Amalan yang Tertolak – Syaikh Dr. Muhammad Musa Alu Nasr.

Imam Bukhori dan Muslim dalam kitab shahih mereka telah membawakan sebuah hadits dari Aisyah J. Aisyah berkata, Rasulullah telah bersabda,

”Barangsiapa yang mendatangkan perkara baru dalam urusan kami ini (yang bukan darinya) maka ia tertolak. ”

artinya dikembalikan kepadanya (tidak diterima).

“mendatangkan amalan baru.”

Maksudnya dalam perkara agama bukan dalam perkara dunia karena perkara baru yang dimaksud hanya dalam agama. Dan maksudnya adalah bid’ah dan semua bid’ah itu sesat .

Bid’ah sesuatu yang baru dalam agama yang tidak pernah diizinkan oleh Allah Rabb semesta alam ini, dalam sebuah hadits:

”Madinah merupakan tanah haram yang terletak di antara gunung a’ir dan tsaur, Barangsiapa yang melakukan sesuatu yang baru (di Madinah ) atau melindungi pelakunya maka baginya laknat Allah, para malaikat dan semua manusia.”

Bid’ah sangat berbahaya. Kejelekannya tersembunyi, dampaknya sangat buruk karena ia menodai agama dan merusak agama dan merubah agama Nabi Muhammad H yang telah Allah sempurnakan dengan firmannya:

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan untuk kalian agama kalian. Dan telah Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku. Dan Aku ridha islam sebagai agama kalian.”

Ayat ini merupakan sebagian ayat-ayat yang terakhir turun kepada Nabi Muhammad. Ayat ini menjelaskan kesempurnaan agama ini bahwa agama ini telah sempurna. Karenanya Rosululloh tidak meninggal kecuali setelah Allah sempurnakan dengannya agama ini dan telah Allah sempurnakan nikmatnya. Dan (Allah) lenyapkan dengannya Syubhat (yang tidak jelas hukumnya ). Dan meninggalkan ummat ini di atas jalan yang putih bersih dan di atas jalan-jalan yang lurus.

Nabi Muhammad telah menutup pintu bid’ah dan menutup pintu istihsan (menganggap baik sesuatu tanpa dalil ) dan barangsiapa yang melakukan istihsan maka dia telah membuat syari’at, bid’ah akan di kembalikan kepada pelakunya. Allah tidak menerima amalan pelaku bid’ah.

Karena amal saleh akan diterima dengan dua syarat:

syarat pertama: ikhlas kepada Allah.

syarat kedua: mengikuti Rosululloh

Para ulama telah menulis banyak buku karangan dalam mencela bid’ah dan memperingatkan (manusia) dari bahayanya dan mencela pelakunya, menekan mereka, tidak mengagungkan mereka. Karena mengagungkan mereka merupakan pengagungan terhadap bid’ah dan berpaling dari sunnah dan agama Nabi Muhammad H. Disebutkan dalam sebuah atsar, “Barangsiapa yang mengagungkan pelaku bid’ah maka ia telah membantu untuk menghancurkan islam “.

Taubat terputus dan terhalang dari pelaku bid’ah sehingga dia bertaubat dari bid’ahnya sebagaimana sabda Rosululloh H:

“Sesungguhnya taubat terputus dari pelaku bid’ah sehingga ia meninggalkan bid’ahnya.”

Bukankah agama ini rusak dan tercemar kecuali karena bid’ah dan perkara-perkara baru? Perkara-perkara baru tersebut sangat banyak : ada bid’ah dalam Aqidah (keyakinan) seperti bid’ah perkataan: Al-qur’an merupakan makhluk. Dan bid’ah mu’tazilah dan bid’ah syiah Rafidhah dan bid’ah-bid’ah Khawarij, Asy-‘Ariyah serta bid’ah Tasawuf.

Dan ada bid’ah dalam ucapan seperti menambahkan shalawat kepada nabi setelah azan. Dan ada bid’ah dalam perbuatan, seperti berjabat tangan setelah selesai salam dari shalat. Dan bid’ah memperingati Maulid Nabi dan isra’ dan Mi’raj dan perkara-perkara bid’ah yang lainnya yang para ulama’ telah berfatwa untuk membantahnya, melawannya dan memperingatkan (manusia) darinya. Karena itulah Ibnu Mas’ud berkata :

“Hendaknya kalian ikuti dan jangan membikin sesuatu yang baru karena kalian sudah dicukupkan”

Dan kalian harus mengikuti perkara yang terdahulu maksudnya perkara yang pertama oleh karena itu harus mengikuti Al-qur’an dan sunnah dengan ilmu, amal, dan pemahaman para generasi awal yang terbaik yaitu para sahabat, para tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat .

Saya berdo’a kepada Allah Yang Maha Mulia untuk memberikan saya, para pendengar dan pemirsa sekalian taufik dalam mengikuti Al-Qur’an dan sunnah dengan metode salaful ummah (generasi awal ummat ini) dan kita waspada terhadap bid’ah yang besar maupun yang kecil dan mencela pelakunya dan kita memusuhi pelakunya karena Allah dan kita membela sunnah dan para pemeluknya dan kita loyal dan mencintai orang yang loyal dan mencintai Allah dan kita memusuhi pelakunya karena Allah maka dengan demikian kita akan meraih tali keimanan yang paling kuat.

Demikianlah, semoga shalawat serta salam selalu tercurah untuk Nabi kita Muhammad beserta para keluarganya.

 

Durasi: 00:07:25
Pencatat: Khoir Bilah on 19 May 2016
Editor: Abu Ahmar