Hari Baik Untuk Menikah – Ustadz Ammi Nur Baits

Assalamu’alaikum ustadz, mau tanya jika ada orang yang mau menikah apakah harus mencari hari baik dulu? Karena ada orang yang suka menghitung-hitung hari.

 

: Abu Hurairoh I pernah menceritakan sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Ibnu Majah, beliau I mengatakan:

“Rasulullah e menyukai bersikap optimis yang baik dalam setiap keadaan”

 

Termasuk ketika orang punya rencana maka dia dianjurkan untuk optimis dalam melakukan rencananya selama rencana yang dia lakukan adalah sesuatu yang halal, apalagi ini pernikahan yang itu sangat diajurkan dalam islam.

 

Dan beliau e membenci thiyaroh (berkeyakinan sial) karena hari tertentu atau karena bulan tertentu atau karena peristiwa tertentu dan thiyaroh dalam islam hukumnya syirik sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Ibnu Mas’ud I Rasulullah e pernah mengatakan:

“thiyaroh itu syirik, thiyaroh itu syirik (diulangi oleh Nabi sebanyak 3kali)”

 

Dan kita sebagai kaum muslimin tentu saja sangat tidak diperkenankan untuk berkeyakinan sial dengan adanya hari tertentu atau keyakina sial karena wathon, apalagi karena kemudian pengaruh hitung-hitungan ada hari pasaran (kliwon, pain, dst) yang itu sama sekali tidak pernah dikenal dalam islam dan itu ketahui bahwasanya perhitungan semacam ini adalah warisan dari budaya hindu atau budaya animism atau agama paganism sebelum adanya islam di Indonesia.

 

Karena itu tidak selayaknya bagi kaum muslimin ikut-ikutan dengan melibatkan diri mempercayai hitung-hitungan semacam itu yang ini di namai dalam islam yang disebut oleh Nabi H dengan thiyaroh.

 

Kemudian apakah harus mencari hari baik? Jawabannya semua hari ‘baik’, sebagaimana Nabi H tadi katakan ‘beliau menyukai sikap optimis yang baik’.

 

Jadi anggap semua hari yang ada dalam hari-hari anda untuk menikah adalah hari yang baik, namun kembali pada masalah hari apakah yang paling tepat bagi saya untuk menikah? Ini mungkin anda perlu pertimbangkan siapa yang harus akan anda undang, kemudian siapa saja yang harus dilibatkan dalam pernikahan tadi sehingga perlu memperhatikan kapan hari yang paling cocok untuk mereka bisa kumpul, semacam ini diperbolehkan kembali pada masalah tradisi dan adat manusia.

 

Misalnya dia memilih hari libur kalau ditempat kita hari sabtu atau ahad, kalau mungkin di Negara yang lain dia mempunyai hari libur yang berbeda di persilahkan dia boleh memilih hari libur yang lainnya. Hanya saja ada bulan yang kita di anjurkan melakukan pernikahan, menurut sebagian ulama  adalah bulan syawal, berdasarkan keterangan dari ‘Aisyah J sebagaimana di sebutkan dalam hadits riwayat musim, beliau mengatakan:

 

Rasulullah saw menikahiku di bulan syawal dan beliau tinggal bersamaku karean setelah nabi saw menikah beliau tidak langsung hidup satu rumah namun berpisah.

 

Dan nabi saw baru tinggal bersama ‘Aisyah J juga dibulan syawal di tahun berbeda artinya ada unsure kesengajaan dimana nabi saw, memulai kehidupan baru beliau di bulan syawwal dan kata parra ulama alas an nabi saw memilih bulan syawwal untuk mengawali kehidupan berkeluarga adalah dalam membantah keyakinan orang-orang musyrikin yang mereka beranggapan bulan syawwal adalah bulan sial karena bagi masyarakat arab, syawal adalah bulan pantangan untuk pernikahan.

 

Sehingga bagi mereka syawwal dihindari untuk melakukan pernikahan membangun keluarga. Termaksud mengawali kehidupan rumah tangga dan nabi saw melakukan ini dalam rangka membantah mereka. Kaena itu bisa kita qiyaskan dalam konteks sekarang misalnya ada diantara kita yang tinggal di sebuah daerah.

 

Daerah itu ada bulan tertentu yang ia anggap sebagai bulan pantangan untuk menikah, kalau mungkin di jogaj ada bulan ‘syura’, Kemudian di jawa timur ada bulan ‘dzulqo’dah’ yang mereka sebut bulan ‘selo’ itu singkatan dari selai olow. Kemudian mereka meyakini ini bulan pantangan untuk nikah.

 

Maka salah satu diantara yang di anjurkan kaum muslimin adalah mereka menikah dibulan-bulan semacam ini dalam rangka melawan  aqidah yang menyimpang yang di miliki oleh masyarakatnya untuk membuktikan, tunjukkan  bahwasanya saya menikah dan bahagia, tidak terjadi apa-apa tidak terpengaruh dengan bulan ini dianggap sial oleh masyarakat.

 

Wallahu ‘alam

 

Durasi: 00:07:21
Pemateri:
Pencatat: Khoir Bilah on 10 May 2016
Editor: