Megobati Hati Yang Sakit – Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawy.

Banyak orang mementingkan penampilan luarnya:  Pakaiannya, rumahnya, mobilnya tapi jarang diantara manusia yang mementingkan tentang batinnya, tentang hatinya.

 

jika badan mereka sakit, mereka segera kedokter, jika rumah mereka rusak, mereka segera renovasi, jika mobil mereka rusak mereka segera bawah ke bengkel. Tapi jarang diantara manusia yang ketika hatinya sakit, rusak dia segera mengobati dan memperbaiki.

 

Padahal kesucian hati, kesehatan hati, jauh lebih penting daripada hanya skedar hal-hal yang sifatnya lahiriyah yang nampak. Rasul z pernah menasehatkan kepada kita,

 

“Allah itu tidak melihat pada postur tubuh kalian, harta kalian tapi yang dilihat Allah E adalah hati  dan amal perbuatan kalian karena standar kemulian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa dan takwa tempatnya di hati”

 

Saudaraku sesungghunya kesucian hati kebeningan hati adalah kunci kebahagiaan di dunia dan di akhirat nanti.

 

Allah E berfirman:

“sungguh beruntung, bahagia orang yang bersihkan, menyucikan jiwanya dari noda-noda dan dosa dan sungguh sengsara orang yag mengotori hatinya”

 

Maka perbaiki hati, sucikan hatimu dari noda-noda, kototran-kotoran dari dosa-dosa karena hanya orang yang bersih hatinya yang akan sukses dunia akhirat.

 

Allah berfirman, pada hari itu tidak bermanfaat harta dan anak-anak kecuali, orang-orang yang menghadap Allah E dengan hati yang bersih,

 

Maka mari kita perhatikan hati kita

para nabi, para utusan itu di utus oleh Allah C. Tujuan paling penting adalah memperbaiki hati manusia,

 

“bersihkan mereka dan mengajari mereka dengan Al-qur’an dan Sunnah nabi S

 

Namun bagaimana cara membersihkan hati kita, kita harus ingat kalau membersihkan hati itu adalah dengan cara-cara yang sudah di ajarkan dalam Al-qur’an dan sunnah.

 

Banyak orang membersihkan hati, penyucian jiwa dangan cara-cara yang tidak disyariatkan oleh islam, tidak pernah di ajarkan nabi H, dengan cara-cara tasawwuf, dzikir berjama’ah(…) dan sebagainya.

 

Padahal Rasulullah H sudah mengajarkan kepada kita, Al qur’an telah menjelaskan kepada kita. Kenapa kita tidak merasa cukup dengannya.

 

Menyucikan jiwa itu, dengan dua cara:

  1. penyucian jiwa dengan mengamalkan hal-hal, ibadah-badah yang diperintahkan oleh Allah E. Karena hati ini kadang luntur, tercemar, ternodah. Maka hendaknya kita selalu memperbaiki dengan ibadah-ibadah keta’atan.

Dalam sebuah hadits Rasulullah H  mengatakan,

 

Sesungguhnya iman itu bisa luntur seperti pakaian juga bisa luntur. Maka perbahurui keimanan kalian selalu.

  1. Meninggalkan dosa-dosa, kemaksiatan-kemaksiatan yang akan merusak dan meracuni hati kita.

Imam Ibnu Al-Mubarak pernah mengatakan,

Saya melihat dosa-dosa itu adalah mematikan hati dan menjadikan pelakunya hina dan dina.

 

Maka lakukan amalan-amalan yang bisa menjadikan hati ini menjadi bersih menajdi suci, diantara :

  1. Banyak berdoa kepada Allah Karena yang membolak balikkan hati ini adalah Allah E.

Makanya Rasulullah saw mengajarkan kepada kita untuk selalu berdoa kepada Allah E meminta kesucian hati. Diantara doa nabi H:

“Ya Allah berikanlah kepadaku kesucian hati, kamulah sebaik-baik yang memberikan kesucian hati, ketakwaannya, kejernihannya tidak ada yang bisa memberikan kesucian hati kecuali berkat taufik Allah E.

 

Makanya ketika orang yang iqomat mengajak kita untuk sholat,

“Qodqo matishsholah, hayya ‘alashsholah, hayya ‘alalfalah. Kita dianjurkan menjawab dengan ucapan apa?

“Lahaula wala quwwata illa billah”

Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah subhanahu wa ta’ala

 

  1. Lakukan juga semangat belajar ilmu agama karena keimanan, kesucian hati ini adalah dengan keta’atan dan ibadah tapi untuk mengetahui keta’atan dan amal ibadah yang di ridhoi dan di cintai Allah tentu butuh ilmu, makanya banyak ayat dan hadits saw yang menganjurkan kepada kita untuk semangat belajar ilmu agama. Bahkan kata nabi,

“siapa yang di kehendaki oleh Allah swt kebaikan. Maka Allah swt akan fahamkan dia tentang agama.

 

Jadi ilmu adalah kunci kebaikan, seuruh kebaikan sumbernya adalah ilmu agama. Makanya kita harus bersemangat dalam belajar ilmu agama. Tidak cukup  hanya itu.

 

  1. Kita mengamalkan karena tidak ada artinya ilmu kalau tidak kita amalkan

Kata Imam Ibnul Qayyim:

“Setiap ilmu yang tidak menambah kuatnya iman, tidak semakin dekatkan kita kepada Allah itu ilmu yang tercoreng, ternodah, tercampuri, terkotori.

 

Kita amalkan ilmu yang sudah kita pelajari dalam ibadah kita, dalam akhlak kita, dalam kesaharian kita supaya kita betul-betul selamat dari laknat Allah danE  murka Allah  sebagaimana Allah E telah murka kepada orang-orang yahudi yang telah memiliki ilmu tapi tidak mengamalkannya.

 

Dan diantara kiat untuk agar kita meraih kesucian jiwa juga dengan selalu intropeksi diri, bagaimana kita slealu berupaya mengevaluasi diri kita.

 

“Wahai orang-orang beriman bertakwalah, takutlah kalian kepada Allah dan hendaknya setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dia perbuat untuk hari esok”

 

Kita koreksi, kita evaluasi apakah kita banyak melakukan keta’atan atau banyak melakukan dosa, kewajiban apa yang sudah kita lakukan dan belum kita lakukan dosa apa yang sudah kita kerjaan kemudian apa yang hendak kita lakukan selalu intropeksi.
Kalau seorang pedagang saja dia mengevaluasi kerugian dan keuntungan demikian juga seorang muslim hendaknya selalu mengevaluasi supaya dia bisa memperbaiki.

 

“Karena seorang mukmin itu tidak jatuh lubang dua kali”

 

Semoga Allah E menjadikan kita semuanya termaksud hamba-hambanya yang memiliki hati yang bersih, yang jernih. sampai kita berjumpa Allah E.

 

 

 

Durasi: 00:11:30
Pencatat: Khoir Bilah on 10 May 2016
Editor: