Panduan Ibadah: Adab Belajar Agama (Dengan Ilustrasi Lengkap)

Bismillahirrahmanirrahiim,

Perkenankan kami berbagi… Adab belajar Agama…

Adab dalam belajar agama merupakan bagian penting yang perlu diperhatikan dalam menuntut ilmu agama. Agar ilmu yang didapatkan lebih berkah dan bermanfaat bagi orang yang mencarinya. Dalam Surat Thoha, Allah menceritakan ketika Allah ta’ala hendak menyampaikan wahyunya kepada Nabi Musa alaihi salam. Sebelum Allah memberikan wahyu kepada Musa terlebih dahulu Allah arahkan Musa untuk mengikuti adab yang Dia perintahkan, Allah berfirman :

Ketika Musa datang ke tempat api itu, dia dipanggil : “Hai Musa, sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; Sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.”(QS. Thaha: 11 – 12)

Dalam ayat ini, Allah perintahkan Musa untuk melepas sandalnya sebagai bentuk sopan santun dan menjaga adab karena beliau berada di lembah suci. Dulu para ulama sangat memperhatikan adab dalam belajar bahkan perhatian mereka terhadap adab melebihi perhatian mereka terhadap ilmu yang diajarkan. Abdullah bin Mubarak salah satu gurunya imam Bukhori pernah mengatakan ;

“Saya belajar adab menuntut ilmu selama 30 tahun, dan saya belajar ilmu selama 20 tahun. Dulu para ulama belajar adab sebelum mereka menimba ilmu.” (Ghayatun Nihayah, 1/198)

Karena itulah Nabi shalallahu alaihi wassalam mengajarkan kepada kita berbagai macam adab. Terutamama bagi orang yang menekuni agama agar mereka menjadi manusia yang berwibawa dan berakhlak mulia. Berikut kita akan bahas beberapa adab yang selayaknya diperhatikan bagi setiap orang yang hendak menuntut ilmu syariat;

Pertama,
Luruskan niat dalam belajar agama. Yang perlu dihadirkan dalam belajar agama adalah berniat ikhlas untuk Allah, karena belajar agama termasuk ibadah sementara Allah tidak menerima ibadah seseorang yang dilakukan tidak ikhlas. Allah berfirman;

“Mereka tidak disuruh kecuali agar beribadah hanya kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

Mengingat pentingnya ikhlas dalam belajar hingga rasulullahi shalallahu alaihi wassalam memberi ancaman keras bagi orang yang belajar agama untuk tujuan mencari dunia. Beliau bersabda;

“Barangsiapa yang menuntut ilmu agama, yang semestinya ia lakukan ikhlas untuk mencari wajah Allah, namun ternyata dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mencari keuntungan dunia, maka dia tidak akan mendapat harumnya aroma syurga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, Abu Daud & Ibn Majah)

Yang kedua,
Tanamkan keingingan untuk mengurangi ketidaktahuan dari diri kita dan lingkungan. Imam Ahmad pernah mengatakan “Belajar ilmu tidak ada tandingannya, bagi orang yang niatnya lurus.” Lalu murid beliau bertanya, “bagaimana cara niat yang lurus itu ?”. Jawab Imam Ahmad “Dia berniat untuk menghilangkan ketidaktahuan dari dirinya dan orang sekitarnya.” Semakin sering belajar semakin bertambah pengetahuan kita tentang aturan syariat.

Ketiga,
Rajin berdoa memohon kepada Allah ilmu yang bermanfaat. Sumber hidayah dan taufik ada ditangan Allah. Sementara mahluk hanya bisa mendapatkan petunjuk kebenaran itu setelah Allah memberikan hidayah kepadanya. Allah memberikan ilmu kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Allah berfirman;

“Allah memberikan hikmah (ilmu) kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan siapa yang diberi ilmu, berarti dia diberi kebaikan yang sangat banyak.” QS. Al Baqarah: 269.

Karena itulah dalam setiap rakaat sholat kita diajarkan untuk memohon petunjuk kepada Allah. “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus (yaitu) jalan orang – orang yang telah Engkau beri nikmat; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” QS. Al Fatihah: 7-8.

Salah satu diantara kebiasaan Nabi shalallahu alaihi wassalam sesusai sholat shubuh, beliau memohon kepada Allah ilmu yang bermanfaat. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bercerita, bahwa di pagi hari, Nabi shalallahu alaihi wassalam terbiasa membaca doa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizqi yang halal dan amalan yang diterima.”

Disamping meminta ilmu yang bermanfaat tidak lupa kita berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat. Dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam pernah menyuruh para sahabat, “Mintalah kepada Allah ilmu yang bermanfaat,dan berlindunglah kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.”

Yang keempat,
Bersungguh – sungguh dalam belajar dan selalu merasa haus ilmu. Belajar ilmu agama harus disertai kesungguhan lebih semangat daripada ketika kita mencari dunia. Imam Yahya bin Abi Katsir Ulama tabi’in pernah menasihatkan; “Ilmu tidak bisa diperoleh dengan cara santai.” Seseorang akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dengan izin Allah apabila dia bersungguh – sungguh dalam belajar. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda;

“Dua orang rakus yang tidak pernah kenyang, pertama orang yang rakus terhadap ilmu, dia tidak pernah kenyang dengannya dan kedua orang yang rakut terhadap dunia, tidak akan pernah kenyang dengannya.” (HR. Ad Darimi)

Kelima,
Jauhkan diri dari maksiat. Dosa adalah sumber noda bagi hati yang akan menghalangi cahaya ilmu untuk menembus relung qalbu. Semakin banyak dosa yang dilakukan oleh seseorang hatinya akan semakin gelap. Di saat itulah dia akan lebih sulit untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Dari Abu Hurairah Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda;

“Apabila seorang hamba melakukan dosa, maka dititikkan setitik noda hitam di hatinya. Jika dia bertaubat dan beristighfar, hatinya akan dibersihkan. Jika dia mengulangi lagi, akan ditambahkan lagi titik hitam, sampai menutupi seluruh hatinya. Itulah Ar – Raan (sumbat), yang Allah sebutkan dalam firman-Nya; “Sekali – kali tidak, itu disebabkan Raan yang menutupi hati mereka disebabkan maksiat yang mereka kerjakan.” (HR. Tirmidzi)

Keenam,
Hindari sikap malu dan sombong selama belajar agama. Sombong dan malu merupakan salah satu penyebab utama yang akan menghalangi seseorang untuk belajar agama. Imam Mujahid ulama tafsir muridnya ibn Abbas mengatakan “Dua orang yang tidak mau belajar ilmu: orang yang pemalu dan orang yang sombong.” (HR. Bukhori)

Ketujuh,
Mendekatlah ke narasumber. Nabi shalallahu alaihi wassalam mengajarkan agar ketika menghadiri jum’atan kita datang lebih awal dan memilih tempat yang dekat dengan khatib. Karena kita bisa mendapatkan ilmu yang lebih banyak ketika kita dekat dengan narasumber. Dari Aus bin Aus  ia berkata bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:

“Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at dengan mencuci kepala dan anggota badan lainnya, lalu ia pergi di awal waktu atau ia pergi dan mendapati khutbah pertama, lalu ia mendekat kepada imam, mendengar khutbah serta diam, maka setiap langkah kakinya terhitung seperti puasa dan shalat setahun.” (HR. Tirmidzi)

Kedelapan,
Diam dan dengarkan pelajaran dengan baik. Allah ajarkan ketika kita mendengarkan Alquran agar kita diam dan mendengarkan dengan seksama. “Apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al A’raaf: 204). Dalam adab Jum’atan Nabi shalallahu alaihi wassalam mengajarkan kita untuk diam dan mendengar khatib dengan seksama. Beliau juga melarang keras jama’ah untuk bicara sendiri atau bermain – main pada saat jum’atan. “Siapa yang bermain kerikil, berarti dia telah membuat sia – sia jum’atannya.” (HR. Ibn Majah)

Kesembilan,
Catat ilmu dan pelajaran yang kita dapatkan. Pengikat ilmu adalah tulisan karena kemampuan memori kita terbatas sementara ada banyak hal yang kita dapatkan selama belajar. Allah mencatat setiap amal yang dilakukan para hamba-Nya meskipun Dia tidak pernah lupa dengan perbuatan mereka. Namun ini memberi pelajaran kepada kita yang serba terbatas untuk mencatat setiap informasi berharga yang kita dapatkan. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menasihatkan, “Ikatlah ilmu dengan mencatatnya.” (HR. Ad Darimi).

Demikian pula yang disarankan oleh Imam Assyafi’i beliau memisalkan ilmu seperti binatang buruan sementara catatan sebagai pengikatnya. Beliau mengatakan “Ilmu itu barang buruan, catatan sebagai pengikatnya. Ikatlah hasil buruanmu dengan tali yang kuat.”

Kesepuluh,
Hafalkan ilmu yang kita dapatkan. Allah menyebut Alquran yang merupakan sumber ilmu sebagai ayat yang tersimpan di dada orang berilmu, Allah berfirman “Alquran itu adalah ayat – ayat yang jelas, tersimpan di dalam dada orang – orang yang diberi ilmu.” (QS. Al Ankabut: 49)

Ini mengisyaratkan bahwa idealnya ilmu itu dihafal, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam memberikan janji baik bagi setiap ummatnya yang mau menghafal hadist. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, “Semoga Allah memberikan cahaya di wajah orang yang mendengar hadist dariku kemudian dia menghafalkannya, lalu menyampaikannya…” (HR. Ahmad)

Kesebelas,
Berusahalah mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. Belajar dan menuntut ilmu syar’i bukanlah tujuan akhir. Namun, belajar adalah pengantar untuk tujuan yang agung, yaitu membangun ketakwaan kepada Allah sehingga setiap ilmu yang dipelajari sudah seharusnya untuk diamalkan. Dalam Alquran Allah menyebut orang Yahudi seperti keledai karena paham ilmu tapi tidak mau mengamalkannya. Allah berfirman;

“Perumpamaan orang – orang yang diberi tugas mengamalkan Taurat kepadanya, kemudian mereka tiada melaksanakannya, seperti keledai yang membawa kitab – kitab yang tebal.” (QS. Al Jumuah: 5)

Ketika dihari kiamat, Allah akan meminta pertanggungjawaban para hamba-Nya. Salah satunya tentang ilmu yang Allah ajarkan kepadanya. Berapa yang telah diamalkan. Dari Abu barzah al aslami radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, “Kaki para hamba tidak akan bergeser di hari kiamat, sampai dia ditanya tentang empat hal, (diantaranya) tentang ilmunya, sejauh mana dia amalkan.” (HR. Tirmidzi & Ad Darimi)

Keduabelas,
Berusaha mendakwahkan ilmu. Tugas orang yang memiliki ilmu disamping mengamalkannya dia juga harus mengajarkannya kepada orang lain. Terutama keluarga, Allah berfirman;

“Hai orang – orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At Tahriim: 6)

Karena orang shaleh tidak boleh menjadi sholeh sendirian, dia juga harus mengajak orang lain untuk turut menjadi shaleh. Semoga Allah memudahkan kita untuk mendapatkan ilmu dan petunjuk dari-Nya.

Durasi: 00:16:51
Pemateri:
Pencatat: Haris Eko Prasetyo on 10 May 2016
Editor: Abu Aufa