yang tidak ikut disini berarti salah, masuk neraka… siapa yang tidak mengikuti kajian disini berarti sesat… ndak ada ini keliru.

Ukuran kebenaran itu adalah dalil. Ooh karena kelompok ini selalu menyampaikan kajian yang sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah saya ikuti tapi kalau ada yang menyimpang saya akan kritik.

Ketika ada pengajian lain ternyata dia juga membawakan Al Qur’an dan Sunnah saya ikuti kajian yang kedua, lebih banyak kajian yang kita ikuti, lebih banyak ustadz yang kita pegang, yang selama mereka mengajarkan  Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat itu lebih bagus.

Para ulama dulu dipuji dengan banyak guru seperti Imam Bukhori yang mengatakan:

“Aku menulis hadits dari 1080 guru yang semua mereka adalah ahlus sunnah”

Lebih bagus kalau dalam kondisi seperti ini ada sepuluh ustadz sunnah, sama-sama bagus dalam mengajarkan sunnah, sama-sama punya ilmu. Ada orang mengatakan, “Ah saya cuma suka ustadz ini” ini namanya hizbiyah, tercela, kenapa anda hanya mengikuti satu padahal yang lain juga mengajarkan kebenaran.

Ustadz, afwan ustadz kalau misalkan kita senang sama ustadz seumpama ustadz fulan. Sama-sama sunnah kita senang dengan metode penyampaiannya tapi bukan masalah kita tidak suka yang lainnya itu karena ilmu bukan-bukan, tapi karena metode penyampaiannya, itu gimana ustadz apakah itu hizbiyah?

Yang seperti ini kadang-kadang manusia punya kecenderungan dia lebih senang orang ini menyampaikannya lemah lembut tapi yang benar yang disampaikan, ini kurang suka karena terlalu cepat bicaranya, kurang pandai membuat contoh, ini kecenderungan wajar. Cuman kita katakan seperti ini bukan termasuk hizby karena bagaimanapun ada orang yang cocok-cocokan karena dia ingin mendapatkan ilmu saat ini.

Cuman kalau sampai dia tinggalkan sama sekali ustadz yang kedua, dia tinggalkan sama sekali hanya karena ini atau hanya karena pertimbangan ‘ah dia ustadz ini sama-sama satu suku sama saya, oh dia tetanggaku yang sana, saya tidak kenal saya tidak mau hadir’ nah ini jelas namanya hizby kalau seperti ini.

Jadi kalo pertimbangan-pertimbangan urusan kepentingan pribadi semata, itu tidak dibenarkan. tapi kalau untuk urusan agama, “Oh ustadz ini lebih menguasai masalah hadits,  maka saya cenderung pada pendapat dia dalam masalah hadits. Sementara ustadz ini lebih mendalami  masalah aqidah, masalah aqidah saya tanyakan kepada dia karena dia lebih mendalami”. tidak masalah karena ini sesuai dengan cara pemilihan yang benar.

Jadi kesimpulannya, kita bisa mencintai seseorang karena Allah dan karena disampaikan ilmunya (ilmunya yang haq), bukan dari pertimbangan-pertimbangan dunia atau pribadi. Kita juga tidak boleh mencintai dia (cinta buta) pada saat dia salah kita tetap mengatakan bahwa dia benar. Itu fanatik. Itu hizby namanya.

 Semoga jelas bagi kaum muslimin.

 

Durasi: 00:09:40
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 17 May 2016
Editor: Abu Ahmar